Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Rabu
11
Apr '07

Langka Obat HIV/AIDS


Sejak tahun 2005 Pemerintah Pusat menyediakan obat ARV gratis.

Pemerintah harus serius mengelola penanganan penyakit menular dan mematikan seperti HIV/AIDS, yang kasusnya terus meningkat dari tahun ke tahun. Tuntutan ini berkaitan dengan munculnya masalah tidak lancarnya distribusi obat ke daerah, terutama obat antiretroviral.

Sejumlah orang dengan HIV/ AIDS atau ODHA di Jayapura, misalnya, mengeluh sulit mendapatkan obat antiretroviral (ARV) jenis evafirenz, karena stok obat ini habis di rumah sakit umum daerah tersebut.

“Hal ini membahayakan para ODHA, karena pengobatan antiretroviral yang terputus berisiko menyebabkan HIV dalam tubuh resisten, sehingga ARV gagal menghambat virus itu menggandakan diri,” ujar Koordinator Jayapura Support Group (JSG), Robert Sihombing, Senin (9/4).

Habisnya stok obat itu di RSU Jayapura, berdasarkan laporan sejumlah ODHA, terjadi sejak pekan lalu. Menurut Sihombing, ODHA hanya memiliki persediaan ARV sampai pemakaian hari Selasa kemarin. Obat ini harus dikonsumsi 12 jam sekali.

Sementara itu Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Departemen Kesehatan I Nyoman Kandun, ketika dihubungi Selasa kemarin, mengatakan, stafnya sudah menerima permintaan obat antiretroviral evafirenz dan sudah mengirimkan ke Jayapura.

Kini obat-obatan itu dalam proses pengiriman ke Papua oleh perusahaan jasa pengiriman.

Saat ini, dari 61 anggota JSG, 23 orang di antaranya menggunakan ARV. Dan dari jumlah itu, enam orang memakai ARV jenis evafirenz.

Staf Teknis Provinsi untuk Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan dari Indonesia HIV Prevention and Care Project, dr Helena Picarima, menjelaskan, evafirenz adalah jenis yang paling memungkinkan dikombinasi dengan obat penyakit tuberkulosis.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Tigor Silaban, menjelaskan, penyediaan ARV di Papua dilakukan oleh pemerintah pusat. “Pada tahun 2004, kami masih membeli sendiri ARV dengan Dana Otonomi Khusus Papua. Namun, karena sekarang pemerintah pusat menyediakan ARV secara gratis, maka kami tak lagi membeli ARV. Jika rumah sakit kehabisan ARV, mereka seharusnya mendapat suplai dari pemerintah pusat,” kata Silaban.

Pengelola Gudang Farmasi Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Lusi Ang, menyatakan pihaknya tidak memiliki data ketersediaan ARV jenis evafirenz di RSUD Jayapura.

“Kami selama ini tidak pernah dilibatkan dalam distribusi ARV, jadi kami tidak tahu tentang pasokan obat itu. Sebenarnya, kami pernah berkirim surat kepada pemerintah pusat, meminta agar Dinas Kesehatan Provinsi Papua dilibatkan dalam distribusi ARV, akan tetapi sampai sekarang surat itu tidak pernah dibalas,” tutur Lusi.

Sumber : (ATK/ROW) Harian Kompas & PPK LIPI


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Polda Jatim Turunkan Tim Khusus
Artikel selanjutnya :
   » » Peraturan Jaminan Pesangon Segera Diselesaikan