Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Kamis
25
Jan '07

Diadili, Perwira Brimob Aniaya Warga Singapura


Terdakwa LS (37) Komandan Kompi (Danki) Satbrimob Polda Kepulauan Riau (Kepri) dan TG (40) warga Singapura dituduh menganiaya WN Singapura Zeat Sea (45) Manager Hotel Emeral Garden, diadili di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Rabu.

Jaksa Penuntut Umum (JPU), Chandra Permana,SH, dalam dakwaannya mengatakan, perbuatan tidak terpuji dilakukan aparat penegak hukum itu terjadi pada 20 November 2006, bertempat di ruangan Karaoke Ebony Hotel Emeral Garden Medan.

Terdakwa LS dan TG ketika itu sedang menyanyikan sebuah lagu kesayangannya, namun secara tiba-tiba lampu diruangan Karaoke tersebut padam, sehingga membuat kedua terdakwa marah.

Kemarahan terdakwa LS yang juga anggota Brimob bukan hanya mengeluarkan suara keras, melainkan juga mengambil senjata api terselip dipinggang dan meletuskannya beberapa kali ke udara.

Dengan demikian, kata Jaksa, para pengunjung yang ada di dalam ruangan Karaoke menjadi panik dan lari berhamburan keluar untuk menyelamatkan diri.

Selain itu, jelasnya, terdakwa LS dan TG warga asing tersebut juga mendatangi saksi korban Zeat Sea dan melakukan pemukulan, sehingga korban mengalami luka-luka dibagian mukanya.

Korban yang terjatuh ke lantai, juga ditendang oleh terdakwa sehingga mendapat perawatan selama empat hari di RS.Gleneagles Medan, katanya.

Selanjutnya, Jaksa, mendakwa terdakwa melanggar pasal 351 ayat (1) junto pasal 170 KUH Pidana karena melakukan penganiayaaan.

Dalam persidangan yang dipimpim Majelis Hakim PN Medan diketuai Arwan Bryin,SH, saksi korban Zeat Sea dalam keterangannya mengatakan, bahwa dirinya merasa trauma atau pukulan mental atas penganiyaan yang dilakukan oleh terdakwa.

Sehubungan dengan itu, ia meminta pada Hakim yang memeriksa perkara tersebut, agar jangan lagi menanyakan masalah tersebut, karena ia saat ini masih menjalani pengobatan di Rumah Sakit Singapura.

“Pak Hakim, jangan lagi tanyakan peristiwa penganiyaan tersebut,” ujar saksi korban yang mengenakan kemeja putih dan celana biru tua itu.

Sedangkan, kedua terdakwa LS dan TG mengakui segala perbuatan mereka. Tindakan yang mereka lakukan terhadap korban dalam keadaan tidak sadar.

Selain itu, Hakim Arwan Bryin yang juga Ketua PN Medan sangat menyesalkan cara kerja penterjemaah terdakwa TG warga Singapura, Sarpat boru Silaban,SH, karena tidak begitu jelas memaparkan keterangan terdakwa.

“Penjelasan yang disampaikan peterjemaah warga Medan itu kurang jelas diterima oleh majelis hakim dan agak membingungkan. Kemungkinan penterjamah itu kurang jam terbang,” katanya.

Sidang akan dilanjutkan pekan depan untuk memeriksa saksi korban, terdakwa, dan saksi-saksi lainnya.

Sumber : (*/rsd) KapanLagi.Com


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » U.S. to help RI with Papua special autonomy
Artikel selanjutnya :
   » » LKS [Lembaga Kerja Sama] Tripartit Nasional Dibentuk