Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Selasa
6
Mar '07

Ulos Batak - Perajin Bertahan dengan Alat Tradisional


Perajin ulos Batak bertahan dengan alat tradisional. Mereka yang berjumlah sekitar 20 orang tetap menenun di rumah masing-masing yang bertetangga di Jalan Ambai, Keluarahan Sidorejo, Kecamatan Medan Tembung, Kota Medan. Justeru dengan alat itu, para perajin yakin hasil tenunan lebih baik daripada menggunakan alat tenun mesin yang lebih modern.

“Kami ini sebagian besar bisa menenun karena belajar dari kampung di Pangururan, Samosir. Kami kesini mencari penghasilan yang lebih baik. Semua hasil tenunan ini kami pasarkan ke Kabanjahe (Karo), Pancur Batu, dan Deli Tua,” tutur Sianah boru Situmorang (60) saat ditemui di rumahnya di kawasan Tembung, Senin (5/3).

Menurut Sianah, dengan peralatan tenun yang terbuat dari kayu dan bambu itu, para perajin selalu bisa menjual hasil tenunannya dengan harga cukup tinggi. Menenun dengan alat tenun tradisional membutuhkan waktu paling tidak seminggu untuk tenunan terbaik. Sementara untuk tenunan paling murah dibutuhkan waktu tiga hari.

“Paling mahal produksi tenun kami Rp 350.000, sedangkan paling murah kami jual Rp 50.000 per lembar ulos,” kata Sianah. Dalam penjualan, semua dilakukannya dengan manajemen sederhana. Tidak ada koordinasi penjualan dan simpan pinjam dari lembaga seperti koperasi dan sejenisnya.

Migrasi
Untuk mencari penghidupan yang lebih baik, para perajin ulos itu berpindah dari Pangururan, Kabupaten Samosir ke Kota Medan. Harapan mereka, di Medan pemasaran ulos bisa makin luas dan makin laris dengan harga yang baik. Sianah sendiri merantau ke Medan pada tahun 1970-an.

Meski basis tenunan mereka adalah ulos Batak Toba, mereka juga menerima pesanan tenunan ulos Karo atau ulos Simalungun. Dari semua jenis ulos yang dikerjakan, Sianah paling banyak mendapatkan keuntungan dari menenun ulos Karo. Untuk setiap ulos yang dijual Rp 50.000, para perajin bisa mendapat untung Rp 20.000. Sedangkan dengan ulos senilai Rp 350.000 nilai keuntungan bisa Rp 150.000 per ulos. “Ulos Karo nilai jualnya tinggi, karena itu kami bisa untung lebih banyak dibandingkan ulos yang lain,” kata dia.

Salah satu penenun di kawasan itu, Roida boru Simarmata (61) yang juga dari Pangururan mengatakan, menenun di rumah merupakan kesibukan yang sudah dilakukan sejak kelas 4 Sekolah Dasar (SD). Nenek 18 cucu itu memakai alat tenun yang dibuat sendiri oleh keluarganya. Roida sendiri mulai menularkan kemampuannya kepada generasi muda di sekitar tempat tinggalnya.

“Siapa saja yang mau belajar pasti saja ajari. Saya senang, kalau makin banyak orang yang bisa menenun,” tutur Roida.

Rata-rata, para penenun mengerjakan tenun tradisional itu di rumah masing-masing. Dalam hal pemasaran, mereka memasarkannya melalui sanak keluarga sendiri. Dalam seminggu, mereka memasarkan di tiga tempat berbeda. Pemasaran juga dilakukan di rumah masing-masing saat pembeli datang memesan untuk keperluan pesta atau acara adat.

Penenun dari generasi muda, Suryani boru Nainggolan dan Veronika boru Sagala mempunyai keinginan berbeda dari pendahulunya. Mereka berdua ingin mengembangkan tenun tradisional menjadi tenun yang lebih baik. “Dengan memakai alat tradisional ini kami cepat terasa capek. Hasilnya pun tidak bisa cepat,” kata Suryani.

Sumber : (NDY) Harian Kompas, Medan


Baru ada 1 tanggapan untuk artikel “Ulos Batak - Perajin Bertahan dengan Alat Tradisional”

  1. Tanggapan Maridup Hutauruk:

    Mauliate dihamu angka ingan soripada. Hamu do na toho pahlawan Bangso Batak namanguduti ulaon ni Siboru Deakparujar na sian Banua Ginjang i. Sian ulos na margoar ‘Bintang Maratur’ na tinonun ni Siboru Deakparujar i do dipaherbang nasida na gabe bidang tano on jala boi ma sude jolma tinggal di tano na tinompana i marhite na sanjomput na nilehon ni Mulajadi Nabolon. Horas ma inang, ro pe ahu ditingkina maningkir hamu. Horas ma

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Dinkes Hanya Bisa Memfasilitasi
Artikel selanjutnya :
   » » Perlu Pemanfaatan Teknologi Tinggi