Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Minggu
18
Feb '07

Hotbonar Pimpin Jamsostek


Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Jamsostek memilih Hotbonar Sinaga sebagai direktur utama yang baru. Hotbonar menggantikan posisi Iwan P Pontjowinoto yang dinonaktifkan sejak 19 Januari lalu. Pemilihan Hotbonar ini digelar dalam rapat yang berlangsung sekitar 2 jam sejak pukul 19.

00 WIB di Kementerian Negara BUMN, Jl Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Jumat (16/2). Rapat yang dipimpin Sekretaris Kementerian Negara BUMN Said Didu dan staf ahli bidang Tata Kelola Perusahaan A Pandu Djajanto ini berlangsung tertutup. Dalam rapat ini juga ditetapkan pergantian untuk seluruh pejabat di jajaran direksi dan komisaris.

“Rapat ini dilakukan sebagai tindak lanjut dari adanya surat komisaris mengenai pemberhentian sementara Iwan Pontjo sebagai Dirut pada 19 Januari lalu,” kata Said Didu usai RUPSLB. Hotbonar memiliki latar belakang profesi yang kental di industri asuransi, lelaki Batak dengan gaya bicara dan dialek Bandung ini pernah menjadi Ketua Umum Dewan Asuransi Indonesia (DAI) pada 2002-2005. Dia juga pernah menjabat sebagai President & CEO Berdikari Insurance Corporation pada 2000, Dirut MetLife Insurance, Anggota Komite Audit PT Pindo Deli Pulp and Paper Mills, Komisaris Independen Sinar Mas Insurance.

Selain itu, Hotbonar juga aktif sebagai pengamat dan pakar asuransi, dosen Asuransi dan Manajemen Risiko FEUI, Dewan Penasihat Financial Planning Association Indonesia (FPAI), Anggota Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG), Ketua Sekolah Tinggi Manajemen Asuransi Trisakti, dan Anggota Dewan Penasihat Indonesian Risk Professional Association (IRPA). Untuk jajaran komisaris, RUPSLB memilih Wahyu Hidayat sebagai komisaris utama PT Jamsostek. Sebelumnya Wahyu menjabat sebagai caretaker Dirut.

Wahyu akan ditemani 5 anggotanya, yakni Myra Maria Hanartani, Syukur Sarto, Haryadi S Sukamdani, Rekson Silaban, dan Herry Purnomo. Menurutnya, pengangkatan direksi dan komisaris PT Jamsostek ini telah dilakukan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Para calon juga harus melewati uji kelayakan yang dilakukan konsultan independen, serta proses wawancara yang dilakukan tim evaluasi calon anggota dieksi PT Jamsostek.

“Pertimbangan pengangkatan mereka adalah demi kelangsungan dan keselamatan Jamsostek ke depan. Untuk pemerintah, karyawan, dan para pengusaha. Jadi kita harapkan tidak ada kisruh lagi di Jamsostek,” tutur Said.

Puncak kisruh Jamsostek terjadi pada 19 Januari lalu, ketika Prijono memimpin rapat dan meneken surat keputusan Dewan Komisaris Jamsostek yang memberhentikan sementara Direktur Utama Iwan Pontjowinoto. Komisaris menunjuk Andi Achmad Amin sebagai pelaksana tugas dirut. Jabatan komisaris utama telah dipegang anggota Majelis Pakar PPP ini sejak 2001.

Dua tahun lalu, ia dituding melecehkan parlemen karena mengirim surat ke para menteri agar mengabaikan undangan rapat dengan DPR. Buntutnya, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu mundur dari jabatan sekretaris wakil presiden. Sementara sejak Iwan Prijono Pontjowinoto menggantikan dirut sebelumnya, Achmad Djunaidi, pada April 2005, penolakan karyawan dan direksi Jamsostek terus merebak.

Iwan memang bukan “orang dalam” Jamsostek. Alumnus Institut Teknologi Bandung (1978) ini 11 tahun bekerja di IBM, enam tahun di Lippo, Direktur PT Danareksa, dan aktif di pelbagai organisasi keislaman. Inilah yang mendekatkannya dengan Menteri Negara BUMN Sugiharto, yang aktif di Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan PPP.

Dalam susunan pengurus Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Sugiharto menjadi Ketua Dewan Penasihat dan Iwan Ketua Dewan Pakar. Menneg BUMN sendiri akhirnya menganulir keputusan Prijono dan tetap mempertahankan Iwan untuk sementara. Sementara itu, Direktur Utama non aktif PT Jamsostek, Iwan Pontjowinoto, menyatakan, bahwa dirinya akan mengundurkan diri sebagai dirut dengan alasan tanggung jawab moral terhadap perusahaan.

“Saya harus melihat kepentingan yang lebih besar, bukannya kepentingan saya menjadi dirut atau bukan, lebih kepada Jamsostek akan seperti apa, programnya dan pengembangannya bagaimana,” katanya sebelum mengikuti RUPSLB PT Jamsostek.

Sumber : (bi/dtc/ant)  Tribun Kaltim


Ada 3 tanggapan untuk artikel “Hotbonar Pimpin Jamsostek”

  1. Tanggapan sipiso-piso:

    Dengan melihat komposisi Dewan komisaris, Aktivis buruh yang vokal telah di”jinakkan”, hal ini akan memuluskan JAMSOSTEK mendapatkan monopoli rencana meengelola DANA PESANGON Buruh dimasa depan seperti yang dikhawatirkan lembaga2 keuangan khususnya DPLK. So, selamat berkabung buat dana buruh yang ditaruh di JAMSOSTEK di masa depan karena tidak ada lagi pembanding/saingan sehingga berapapun hasil pengembangannya JAMSOSTEK tidak merasa bersalah. B’mana ini Bung Rekson ?

  2. Tanggapan Charly Silaban:

    Hahaha… jeli juga sipiso-piso ini..
    Aku pikir juga begitu. Si rekson ini pasti akan berhenti memperjuangkan buruh kalau sudah dapat jampalan na lomak.
    Tapi apakah begitu ? Kita lihat aja perkembangannya :)

  3. Tanggapan gunawan silaban:

    Atau sebaliknya, dengan masuknya Rekson Silaban ke jajaran dewan komisaris, akan dapat merubah paradigma lama jamsostek. Tapi ingat Jamsostek adalah BUMN, bukan PMA, seperti kita ketahui bahwa BUMN adalah mesin uang para politikus…

    Mudah2an dia bisa menaikkan tarif iuran JHT yang dibayar pemberi kerja dari 3.7% menjadi 8%, sehingga total JHT 10%

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.