Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Minggu
4
Mar '07

Mencari Teori Sastra Khas Indonesia?



Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

BUKU-BUKU teori sastra yang beredar di Indonesia pada umumnya ditulis oleh penulis asing dan terutama tentang teori sastra Barat. Orang Indonesia pada umumnya baru sampai pada taraf menjadi penerjemah.

Sebutlah,misalnya buku Rene Wellek dan Austin Warren (1949) Theory of Literature (diterjemahkan Melani Budianta menjadi Teori Kesusastraan, 1989), buku DW Fokkema dan Elrud Kunne-Ibsch (1977) Theories of Literature in the Twentieth Century (diterjemahkan J Praptadiharja dan Kepler Silaban menjadi Teori Sastra Abad Kedua Puluh, 1998), atau buku Raman Selden (1985) A Reader’s Guide to Contemporary Literary Theory (diterjemahkan Rachmat Djoko Pradopo menjadi Panduan Pembaca Teori Sastra Masa Kini,1991).

Buku Tzvetan Todorov (1968) Qu’est-ce que le structuralisme? Po’tique (diterjemahkan Okke KS Zaimar,Apsanti Djokosuyatno, dan Talha Bachmid menjadi Tata Sastra,1985),pun bisa menjadi contoh. Begitu pula buku Jan van Luxemburg, Mieke Bal,Willem G Weststeijn (1982, 1987) Inleiding in de Literatuurwetenschap dan Over Literatuur(buku pertama diterjemahkan Dick Hartoko menjadi Pengantar Ilmu Sastra,1984,dan buku kedua diterjemahkan Akhadiati Ikram menjadi Tentang Sastra, 1989).

Kita pun bisa berkenalan langsung dengan teori sastra Barat itu dengan cara membaca buku A Teeuw (1984) Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra,misalnya. Memang,ada satu dua orang Indonesia yang memberanikan diri menulis buku teori sastra yang bersumber dari buku teori sastra Barat tersebut, yaitu Joseph Yapi Taum dan Budi Darma.

Mereka menulis buku Pengantar Teori Sastra dan mencoba meramu, merumuskan, dan memberi penjelasan tentang teori sastra ––terutama teori sastra Barat–– dengan sudut pandang, fokus bahasan, dan gaya penyajian yang berbeda. Joseph Yapi Taum mencoba mentransformasikan teori-teori sastra Barat dengan sudut pandang dan fokus bahasan berorientasi pada teori pendekatan MH Abrams ––meliputi ekspresif, objektif, mimetik, pragmatik–– yang dikombinasikan dengan teori komunikasi linguistik Roman Jakobson, yang meliputi pengirim, pesan, pendengar,konteks,hubungan,kode.

Dari dua pakar teori sastra itu, Abrams dan Jakobson,dihasilkan kecenderungan teori sastra yang ada hingga kini, meliputi romantik, marxis, formalistik, strukturalistik, dan orientasi pembaca. Budi Darma membedakan ruang lingkup sastra adalah kreativitas penciptaan dan ruang lingkup studi sastra adalah ilmu dengan sastra sebagai objeknya. Fokus sastra adalah kreativitas (puisi, drama, novel, dan cerpen), dan fokus studi sastra adalah ilmu (teori,kritik,dan sejarah sastra).

Pertanggungjawaban sastra adalah estetika,dan pertanggungjawaban studi sastra adalah logika. Budi Darma juga menjelajah ke mazhab teori sastra new criticism (kritik sastra baru) dan strukturalisme.New criticismyang lahir sebagai reaksi terhadap kritik sastra sejarah dan kritik sastra biografi, meskipun hanya hidup selama 20 tahun (1940–1960),dalam praktiknya hingga kini masih banyak diterapkan oleh kritikus dan peneliti sastra.

Bersamaan dengan new criticism,lahir pulalah mazhab baru formalisme Rusia yang lebih berorientasi pada bentuk (form) dengan titik berat kajian pada narasi atau cerita. Formalisme Rusia inilah yang menjadi cikal bakal aliran Praha atau strukturalisme Praha.Selain berorientasi pada bentuk, mereka juga menganggap penting otonomi,karya sastra adalah sesuatu yang mandiri dan berdiri sendiri. Dari kedua aliran itulah kemudian berkembang menjadi strukturalisme yang luas di Amerika Serikat dan Eropa.

Strukturalisme yang berkembang masuk ke berbagai bidang ilmu, seperti linguistik, sastra, antropologi, mitologi, sejarah, dan psikologi.Kedekatan strukturalisme dengan zaman purba,terutama mitologi, dan kepercayaan dengan menampik eksistensialisme, dicap sebagai primitivisme. Jasa strukturalisme tidak dapat dihilangkan begitu saja dalam percaturan dunia ilmu,terutama dengan filsafat fenomenologi dan hermeneutika.

Sangat Fundamental

Demikianlah,teori sastra merupakan salah satu bagian dari tiga bidang studi sastra bersama sejarah sastra dan kritik sastra.Ketiganya saling berkaitan erat. Pemahaman sastra melalui teori sastra akan sangat menunjang penguasaan sejarah sastra dan kritik sastra.

Peran buku ajar teori sastra untuk perkuliahan teori sastra sangat fundamental.Tetapi, buku-buku yang telah ada dan pernah diujicobakan di kelas teori sastra dan kritik sastra masih sulit dipahami mahasiswa baru. Bahkan, mahasiswa lama yang telah dibekali pengetahuan teoretis sastra masih mengalami kesulitan memahami bahasa konseptual dalam bukubuku teori sastra.

Masih banyak buku-buku teori sastra terbaru (bahasa asing) belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, terutama yang ditulis untuk kepentingan praktis pembelajaran teori sastra yang ”menyenangkan”. Contohnya buku Raman Selden, Practicing Theory and Reading Literature: An Introduction (1989).Kalaupun buku itu kelak diterjemahkan, contoh-contoh kasusnya tentu bukan dari kesusastraan Indonesia.

Akibatnya, ia bukanlah jalan termudah untuk memahami konsep teori sastra dalam kaitannya dengan sastra Indonesia dan daerah. Ada keluhan, fakultas sastra mandul dan tidak banyak melahirkan intelektual publik.Mayoritas dosen adalah akademisi yang ”ketakutan” menghadapi teori.Tak ada dialog dan kritik,teori pun dimitoskan.Bila ada,kritik lebih banyak mengutak-atik aspek formalitas, yakni struktur lahir bahasa. Padahal kritik yang mencerdaskan mesti berdaya jelajah, menyelam ke kedalaman struktur batinnya.

Pendangkalan kritik sastra selama ini dapat dirujukkan pada bobroknya lembaga pendidikan yang jadi lembaga birokratis. Murid terbodohkan,imajinasinya terkekang dengan berbagai aturan yang sesungguhnya merupakan penjelmaan kekuasaan kaum birokrat. Fakultas sastra pun membekukan kreativitas mahasiswa. Karena itu, bagaimana mungkin kita berharap teori dan kritik sastra khas Indonesia di tengah situasi semacam ini? Celakanya, kesusastraan Indonesia sendiri bukanlah kesusastraan yang telah berumur tua.Kesusastraan ini lahir pada awal abad ke-20 atau akhir abad ke-19.

Dalam sejumlah ensiklopedia mengenai kesusastraan dunia, kesusastraan Indonesia sering kali tidak dimasukkan atau dijadikan entri. Selain tradisi sastra Barat, sastra lain yang sering dijadikan entri, misalnya,sastra China,Jepang,India, Arab, dan Israel, bahkan terkadang malah Filipina.

Kita ingat bagaimana pada awal 1980- an banyak peneliti dan pengamat sastra mengusulkan perlunya diadakan diskusi di tingkat nasional untuk menyusun teori sastra yang khas untuk situasi di Indonesia. Mereka ternyata hanya asyik berdebat, karena teori sastra khas Indonesia itu sampai kini belum muncul. Kita masih suka memamah biak teoriteori sastra dari Barat.(*)

GUNOTO SAPARIE
Penyair dan Bendahara Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT)

Sumber :  Koran Sindo


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.






Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel sebelumnya :
   » » Pengusaha Asal Australia Ngadu ke Polisi Kehilangan Rp200 Juta di Hotel

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel selanjutnya :
   » » Dua Kebakaran, 14 Rumah Musnah Di Agara