Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Minggu
11
Mar '07

Nommensen dan Peradaban Batak


“Hidup atau mati biarlah aku tinggal di tengah-tengah bangsa ini untuk menyebarkan firman dan kerajaan-Mu. Amin” (Dr Ingwer Ludwig Nommensen)

Berbicara tentang peradaban Batak, barangkali akan lain ceritanya jika Dr Ingwer Ludwig Nommensen tidak pernah menginjakkan kakinya di Tanah Batak. Siapakah dia dan mengapa ia dijuluki sebagai “Apostel Batak”?

Nommmensen adalah manusia biasa dengan tekad luar biasa. Perjuangan pendeta kelahiran 6 Februari 1834 di Marsch Nordstrand, Jerman Utara itu dalam melepaskan animisme dan keterbelakangan dari peradaban Batak patut mendapatkan penghormatan.

Maka tak heran, suatu kali dalam sidang zending di Barmen, ketika utusan Denmark dan Jerman mengklaim bahwa Nommensen adalah warga negara mereka, Pendeta Dr Justin Sihombing yang hadir waktu itu justru bersikeras mengatakan bahwa Nommensen adalah orang Batak.

Nommensen muda, ketika genap berusia 28 tahun telah hijrah meninggalkan Nordstrand dan hidup di Tanah Batak hingga akhir hayatnya dalam usia 84 tahun. Di masa muda Masa mudanya, ia lewati dengan menjalani pendidikan teologia (1857-1861) di Rheinische Missions-Gesselschaft (RMG) Barmen, setelah menerima sidi pada hari Minggu Palmarum 1849, ketika berusia 15 tahun.

Sebenarnya, kedatangan penginjil-penginjil Eropa ke Tanah Batak pun sudah dimulai sejak 1820-an. Pada 1824 Gereja Baptis Inggris mengirimkan dua penginjil: Pendeta Burton Ward dan Pendeta Evans yang terlebih dahulu tiba di Batavia. Pendeta Evans menginjil di Tapanuli Selatan, Pendeta Burton Ward di wilayah Silindung. Sayangnya, mereka ditolak. Konon, animesme masih kuat dalam kehidupan suku Batak.

Sepuluh tahun kemudian, dua penginjil Amerika: Samuel Munson dan Henry Lyman pun tiba di Silindung. Tapi, mereka malah mendapati ajalnya di sana setelah dibunuh oleh sekelompok orang di Saksak Lobu Pining, sekitar Tarutung. Konon, pembunuhan dilakukan atas perintah Raja Panggalamei. Kedua missionaris dimakamkan di Lobu Pining, sekitar 20 kilometer dari Kota Tarutung, menuju arah Kota Sibolga.

Impian dari kesederhanaan
Impian Nommensen untuk menjadi penginjil sudah muncul sejak kecil, meski pada pada masa-masa itu ia sudah terbiasa hidup sederhana. Dalam kesederhanaan itu, disebabkan orangtuanya yang tunakarya dan sering sakit-sakitan, ia bahkan sering kelaparan karena tidak punya makanan sehingga terpaksa mencari sisa-sisa makanan di rumah-rumah orang kaya bersama teman-temannya. Maka, sejak usia 8 tahun pun ia sudah menjadi gembala upahan hingga umur 10 tahun.

Tapi, rintangan tak luput menghambat cita-cita mulia itu. Sekali waktu, ketika berusia 12 tahun, Nommensen mengalami kecelakaan ketika berkejar-kejaran dengan temannya dan tertabrak kereta kuda sehingga membuat kakinya lumpuh. Akan tetapi Tuhan berkehendak lain. Ketika dokter yang merawatnya menganjurkan agar kakinya diamputasi, ia menolak dan meminta agar didoakan oleh ibunya dengan syarat, jika doa itu terkabul ia akan memberitakan injil kepada orang yang belum mengenal Kristus. Tak lama kemudian doa itu terkabul dan ia pun sembuh.

Pada 1853, dengan keputusan yang matang, berbekal sepatu dan pakaian seadanya, ia pun pergi meninggalkan kampung halamannya untuk meraih cita-cita dan janjinya itu, yang juga sempat tertunda karena gagal menjadi kolesi di pelabuhan Wick. Ia kemudian bertemu dengan Hainsen, mantan gurunya di Boldixum. Hainsen lalu mempekerjakannya sebagai guru pembantu di Tonderm setelah beberapa waktu menjadi koster. Di sinilah ia bertemu dengan Pendeta Hausted dan mengungkapkan cita-citanya itu. Akhirnya, ia pun melamar di Lembaga Pekabaran Injil Rhein atau RMG Barmen.

Nommensen lalu mematangkan pengetahuannya tentang injil dengan kuliah teologia pada 1857, ketika berusia 23 tahun. Pada masa itu, pekerjaan sebagai tukang sapu, pekerja kebun dan juru tulis sekolah, turut disambinya, hingga ia lulus dan ditahbiskan menjadi pendeta pada 13 Oktober1861, yang kemudian membawanya ke Tanah Batak pada 23 Juni 1862.

Dari Norsdtrand ke Silindung
Nommensen, yang kini tetap dikenang dan dipanggil dengan gelar kehormatan “Ompu I, Apostel Batak”, dalam perjalanan misi zendingnya bukanlah tanpa rintangan. Bahkan, dalam beberapa kali ia pernah akan dibunuh dengan cara menyembelih dan meracunnya. Alasannya, ia dicurigai sebagai mata-mata “si bottar mata” (stereotip ini ditujukan kepada Bangsa Belanda).

Tapi ia tidak takut sebab janjinya kepada Tuhan harus dipenuhi. Sekali waktu ia pun berkata, ”Tidak mungkin, seujung rambut pun tidak akan bisa diambil kalau tidak atas kehendak Allah.”
Sebelumnya, setelah resmi diutus dari RMG Barmen ia terlebih dahulu menemui Dr H N Van der Tuuk, yang sebelumnya pada 1849 telah diutus oleh Lembaga Alkitab Belanda untuk mempelajari Bahasa Batak. Setelah mendapatkan mendapatkan informasi lebih jauh tentang Batak, maka pada 24 Desember 1861 ia pun berangkat dengan kapal “Partinax” menuju Sumatra dan tiba di Padang pada 16 Mei 1862. Dari sana ia kemudian meneruskan perjalanannya ke Barus melalui Sibolga.

Di sinilah pertama kali ia bertemu langsung dengan orang Batak kemudian mempelajari bahasa dan adatnya. Hanya saja, ia tak lama di sana. Selain karena sudah masukya agama Islam, ia melihat adanya nilai pluraritas antarsuku yang sudah menyatu di sana: Toba, Angkola, Melayu, Pesisir.

Maka, setelah beberapa bulan tinggal di sana, ia pun memutuskan untuk pergi ke daerah lain: Sipirok. Lalu, atas keputusan rapat pendeta yang ke-2 pada 7 Oktober 1862 di Sipirok (setelah sebelumnya melayani penduduk di Parau Sorat, dan mendirikan gereja yang pertama di sana), pergilah ia menuju wilayah perkampungan Batak yang dikenal dengan Silindung.

Di sana, suatu kali di puncak (dolok) Siatas Barita (sekarang puncak Taman Wisata Rohani Salib Kasih, Tarutung Kabupaten Tapanuli Utara), Nommensen pernah hendak dibunuh. Waktu itu sedang berlangsung ritual penyembahan kepada Sombaon Siatas Barita, ialah roh alam yang disembah orang Batak. Kerbau pun disembelih. Akan tetapi, pemimpin ritual (Sibaso) tidak menyukainya dan menyuruh pengikutnya untuk membunuhnya.

Lalu, kata Nommensen kepada mereka, “Roh yang berbicara kepada Sibaso bukanlah roh Siatas Barita, nenek moyangmu, melainkan roh setan. Nenek moyangmu tidak mungkin menuntut darah salah satu keturunannya.” Sibaso jatuh tersungkur dan mereka tidak mengganggunya lagi.

Setelah berhasil menjalin persahabatan dengan raja-raja yang paling berpengaruh di Silindung: Raja Aman Dari dan Raja Pontas Lumban Tobing, maka pada 29 Mei 1864, Nommensen mendirikan gereja di Huta Dame, sekitar Desa Sait ni Huta, Tarutung. Kemudian atas tawaran Raja Pontas, maka turut didirikan jemaat di Desa Pearaja, yang kini menjadi pusat gereja HKBP.

Setelah itu ia pergi ke Humbang dan tiba di Desa Huta Ginjang. Kemudian pada 1876 ia berangkat ke Toba ditemani Pendeta Johannsen dan sampai di Balige. Tetapi, akibat situasi yang gawat waktu itu, ketika pertempuran antara pasukan Sisingamangaraja XII dengan pasukan Belanda sedang terjadi, mereka pun batal melanjutkan perjalanan dan memutuskan agar kembali ke Silindung.

Pada 1886 Nommensen kembali ke Toba (Laguboti dan Sigumpar), setelah pada 1881 Pendeta Kessel dan Pendeta Pilgram tiba dan berhasil menyebarkan injil di sana. Misi kedua pendeta ini kemudian dilanjutkan oleh Pendeta Bonn yang telah mendapat restu dari Raja Ompu Tinggi dan Raja Oppu Timbang yang menyediakan lahan gedung sekolah di Laguboti.

Pendeta Boon pindah dari Sigumpar ke Pangaloan dan Nommensen menggantikan tugasnya. Sepeninggalan Boon, Nommensen mendapat rintangan di mana sempat terjadi perdebatan sesama penduduk atas izin sebidang tanah. Setelah akhirnya mendapat persetujuan dari penduduk, ia pun mendirikan gereja, sekolah, balai pengobatan, lahan pertanian dan tempat tinggalnya di sana. Konsep pembangunan satu atap ini disebut dengan “pargodungan”, yang menjadi karakter setiap pembangunan gereja Protestan di Tanah Batak.

Dari Sigumpar, Nommensen bersama beberapa pendeta lainnya melanjutkan zending dengan menaiki “solu” (perahu) melintasi Danau Toba yang dikaguminya menuju Pulau Samosir. Maka, pada 1893 Pendeta J Warneck pun tiba di Nainggolan, 1898 Pendeta Fiise di Palipi, 1911 Pendeta Lotz di Pangururan dan 1914 Pendeta Bregenstroth di Ambarita.

Misi zending tak berhenti sampai di sana, Nommensen lalu mengajukan permohonan kepada RMG Barmen agar misinya diperluas hingga wilayah Simalungun. Permohonan itu ditanggapi dengan mengutus Pendeta Simon, Pendeta Guillaume dan Pendeta Meisel menuju Sigumpar pada 16 Maret 1903. Dari sana mereka pergi ke Tiga Langgiung, Purba, Sibuha-buhar, Sirongit, Bangun Purba, Tanjung Morawa, Medan, Deli Tua, Sibolangit dan Bukum. Bersama Nommensen, mereka pun melanjutkan perjalanan melalui Purba, Raya, Pane, Dolok Saribu hingga Onan Runggu.

Zending inkulturatif
Misi Nommensen memang penuh pengorbanan. Tapi, ia tulus. Demi misinya, ia bahkan tak sempat melihat Caroline Gutbrod, yang wafat setelah sebelumnya jatuh sakit dan terpaksa dipulangkan ke Jerman.

Nommensen juga banyak menyisakan kenangan, yang barangkali menjadi simbol pengorbanan dan jasanya kelak. Kenangan-kenangan itu ibarat benih, meski sang penabur kelak telah tiada.

Barangkali, Gereja Dame adalah salah satu benih itu, yang ketika penulis berkunjung ke sana, tampak kondisiya sudah usang tapi masih berfungsi. Gereja kecil itu adalah gereja yang pertama kali didirikannya ketika menginjakkan kakinya di daerah Silindung, Tarutung.

Lokasinya di Desa Onan Sitahuru Saitni Huta, sekitar 2 kilometer ke arah selatan Kota Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara. Di gereja ini, Nommensen mulai mengajar umatnya dengan teratur.

Selain mengajar Alkitab (termasuk menerjemahkan kitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa Batak), ia juga mengajar pertanian serta mulai menyusun tata pelaksanaan ibadah gereja dengan teratur.

Onan Sitahuru sendiri, sekitar 1816-1817 merupakan pusat perdagangan terbesar di Tanah Batak karena terdapat sebuah “hariara” (pohon beringin) di sana. Menurut penuturan warga setempat, di pohon inilah Nommensen pernah akan dipersembahkan kepada Dewa Siatas Barita, tapi ia berhasil diselamatkan pembantunya. Pohon berusia 190 tahun itu kini masih dapat ditemui di sana.

Tercatat pula bahwa sejak tahun 1862 Nommesensen telah mendirikan gereja-gereja kecil (resort) di Sipirok dan Bunga Bondar, Parau Sorat, Pangaloan, Sigompulon; 1870 di Sipoholon, Sibolga, Aek Pasir; 1875 di Pansur Napitu, Simorangkir; 1876 di Bahal Batu; 1881 di Balige; 1882 di Sipahutar, Lintong ni Huta; 1883 di Muara; 1884 di Laguboti, 1888 di Hutabarat, Sipiongot; 1890 di Sigumpar, Narumonda, Parsambilan, Parparean; 1893 di Nainggolan; 1894 di Silaitlait; 1897 di Simanosor Batangtoru; 1898 di Palipi; 1899 di Lumban na Bolon, 1900 di Tampahan, Butar; 1901 di Sitorang; 1902 di Lumban Lobu, Silamosik, Nahornop; 1903 di Paranginan, Pematang Raya; 1904 di Dolok Sanggul; 1905 di Parmonangan, Sipiak; 1906 di Parsoburan; 1907 di Pematang Siantar; 1908 di Sidikalang; 1909 di Bonan Dolok, Tukka; 1910 di Purbasaribu; 1911 di Barus; 1914 di Ambarita; 1921 di Medan; dan 1922 di Jakarta.

Sekarang, benih-benih itu telah berbuah dengan lahirnya gereja-gereja HKBP, GKPI, HKI, GKPS, GBKP dan GKPA, sebagai buah misi zending inkulturatif, yang tidak melupakan keaslian budaya setempat dalam pelaksanaan rutinitas ibadah. Atas jasanya itu, RMG kemudian mengangkat Nommensen menjadai ephorus pada 1881 hingga akhir hayatnya dan digantikan oleh Pendeta Valentine Kessel (1918-1920). Pada 6 Februari 1904, ketika genap berusia 70, Universitas Bonn menganugerahinya gelar Doktor Honoris Causa. Namanya lalu ditabalkan untuk dua universitas HKBP yang ada di Medan dan Pematangsiantar yang hingga saat ini masih berdiri.

Kemudian, pada Oktober 1993 dibangun pula Kawasan Wisata Rohani Salib Kasih (KWRSK) di puncak Siatas Barita, di mana ia pertama kali menginjakkan kakinya di Silindung. Salib sepanjang 31 meter terpancang di sana, seakan-akan melukiskan kisah karyanya yang agung.

Nommensen wafat pada 23 Mei 1918 dan dimakamkan di sisi makam istrinya yang kedua Christine Hander dan putrinya serta missionaris lainnya di Desa Sigumpar, Kecamatan Silaen Kabupaten Toba Samosir. Sejak 1891 ia telah tinggal di sana hingga akhir hidupnya. Kemudian pada 29 Juni 1996 Yayasan Pasopar, lembaga yang peduli dengan kelestarian sejarah kekristenan di Tanah Batak, memugar makamnya dan mengabadikannya menjadi “Nommensen Memorial”.

Kini, Nommensen telah tiada, tapi karyanya tetap hidup. Ia telah menabur benih-benih cinta kasih sepanjang misinya untuk kita (Batak). Dan, sudahkah kita menuai buah cinta kasihnya itu kini? Semoga…

Biodata:
Lahir : Nordstand, 6 Februari 1834
Sidi : Minggu Palmarum 1849
Pendidikan : 1857 – 1861 sekolah pendeta di Lembaga Pekabaran Injil Rhein RMG) Barmen, Jerman.
Ditahbiskan : Ditahbiskan menjadi pendeta pada 13 Oktober pada 1861.
Awal penginjilan : Pada 24 Desember 1861 berangkat dengan kapal “Partinax” menuju Sumatera dan tiba di Padang pada 16 Mei 1862.
Tiba di Tanah Batak : 23 Juni 1862
Jabatan penting : RMG Barmen mengangkatnya menjadi ephorus pada 1881.
Penghargaan : Gelar Honoris Causa diperoleh dari Universitas Bonn, Jerman pada 6 Februari 1904, tepat pada ulangtahunnya yang ke-70.
Wafat : Pada 23 Mei 1918 wafat dan dikebumikan di Desa Sigumpar, Kecamatan Silaen, Kabupaten Toba Samosir.

Penulis, Tonggo Simangunsong (wartawan Harian Global.)
Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba karya tulis “Napak Tilas Dr Ingwer Ludwig Nommensen Apostel Batak”, Januari – 16 April 2007.

Sumber : Harian Global & Tonggo Press


Ada 8 tanggapan untuk artikel “Nommensen dan Peradaban Batak”

  1. Tanggapan tonggo siamangunsong:

    Horas Lae Silaban,

    Penting kuberitahu sama moderator Silaban.net agar memverifikasi ulang apa yang tertulis sebelumnya dalam feature “Nommensen dan Peradaban Batak”, untuk menghindari kesalahpahaman maksud tulisan itu. Biar jangan ada nanti perbedaan tulisan yang ada di “tonggo press” dengan yang ada di “silaban.net”.

    Di artikel yang sempat didownload Silaban.net tertulis demikian:

    “Tercatat pula bahwa sejak tahun 1862 Nommesensen telah mendirikan gereja-gereja kecil (resort) di Sipirok dan Bunga Bondar, Parau Sorat, Pangaloan, Sigompulon; 1870 di Sipoholon, Sibolga, Aek Pasir; 1875 di Pansur Napitu, Simorangkir; 1876 di Bahal Batu; 1881 di Balige; 1882 di Sipahutar, Lintong ni Huta; 1883 di Muara; 1884 di Laguboti, 1888 di Hutabarat, Sipiongot; 1890 di Sigumpar, Narumonda, Parsambilan, Parparean; 1893 di Nainggolan; 1894 di Silaitlait; 1897 di Simanosor Batangtoru; 1898 di Palipi; 1899 di Lumban na Bolon, 1900 di Tampahan, Butar; 1901 di Sitorang; 1902 di Lumban Lobu, Silamosik, Nahornop; 1903 di Paranginan, Pematang Raya; 1904 di Dolok Sanggul; 1905 di Parmonangan, Sipiak; 1906 di Parsoburan; 1907 di Pematang Siantar; 1908 di Sidikalang; 1909 di Bonan Dolok, Tukka; 1910 di Purbasaribu; 1911 di Barus; 1914 di Ambarita; 1921 di Medan; dan 1922 di Jakarta.”

    Kemudian, seharusnya ditulis begini:

    “Tercatat pula bahwa sejak tahun 1861 telah berdiri gereja-gereja kecil (resort) di Sipirok dan Bunga Bondar atas misi zending sebelumnya. Kemudian atas Nommensen pada 1862 di Parau Sorat, Pangaloan, Sigompulon; 1864 di Pearaja; 1867 di Pansur Napitu; 1870 di Sipoholon, Sibolga, Aek Pasir; 1875 di Simorangkir; 1876 di Bahal Batu; 1881 di Balige; 1882 di Sipahutar, Lintong ni Huta; 1883 di Muara; 1884 di Laguboti, 1888 di Hutabarat, Sipiongot; 1890 di Sigumpar, Narumonda, Parsambilan, Parparean; 1893 di Nainggolan; 1894 di Silaitlait; 1897 di Simanosor Batangtoru; 1898 di Palipi; 1899 di Lumban na Bolon, 1900 di Tampahan, Butar; 1901 di Sitorang; 1902 di Lumban Lobu, Silamosik, Nahornop; 1903 di Paranginan, Pematang Raya; 1904 di Dolok Sanggul; 1905 di Parmonangan, Sipiak; 1906 di Parsoburan; 1907 di Pematang Siantar; 1908 di Sidikalang; 1909 di Bonan Dolok, Tukka; 1910 di Purbasaribu; 1911 di Barus; 1912 di Medan; 1914 di Ambarita dan 1922 di Jakarta.”

    Sumber data saya peroleh dari Dinas Pariwisata Kabupaten Taput juga beberapa masyarakat ketika saya mengunjungi Gereja Dame beberapa waktu lalu.

    TErimakasih n’ selamat PASKAH..!

  2. Tanggapan Charly Silaban:

    Mauliate godang lae Tonggo atas konfirmasi dan verifikasinya. Mauliate juga atas tulisan2 dari lae. Sangat inspiratif dan menambah wacana.. :)

  3. Tanggapan Ivan Girsang:

    saya cuma mau bertanya apakah penyebaran Injil di Tanah Batak hanya dilakukan oleh Nommensen?
    sebab diberbagai media terkesan seperti itu.
    bagaimana peranan para missionaris yang lainnya juga RMG, yang merupakan lembaga zending tempat Nommensen bernaung?
    terima kasih

  4. Tanggapan Charley Hutabarat:

    Horas tu “Silaban BROTHER HOOD”

    Saya sudah menempatkan alamat wesite “www.silaban.net” di my blogroll “http://www.charley-htb.blogspot.com”

    Sukses Selalu buat Silaban BROTHER HOOD
    Maju terus dan tetap semangat..!

    mauliate

    H o r a s …!

    Parhobas [SB] :
    Wah.. mauliate godang atas dukungannya ya.. Dalam waktu dekat kita akan launching blogroll [SB]. Ditungu ya.. dan sekali lagi mauliate godang.. :)

  5. Tanggapan ZEKDANGSON MATON:

    HORAS LAE LABAN
    KAMIS:27-2007

    PUJI TUHAN SAYA INGI MEMBERIKAN TANGGAPAN YANG TERTULIS DALAM PERJALANAN DAN PENGALAMAN TENTANG PENGINJIL NOMMENSEN TTANGGAAPAN SAYA TENTANG NOMMENSEN ITU SANGATLAH BAGUS DANPANTAS UNTUK DITIRU OLEH UMAT KRISTEN YANG SEDANG MENJALANKAN AJARANNYA BELIAU.TAPI BAGAIMANA JIKA BELIAU TIDAK SELAMAT DALAM PERJALANNYA APAKAH AGAMA KRISTEN DI BATAK TIDAK ADA.
    MAULIATE.LEA!!!!!!!!!!!!
    HORAS!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!1

    Parhobas [SB] :
    Wah pertanyaannya sangat susah itu lae.. Karena berhubungan dengan sejarah dan sudah terjadi. Namun menurut opini kami, tentunya Agama Kristen akan tetap ada di Tanah Batak walau perkembangannya tidak sepesat seperti apa yang telah dilakukan Nommensen dan penganutnya tidak sebanyak sekarang. Karena kita tau bersama, bahwa pendekatan Nommensen yang unik itulah yang membawa kekristenan masuk ke Tanah Batak dengan sukses.

  6. Tanggapan Habibi Lubis:

    Usulkan Nommensen menjadi Pahlawan Nasional dan sahkan sebagai Putra Batak / Marga yang agung.

  7. Tanggapan Maridup Hutauruk:

    Berbicara BATAK tentu harus diorientasikan kepada istilah ‘bangsa’ yang terdiri dari sekitar 13 suku Batak, dan bukan sebagai ‘Suku Batak’ yang terdiri dari 5 etnis Batak. Sejarahnya tentu sangat panjang untuk mampu mengakui diri adalah satu insan Batak sebagai bangsa.

    Ada karya tulis tentang Nomensen yang lebih lengkap terdapat dalam buku ‘Raja Batak oleh Sadar Sibarani’ yang akan menambah wawasan tentang Nomensen. Istilah Nomensen sebagai Apostel Batak, dan pertanyaan-pertanyaan yang menggelitik tentang Kristen di Tanah Batak tentu harus terjawab oleh para cerdik-cendekia Batak dalam khasanah penambah wawasan berpikir bahwa BATAK adalah bangsa dan bukan suku.

    ‘Batak’ sering dikondisikan terbatas kepada kawasan yang dominan menganut agama Kristen (dahulu Kab. TAPUT) padahal Batak exist pada kawasan yang begitu luas. Mengapa Kristen dominan di Batak Utara++, dan bukan di Batak Selatan, Batak Pesisir, dll? padahal penyebarannya mermula dari kaum yang ada di Batak Selatan. Sejak jaman batu peradaban Batak tak pernah terpengaruh dari peradaban lain, bahkan sampai sekarang masih tersisa peradaban Tarombo dan Dalihan Natolu walaupun sudah digilas oleh dua agama besar yaitu Islam dan Kristen. Batak Selatan yang dominan beragama Islam tentu berlatar belakang sejarah yang bernuansa dendam antar suku yang sudah turun temurun, dan bukan karena mutlak penerimaan suatu anutan yang akan menuju kebaikan pada Batak Selatan pada saat itu, terbukti dalam sejarahnya yang dalam waktu singkat terjadi penolakan besar-besaran. Demikian pula Batak Utara bahwa anutan agama Kristen terutama yang dibawakan oleh I.L.Nomensen dapat berkembang dalam suasana ‘blessing in disguise’ yang walaupun pada awalnya ada penentangan2 kecil tetapi pada dasarnya Batak Utara tak punya pilihan lain daripada harus ‘punah’. Kegagalan2 pendahulu sebelum Nomensen, seperti Burton, Ward, Van Asselt, Koster, Dammerbur bukanlah berarti mereka tidak disertai Tuhannya dalam penyebaran agamanya tersebut, tetapi memang demikianlah adanya orang-orang mengatakan mereka gagal sementara Nomensen menjadi Apostel Batak, dan orang Batak Utara memberi gelar khas tertinggi dengan sebutan ‘Ompu i’.

    Dari sudut pandang yang bernuansa materialistis banyak juga orang-orang yang berpandangan bahwa Batak (maksudnya Batak Utara) tidak akan mencapai kemajuan seperti sekarang bila dahulunya Nomensen tidak datang ke Tanah Batak, tentu karena pandangan itu datang dari lingkup kristal2 cahaya. Bagaimana pula kalau kita memandangnya dari pelosok bonapasogit sana? kita hanya sedikit keluar dari lingkaran jaman purba.

    Sekarang di kawasan yang dihuni oleh orang yang disebut Batak sudah berdiri ribuan mesjid dan ribuan gereja, dalam pandangan materialistisnya bila diberdayakan untuk kesejahteraan orang Batak, tentu masyarakatnya mungkin….makmur, bersih, sehat, terpenuhi sandang-pangan-papan, tak adalagi pelanggaran norma-norma seperti berdusta/mencuri/membunuh, dengan sendirinya akan menghormati dan menghargai orang lain/orang tua/orang yang dituakan/leluhur(budaya), dan akhirnya akan mencari tuhannya untuk bersyukur dan memuji-memuja. MASUK SURGA APA NGGAK YA…? Ini hanya andai-andai saja…..

  8. Tanggapan Jane Ross br. Panjaitan:

    Horas..

    Nommensen, berkarya sejak usia 28 tahun sampai wafat tetap di tanah batak…luar biasaaaa…!!

    Pasti banyak kejadian dan cerita sepanjang hidupnya di tanah Batak. Sebuah sumber yang kaya untuk di buat berbagai jenis buku cerita,…kartun, puisi, komik, cerpen, dongeng, theater, film, dan karya2 sastra lainnya, terutama untuk bacaan kalangan anak dan remaja. Sajikan dengan ringan, populer dan menarik….bukan untuk kepentingan ilmiah dan akademik !!

    SUDAH SAATNYA…….
    Gereja2 HKBP, GKPI, HKI, GKPS, GBKP dan GKPA dan para pihak lainnya sebaiknya membentuk PROJECT BERSAMA khusus untuk memproduksi berbagai bacaan dan produk sastra lainnya menyangkut kehidupan dan perjuangan Nommensen.

    Muliate
    Jane Ross

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Ajarkan Sempoa Sejak Usia Dini
Artikel selanjutnya :
   » » PDAM Protes Jasa Tirta