Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Jumat
20
Apr '07

Investasi Proyek Telematika Terbesar pada 204 US$ 461 Juta


Ketua Komite Tetap Informatika Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Agoes Silaban mengatakan, dalam periode 2002-2005. investasi proyek telematika terbesar terjadi pada 2004 dengan nilai 461 juta dolar AS, sementara di tahun-tahun lainnya dibawah 162 juta dolar AS.
“Walaupun menyadari pentingnya telematika, namun Indonesia belum menikmati puncak meningkatnya (booming) investasi di sektor telematika, dan masih tetap menjadi salah satu negara di lingkup regional dengan investasi di sektor telematika yang rendah,” kata Agoes di Jakarta, Rabu (18/4).

Jakarta, (Kominfo-Newsroom) – Ketua Komite Tetap Informatika Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Agoes Silaban mengatakan, dalam periode 2002-2005. investasi proyek telematika terbesar terjadi pada 2004 dengan nilai 461 juta dolar AS, sementara di tahun-tahun lainnya dibawah 162 juta dolar AS.

“Walaupun menyadari pentingnya telematika, namun Indonesia belum menikmati puncak meningkatnya (booming) investasi di sektor telematika, dan masih tetap menjadi salah satu negara di lingkup regional dengan investasi di sektor telematika yang rendah,” kata Agoes di Jakarta, Rabu (18/4).

Sedangkan untuk manufaktur telematika, investasi pada 2005 sebesar 263 juta doalr AS dengan penanaman modal terbesar dari Jepang dan Korea.

Di pihak lain, kondisi ini justru dinilainya menunjukkan peluang bisnis di sektor telematika yang besar, mengingat Indonesia memiliki populasi yang besar, area yang luas, dan potensi pertumbuhan ekonomi yang tergolong cukup bagus.

Beberapa kebijakan pengembangan industri telematika nasional diantaranya meningkatkan penciptaan wirausaha baru, memfasilitasi infrastruktur untuk mendukung pengembangan industri perangkat lunak.

Disamping itu, mengembangkan global marketing dan sumber dari luar (out sourcing), juga meningkatkan penggunaan produksi dalam negeri dan mendirikan pusat pengembangan animasi dan konten serta mendirikan pusat pengembangan rancangan produk-produk telekomunikasi.

Potret industri manufaktur telekomunikasi nasional menunjukkan industri jasa meningkat terus, tetapi industri perangkat justru menurun sebagai dampak dari persaingan terbuka terhadap industri perangkat nasional.

Kondisi: kontribusi kontraktor industri lokal terhadap manufaktur telekomunikasi nasional hanya berkisar 3 persen dari total investasi telekomunikasi nasional sebesar Rp100 triliun (2004-2006), hanya 0,1 persen – 0,7 persen merupakan produk asli nasional.

Kerugiannya, devisa melayang keluar negeri, tidak ada berbagai pengaruh (multiplier effect) yang signifikan seperti penyediaan lapangan kerja, ketergantungan produk dari luar negeri dan penguasaan teknologi relatif sedikit.

Sedangkan peluang bisnis masih terbuka dengan syarat antara lain: industri lokal perlu disediakan bisa berupa insentif, adanya harmonisasi tarif bisa berupa pajak atau bantuan-bantuan lainnya dan dukungan pemerintah dalam bentuk UU dan adanya insentif.

Sumber : (T.Ef/toeb/b)   Kominfo-Newsroom, Jakarta via E-kebumen


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Polisi Terus Buru Kawanan Bersenjata Api Perampok Rp1,6 M di Tapsel
Artikel selanjutnya :
   » » Pengusaha dan Buruh Harus Jujur