Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Jumat
13
Apr '07

Kemenyan, Getah Magis yang Dulu Senilai Emas


Ada cerita yang sangat dipercaya oleh masyarakat Tapanuli, Sumatera Utara. Salah satu persembahan yang dibawa tiga majuz atau cendekiawan dari timur untuk bayi Yesus yang baru dilahirkan di Betlehem itu berasal dari Tanah Tapanuli. Persembahan itu berupa kemenyan, mendampingi dua persembahan lainnya, emas dan mur.

Lewat cerita turun-temurun, masyarakat Tapanuli percaya kemenyan itu dibawa dari Pelabuhan Barus, yang dulu pernah menjadi pelabuhan besar, menuju Timur Tengah, hingga ke Betlehem.

Cerita itu semakin bergulir mengingat sebagian besar penduduk Tapanuli beragama Kristen dan Katolik yang erat dengan cerita kelahiran Nabi Isa.

Kebenarannya memang perlu diteliti, tetapi setidaknya dari cerita itu bisa terlihat bahwa sampai sekarang pun getah harum bernama kemenyan, yang dalam bahasa Batak disebut haminjon, itu begitu erat dengan kehidupan orang Tapanuli.

Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumatera Utara yang juga mantan Bupati Tapanuli Utara RE Nainggolan menjelaskan, kemenyan pernah sangat menyejahterakan masyarakat Tapanuli. Dan, getah harum itu ikut pula membesarkan namanya. “Nenek saya pedagang kemenyan,” tuturnya.

Ia tahu persis, pada tahun 1936 neneknya sudah mempunyai mobil untuk mengangkut kemenyan dari Tapanuli ke Pelabuhan Sibolga. Saat itu harga satu kilogram kemenyan sama dengan satu gram emas. Standar itu dipakai terus oleh petani dan pengepul di Tapanuli: Satu kilogram kemenyan sama dengan satu gram emas. Satu kilogram kemenyan juga setara satu kaleng (16 kilogram) beras.

Selain cerita tentang persembahan dari timur untuk Nabi Isa itu, tak banyak orang tahu sejarah kemenyan di Tapanuli. Kebanyakan warga menyebutkannya sebagai tanaman ajaib yang sudah ada ratusan tahun dan menghidupi masyarakat Tapanuli.

Washington Situmorang (70), petani di Doloksanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan, mengutarakan, pada tahun 1960-an harga kemenyan benar-benar sama dengan emas. Harga itu pelan-pelan surut. Sekitar tahun 1980-an harga kemenyan terus merosot hingga hanya separuh, bahkan sepertiga harga satu gram emas.

Menurut Thomson Silaban, staf bidang rehabilitasi hutan Dinas Pertambangan dan Kehutanan Kabupaten Humbang Hasundutan, jika sebelum tahun 1980 kemenyan mampu menyumbang 60 persen ekonomi rumah tangga, kini turun menjadi sekitar 20 persen.

Kemenyan (Stryrax sp) yang termasuk famili Stryraccaceae dari ordo Ebeneles diusahakan oleh rakyat Sumatera Utara di tujuh kabupaten, terutama di Kabupaten Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Pakpak Bharat, dan Toba Samosir. Tanaman ini juga dikembangkan di Dairi, Tapanuli Selatan, dan Tapanuli Tengah meski tidak terlalu banyak. Sedangkan penghasil kemenyan terbesar masih di Tapanuli Utara dan Humbang Hasundutan.

Di Tapanuli Utara, kemenyan menjadi komoditas andalan daerah di bawah kopi dan karet. Dari 56.003 keluarga di kabupaten itu, 30.446 keluarga atau lebih dari 54 persen menjadikan kemenyan sebagai sumber penghasilan. Di Humbang Hasundutan bahkan sekitar 65 persen keluarga (33.702) hidup dari pohon kemenyan. Komoditas ini menduduki posisi kedua di bawah kopi.

Dinas Perkebunan Sumatera Utara memperkirakan, pada tahun 2005 luas tanaman kemenyan di Sumatera Utara mencapai 23.592,70 hektar dengan produksi 5.837,86 ton. Produktivitas getah 294,31 kilogram per hektar per tahun. Getah kemenyan mengandung asam sinamat sekitar 36,5 persen yang banyak digunakan untuk industri farmasi, kosmetik, rokok, obat-obatan, dan ritual keagamaan.

Bukan hanya untuk ritual

Sebelum agama Kristen masuk ke Tapanuli, kemenyan banyak digunakan masyarakat Batak untuk kegiatan ritual penyembahan alam. Selama ribuan tahun, kemenyan banyak digunakan dalam tradisi penghormatan kepada Sang Pencipta.

Asap pembakaran yang membubung tinggi menjadi representasi doa yang juga naik kepada Sang Pencipta. Dalam tradisi Katolik, misalnya, kemenyan digunakan dalam misa khusus, menjadi bagian dari serbuk ratus yang dibakar dalam arang membara yang menghasilkan asap harum.

Di tanah Jawa dan juga di banyak kebudayaan dunia, harum asap kemenyan dipercaya mampu mendatangkan roh tetapi juga untuk mengusir roh. Bau harumnya menimbulkan sensasi magis. Kemenyan juga menjadi serbuk campuran rokok yang kebanyakan diisap oleh masyarakat pedesaan dan berusia lanjut di Jawa Tengah.

Hanya Tapanuli dan sedikit di Sumatera Barat yang menjadi penghasil kemenyan di Indonesia. Sayangnya, meski komoditas ini sudah diperdagangkan ratusan tahun, tak ada inovasi dalam mengembangkan perkebunannya. Inovasi produk juga belum ada. Kebanyakan petani tak tahu jalur perdagangannya. Untuk apa dan siapa pengguna akhir kemenyan pun, mereka tidak tahu. Akibatnya, harga getah ini sangat mudah dipermainkan pedagang karena petani tak tahu standar harga dunia.

Tujuh macam

Kemenyan tumbuh di daerah pegunungan dengan ketinggian 900-1200 meter di atas permukaan laut, bersuhu antara 28-30 derajat Celsius di tanah podsolik merah kuning dan latosol. Keasaman tanah antara 5,5 hingga 6,5 dengan kemiringan tanah maksimal 25 derajat.

Tanaman tahunan ini mampu hidup hingga lebih dari 100 tahun. Ada 20 jenis pohon kemenyan, tetapi yang banyak tumbuh di Sumut adalah kemenyan jenis durame (Styrax Benzoine) dan kemenyan toba (Styrax Sumatrana). Kemenyan durame lebih cepat tumbuh dibandingkan dengan jenis toba. Durame bisa disadap sejak umur 6-7 tahun dengan warna getah cenderung hitam, sedangkan toba baru disadap umur 10-13 tahun dengan jenis getah putih.

“Merawat pohon kemenyan itu seperti memperlakukan gadis. Gampang-gampang susah, harus banyak perhatian,” kata Washington Situmorang.

Berbeda dengan karet, penyadapan getah kemenyan tak perlu wadah. Getah dibiarkan keluar dari batang pohon, meleleh di kulit pohon.

Pada cukilan pertama, batang pohon akan menghasilkan getah berwarna putih yang baru bisa diambil sekitar tiga bulan kemudian. Getah itu menempel di kulit pohon sehingga untuk memanen petani harus mencongkel kulit batang kemenyan.

Getah putih yang disebut sidukabi atau mata zam-zam ini bernilai paling tinggi. Namun, kini harganya hanya sekitar Rp 60.000 hingga Rp 75.000 per kilogram di tingkat petani.

Bekas cukilan itu akan menghasilkan tetesan getah kedua yang disebut jalur atau jurur yang bisa dipanen dua-tiga bulan setelah memanen mata zam-zam. Setelah itu muncul getah ketiga yang disebut tahir. Harganya jauh lebih murah daripada harga mata, sekitar Rp 20.000 hingga Rp 25.000 per kilogram. Jika mata berwarna putih, warna tahir atau jurur semakin menghitam.

Getah-getah kemenyan itu bisa dikelompokkan sedikitnya dalam tujuh macam dari yang paling mahal hingga termurah, yakni mata kasar, kacang, jagung, besar, pasir kasar, pasir halus, hingga abu. Mata kasar bisa bernilai Rp 100.000 per kilogram di tingkat pengumpul, sedangkan abu atau gilingan halus kulit kemenyan seharga Rp 3.000 per kilogram.

Di tempat pengumpul, pemilahan kemenyan ini bak memilah emas dari pasir. Buruh-buruh perempuan dengan tekun memilah-milah butiran itu. Getah kemenyan yang umurnya tua biasanya memang berwarna kuning menyerupai emas.

Dalam satu pohon bisa terjadi banyak cukilan. Di Tarutung atau Doloksanggul cukup mudah menemukan tanaman ini. Asal terlihat tanaman yang batangnya penuh luka cukilan, bisa dipastikan itu tanaman kemenyan.

Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Humbahas Aslin Simamora yang juga anak petani kemenyan menyebutkan, ada ritual yang dulu dianut oleh moyangnya sebelum mengguris (menyadap) pohon kemenyan.

Petani perlu membuat kue itak gurgur, kue yang terbuat dari campuran tepung beras, gula merah, dan parutan kelapa. Kue itu dikunyah lalu disemburkan ke batang pohon kemenyan yang hendak disadap.

Karena sejarah yang panjang itu, tak heran jika masyarakat marah saat PT Toba Pulp Lestari (TPL) menebangi pohon kemenyan rakyat yang berada di register 41 di perbatasan Kabupaten Humbang Hasundutan dan Samosir akhir tahun lalu. DPRD Humbang Hasundutan sampai membentuk panitia khusus yang mendesak PT TPL melindungi kawasan tanaman kemenyan rakyat.

Sumber : (Aufrida Wismi Warastri) Harian Kompas


Ada 4 tanggapan untuk artikel “Kemenyan, Getah Magis yang Dulu Senilai Emas”

  1. Tanggapan fernando:

    saya sangat tertarik dengan pohon kemenyan tolong ditambahkan informasi pengolahan dan budidayanya bravo silaban net

    Parhobas [SB] :
    Terimakasih bung Fernando atas perhatiannya terhadap kemenyan (haminjon) dan dukungannya terhadap situs [SB]. Kami saat ini masih mengupayakan informasi-informasi seputar kemenyan dan andaliman. Mohon bersabar ya.. Berlangganan saja dengan RSS Fed kami agar suatu waktu berita tersebut di publish, bung Fernando ter-update seketika. Trims..

  2. Tanggapan Lina Purba:

    Horas tulang Silaban. Mamaku boru Hutabarat, jadi marga Silaban mestinya kupanggil tulang atau ito mungkin ya.

    Saya sangat senang menemukan informasi ini. Tapi saya ingin tau lebih banyak kegunaan kemenyan selain untuk essence/dupa. Kandungannya apa aja sehingga manfaatnya dapat diriset secara ilmiah. Kalau ini udah jelas, maka kita tinggal memasarkannya ke dunia luar. Untuk saat ini kemenyan ini diexport kemana saja? Mohon diinfo.

    Saya juga tertarik untuk tau lebih banyak tentang cara pengembangan tanaman andaliman. Saya pikir kita bisa saja memperdagangkannya dalam kemasan serbuk/bubuk. Apa kita buat saja pabrik pengemasannya? Saya sih ga ada modal untuk itu, tapi kalau memungkinkan, mari kita carikan investor.

    Mohon info saya kalau ada kabar baru tentang agrobisnis dari bona pasogit.

    Oya, saya bangga membuka web ini. Kita boleh tinggal di kampung tapi tidak mesti kampungan kan? Buktinya web ini cukup bagus dan informatif. Ini sudah termasuk pature huta juga. Ya sudah dulu ya untuk saat ini. Terima kasih

    Salam MARTABE dari Jakarta
    Lina Purba

  3. Tanggapan christofferson panggabean:

    Horas Ompung Silaban,
    Saya saat ini tinggal di London, karena dibawa orang tua saya dulu pindah tugas sejak tahun 1992.Waktu dulu papa saya pernah cerita tentang kemenyan yang menjadi hasil utama kampung ompung saya di Pahae Sibatu-batu.
    Pertanyaan saya kemenyaan jadi bahan baku untuk apa.

    Terima kasih untuk penjelasan Ompung

    Mauliate

  4. Tanggapan Maridup Hutauruk:

    Artikel tentang kemenyan sangat sedikit ditemukan di Indonesia. Yang lebih banyak informasi yang informatif hanya dari situs dengan searching kata kunci ’styrax benzoe’. Dahulu kala di jaman para nabi, kemenyan (haminjon) memang menjadi komoditi utama Tanah Batak disamping emas. Saat ini, komoditi ini masih terus diusahakan dan umumnya secara tradisional oleh masyarakat Batak, artinya tanpa pembudidayaan melainkan pohon yang tumbuh sendiri di tanah ulayat marga2. Biasanya masyarakat mempersiapkan diri membawa perbekalan lauk pauk dll. untuk masuk ke hutan kemenyan dan bahkan harus tinggal selama seminggu. Harga saat ini sekitar Rp90 ribu rata2 dan berkualitas tiga tingkatan. Walaupun komoditi ini dapat menjanjikan kehidupan yang layak dari para petani, namun mereka tetap terbelenggu dengan kemiskinan dan terpencil dari akses transportasi. Tataniaga kemenyan belumlah tertata baik dan umumnya para petani terperangkap dengan sistim pembayaran ‘Cek mundur’ artinya pedagang pengumpul memberikan pembayaran dengan ’surat berharga cek’ sebagai pengganti uang dan bau dapat dicairkan dalam tenggang waktu 2 minggu. Ironisnya umumumnya pencairan itu baru bisa dicairkan setelah sekitar 1 bulan untuk alasan2 yang klasik ‘dana cek tak ada’. Dalam masa 1 bulan petani sudah harus berhutang untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga termasuk untuk kehidupan masuk hutan memetik kemenyan. Maka hasil penjualan kemenyan hanya berkutat untuk pembayaran bunga pinjaman.

    Karena hampir tak ada pembudidayaan pohon kemenyan sehingga masyarakat hanya memanfaatkan biji2 yang tumbuh sendiri lalu mereka melakukan tebang pilih untuk tanaman tua. Tanaman tua yang sudah berumur puluhan tahun sudah mencapai 20m yang harus dipanjat dan bergantung diatas tali yang disebut tali polang, lalu dilakukan pemahatan atau penggurisan untuk memanen. Harga eceran yang terpantau di luar negeri adalah sekitar US$9 (9 dollar AS) untuk 1 ons (100 gram) dalam bentuk serbuk yang sudah di-furifikasi dan penggunaannya untuk umum adalah sebagai bahan ‘aroma therapy’ disamping untuk industri perfume. Harga ini tentu sama dengan 10 x dari harga petani. Mungkin salah satu kendala yang harus ditanggulangi bagi petani adalah pembayaran cash, demikian kata salah seorang petani yang pernah saya ajak bincang di hutan haminjon Parmonangan. Saat ini dikawasan perbatasan Humbang dan Taput memang sudah ribuan ha berubah menjadi eucalyptus yang diusahaai oleh PT Toba Pulp Lestari (TPL), konon katanya lahan yang ditanami dengan eucalyptus akan menjadi tungil dak bisa ditanami apa2 lagi.

    Sewaktu melintasi perkampungan dikaki gunung tempat tumbuhnya pohon kemenyan menyerbakkan wewangian yang harum baunya oleh karena petani memasak dengan ranting2 pohon kemenyan sebagai kayu bakar. Untuk masyarakat yang sudah agak jauh dari hutan kemenyan umumnya agak hati2 membakar kemenyan karena takut tertuduh sebagai pemelihara begu ganjang, dan inilah pengaruh agama mereka yang dengan tanpa sadar sudah mematikan perekonomian petani kemenyan padahal aroma kemenyan yang dibakar dapat mengharumkan ruangan dan mematikan kuman2. Saya pernah membakar kemenyan yang saya minta dari petani dan saya gunakan untuk mengancing gagang parang dan anehnya tetangga sudah mencurigai sesuatu padahal kemenyan dari Tanah Batak inilah yang dipersembahkan orang majus kepada Yesus. Mungkin bagi orang Batak yang bersinggungan dengan daerah perkotaan yang menghakimi penggunaan kemenyan akan masuk surga dengan kepercayaan barunya itu? wallahuallam!

    Sekarang ini kemenyan sudah dihasilkan di Burma dan di India Selatan. Di kawasan Indonesia lainnya terdapat juga di Jambi. Jenis2 kemenyan dari species lain disebut juga Damar.

    Mudah-mudahan ini sebagai tambahan informasi dari artikel di atas. Horas

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.