Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Rabu
21
Mar '07

“O Tano Batak”, Bukan Khusus untuk Orang Batak


Acara musik “O Tano Batak” yang ditayangkan “Indosiar” cukup digemari para penonton. Agar lebih semarak, tayangan musik ini juga sengaja menghadirkan penyanyi-penyanyi non-Batak.

Stasiun televisi Indosiar menayangkan kembali program musik bernuansa Batak. Kali ini program hiburan itu diberi judul O Tano Batak. Jauh sebelumnya, stasiun televisi ini menayangkan program musik dengan nuansa yang sama yaitu Horas.

O Tano Batak ditayangkan Indosiar setiap hari Rabu pukul 23.00 WIB. Bila dibandingkan dengan program sebelumnya (Horas), ada perbedaan yang melekat pada O Tano Batak. Misalnya, kehadiran para penyanyi non-Batak yang membawakan lagu-lagu batak. Musiknya nya pun berbeda, dari yang asli sampai yang modern.

Dari beberapa penayangan program ini, penyanyi yang turut berpartisipasi antara lain Edo Kondologit, Andy Rif, Rieke Roslan. Itu adalah sebagian dari penyanyi non-Batak. Sementara, para penyanyi Batak antara lain: Joy Tobing, Victor Hutabarat, Judika Sihotang, Silaen Sister, dan Trio Lamtama.

Selain penyanyi dan musik yang berbeda, program dengan pembawa acara (MC) Charles Bonar Sirait ini, bukan hanya untuk melepaskan kerinduan orang Batak terhadap kebudayaannya. Program ini juga bisa dinikmati non-Batak karena lagu-lagu yang disuguhkan bukan lagu Batak saja.

Perbedaan-perbedaan inilah menurut Humas Indosiar Gufroni Sakaril, yang menjadi nilai tambah O Tano Batak sekalipun bisa dikatakan merupakan reinkarnasi Horas.

Lebih lanjut Gufron mengatakan, lagu-lagu yang saat ini populer di tengah masyarakat, seperti SMS disuguhkan pada O Tano Batak. Bahkan, ujarnya, lagu-lagu berbahasa Inggris juga bisa disuguhkan. Dengan sifat yang lebih terbuka, O Tano Batak menjadi media akulturasi berbagai budaya. Setidaknya cara ini bisa menarik perhatian penonton yang nonBatak.

Muda dan Tua

Sekalipun dikemas dengan banyak variasi, tetapi esensi dari budaya Batak tidak ditinggalkan. Konsep inilah yang diusung Music Director Viky Sianipar. Bersama dengan Viky Sianipar Band, Viky mengiringi sejumlah penyanyi yang tampil pada O Tano Batak untuk episode 1-4 dan 9-13.

Menurut dia, musik yang disuguhkan pada program tersebut ditujukan untuk penonton berusia 15 tahun ke atas atau dari kaum muda sampai orangtua. Atas dasar itu, musik yang dihadirkan tidak hanya musik asli (orisinal) tetapi juga modern, seperti R&B, rap, pop, dan rock.

“Aransemen musik tergantung pada penyanyinya. Misalnya bila Vina Panduwinata yang nyanyi, saya akan mengemas secara pop,” ujarnya.

Variasi musik tersebut diharapkan bisa menarik perhatian orang muda, khususnya orang Batak yang bukan kelahiran Sumatera Utara. Pasalnya, orang muda yang tidak terbiasa dengan musik tradisional Batak, misalnya sarune (terompet), hasapi (kecapi) akan lebih mudah menerima musik yang dikemas modern.

Musik modern tersebut disesuaikan dengan jenis lagu. Artinya, tidak semua lagu Batak bisa dikemas dengan irama rock, atau rap. Lagu Sinanggartulo, contohnya, adalah lagu gembira yang bisa dibawakan dengan irama rap. Berbagai variasi itu, pastinya tidak meninggalkan prinsip aransemen, yaitu tema, mood si pencipta lagu.

Lebih jauh Viky menyebut, bagi dirinya O Tano Batak tidak sekadar mengasah keterampilannya di bidang musik. Lebih dari itu, program ini merupakan wadah untuk melestarikan budaya Batak. Kalau bukan generasi muda, siapa lagi yang akan meneruskan budaya Batak?

O Tano Batak memang banyak mengemas lagu -lagu Batak. Sebagian besar para penyanyinya juga kelahiran Tapanuli, Sumatera Utara. Meskipun demikian, konsep acara ini bukan hanya diperuntukkan khusus penonton beretnis Batak.

“Acara ini sebenarnya banyak dibantu oleh para musisi non-Batak. Mereka berkolaborasi dalam menyajikan lagu-lagu Batak,” tutur Gufron.

Setiap episode terdiri dari empat segmen. Lagu-lagu lama yang terkenal seperti Nasonang Do Hita Nadua ditampilkan bersama lagu baru. Gufron mengharapkan, acara ini menjadi penawar rindu bagi etnis Batak yang kerap terkenang pada kampung halamannya.

“Kami juga mengajak musisi non-Batak dalam acara ini. Mereka diajak berkolaborasi menggarap acara ini,” tambah Gufron.

Dalam kehidupan sehari-hari, orang Batak mencintai lagu-lagu asal tanah kelahirannya. Lagu-lagu sentimental sangat disenangi mereka. Seperti lagu Butet dan Anju au. Ada pula beberapa lagu gembira yang mengingatkan kampung halaman. Seperti: Lisoy, rura Slindung, Maragam-ragam, Si Togol dan A Sing Sing So.

“Kami menyediakan fasilitas kepada para penggemar lagu-lagu daerah. Tapi bukan berarti itu suatu acara yang bersifat sektarian. Kecintaan pada tanah kelahiran tak membuat orang menjadi terkotak-kotak,” ujar Gufron.

Langkah yang diambil Indosiar tak terhenti di sana saja. Hal itu akan disusul dengan kesenian lain yang juga digemari etnis lain Semuanya mengacu kepada Bhinneka Tunggal Ika. Boleh jadi, orang Jawa terpesona dengan daerah Lampung karena pernah tinggal di sana.

“Bukan mustahil, orang Minang yang menyukai lagu-lagu Melayu asli karena pernah merantau ke Riau, atau masyarakat Banjar yang teringat akan kota yang pernah disinggahi saat mendengar lagu Jawa,” tutur Gufron.

Sumber : [N-4/FA/U-5] Suara Pembaruan


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Kualifikasi DPLK tak perlu diatur khusus
Artikel selanjutnya :
   » » PDAM Ngotot Suplai Pelindo