Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Sabtu
10
Feb '07

Industri di KBN Cakung Lumpuh - Ekspor Barang Terhenti


Ratusan pabrik di Kawasan Berikat Nusantara Cakung, Jakarta Utara, lumpuh total akibat banjir. Pabrik sudah tidak beroperasi sejak Jumat pekan lalu hingga Jumat (9/2). Dampaknya, produksi terhenti dan sekitar 30.000 buruh pabrik masih belum dapat bekerja serta kerugian ditaksir Rp 1 triliun.

Hampir 90 persen Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Cakung yang luasnya sekitar 400 hektar terendam air. Jalan-jalan utama di kawasan tersebut masih terendam dengan ketinggian air sekitar sepaha orang dewasa, mulai dari pintu gerbang masuk kawasan sampai di dalam kompleks pabrik. Di beberapa tempat lainnya ada yang mencapai kedalaman dua meter.

Di dalam pabrik, ribuan kardus kemasan berisi pakaian jadi yang siap ekspor terlihat rusak akibat terendam air. Bekas genangan air setinggi betis orang dewasa masih terlihat di tembok di dalam pabrik. Meski sebagian besar mesin masih terselamatkan, pabrik tidak bisa beroperasi karena aliran listrik belum tersambung.

Selain itu, sebagian besar bahan baku produksi juga ada yang terendam. Buruh pabrik pun belum ada yang bekerja secara penuh. Kalau ada yang sudah datang ke pabrik, mereka hanya diminta untuk membersihkan pabrik dari bekas-bekas banjir.

Di KBN Cakung sedikitnya terdapat 125 industri yang 80 persennya merupakan industri garmen dan pakaian jadi. Semua industri di kawasan itu memiliki pasar ekspor di Amerika Serikat dan Eropa.

Mengajukan klaim
Direktur PT Caterindo Garment Industri Bartolomeus Saleh mengatakan, saat ini pengusaha sedang menghadapi masalah yang dilematis. Pabrik belum bisa beroperasi, sedangkan importir dari Amerika Serikat sudah menyampaikan klaim atas keterlambatan pengiriman barang. “Kami sudah berusaha meyakinkan bisa memenuhi semua pesanan sesuai batas waktu kontrak pembelian. Namun, mereka tetap mengancam akan mencari produsen lain,” kata Bartolomeus.

Ia menyatakan, pengoperasian pabriknya yang memiliki kapasitas produksi 600 lusin per hari sampai kemarin masih terhenti. Pengiriman barang ke Amerika Serikat dan Eropa juga tidak bisa dilakukan karena barang yang sudah dikemas terendam air.

“Dengan terhentinya pengoperasian pabrik saja, saya sudah rugi sekitar Rp 10 miliar. Itu belum termasuk kerusakan barang yang sudah siap ekspor dan bahan baku yang terendam banjir,” ujar Bartolomeus.

Direktur PT Kaho Citra Indah Garmen Pramudyo menambahkan, pengusaha membutuhkan aksi yang konkret dari pemerintah, seperti pemberitahuan resmi kepada semua importir. Hal ini diperlukan agar pengusaha Indonesia bisa terhindar klaim dari mereka.

“Pemerintah juga harus bisa meyakinkan mereka agar mereka tidak mencari suplai barang dari negara lain. Selain itu, pemerintah juga harus membantu meringankan beban pengusaha dengan mempermudah prosedur perizinan ekspor barang,” kata Pramudyo. Banjir yang merendam kawasan industri juga ikut merusak dan menghilangkan beberapa dokumen.

Direktur PT Aneka Garmentama Indah Eddy Sulaimen menyatakan, akibat belum ada sambungan listrik, pengurusan dokumen melalui pertukaran data elektronik tidak bisa dilakukan. Karena itu, pengusaha juga meminta kebijakan Bea dan Cukai untuk memberikan kemudahan. “Kami sendiri bingung mau diapakan barang-barang yang rusak akibat terendam banjir. Bagi kami, ini sudah menjadi bencana yang luar biasa,” kata Eddy.

Direktur Utama Kawasan Berikat Nusantara Agus Supriyanto mengatakan, musibah banjir ini merupakan pukulan yang paling berat. Pihaknya mengupayakan agar pasokan listrik segera tersambung. Pihaknya juga sudah meminta bantuan penyaluran air bersih. “Kami sudah mengerahkan bantuan, seperti alat berat, truk, dan mekanik, untuk pabrik-pabrik yang ada di KBN Cakung. Kami juga masih memikirkan solusi terbaik,” kata Agus.

Lumpuhnya industri di KBN Cakung juga berdampak kepada industri lainnya yang berada di kawasan KBN Tanjung Priok dan KBN Marunda. Hal itu karena sebagian hasil produksi industri di KBN Cakung terkait dengan produksi di dua KBN itu.

Berempati kepada buruh
Ketua Umum Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (K-SBSI) Rekson Silaban meminta agar pengusaha tetap berempati kepada buruh yang menjadi korban banjir. Mereka tidak bisa dikenai sanksi akibat bolos kerja. “Tetapi jika ada pengusaha yang bersikeras memutus hubungan kerja, maka hakim pengadilan hubungan industrial harus membatalkannya,” kata Rekson.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Serikat Pekerja Nasional Bambang Wirahyoso mengatakan, pengusaha harus menggunakan cara persuasif dengan memperingatkan lebih dulu buruh yang bukan korban banjir, tetapi belum bekerja. Jika mereka membandel, baru diambil tindakan tegas. “Karena buruh yang tidak terkena banjir tetap datang ke pabriknya, meski itu sia-sia karena pabrik tidak beroperasi akibat banjir,” kata Bambang.

Akses pelabuhan
Sampai kemarin, akses jalan menuju pelabuhan melalui Jalan Raya Cakung-Cilincing masih mengalami hambatan. Selain karena genangan air, hambatan itu juga terjadi karena jalan rusak setelah diterjang banjir. Hambatan terparah terjadi di depan KBN Cakung karena genangan air.

Untuk menempuh jarak 1 kilometer diperlukan waktu sedikitnya setengah jam. Antrean kendaraan sudah mulai terjadi sejak keluar jalan tol melalui gerbang Rorotan.

Sumber : (HAM/OTW) Harian Kompas, Jakarta


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » GMI Gugat “KONTA” Sementara
Artikel selanjutnya :
   » » Pesta Pembangunan Gereja HKBP Binjai Baru Sukses Dukungan Walikota Binjai