Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Jumat
9
Mar '07

Operet Perjalanan Oppu Nommensen Sangat Memukau


Menelan biaya sekitar Rp2 miliar, didukung sekitar 80 pemain, disaksikan Menteri Agama RI dan isteri, Menteri Kelautan dan Perikanan, Gubernur Sumatera Utara, Panglima Kodam I/BB, Kapoldasu, Walikota Medan dan petinggi-petinggi lainnya, Ketua Umum PGI Pusat, Sekjen dan utusan-utusan CCA dari manca negara serta 150 ribu penonton, pagelaran “Operette perjalanan hidup Nommensen” di Stadion Teladan Medan, Rabu (7/3-07) malam, sungguh suatu sukses yang sangat luar biasa.

Semua orang merasa takjub dan kagum, kepada Jenderal TNI (Purn) TB Silalahi yang pernah Menteri PAN itu, patut diacungkan jempol, atas karyanya ini. Panitianya pun yang diketuai RE Nainggolan patut mendapat pujian. DR GM Panggabean mengatakan, belum pernah terjadi seperti ini di Medan

MEMUKAU
Sekaitan dengan perayaan Jubelium 50 Tahun CCA (Christian Conference of Asia) yang klimaksnya digelar di Stadion Teladan, Medan, Rabu (7/3) digelar operet Perjalanan Oppu Nommensen yang memukau, baik dari sisi penceritaan maupun pengadegan. Uniknya, dari total 132 pemain berasal dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan Paguyuban Sendratari Wayang Orang Bharata yang 80 persen muslim, ditambah siswa-siswi SMU Plus Yayasan Soposurung (Yasop) Balige.

Operet yang disutradarai  dan skenario adaptasi langsung perjalanan Oppu Nommensen dikerjakan Letjen TNI Purn TB Silalahi juga bertindak sebagai produser — berdasarkan buku biography Nomensen yang ditulis Pdt Jonathan Nomensen yang menemani ayahnya saat  menjelang ajalnya— tersebut dilangsungkan sebagai penutup acara. Meski demikian, umat yang seharian sudah memadati seluruh sudut lapangan hingga melimpah ke luar tetap dengan tekun mengikuti hingga pergelaran selesai.
Sama halnya seperti operet kebanyakan, operet Perjalanan Oppu Nommensen dibesut dengan pendekatan musikal. Tetapi, sejumlah hal mencolok ke permukaan dari sisi kualitas dan makna tersirat dengan memamah operet.

TB Silalahi tak sekadar menceritakan dari awal masuknya Kristen di Tanah Batak, tapi mengedepankan detil kehidupan seorang Nommensen —Nommensen kecil saat usia 8 tahun  diperankan Sedison Silali, siswa Kelas 2 (Yasop), Nommensen usia 13 tahun diperankan Seven Marudut mahasiswa tari (IKJ), Nommensen dewasa diperankan  Azis (seorang Muslim) dan Nommensen tua diperankan Supri (seorang Muslim)—dengan pendekatan musik dan penggalian seni budaya Batak.

Operet menceritakan pada masa di mana suku Batak belum mengenal ajaran agama. Di wilayah di mana berlaku kehidupan homo homini lupus. Antara penduduk saling memangsa, yang lemah kerap jadi korban sang raja penguasa untuk dijadikan tumbal guna mendapatkan kekuatan ghaib sesuai keyakinan dan kepercayaan menyembah berhala.

Satu contoh, digelar  pesta diiringi gondang bolon. Acara tersebut wajib dihadiri raja-raja bersama para pembantunya dan masyarakat di wilayahnya. Raja dengan tongkat tunggal panaluan diarak dalam pesta gondang bolon seraya meminta agar Oppu Mula jadi Na Bolon yang disembah memberi kekuatan.
Di lain kesempatan, ketika pesta gondang bolon di satu pesta kemenangan Batak, datang dua orang pendeta dari Amerika Serikat yakni Pendeta Samuel Munson (diperankan Dori yang seorang Muslim) dan Pendeta Henry Lyman (diperankan Sentot) ke Tapanuli yang terkenal sebagai Tanah Batak. Sayang keduanya tidak terlebih dulu mempelajari bahasa dan kebudayaan Batak. Kedua pendeta yang ikut menghadiri pesta memberi sapaan dengan bahasa asing. Raja dan seluruh peserta pesta, tak memahami makna ucapan kedua pendeta. Pendeta asing itu bilang: “Peace for all!”

Kata-kata asing (peace) itu didengar masyarakat dan raja-raja sebagai pis do matakku marnida ho (artinya kamu kuanggap hina) hingga menyulut kebencian masyarakat. Akibat kesalahpahaman itu kedua pendeta mati dibunuh algojo raja Raja Pontas (diperankan Dedek yang seorang Muslim) dan Raja Panggalamai (diperankan Erwin yang juga seorang Muslim).

Tak sekadar membunuh, tapi sesuai keyakinan, dengan membunuh kedua pendeta yang memiliki kulit putih dan rambut kemerah-merahan, daging dan darahnya pun dijadikan santapan setelah mayatnya diarak dengan maksud mendapatkan kekuatan ghaib.

Kabar kematian kedua pendeta sampai  ke ibunya hingga sang ibu berdoa agar Tuhan Yang Maha Kuasa memberi pengganti untuk kedua pendeta. Doa itu dikabulkan ditandai kelahiran Nommensen pada 6 Februari 1834 di Noordstrand, Jerman Utara. Terlahir dari keluarga miskin, Nommensen kecil punya hobi membaca Injil karena memberi ketenangan dan kekayaan batin dan diyakini menjadi sumber kesukaan karena membawa damai.

Nommensen yang bercita-cita menjadi pendeta, sempat patah semangat karena kakinya patah dan disarankan untuk amputansi. Namun ibunya (diperankan Nina, seorang mahasiswi IKJ berasal dari Aceh yang beragama Islam) memberi semangat dengan meminta pada Nommensen memahami isi Alkitab khususnya di Yohannes 14 : 14 dan ayat 23. Nommensen berdoa sesuai isi ayat tersebut dan dikabulkan. Berbekal tekad suci tersebut, pada 14 Mei 1792 —setelah ditahbiskan menjadi pendeta tahun 1861— Nommensen tiba di Padang dan melanjutkan perjalanan ke Sibolga, kemudian ke Sipirok dari sana baru ke Silindung (Tarutung), setelah selama dua bulan belajar bahasa Batak dan bahasa Melayu. Dengan pengetahuan berbahasa setempat itu membuat Nommensen cepat menyatu dengan warga, apalagi sebagian warga melihat Nommensen memiliki keistimewaan yang luar biasa.

Berpendekatan kemahiran bernyanyi sesuai isi Injil, berkomunikasi fasih sesuai bahasa daerah Batak di tanah yang dikunjunginya, apa yang dilakukan Nommensen beroleh simpatik luas.
Tiga puluh tahun setelah kejadian pembunuhan pada dua pendeta —Pendeta Samuel Munson dan Pendeta Henry Lyman— Nommensen berziarah di makam kedua pembuka jalan Injil di Tanah Batak itu. Saat ziarah Nommensen diikuti sejumlah pengikut yang tergerak memahami dan menyosialisasikan ajaran Tuhan Yesus Kristus melalui didikan Nommensen.

Hal monumental Nommensen adalah berhasil mengumpulkan jemaatnya yang pertama di Huta Dame diikuti pada tahun 1873 mendirikan gereja, sekolah dan rumahnya sendiri di Pearaja. (Pearaja hingga kini jadi pusat HKBP).
Kehadiran Nommensen pun menyebar ke seluruh pelosok hingga ditakuti. Bahkan, raja yang membunuh dua pendeta menduga Nommensen adalah reinkarnasi kedua pendeta yang dibunuh, tapi semua dibantah Nommensen dengan mengatakan kedatangannya tak ada unsur dendam, tapi membawa kedamaian untuk semua —Peace for all.

Meski sudah terjadi komunikasi yang baik, namun Raja Panalukkap tetap tidak menyukai seorang Nommensen hingga berniat membunuh dengan cara meracun. Meracuni Nommensen dengan memberi makanan, tapi nasi yang dibungkus justru diberi pada anjing. Meski tahu hendak diracun, Nommensen tidak marah justru memaafkan Raja Panalungkap. Dari sanalah sang raja minta dibaptis.
Raja Sisingamangaraja XII (diperankan Ayok seorang Muslim) yang mulia pernah berniat membunuh Nommensen. Akan tetapi setelah mendapat penjelasan dari Raja Pontas bahwa Nommensen bukanlah kaki tangan Kompeni, niat itu tidak jadi dilakukan. Setelah Raja Sisingamangaraja tewas, semua keturunannya waktu itu (33 orang) dibaptis memeluk agama Kristen.

Jelang ajal di usia 54 tahun, Nommensen —setelah memindahkan tempat tinggalnya ke Kampung Sigumpar pada tahun 1891— menyerahkan seluruh kehidupannya padaNya dan meminta kiranya Tuhan memberkati Bangsa Batak yang diberkati. Saat detik terakhir kehidupan Nommensen, berkat penggarapan yang indah, seolah-olah tokoh Nommensen yang membawa damai itu ada di  atas pentas. Apalagi di operet tersebut sayup-sayup lagu Nunga Loja Ahu Oh, Tuhan… hingga jasad renta itu terbaring dengan tenang.

Nommensen bukan saja membawa berita kedukaan dan keselamatan ajaran Yesus Kristus kepada Bangsa Batak, tapi juga ilmu pengetahuan di bidang pertanian, kesehatan, pertukangan (industri), pendidikan, perdagangan yang membawa Bangsa Batak keluar dari kegelapan. Nommensen telah meletakkan  dasar-dasar pembangunan spiritual dan material kepada Bangsa Batak, sekarang giliran generasi penerus untuk membawa bangsa ini maju sesuai perkembangan dan pertumbuhan zaman.

Sajian operet Perjalanan Oppu Nommensen di tangan TB Silalahi tak sekadar membentang perjalanan sejarah, tapi menjadi manis dan memukau hingga tontonan sekira dua jam itu tetap diminati pengunjung yang beratapkan langit cerah di udara Medan. Sebagaimana diutarakan di atas,  dengan gaya tutur tak gagap, penonton tahu dan memahami apa yang dimaksudkan sutradara melalui babak-babak sejarah dengan menyimak lagu-lagu yang diperdengarkan. Termasuk gerak gemulai para balerina yang diarahkan  koreografer Virgin Pangaribuan dan Novi. ”Latihan persiapan dilakukan selama 2 minggu di Jakarta setelah naskah cerita diserahkan Pak (maksudnya Letjen TNI Purn TB Silalahi). Kemudian latihan dilanjutkan tanggal 3 Maret sehari setelah rombongan pemain tiba di Medan,” jelas Novi.

Suasana kebarat-baratan yang menandai seting di Barat dilakukan pendekatan musik dan lirik western seperti tingkahan lembut PS SMU Plus Yasop dengan lagu The  Lord Bless You. Tatkala Nommensen menginjakkan kaki di Tanah Batak, lagu Rura Silindung dikumandangkan. Dengan posisi itu, meski gaya bercerita operet Perjalanan Oppu Nommensen tak berbloking pentas buka tutup, namun dapat dipahami sehubungan gaya penceritaan runtun. Apalagi adegan diikuti dengan penutur yang menuntun penceritaan. Kenikmatan itu makin terlengkapi sehubungan nyanyian sekuler yang memassa seperti duet lagu You Raise Me Up adalah Karen Brooke (yang diangkat TB Silalahi menjadi marga) Silalahi dan Harlan Hutabarat.

Keterlibatan sejumlah artis pentas tersebut terasa profesional, meskipun berusia belia. Pementasan kolosal kali ini adalah yang kesekian, setelah sebelumnya menggelar pementasan spektakuler seperti operet Natal di Nias dan operete Natal Nasional di Jakarta yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. “Tidak ada kejanggalan untuk memerankan tokoh Kristen meskipun pemeran beragama Islam,” tandas Novi.
Belum lagi menikmati lighting dan sound system Yang mengalir lancar. Hingga meskipun penonton tidak berada di depan pentas, bahkan duduk  jauh di taman di luar Stadion Teladan, tetap mendengar jelas, termasuk layar monitor yang dipasang di hampir sejumlah sudut.

Operet Perjalanan Oppu Nommensen dibuka dengan nyanyi solo O Tano Batak yang dilantunkan Karen Brooke Silalahi.
DR GM Panggabean dan isteri bersama putranya Ir.GM Chandra Panggabean dan isteri, yang ikut menyaksikan operette itu, menyatakan sangat kagum. Belum pernah terjadi seperti ini di Medan. Pak GM mengungkapkan, biaya operette tersebut sekitar Rp2 miliar, semuanya di tanggung Pak TB Silalahi, personil sekitar 80 orang, semua dari Jakarta. Operettenya bagus, penortornya bagus, penontonnya 150 ribu orang tapi tertib aman, panitianya yang diketuai Pak RE Nainggolan bagus. Pokoknya, Puji Tuhan! kata Pak GM bangga.

Dia tidak lupa menambahkan, kalau nanti Propinsi Tapanuli jadi, pasti Pak TB Silalahi akan mendapat karunia inspirasi lagi dari Tuhan, membuat “Operette O Tano Batak,” kata Pak GM.

Sumber : (A6/e) Harian SIB


Ada 2 tanggapan untuk artikel “Operet Perjalanan Oppu Nommensen Sangat Memukau”

  1. Tanggapan jadimora:

    Oh my God… so sweet…

    God Bless North Tapanuli…

    Forever

    Until Maranatha

    amen sai tibu ma ro.

  2. Tanggapan Perdinan:

    Suatu langkah yang sangat ‘lain’ telah dilakukan oleh Bapak TB Silalahi, untuk membangkitkan kembali semangat cinta tanah batak beserta kepercayaan yang dianutnya. sangat kagum kepada beliau, dan mudah-mudahan langkah yang beliau telah lakukan dan tujuan (yang bagi saya tujuannya adalah membangkitkan kebanggaan sebagai orang batak) tercapai.

    Horas ma tutu di Bapai, sai ro ma ganjang ni umur dohot akka pasu-pasu na balga dope asa di runuti angka dalanta anak naposo on, atik boha adong hita haduan nian na boe melanjut hon cita2 ni bapai.

    Horas

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Tim Penanganan Banjir, Terbentuk
Artikel selanjutnya :
   » » Ajarkan Sempoa Sejak Usia Dini