Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Rabu
4
Apr '07

“Ulos” versus Modernisasi, Siapa Peduli…?


Kabupaten Tapanuli Utara, seperti daerah lainnya juga memiliki keunikan yang apabila tidak dipertahankan dan dijaga akan lenyap oleh arus modernisasi. Lantas siapa yang masih konsisten dengan keunikan ini?

Salah satu keunikan yang banyak menyimpan rahasia keterampilan seni yang unik yang berpadu dengan budaya terdapat dalam ulos, sebuah pakaian adat tradisional Batak. Dan keunikan yang sekaligus menjadi kekayaan itu setidaknya masih terjaga berkat ketekunan masyarakat yang masih peduli dengan tradisi seni dan budayanya.

Adalah pasangan suami-istri St D Sitompul (67) dan F Br Panggabean (60) sejak tahun 1980-an telah bergelut dalam melestarikan tenun ulos. Berbekal keterampilan turun-temurun dari orangtua, tradisi sekaligus keterampilan yang membutuhan bakat seni ini pun kemudian menjadi sumber penopang hidup keluarga.

Bukan hanya mereka, penduduk Desa Sitompul Kecamatan Siatas Barita, sekitar lima kilometer dari Kota Tarutung ini, mayoritas memiliki keterampilan bertenun ulos selain bertani padi.

“80 persen penduduk Desa Sitompul bertenun ulos,” kata Sitompul ketika ditemui di kediamannya kemarin, beberapa waktu yang lalu (Juli 2006).

Proses pembuatan ulos bukanlah pekerjaan mudah. Selain butuh waktu lama, juga dibutuhkan kecakapan seni dalam memadukan warna serta merangkai benang menjadi sebuah ulos maupun “mandar” (sarung) yang bermotif seni.

“Ini bukan pekerjaan mudah,” begitu kata Sitompul sambil menunjuk-nunjukkan bahan-bahan pewarna kimia yang tesusun rapi di belakang rumahnya. “Inilah kantor saya,” tambahnya berseloroh.

Bahan baku utama, benang, adalah penentu. Semakin tinggi kualitas benang semakin tinggi juga harganya. Di samping itu, semakin sulit mengerjakan corak ulos maka semakin tinggi pula harganya. Misalnya “Mandar Surat Batak”, harganya lebih mahal dari ulos atau mandar lain, mulai Rp 250 ribu hingga Rp 2 juta.

Waktu pembuatannya juga tidak sebentar, satu ulos atau mandar dengan kualitas benang bermutu dan tingkat kesulitan pembuatan corak lebih tinggi membutuhkan waktu dua minggu jika dikerjaan oleh satu orang. “Makanya kami lebih sering mengerjakannya bersama-sama,” kata Br Panggabean.

Sementara ulos yang pembuatannya sederhana berharga lebih murah. Seperti halnya “Ulos Ragi Hidup”, “Ragi Hotang” dan “Sadun” harganya lebih murah, yakni mulai Rp 20 ribu hingga Rp 600 ribu.

Benang 100 adalah salah satu bahan baku berkualitas tinggi. Benang ini didatangkan dari India setelah dibeli oleh agen dari Surabaya, Bandung atau Jakarta. Warna awalnya masih putih polos. “Di sinilah dibutuhkan keterampilan khusus memadukan warna kimia menjadi warna yang diinginkan,” kata Sitompul. Selanjutnya setelah benang diberi warna, proses penenunan pun dilakukan setelah benang-benang berwarna itu kering oleh sinar matahari.

“Nah, di sinilah proses yang lebih sulit karena membutuhkan kreasi seni,” kata Sitompul. Selain benang 100, Sitompul mengatakan, untuk menciptakan corak atau tulisan pada ulos mereka juga menggunakan benang emas (yang warnanya menyerupai emas), nilon, porada, dan benang singer.

Namun Sitompul mangaku, ia lebih sering mendapatkan pesanan terlebih dahulu daripada menjualnya langsung kepada agen ulos. “Selain dari Tarutung, pesanan sering juga datang dari Medan, Jakarta, dan kota-kota lain. Mereka sudah mengenal saya dan kampung ini lewat ulos,” katanya.

Sitompul, setelah 20 tahun menggeluti tenun ulos, hingga kini telah berhasil menamatkan tiga orang anaknya dari universitas. “Ini semua berkat kuasa Tuhan dan ketekunan keluarga mempertahankan ulos sebagai salah satu kekayaan dari Tanah Batak,” katanya.

Penulis : Tonggo Simangunsong

Sumber : Tonggo Press


Ada 10 tanggapan untuk artikel ““Ulos” versus Modernisasi, Siapa Peduli…?”

  1. Tanggapan Monang Naipospos:

    Tenun ulos secara tradisional perlu dilestarikan. Saya sudah temukan tenunan ulos badannya saja, sementara motif itu dicetak dengan sablon. Ketika hal itu saya konfirmasi kepada pada petenun di Desa Meat, mereka merasa cemas akan kehilangan kesempatan karena harga ulos cetakan jauh lebih murah.
    (off publish by moderator)Terimakasih atas dorongannya di kunjungan www.tanobatak.wordpress.com dan pamitaonline.wordpress.com

  2. Tanggapan gunawan:

    Seandainya ajaran agama yang menganut bakar-membakar ulos masuk ke daerah amang sitompul ini, wah bakalan gak ada lagi penghasilan amang sitompul ini.

    Kalau boleh tahu, jenis-jenis ulos apa saja dan apa kegunaannya atau fungsinya masing2 ulos..Kalau ada pembaca yang lain tahu boleh kasih info ke saya,

    Mauliate, Horas

  3. Tanggapan Togar Silaban:

    Ulos akan tetap diperlukan oleh masyarakat Batak. Yang penting adalah agar penenun ulos meningkatkan kualitas hasil ulosnya. Memang harus agak jeli membaca kondisi pasar supaya tidak kalah dengan ulos cetakan atau sablonan.
    Selama masyarakat Batak masih melestarikan adat, selama itu pula ulos diperlukan.

  4. Tanggapan Charly Silaban:

    Sebagai wujud cinta saya terhadap ulos, saya akan memperkenalkan gaun pengantin dari ulos yang dipadu dengan kebaya modern hasil akulturasi dari seniman ulos ternama, “Martha Ulos” dan perancang Kebaya For The World, “Raden Luire Sirait”. Foto karya masterpiece ini nanti akan saya publikasi di silaban.net setelah digunakan pada pesta pernikahan saya di bona pasogit dan resepsi di jakarta pertengahan juni nanti. Horas.. :)

  5. Tanggapan Tonggo Simangunsong:

    Jika saja semua orang Batak begitu mencintai budayanya sendiri seperti Sdr. Charly Silaban, saya yakin tak akan ada lagi kaum Batak kesasar yang kini sudah menjamur di Bona Pasogit.

    Aku dukung sikap itu.

    Horas…

  6. Tanggapan Charly Silaban:

    @Tonggo Simangunsong
    Ah laekku ini bisa aja hehehe.. Yang kuperbuat belumlah seberapa lae.. Hanya sebagai wujud cinta saja. Mauliate atas dukungannya lae.. :)

  7. Tanggapan Okto S Silaban:

    Sebelumnya saya mau bertanya, filosofi ulos itu bagi orang batak sebenarnya apa. Ulos itu dibuat untuk apa oleh pendahulu kita sebelumnya? Setelah itu kita harus lebih berpikir bagaimana agar dapat mengglobalkan ulos ini khususnya pada generasi muda tanpa harus menghilangkan nilai filosofi yang saya tanyakan sebelumnya.

  8. Tanggapan Togar Silaban:

    Pertanyaan Okto ini merupakan pertanyaan banyak generasi muda kita sekarang. Maka perlu dicari artikel yang membahas filosofi ulos itu. Tidak hanya “feature” seperti tulisan original diatas. Tulisan filosofi itu saya kira ada di beberapa buku, tapi mungkin sudah ada yang menuliskannya dengan lebih ringkas dan menarik. Apakah “browsing” bisa menemukan itu ??. Charly mungkin bisa membantu ??.
    Mudah-mudahan nantinya ulos tidak terjebak menjadi sekedar souvenir dari Tapanuli. Salah satu caranya, ya itu dengan menyertakan tulisan singkat tentang filosofi ulos pada ulos yang dijual.

  9. Tanggapan Charly Silaban:

    @ Okto & Togar
    Itulah sebenarnya kelemahan kita orang batak ini.. Sangat minim akan pengarsipan informasi. Adapun arsip berupa pustaha malah hanya sebagai barang pajangan di museum2 luar negri..

    Kalau ditanya filosofi ? sepertinnya terlalu susah untuk menjawabnya. Butuh riset yang mendalam. Mungkin informasi yang masih mudah didapatkan sekarang adalah tentang jenis ulos dan fungsinya (digunakan dalam acara apa) serta motif ulos (gatip). Mudah2an informasi tersebut dapat dalam waktu dekat sehingga bisa disajikan kembali di situs ini. Mauliate.. :)

  10. Tanggapan Richard Sitompul:

    horas…
    salut buat orang batak yang di tengah modernisasi masih mempertahankan adat-istiadatnya. hal ini harus kita ikuti agar budaya bangso batak tidak punah. satu lagi bahwa kita harus bangga sebagai orang batak, karena keturunan kita dari yang pertama sampai dengan terakhir ada catatannya.
    butima majo bravo silaban.net

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Hutan Register 67 Adian Tinjoan dan Batu Ardan Dirambah
Artikel selanjutnya :
   » » Normariati Silaban: Perawat Data