Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Minggu
25
Feb '07

Penyederhanaan (Pelaksanaan) Adat, Perlukah?


PENGANTAR
Tak dapat dipungkiri bahwa bagi sebahagian orang, pelaksanaan adat istiadat khususnya pada adat istiadat Batak tidak lebih merupakan sarana pemborosan materi, waktu dan tenaga. Tidak hanya itu, menyoal ritus ini adalah bahwa banyaknya ritual adat istiadat yang dikenal serta tampaknya harus senantiasa dilakukan dan dilalui.

Sejak manusia dilahirkan, bahkan sebelum ia dilahirkan pun, beranjak akil balig, menikah sampai kemudian ia meninggal tidak terlepas dari rangkaian upacara adat. Belum lagi karena tuntutan agama (memberi nama, sunat, naik sidi, selamatan sintua dan sebagainya), keberhasilan sekolah (selamatan sarjana, master, dan doktor), atau karena keberhasilan karir (syukuran professor, jadi walikota, bupati, gubernur, kadis atau kanwil) atau juga karena keberhasilan hidup seperti mendirikan rumah baru.

Dalam banyak hal, terkadang ritus itu dilakukan dengan serba meriah yang menghabiskan sejumlah dana dan menyita banyak waktu yakni sejak merencanakan suatu perhelatan sampai pada akhirnya perhelatan itu selesai. Belum lagi fase-fase yang harus dilalui dan dilakukan yang terkadang memakan waktu berhari-hari.

Ambil saja contoh dalam perhelatan perkawinan adat Batak, yaitu sejak penjajakan yang dilakukan oleh orangtua, pembicaraan mahar (tuhor), menjemput pengantin (maralap), penyatuan janji (martuppol) sampai pada pemberkatan nikah dan resepsi. Belum lagi setelah usai resepsi, maka kedua pengantin didampingi oleh orangtua datang berkunjung ke rumah pengantin perempuan dan sebaliknya. Waktu yang tersita bisa jadi dalam hitungan minggu serta memerlukan dana yang tidak sedikit serta melibatkan banyak pihak dalam lingkaran huta maupun Dalihan na Tolu. Begitu pula saat ritual adat meninggal dunia, khususnya kematian yang sempurna (saur matua) maka sejak meninggal sampai penguburan bisa menelan waktu 4-5 hari dan biaya yang tidak sedikit.

Singkatnya, bagi mereka yang bekerja terkait waktu, tidak mustahil maka pelaksanaan ritual adat istiadat itu akan mengganggu kinerja mereka. Belum lagi jika mereka itu adalah orang yang terlibat langsung dengan penyelenggara perhelatan ataupun memiliki peran dan fungsi sebagaimana arahan Dalihan na Tolu maka hampir dapat dipastikan akan terjadi pemborosan waktu (jam) kerja. Fenomena lainnya, melihat perkembangan demi perkembangan ritual adat Batak adalah peralihan fungsi perhelatan tersebut menjadi sarana performa keberadaan.

Artinya adalah bahwa tidak jarang, perhelatan itu menjadi sarana pertunjukkan identitas pribadi, keluarga atau famili melalui berbagai simbol-simbol yang melekat pada diri mereka. Akibatnya, bagi orang lain yang belum sepantasnya melakukan hal sedemikian (dari segi ekonomi) memaksakan diri untuk melakukan hal sama meski itu dengan mengalihkan asset yang ia miliki.

KONSEPSI PEMIKIRAN
Adat istiadat merupakan konsepsi pemikiran yang lahir sebagai rangkaian pemikiran manusia yang bersumber dari hakikat kemajuan akalnya. Jika sebelumnya disebut bahwa adat lebih sederhana jika dibanding dengan pada masa kini, maka keadaan itu terjadi sebagai dampak pemikiran manusia yang telah berubah. Oleh karena itu, adat adalah bentukan manusia yang tidak lahir begitu saja yang bertujuan untuk mengembangkan seni hidupnya. Demikian pula peran dan fungsi Dalihan na Tolu, juga merupakan bentukan pikiran manusia untuk mempererat persaudaraan yang telah atau akan dibina. Hanya saja, dalam implikasi selanjutnya, akibat pengaruh agama dan kemajuan ilmu pengetahuan, penghargaan ke arah itu mengalami pengikisan.

Dalam upacara perkawinan misalnya, pihak hula-hula (bride giver) akan memegang peran yang maha tinggi karena telah memberikan putrinya kepada boru (bride taker) serta keturunannya. Oleh karena itu, dia harus disembah dan tabu untuk ditentang. Selanjutnya, dongan sabutuha adalah tempat bertukar pikiran sekalian dalam menunjang keberhasilan perhelatan perkawinan tersebut. Pranata-pranata ataupun norma seperti itu merupakan konstruksi pemikiran manusia Batak kepada orang-orang yang disampingnya sehingga melahirkan adat istiadat yang rapi sekalian rumit dan menelan waktu dan biaya yang tidak sedikit jumlahnya.

Pada masa kini, konsepsi pemikiran terhadap ritual adat diperluas lagi sehingga lebih kompleks yaitu adanya inovasi-inovasi yang dilakukan terhadap keharmonisan perhelatan. Jika pada awalnya, perhelatan diiringi oleh musik tradisional, maka tidak akan lengkap rasanya jika tidak diiringi oleh alunan musik keyboard atau musik tiup (band), atau tanpa shuting video, papan bunga atau tanpa pelaminan. Jika kita melihat jauh ke dalamnya, maka sebenarnya tidak ada perbedaan makna yang terjadi. Malah yang sering terlihat adalah adanya fenomena pemaksaan diri untuk melakukan hal sama walau itu bukan kelas sosialnya.

Oleh karenanya, telah terjadi semacam kemunduran dalam menilai urgensi ritual adat istiadat karena hanya melihat penyelenggaraan itu berdasarkan sejumlah performa luar seperti berapa jumlah dana yang dihabiskan, berapa jumlah undangan yang hadir serta berapa rol film, papan bunga yang hadir dan segala macam yang terkait dengan itu. Jarang sekali kita menilai suatu perhelatan dengan melihat hakikat dasar dan substansinya yang hakiki, yang adalah keberartian adat tersebut . Orang cenderung melihat keberhasilan suatu penyelenggaraan perhelatan berdasarkan berbagai atribut seperti yang disebut di atas tanpa ada pembatasan kemampuan.

Dalam banyak hal, dalam kondisi sekarang ini, dengan pergulatan yang rumit dengan waktu maka mustahil adat seperti ini dapat dipertahankan. Setiap orang akan menilai dirinya dengan waktu dan waktu berkaitan dengan produktivitas dan produktivitas bersangkut paut dengan disiplin kerja serta sejumlah materi yang akan diterima. Tidak ada suatu alasan yang menyebutkan bahwa adat tidak dapat disederhanakan. Hanya saja yang pertama dilakukan adalah merubah paradigma kita terhadap substansi adat itu, sekalian dengan berbagai pertimbangan rasional seperti waktu.

Oleh karena adat adalah hasil konstruksi pemikiran, maka dampak langsung yang diterima pun adalah kepuasan pikiran. Aspek lain adalah jika dikuantifikasikan dengan ekonomi, maka hal ini tidak memiliki korelasi langsung karena sebenarnya masing-masing penyelenggara perhelatan telah mempersiapkan sejumlah dana untuk perhelatan itu (terlepas dari mana sumbernya) sehingga sebelumnya ia telah memikirkan ke arah itu. Meski demikian, penyelenggaraan upacara adat yang menyita waktu berhari-hari lamanya, tetap saja menimbulkan permasalahan bagi orang lain dan dari sanalah paradigma pemikiran tentang adat bisa dimulai.

PENYEDERHANAAN PELAKSANAAN ADAT
Melihat dan mencermati tata laksana adat istiadat orang Batak dewasa ini, maka tidak menutup kemungkinan seandainya penyederhanaan ritual itu dilakukan. Hal seperti ini perlu dipertimbangkan mengingat aspek efisiensi dan efektivitas materi, dana dan waktu yang diperlukan untuk itu.

Kemungkinan orang akan menilai bahwa upaya penyederhanaan adat itu adalah tindakan menyimpang atau telah mencoba melakukan perlawanan terhadap warisan budaya leluhur atau malah dicap sebagai orang tak beradab. Adalah (alm) Amudi Pasaribu, mantan rektor salah satu PTS di Medan, yang mencoba melemparkan gagasan seperti itu. Namun, tampaknya gagasan itu belum membuahkan hasil karena semakin intensifnya orang Batak melakukan berbagai ritual-ritual adat. Dalam era kekinian, dimana setiap orang telah dibatasi oleh waktu maupun jarak maka tidaklah mungkin setiap pelaksanaan adat itu dapat dihadiri dengan intens apalagi ritual itu direncanakan dengan menyita waktu lama. Batasan waktu dan jarak seperti ini, menjadi persoalan utama dalam merencanakan sebuah perhelatan adat.

Dalam pandangan dunia Barat misalnya, waktu bagi mereka adalah uang. Bukan berarti melulu materi tetapi cenderung adalah disiplin kerja dan management waktu. Perspektif ini kian jelas dan nyata bagi kepribadian mereka sehingga ketika mereka melihat keadaan di dunia ketiga misalnya, yang tampak bagi mereka adalah bahwa kita lebih senang bermalas-malasan, mengutamakan kehidupan komunalistik, kurang memiliki orientasi ke depan dan jauh dari kehidupan mereka yang individualistis dan sangat menghargai waktu. Ada kalanya dalam beberapa gagasan penyederhanaan adat itu, pastilah banyak ditentang oleh pihak lain apalagi dengan kondisi masyarakat kita Indonesia yang komunalistis.

Dalam masyarakat Simalungun misalnya, melalui lembaga kerapatan adat yakni Partuha Maujana Simalungun telah merintis ke arah itu, sehingga beberapa bagian dalam peraturan adat telah disederhanakan, seperti bagian mangulosi, pembagian jambar (potongan daging), begitu pula dengan pembagian tuhor (mahar). Belum lagi dalam tata laksana perhelatannya yang lebih praktis seperti jamuan makan yang bukan lagi menggunakan piring dan cangkir, tetapi telah dibungkus sedemikian rupa sehingga berbagai tugas tertentu telah hilang sehingga penyelenggaraan perhelatan lebih ringkas dan praktis. Sehingga tidaklah berlebihan bahwa di antara seluruh etnik Batak, maka penyelenggaraan perhelatan adat Simalungun adalah paling singkat dan ringkas pelaksanaannya.

Sungguh pun terdapat penyederhanaan bagian adat dan pesta dalam adat Simalungun, namun tidak melahirkan pertentangan di kalangan pendukung kebudayaan itu. Hal ini dapat terwujud karena hal ihwal dalam implikasi penyederhanaan tersebut adalah dilakukan oleh para perintis penyederhanaan itu adalah agen penyerderhanaan tadi. Dengan begitu, masyarakat pun dapat menilai bahwa penyederhanaan itu dilakukan untuk efisiensi dan efektivitas waktu, materi dan tenaga.

Dengan demikian, adat, sebagai sebuah kerangka pemikiran tidak tertutup untuk disederhanakan sepanjang tidak mengubah substansinya. Adalah benar bahwa Adat do nabalga, adat do na gelleng (besar kecilnya adat adalah tetap adat). Hanya dengan cara seperti itulah, maka upaya kita untuk menyederhanakan adat itu dapat dilakukan. Disamping itu, penting pula bagi kita untuk memikirkan faktor lain seperti waktu orang lain yang kita undang, pun waktu kita sebagai penyelenggara perhelatan. Semoga!

Penulis: Pengamat Pendidikan dan Pembangunan Sosial Direktur : Pusat Kajian Budaya dan Pengembangan Masyarakat Pedesaan (SIMETRI) (c)

Sumber : Harian SIB


Ada 12 tanggapan untuk artikel “Penyederhanaan (Pelaksanaan) Adat, Perlukah?”

  1. Tanggapan jadimora:

    Penyederhanaan itu perlu sekali, terutama bagi pangaranto yang hendak married.
    Seperti kebiasaan kami pangaranto dari Batam, setelah marpesta di kampung, marpesta lagi (resepsi)di Batam dengan mengundang hula2, dongan tubu, boru bere yang ada di Batam.
    Karena ada perkataan : Djonok partubu, djonokan do parhundul.
    Dari segi biaya untuk resepsi hampir sama besarnya, maklum di Batam ini sudah sangat banyak populasi halakkita, sudah termasuk penduduk suku mayoritas.
    Kalau dari segi biaya tak bisa disederhanakan lagi, sebaiknya dari segi waktu lah sebaiknya bisa. Misalkan untuk marhusip dan marhata sinamot bisa dalam satu hari. Pembicaraan sinamot tak perlu bertele-tele (Pernah ada parboru menawarkan jualannya dengan 10 ekor kerbau + 10jt Ringgit + Secawan emas + hasil bumi + dll tetapi hasil akhirnya cuma 1jt ringgit saja)
    Penyederhanaan perlu untuk kemaslahatan bersama.
    Bukankah adat tercipta untuk itu?

  2. Tanggapan Togar Silaban:

    Secara prinsip, penyederhanaan itu perlu. Tetapi penyederhanaan hendaknya bukan karena alasan yang terlalu dibuat-buat. Yang terjadi sekarang ini adalah subsansi adat sebenarnya ringkas, tetapi kegiatan tambahan yang terlalu banyak.

    Pada waktu marhata sinamot/marhusip misalnya sudah banyak diterapkan “sahali mandok”. Artinya tidak lagi terjadi tawar-menawar sinamot yang terkesan konyol. Apalagi sesungguhnya nilai sinamot sudah dirundingkan sebelumnya. Tetapi yang penting dalam proses “sahali mandok” jangan menjadi menyepelekan fungsi masing-masing, mulai dari boru, dongan tubu, hula-hula tulang dsb.

    Yang juga sering terjadi adalah suhut sihabolonan sering lupa terhadap semua pihak yang diundang pada unjuk. Ini terutama di pangarantoan, dimana bona tulang merupakan pihak yang terakhir mangulosi, tapi sesungguhnya secara pribadi antara bona tulang dan suhut sudah tidak begitu mengenal. Bahkan bona tulangnya didatangi hanya pada saat mengantar undangan. Bona tulang harus menunggu mulai dari awal sampai akhir, kadang suhut terkesan memperpanjang-panjang acara dengan manortor dan lain sebagainya.
    Ini menyebalkan bagi bona tulang.

  3. Tanggapan Fordolin Hasugian:

    Saya setuju dengan tanggapan teman-teman di atas. Oleh sebab itu saya setuju sekali adat batak dalam segala bentuk disederhanakan. Adat itu adalah ciptaan manusia, dan diciptakan sesuai dengan ruang dan waktunya, bukan wahyu dari Tuhan. Karena ciptaan manusia, maka bolehlah dirubah sesuai dengan ruang dan waktu kekinian. Adat Batak yang dulu itu ‘kan diciptakan untuk masyarakat yang relatif homogen, dan sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakatnya, sementara sekarang, orang-orang Batak bukan lagi tinggal di Tanah Batak, tetapi di masyarakat yang sangat-sangat heterogen, dan nun jauh dari Tanah Batak. Maka sudah saatnya dirubah. Janganlah kita dikungkung dan dikendalikan oleh ciptaan masa lampau, tetapi kita (manusialah) yang mengendalikannya.

    Terimakasih.
    Fordolin Hasugian

  4. Tanggapan Ir. Saut Simanjuntak:

    Saya mencoba menghayati serta merenung sekitar kekuatan magis adat batak dikalangan etnis Batak. Kekuatan magis adat ini lebih dominan dengan iman percaya kepada Yesus Kristus (bagi yang mengatakan dirinya sudah Kristen). Ke-akuan etnis Batak terhadap budaya leluhur sangat tidak berkehendak dihadapan Allah Bapa. Saya menganjurkan kepada seluruh orang Batak yang masih ego terhadap adat batak supaya mempelajari secara seksama asal muasal lahirnya kebudayaan Batak.
    Bagi etnis Batak yang ego akan adat budaya batak dan melaksanakan nya dalam kehidupannya maka beberapa pemikiran rasional yang boleh saya garis bawahi adalah:
    1. Orang batak adalah cipataan Debata Mulajadi Nabolan. Siapakah Bebata Mulajadi Nabolan?. Dia adalah rekayasa Lucifer yang menyatakan manusia ada dari 3 telor.
    2. Debata adalah penguasa 3 banua, Banua ginjang (rekayasa dari Sorga), Banua tonga (bumi) dan Banua toru yaitu (neraka).
    3. Dalihan natolu merupakan rekayasa lucifer sehingga orang batak memberhalakan orang hidup. Boru harus somba marhula-hula. Pasu-pasu hanya datang dari hula-hula. Bagaimana jadinya kalau hula-hulanya juga pendosa (misalnya pembunuh). Dalihan natolu rekayasa lucifer dalam menghilangkan hukum kasih yang di ajarkan oleh Yesus Kristus.
    4. Na margoar juga jelas dan sangat nyata bahwa manifestasi keberadaan kuasa TUHAN telah direkayasa lucifer melalui na margoar. Yang layak disembah dan diagungkan hanya Tuhan dan Dia (Yesus Kristus)yang punya nama yang menjadi satu-satunya jalan keselamatan.
    Kalau boleh renungkanlah apa kata Tuhan Yesus kepada muridnya yang hendak mengikut Dia. Biarlah orang mati menguburkan orang mati. Maksudnya adalah bahwa jangan sampai kamu mati baru ikut Tuhan Jesus.
    Kembalilah kamu kejalan yang benar dan tinggalkan adat batak dari kehidupan mu. Adat dan budaya batak boleh kamu pelajari sebagai pengetahuan untuk lebih menebalkan iman percaya kepada Yesus Kristus. Mohon Roh Kudus untuk kamu mampu meninggalkan adat batak dari bagian hidupmu.
    Kasihan kamu jika tidak mempunyai tempat di rumah Bapa di Sorga.
    Mauliate sian Ir. Saut Simajuntak.

  5. Tanggapan Maridup Hutauruk:

    Membicarakan adat istiadat pada komunitas Batak adalah menyangkut kehidupan insan Batak dari kuku sampai unjung rambut, jadi tentu tidak bisa ditawar lagi untuk terhapus dari kehidupan orang yang masih mengakui dirinya Batak. Ironisnya adat-istiadat yang difahami sekarang ini hanya dua aspek ritual saja yaitu perkawinan dan kematian seorang insan Batak, sementara tatanan adat itu ada puluhan, dari mulai bertegur sapa, penempatan diri/bersikap/berperilaku dalam komunitas (Parhundulan), yang bersifat ritual-ritual dan banyak lagi. Dari dua aspek ritual yg disebut diatas pelaksanaannya dibuat sedemikian rupa yang memberatkan sebagian besar masyarakat yg terikat dgn adat istiadat tsb sehingga terjadi sikap kontradiktif bagi yg tidak mampu utk melaksanakan yang terkondisi tadi.

    Yang perlu digaris bawahi bahwa adat-istiadat itu tidak perlu dipersulit hanya untuk membesarkan dan membanggakan nama baik keluarga yang melaksanakan tetapi memberatkan kepada orang-orang yg terikat dengan tatalaksana adat tsb. Awalnya adat-istiadat Batak itu tentu terlaksana di Bonapasogit yang lingkungannya mendukung untuk pelaksanaan adat secara mudah dan gampang. Perlu sigagat duhut sudah ada tertambat diborotan, perlu pinahan lobu namarmiakmiak sudah ada di lobu pudi, perlu dengkle sudah ada di ambar, perlu manuk sudah ada dilobu bara, perlu boras/eme sudah ada di lumbung, perlu ulos sudah tersedia ditonun dihutai, jadi adat istiadat pinatupa sijolojolo tubu memang pas boi tarpatupa karena boleh dikata semua masyarakat huta memelihara horbo, pinahan, marsaba dan lengkap semuanya. Bahkan catatan-catatan buku menjelaskan bahwa untuk acara adat dengan seribu orang dari satu kelompok marga maradat tuhuta ni tutur dengan gampang dapat dilaksanakan. Kalau diparserakan tentu harus ada penyesuaiannya namun tidak mengurangi substabsi adat tsb.

    Tragisnya sekarang ini di bonapasogitpun sudah sulit untuk melaksanakan adat sesuai tu partordingna karena masyarakatnya masuk dalam peta kemiskinan sedangkan maradat itu adalah biaya. Kenapa bisa terjadi? karena masyarakatnya tidak lagi serajin dahulu, mereka tidak lagi serempak memelihara kerbau karena takut dihara, atau tidak lagi menanam ikan karena dijala atau dipulha panangko. Jadi perilaku masyarakat itu yang memunculkan sikap mengambil milik orang lain bukan lagi berari menyakiti orang lain. Jadi bukan adat itu yang harus dihilangkan seperti kata Tuan Simanjuntak yang insinyur di atas, melainkan setelah masyarakat menganut agama baru (bukan agama Mulajadi Nabolon) maka datanglah silusifer, kalau tak ada agama baru itu mungkin tak datang itu si lucifer. tapi karena ada si Lucifer maka dilanggarlah patik palimahon dengan membuang adat-istiadat, kemudian dilanggar lagi patik paonomhon sehingga orang-orang tidak mau lagi bergiat bekerja karena sudah banyak lucifernya yang mengambil bukan haknya, dst. dst jadi malaslah mereka, miskinlah mereka ndang maradat be, las songon ima nang na di parserakan na songon na ni dok tuan Simanjuntak Insinyur i na diida nasida do si lucifer i gabe barani do ibana naeng manghapushon adat batak na bolon i holan ala ni haporseaon na na saotik i tu Tuhanna.

    Konteks religius Bangsa (bukan suku)Batak menganut kepercayaan monotheis dimana Mulajadi Nabolon sebagai pencipta alam semesta (artikan sendiri) terlepas apakah ada orang yang menyembah begu itu bukanlah membawakan kepada konteks religius Bangsa Batak. Perlu pengertian yang mendalam tentang ‘begu’,'tondi’,’sumangot’,’sahala’ barulah bisa kita memahami apa itu agamamu dan apa itu konsep religius Bangsa Batak. Dalam konteks religius Bangsa Batak tidak dikenal Sipencipta berniat membinasakan ciptaannya melainkan diberikan kuasa kepada yang dikuasakannya untuk memberikan hukuman apabila melanggar. Manusia setelah kematiannya tidak masuk kedalam api nereka tetapi tetap masuk ke Banua Ginjang dan ditempatkan sesuai porsi penempatannya di langit 1-7. Ada ajaran agama lain bahwa Tuhan sipencipta berperang melawan iblis hanya untuk saling merebut pengaruh dari manusia agar masing-masing menjadi pengikutnya. Siapa yang kuat itulah yang menang dan iblis berpeluang juga untuk menang. Konsep ini mengakibatkan penganutnya memperalat tuhannya untuk meminta sesuatu kepada penciptanya padahal dia sudah diberi kuasa yaitu akal dan pikirannya untuk memenuhi kebutuhannya. Ada pula kecenderungan memperbudak tuhannya dengan menyuruh tuhannya berada didepannya untuk berperang melawan musuhnya (iblis) hanya dengan mengandalkan doa-doanya tanpa perlu memakai karunia otaknya untuk peperangan itu. Sedang konsep religius Bangsa Batak tidak mengenal iblis yang berperang melawan Mulajadi Nabolon dan Mulajadi Nabolon tidak akan mau membinasakan ciptaannya. Kalau saya umpamakan, misalkan seorang insinyur yang sudah bersusah payah menciptakan sesuatu (gelar insinyur adalah untuk menciptakan)dengan jerih payah kucuran keringat mengeluarkan semua ilmu dan dananya dan setelah berhasil tentu dia tidak menghancurkan ciptaannya bahkan akan menyayanginya. Ada pujangga mengatakan “Aku berpikir maka aku ada” artinya kalau aku tak berpikir maka aku ini tak ada apa apanya donk!

  6. Tanggapan Hasudungan:

    Ir Saut Simanjuntak, orang seperti ini yang merusak tatanan adat batak. Kita mau menyederhanakan, bukan menghilangkan. Kalau dirunut ke belakang, jangankan adat batak, anda pun adalah keturunan pendosa, sehingga anda berpakaian sekarang. Adam dan Hawa mulanya tidak berpakaian. Lalu apakah anda harus bugil sekarang? Saya melihat, orang-orang yang menentang adat batak tanpa sadar juga melakukan adat “barat”. Pakai gaun, musik, lempar kembang pengantin, dll.

    Penyederhanaan OKE, tetapi menyebutkan adat batak sebagai manifestasi lucifer jangan-jangan anda adalah lucifer.

  7. Tanggapan ALBERT SIAHAAN:

    SAYA SETUJU KALAU ADAT BATAK DI SEDERHANAKAN . KARENA ADAT DAPAT MERUSAK IMAN ORANG BATAK YG BERAGAMA KRISTEN . JADI ADAT BATAK HARUS DIPRBAIKI . OK . HORASS………..
    MERRY CHRISTMAS AND HAPPY NEW YEAR……………..

  8. Tanggapan choki sihotang:

    Yang bukan berasal dari Tuhan Yesus, kita tolak. Orang yang menanggalkan adat istiadat bukan berarti menarik diri dari hubungan kekerabatan atawa menarik diri dari komunitasnya, pun masyarakatnya. Jangan salah persepsi. Hukum KASIH lebih penting dari adat istiadat.

  9. Tanggapan sabar tambunan:

    HORASSS……SYALLOOMM,

    CAPE…DEH !!, kalo kita bicarakan adat Batak.
    Seolah2 isinya BUDAYA (culture) batak dibatasi HANYA pada masalah ” paradaton ” semata…..

    Setiap ada ‘pertemuan-budaya’ orang2 batak, bahkan yang bersifat akademis-pun selalu tema-nya dominan adat-istiadat batak. Tema-tema produk budaya lainnya sangat minim.

    Menurut saya, MEMANG budaya Batak sudah lama mandeg (stagnant), juga termasuk tentunya budaya2 suku lain di Indonesia… Karena memang perjalanan negara Indonesia telah mengakibatkan budaya suku2 di Indonesia mandeg !!

    Memang, budaya Batak sempat jaya sebentar, yaitu diawal2 masuknya agama kristen dan islam di tanah batak…..saat itu belum ada yang namanya negara Indonesia. Yaitu BERUPA SEMANGAT MERANTAU untuk mengejar kemajuan..

    Setelah itu,..BELUM ADA produk2 budaya kita yang berguna bagi kemajuan komunitas batak. Semuanya masih berkisar dan terpaku pada segala tetek bengek teknis pelaksanaan adat semata….sia2-lah.

    Jaman telah jauh berubah, orang batak sudah tidak homogen lagi, dalam arti profesi dan mata pencariannya sangat beragam. Artinya aktivitas, pola hubungan dan persoalan hidup yang dihadapi-pun banyak berubah…..

    APA JAWAB BUDAYA BATAK MENYANGKUT PERUBAHAN INI ????

    Faktanya, masih saja kita terjebak dan berdebat pada hal2 yang tidak membuat kita semakin mudah menjalani hidup sehari-hari, baik sebagai individu maupun komunitas (bersama).

    Bahkan ada pihak2 sampai2 mengkaitkan dan mempertentangkan adat batak (budaya??) dengan agama…kurang kerjaan itu namanya!!

    INGATLAH…..
    Tahun 1830-an…
    Seperti gerakan PADRI (Pemurnian agama islam), dari mashab HAMBALI, di ranah Minang. Orang yang telah menjadi Islam-pun dipaksa harus seperti mereka, yaitu “MURNI”..tidak boleh ‘tercemar’ oleh budaya minang !! Kalau menolak artinya dosa besar dan harus dibunuh. Apalagi yang non-Muslim….

    JUGA….,
    pasukan PADRI dipimpin Tuanku RAO masuk merangsek tanah Batak, memaksa dan membantai….untung akhirnya mereka berhenti sendiri dan terpaksa kembali….karena tak tahan kena wabah kholera.

    CHOKI SIHOTANG…
    berkata ” Yang bukan berasal dari Tuhan Yesus, kita tolak” WAH …itu benar sekali, tapi sangat normatif dan ‘murni’ sekali.

    Padahal Ompu I..Nommensen sendiri datang menginjili dengan pendekatan budaya batak…..berarti yang dilakukan oleh Nommensen bukan dari Tuhan Yesus ????!!

    Tuhan ‘khan tidak memberi kita hak untuk mengatakan bahwa orang batak yang belum kristen jaman dulu pasti masuk neraka. Itu hak dan rahasia Tuhan !! Jangan sekali2 kita ambil dan bahkan rebut hak itu. Sesungguhnya Kita bukanlah ‘Tuhan’ ataupun ‘Tuhan2 Kecil’, kalau memang kita percaya pada Tuhan.

    KITA AKAN RUGI BESAR….
    Karena itu, janganlah kita batasi BUDAYA sebatas adat istiadat….

    Mari kita buat =>>> GERAKAN BUDAYA BATAK BARU,
    sebuah gerakan yang lebih luas dan dalam, yaitu yang menjawab segala kebutuhan dan perubahan yang terjadi.
    Untuk saat ini dan antisipasi masa mendatang !!

    SELAMAT DATANG,….
    GENERASI BARU Batak telah lahir… !!
    jauh berbeda dengan kita2 yang telah berumur 30 tahun’an ke atas. Kepada anak-anak dan remaja, jangan katakan dan ajari mereka bahwa harus mencintai adat-istiadat batak, sementara kita tidak mampu membuat mereka untuk ‘ENJOY-menikmatinya’.

    Saat ini diperlukan GERAKAN budaya Batak..misalnya : ” Tidak akan ada putus sekolah karena biaya ” atau ” Skor TOEFL minimal 450 untuk lulusan SMA “, atau ” MELEK ICT bagi GENERASI BARU ”

    PERCAYALAH….,
    adat batak akan tetap tumbuh apabila orang batak merasa “terbantu” oleh produk2 budayanya sendiri. Dan sebaliknya, pasti akan ditinggalkan kalau hanya menjadi ‘kewajiban’ tanpa memperoleh manfaat nyata di kehidupannya sehari2, ..apalagi kalau sudah menjadi beban ekonomi, dimana orang kebanyakan tak mampu lagi melaksanakannya.

    HIMBAUAN,…
    bagi gereja HKBP, GKPI, HKI, GKPS, GBKP dan GKPA dan para pihak terkait lainnya. Sebagai institusi/organisasi yang besar, pimpinlah segera sebuah gerakan budaya batak yang baru….keluarlah dari rutinitas dan hanya melihat ke-dalam !

    Tanda-Tanda Kerajaan Allah harus nyata-nyata hadir di bumi…yaitu Damai Sejahtera di Bumi, BUKAN CUMA di Surga !!

    Muliate,

    Sabar Tambunan

  10. Tanggapan zhya sinaga:

    saya sebenarnya tidak begitu mengerti secara mendalam tentang budaya Batak, tetapi mungkin benar budaya batak itu sanagat ribet jadi kalau memang perlu penyederhanaan saya sih setuju - setuju saja…….

    tapi, plis deh,,,,,,, kita jangan telalu mengatasnamakan agama…

    kalau memang ada yang kurang baik ya mau gimana lagi,,
    tapi yang pasti kita harus hati - hati awalnya mungkin kita hanya ingin menyederhanakan eh,nantinya malah benar- benar jadi hilang..

  11. Tanggapan antony:

    Pada mulanya adat dibuat oleh orang tua2 kita jaman dahulu yang belum mendapatkan pencerahan dalam agama (Kristen). Namun perlu kita menyadari juga bahwa adat istiadat (batak dan adat lain) yang ada dibuat atas dasar keyakinan bahwa manusia merupakan ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa, baik itu dengan sebutan masing-masing (spt. Mula Jadi Nabolon).
    Mengapa perlu ada adat ?
    Adat dibuat (pada masa itu dan dilaksanakan sampai sekarang) adalah untuk menata hubungan sosial antar masyarakat suatu daerah (komunitas). Biasanya adat istiadat dibuat demi kebaikan bersama. Karena belum penah saya melihat ada adat yang mewajibkan seseorang untuk berbuat kejahatan.
    Mengenai masih banyaknya saat ini masyarakat batak yang masih melakukan ritual2 seperti menghidangkan makanan kepada leluhur dsb. itu bukanlah adat tetapi merupakan keyakinan beberapa orang yang kebetulan juga batak (jawa disebut sebagai “sesajen”).
    Hal inilah yang seharusnya bisa kita pisahkan antara adat dan keyakinan akan Tuhan Yang Maha Kuasa.
    Saya sangat setuju adanya penederhanaan terhadap pelaksanaan adat di bangso batak ini, sebab ada beberapa hal yang menurut saya yang (dibuat atau terjadi dengan sendirinya) bertele-tele sehingga membuat kita bosan dengan acara adat. Secara umum saya sangat respek dengan pelaksanaan adat baik dalam acara perkawinan, kematian bahan sampai paulak tukang juga ada. Tapi saya berharap dapat disederhanakan.
    Mengapa saya katakan perlu disederhanakan, karena kita saat ini sudah bisa dikatakan kekurangan waktu untuk hal-hal seperti ini. Jadi akan sangat baik jika adat tetap dilaksanakan tapi dengan ringkas dan waktu yang relatif lebih cepat.
    Saya sangat sedih membaca yang mengatakan “dalihan natolu” adalah rekayasa Lucifer. Terlalu sempit pemahaman akan dalihan natolu kalau sampai kita mengatakan hal itu. Dalihan natolu bukanlah sarana penyembahan terhadap seseorang atau sesuatu selain Tuhan Yang Maha Esa. Menurut pendapat dan pengetahuan saya yang tidak terlalu banyak paham akan adat batak, bahwa dalihan natolu adalah sarana saling menghormati sesama sesuai dengan porsinya dan kedudukan masing-masing. Saya sendiri tidak akan mau menyembah dan disembah siapapun kecuali menyembah Tuhan. Saya tidak pantas untuk disembah karena bukan porsi saya menerima penyembahan.
    Untuk itu marilah kita membuat adat batak kita tetap bersinar dengan pemahaman yang benar dan tetap menjadikan Tuhan Yang Maha Kuasa sebagai sumber dari segala sumber adat kita. Kita sesuaikan dengan kondisi kekinian dan sesuaikan dengan keyakinan kita.
    Kita wajib menghormati sesama kita sesuai dengan kedudukannya tanpa harus menyembahnya.
    Semoga sedikit yang saya sampaikan ini bermanfaat bagi kita semua.
    Horas.

  12. Tanggapan Nelson Saragih:

    Saya setuju dengan Bp. Ir. Saut Simanjuntak. Sebaiknya kita lebih memfokuskan hidup kita kepada Tuhan. Kita jangan berpijak pada dua tempat.

    Kalau kita pelajari dengan seksama kita bisa mengatahui bahwa upacara-upacara adat batak ada unsur penyembahan dan berkat (menyembah hula-hula dan berkat hula-hula), itu berarti sama dengan agama kalau boleh saya katakan itu adalah agama Batak. Sekarang kita mau pegang yang mana? Agama Kristen atau agama Batak?

    Bila kita pelajari sejarah adat batak, adat batak di ciptakan oleh debata mula jadi nabolon. Mula jadi nabolon mempunyai 3 oarang putra yang merupakan pancaran kemuliaannya yaitu : Batara guru, mangala sori dan mangala bulan. Batara Guru menguasai Banua Ginjang, mangala sori menguasai banua tonga dan mangala bulan menguasai banua toru. Tentunya ketiganya adalah mahluk roh.
    Karena manusia pada umumnya tidak bisa melihat roh maka di alam nyata ketiganya diwakili oleh : Hula-hula (mewakili Batara guru), Dongan tubu (perwakilan dari mangala sori) dan boru (perwakilan dari mangala bulan) Hal ini berdasarkan tulisan dari Dr. Philip O Tobing :”The structure of the toba batak belief in the high god[1963:149]”
    Intinya begini, pada saat kita melakukan upaca adat tanpa kita sadari roh ketiga tersebut diatas juga hadir disitu.
    Pada saat dilakukan sembah terhadap hula-hula tanpa sadar sebenarnya yang disembah adalah roh batara guru yang ada di dalam hula-hula.
    Pada saat hula-hula memberi berkat terhadap boru, berkat yang sebenarnya diberi adalah berkat dari Batara guru. Semua ini tidak terjadi di alam nyata tetapi di alam roh.
    Upacara adat terjadi berdasarkan perjanjian antara leluhur orang batak dengan debata mulajadi nabolon. Sebelum Kristen masuk ketanah batak,debata mula jadi nabolon dan upacara adat batak sudah ada. Itu artinya bahwa adat batak bukanlah hasil karya Tuhan Yesus.
    Saya memahami kenapa Bp. Ir. Saut Simanjuntak diatas mengatakan bahwa Debata mulajadi nabolon adalah rekayasa iblis.
    Kita perlu mengetahui, kenapa iblis dilemparkan dari Sorga? itu semua karena dia ingin menjadi seperti Allah dan ingin disembah. Setelah dia dilemparkan dari surga dia berkeliling dunia dan mengaku kepada setiap tempat yang dikunjunginya bahwa dia adalah Allah. Kepada orang mesir dia mengaku sebagai dewa “Ra”, Kepada orang yunani dia mengaku sebagai “ZEUS”dan kepada orang batak dia menyatakan dirinya Debata Mulajadi Nabolon.
    Sekali lagi saya katakan bahwa upacara adat batak adalah hasil karya debata mulajadi nabolon bukan hasil karya Allah Bapa atau Tuhan Yesus.
    Jadi pada saat kita melakukan upacara adat batak, itu sama dengan kita mengukuhkan kembali perjanjian antara leluhur orang batak dengan debata mula jadi nabolon.
    Mungkin ada yang berkata bukankah acara adat banyak yang disesuaikan dng ajaran gereja?
    Satu hal, Allah Bapa/Tuhan Yesus hanya ingin disembah menurut caraNYA bukan cara kita terlebih lagi cara hasil karya dari debata mulajadi nabolon.
    Dalam Alkitab banyak kita temui bahwa Tuhan Yesus mengecam adat istiadat orang yahudi yang notabene diturunkan oleh Musa. Apalagi adat kita yang banyak unsur berhalanya?
    Akhir kata mari kita baca :
    I Petrus 1:18-19
    Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.






Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel sebelumnya :
   » » Bendera Livatech Masih Setengah Tiang

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel selanjutnya :
   » » Sekjen HKBP Ajak Umat Hadiri Jubileum 50 Tahun CCA di Stadion Teladan