Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Rabu
18
Apr '07

Pemkab Humbahas akan Cetak Buku “Ahu Sisingamangaraja” Tulisan Prof DR WB Sijabat


Guna mengenang 100 tahun wafatnya Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII,Pemkab Humbang Hasundutan (Humbahas) akan mencetak buku berjudul “Ahu Sisingamangaraja” tulisan Prof DR WB Sijabat sebanyak 5000 eksemplar. Buku tersebut sedang diperbanyak di Jakarta. Buku tersebut akan dibagi ke setiap sekolah yang ada di Humbahas dengan tujuan supaya masyarakat tidak lupa akan perjuangan Raja Sisingamangaraja XII.

Hal itu dikatakan Bupati Humbahas Drs Maddin Sihombing dalam temu pers. Selasa (10/4) di ruang Bagian Pembangunan Pemkab Humbahas. Turut hadir dalam pertemuan itu Wakil Bupati Humbahas Drs Marganti Manullang, Asisten II Poster Sianturi, Kadis, Kakan, Kabag, staf Pemkab Humbahas dan puluhan wartawan media cetak. Bahkan Maddin Sihombing menambahkan bahwa aksara batak juga dipelajari di Humbang Hasundutan dan tahun ajaran 2007 akan dijadikan muatan lokal.

Dalam kesempatan itu Maddin Sihombing memberikan piagam penghargaan kepada sejumlah wartawan yang daerah peliputannya di Humbahas. Pemberian piagam atas prestasinya meraih lomba karya tulis dan lomba kualitas penulisan berita selama tahun 2006 lalu. Dimana karya tulis tersebut dipandang sangat berharga dan bermanfaat untuk memotivasi semua pihak guna mewujudkan visi dan misi Kabupaten Humbahas 2005-2010 yaitu “menjadi daerah yang mandiri dan sejahtera”. Piagam itu diberikan kepada wartawan SIB Rukmunal Hakim Siregar SH sebagai juara I. Wartawan Liputan Bona Pasogit Porman Tobing juara II dan wartawan Mimbar Umum Rusman Sihombing juara III.

Sumber : (RHS/e) Harian SIB, Doloksanggul


Ada 7 tanggapan untuk artikel “Pemkab Humbahas akan Cetak Buku “Ahu Sisingamangaraja” Tulisan Prof DR WB Sijabat”

  1. Tanggapan ARY HUSEIN:

    Salam untuk semua

    Sangat bagus sekali karena bangsa yang besar adalah bangsa yang tau akan kisah2 sejarah masa lalu..

    Tapi yang terpenting jangan sampai ada manipulasi sejarah
    kisah dan kejadian sejarah harus dicari dari sumber dan kisah yang benar

    Terlalu banyak kisah sejarah yang dimanifulasi untuk kepentingan sesaat
    semoga tidak terjadi lagi
    Salam

    Parhobas [SB] :
    Sangat setuju dengan pendapat Bung Ary Husein.. Jangan sampai ada manipulasi-manipulasi sejarah demi kepentingan tertentu. Namanya sejarah itu apa adanya..

  2. Tanggapan Masrul Purba Dasuha, S.Pd:

    Sisingamaraja atau dalam bahasa Jawa disebut Singomirejo. Ia sejatinya merupakan salah seorang prajurit dari Pangeran Diponegoro beragama Islam, yang meneruskan perjuangan Diponegoro di bawah komando Sentot Alibasyah Prawiradirdja. Ia melanglangbuana ke Sumatera, karena ingin menggabungkan diri dengan sisa-sisa pasukan paderi di bawah komando Tuanku Tambusei, akibat peperangan di Jawa telah mengalami kelumpuhan dan takluk oleh kolonial Belanda.

    Demikian juga setelah ia menggabungkan diri dengan kaum paderi dalam melawan Belanda, mereka juga mengalami hal yang sama terjepit oleh kekuatan sistem politik Belanda devide et impera dan persenjataan yang serba cukup. Hingga akhirnya, ia bersama kaum paderi lainnya sepeninggal Tambusei bercerai berai. Ada yang melarikan diri Tapanuli dan ada pula yang bertolak ke Aceh bergabung dengan para pejuang anti kolonial seperti Cik Di Tiro, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutia, dan lain-lain.

    Sementara Singomirejo yang orang Toba menyebutnya Sisingamangaraja, melawat ke Tapanuli Utara dengan keadaan cemas bercampur takut. Sesampainya di Tapanuli Utara, ia kemudian disambut hangat oleh masyarakat setempat dengan perasaan penuh rasa heran dan takjub. Mengapa demikian? karena ia (Singomirejo) menampilkan sesuatu yang berbeda dari mereka, sehingga perasaan takjub dan heran, tidak dapat mereka tutupi. Singomirejo berbusana serba putih layaknya seorang yang suci (saleh). Ia berserban dan memakai selempang pada sebelah lengannya dengan gagahnya mengendarai seekor kuda.

    Akibat rasa heran dan takjub tersebut, masyarakat setempat lalu menganggapnya seorang yang sakti nan suci. Didasari oleh penilaian tersebut, mereka lalu mengusungnya sebagai raja (diparajahon umbaen hasongtionna) dan mereka juga menabalkannya menjadi marga Sinambela, dan sejak saat itu jadilah ia seorang Raja di sebuah tempat yang bernama Bakkara.

    Ketika perlawanan rakyat terhadap Belanda meletus, Singomirejo bersama dengan rakyar kemudian melakukan perlawanan, namun dalam perlawanan itu mereka tidak meraih kemenangan, tetapi justru malah bercerai berai akibat diburu oleh Belanda.

    Di tengah keadaan seperti itu, demi menyelamatkan diri, Singomirejo lalu pergi meningggalkan daerah Bakkara itu menyusuri sebuah daerah yang hingga kini sulit dipastikan.

    Alkisah, pada waktu itu adalah seorang Datu bermarga Sinambela yang juga anti penjajah. Dalam perlawanannya terhadap Belanda ia tewas terkena tembakan, anehnya Belanda menganggap ialah Singomirejo yang mereka cari, lalu tersiarlah kabar ke tengah masyarakat bahwa Sisingomirejo telah mati, mereka pun yakin akan kebenaran itu.

    Kesimpulan:
    1. Sisingomirejo bukanlah orang Batak tetapi yang di-Batakkan dan diberi gelar Raja, karena kesaktian dan kesalehannya.
    2. Singomirejo adalah seorang muslim, tidaklah menganut agama parmalim
    3. Singomirejo tidak mati, tetapi ia hanya diduga mati.
    4. Singomirejo kemungkinan besar malarikan diri ke Aceh.
    5. Tidak ada Sisingamaraja I-XII, yang ada hanyalah Sisingamangaraja atau Singomirejo saja.
    6. Ia tidak memiliki kekuasaan yang luas, melainkan hanya sebuah huta yang bernama Bakkara saja, disitulah ia dirajakan (diparajahon) memimpin dan mengajarkan jalan kebenaran kepada komunitas kecil masyarakat batak.

    Menurut penulis Pemkab Humbang Hasundutan tidak salah untuk mencetak ulang sejarah perjuanganan Sisingamangaraja. Namun, tulis dan ungkapkanlah kebenaran sejarah secara otentik dan obyektif, jangan mengada-ada. Lalu siarkanlah itu kepada khalayak agar mereka kembali ke sejarah sebenarnya, dan dapat memaklumi atas terjadi pembelokan sejarah selama ini. Sekian dan Terima Kasih. horas 3x

    Sumber: Buku Kuno pustaha Simalungun milik Haji Tuan Alep Damanik.

  3. Tanggapan Panca Tampubolon:

    Sdr MASRUL Dasar apa anda mengatakan itu dan anda kelahiran tahun berapa?

    jadi selama ini apa yang dipertontonkan opera serindo dan buku sejarah itu salah ?

    Tolong kirimkan bukti pernyataan anda ke email saya atau di web site ini

    Mauliate

    Horas

    Panca Tampubolon

  4. Tanggapan Peterson Pangaribuan:

    Saudara Masrul Purba Dasuha, S.Pd,

    Sangat aneh komentar anda dengan kutipan dari sumber anda, saya kira anda kan punya logika, dan bisa menggunakan logika? apakah anda tau dengan jelas berikut buku sumber yang anda kutip itu, bahwa ratusn tahun sebelum ada belandah di Tapanuli bahkan di indonesia, bahwa dinasti Sisinga mangaraja sudah ada, itu bisa dibuktikan dengan tonggo-tonggo dalam agama suku batak dan yang lain-lain? kalu benar isi buku sumber anda isinya seperti yang anda sebut, menurut saya adalah isinya sangat kabur dan aneh dan jelas salah karena tidak sesuai dengan fakta, kenapa?, perang diponegoro terjadi 1825-1830, sementara periode padri di tanah batak 1818-1821, perang batak sisinga mangaraja dengan belanda 1880-1907, dimana logikanya mengatakan sisinga mangaraja sinambela adalah dirajahon/ dibatakkan dari singomirejo yang merupakan salah satu prajurit Pangeran Diponegoro? coba perhatikan tahun-tahun kejadian yang anda sebutkan apakah nyambung??? sangat sulit menjelaskannya kepada anda disini, sebaiknya anda perlu baca data-data / referensi yang lain baru memberikan komentar sejenis bantahan seperti itu. Pernahkah anda tau atau mendengar bahwa saat ini ada keturunan/ cucu dari singa mangaraja XII di jakarta, dimana ayahnya mereka anak dari sisinga mangaraja xii di bawa belanda ke Jakarta setelah singa mangaraja xii tewas ditembak tentara belanda dalam pertempuran di daerah simsim? pernahkah anda dengar bahwa Pendeta Nomensen (misionaris dari Jerman yang membawa kristen ke tapanuli) pernah berhubungan dengan singa-mangaraja x s/d xii? kalau belum silahkan cari datanya, kalau pernah dengar ceritanya, berarti andalah yang mau memanipulasi data dan fakta sejarah, tidak sesuai dengan pernyataan anda yang saya copy dari pendapat anda sbb:
    \”Menurut penulis Pemkab Humbang Hasundutan tidak salah untuk mencetak ulang sejarah perjuanganan Sisingamangaraja. Namun, tulis dan ungkapkanlah kebenaran sejarah secara otentik dan obyektif, jangan mengada-ada. Lalu siarkanlah itu kepada khalayak agar mereka kembali ke sejarah sebenarnya, dan dapat memaklumi atas terjadi pembelokan sejarah selama ini. Sekian dan Terima Kasih. horas 3x\”

    Saya sama sekali sangat sedih dengan pernyataan anda diatas itu, seorang batak, tapi sama sekali tidak tau tentang fakta batak, sedang suku atau bangsa-bangsa di luar batak tau bahwa sisinga mangaraja adalah batak bermarga sinambela, lho kok anda batak jenis macam apa dan darimana dan dimana selama ini?

  5. Tanggapan Humbang Hasundutan:

    Sedikit tanggapan atas tulisan sdr Masrul Purba Dasuha:

    Kesimpulan:
    1. Sisingomirejo bukanlah orang Batak >>> anda benar//tetapi yang di-Batakkan dan diberi gelar Raja,>>>Perlu ditelusuri ini.// karena kesaktian dan kesalehannya.>>Singomirejo orang sakti yang cemas bercampur takut, setiap kali terjepit selalu meninggalkan kesatuannya (dari Diponegoro ke Paderi, kemudian ke Cik Di Tiro)? Sementara Singamangaraja tetap berjuang di daerah kekuasaannya Tano Batak sampai titik darah penghabaisan.

    2. Singomirejo adalah seorang muslim, tidaklah menganut agama parmalim >>>anda benar.

    3. Singomirejo tidak mati, tetapi ia hanya diduga mati.>>> Tidak mati sampai sekarang?

    4. Singomirejo kemungkinan besar malarikan diri ke Aceh.>>Dalam hal ini anda plin plan. Dalam tulisan di atas anda sebut Singorejo hengkang dari bakara ke suatu tempat yang sulit dipastikan, tetapi kemudian anda menyebutkan beliau bergabung dengan pasukan Cik Di Tiro, trus anda simpulkan dengan kemungkinan besar melarikan diri ke Aceh.

    5. Tidak ada Sisingamaraja I-XII, yang ada hanyalah Sisingamangaraja>>>anda salah// atau Singomirejo saja.>>>anda benar jika (dan hanya jika) Singomirejo itu ada.

    6. Ia tidak memiliki kekuasaan yang luas, melainkan hanya sebuah huta yang bernama Bakkara saja, disitulah ia dirajakan (diparajahon) memimpin dan mengajarkan jalan kebenaran kepada komunitas kecil masyarakat batak.>>> Ada gak penduduk Bakara yang bisa bahasa Jawa?

    Boleh di pinjam Pustahanya lae?

  6. Tanggapan Mahadi Capah:

    Horas,
    Saya tidak memberikan tanggapan tapi saya mau bertanya bagaimana caranya mendapatkan buku itu. Mohon Penjelasannya.

    Mahadi Capah
    Plamo Garden K4 No 8. Batam Center
    Batam
    081372248874

  7. Tanggapan Jani Marpaung:

    Penggalian ilmiah sejarah untuk daerah Batak atau Tapanuli khususnya sangat diharapkan sekali, mengingat banyaknya cerita-cerita yang tidak jelas sumbernya. Memang beberapa informasi dari turi-turian itu ada benarnya, tapi khan perlu diteliti karena ada kemungkinan penambahan “bumbu-bumbu” yang mengikuti si pembawa cerita. Tulisan-tulisan yang ada di perustakaan Belanda kemungkinan sangat Banyak.

    Terima kasih atas rencana pencetakan ulang buku tersebut, tapi kalau bisa jangan hanya Sisingamangaraja. Saya setuju Sisingamangaraja XII salah satu pejuang Batak dan pahlawan Nasional. Tapi tentu ada yang lain yang kriterianya bukan hanya karena “musuh Belanda”. Jika dipakai kriteria lain, misalnya siapa-siapa tokoh tokoh awal yang membangkitkan semangat orang-orang Batak untuk sekolah tinggi. Misal: Raja Pontas Lumban Tobing atau Nommessen, Walaupun tokoh tersebut pernah bersebarangan dengan Sisingamangaraja XII (porang sihudamdam), tapi khan Dia juga punya andil bagi kemajuan Bangsa. Kita “pahlawan”kan mereka walaupun bersebrangan, gak pa pa khan??

    Seorang pahlawan akan menginspirasi orang yang mengangkatnya jadi pahlawan. Jadi jangan terlalu berlebihan juga “anti Belanda”nya, nanti kita lupa juga akan beberapa hal-hal positifnya, takutnya jadi alergi bergaul dengan orang asing.

    Bagaimana ada gak pejuang-pejuang yang bersifat universal seperti tokoh-tokoh pendidikan, hak asasi manusia, lingkungan, perobatan, dll?

    Ya ini hanya secuil ide, siapa yang mau menggali lagi sejarah tokoh-tokoh Batak. Apalagi ada beberapa cerita bahwa Orang Batak Kuno sebenarnya sudah ahli dalam bidang medis, hukum, tentara dan perdagangan. (Misalnya mengapa orang-orang Tapanuli atau Batak banyak yang menjadi ahli Hukum dan diketentaraan?)

    Terima kasih

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Polisi Gerebek Lagi Permainan Ketangkasan
Artikel selanjutnya :
   » » Perbaiki Kerja Kontrak