Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Minggu
7
Jan '07

Parmalim: “Kami Bukan Penganut Ajaran Sesat”


“Marpangkirimon do na mangoloi jala na mangulahon patik ni Debata, jala dapotna do sogot hangoluan ni tondi asing ni ngolu ni diri on.”

-Pantun ni Ugamo Malim

Manusia yang mematuhi dan mengikuti ajaran Tuhan dan melakukannya dalam kehidupannya, memiliki pengharapan kelak ia akan mendapat kehidupan roh suci nan kekal.
-Kata bijak Ugamo Malim

Secara implisit, inilah yang menjadi ajaran suci keyakinan Ugamo Malim atau lebih dikenal dengan Parmalim di Tanah Batak sejak turun temurun, seperti yang dikatakan Raja Marnakkok Naipospos selaku Ulu Punguan (pemimpin spiritual) Parmalim terbesar di Desa Hutatinggi Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir.

Menurut beberapa pandangan ilmuwan sosial, sebenarnya Ugamo Malim layak menjadi sebuah agama resmi. Alasannya ialah dalam ajaran aliran ini juga terdapat nilai-nilai religius yang bertujuan menata pola kehidupan manusia menuju keharmonisan, baik sesama maupun kepada Pencipta. Dan secara ilmu sosial tujuan ini mengandung nilai luhur.

Hanya saja, peraturan pemerintah membantah advokasi tersebut dengan alasan masih adanya berbagai kejanggalan. Misalnya, ketidakadaan dokumen sejarah yang jelas mengenai kapan Parmalim pertama kali diyakini sebagai sebuah kepercayaan di Tanah Batak. Alasan lain, yang tentu saja mengacu pada persepsi umum adalah ketidakadaan kitab suci dan nabi yang jelas berdasarkan kitab suci, yang apabila ada. Di samping itu masih saja ada persepsi masyarakat yang mengatakan bahwa ajaran Parmalim adalah ajaran sesat.

“Kami bukan penganut ajaran sesat,” kata Naipospos kepada Global ketika dijumpai di kediamannya, Selasa (2/1/07). “Bahkan, ajaran Parmalim menuntut manusia agar hidup dalam kesucian,” jelasnya kemudian menerangkan secara detail asal-muasal kata Parmalim yang berasal dari kata “malim”. Malim berarti suci dan hidup untuk mengayomi sesama dan meluhurkan Oppu Mulajadi Nabolon atau Debata (Tuhan pencipta langit dan bumi). “Maka, Parmalim dengan demikian merupakan orang-orang mengutamakan kesucian dalam hidupnya,” jelas Marnangkok.

Lantas, apa pasal sehingga aliran ini tidak layak dijadikan sebagai agama resmi? Bahkan, aliran ini dianggap sesat dengan tuduhan sebagai pengikut “sipele begu” (penyembah roh jahat atau setan). “Alasannya jelas,” kata Marnangkok. “Mereka (masyarakat awam dan pemerintah) tidak mengerti siapa sebenarnya yang kami sembah dan luhurkan. Yang kami puja tak lain adalah Oppu Mula Jadi Na Bolon bukan”begu” (roh jahat),” katanya. “Dan inilah yang menjadi bias negatif dari masyarakat terhadap Parmalim.”

Marnangkok kemudian menjelaskan, Oppu Mula Jadi Nabolon adalah Tuhan pencipta alam semesta yang tak berwujud, sehingga Ia mengutus sewujud manusia sebagai perantaraannya (parhiteon), yakni Raja Sisingamangaraja yang juga dikenal dengan Raja Nasiak Bagi. Raja Nasiak Bagi merupakan julukan terhadap kesucian (hamalimon) serta jasa-jasanya yang hingga akhir hidupnya tetap setia mengayomi Bangsa Batak. Nasiak Bagi sendiri berarti ditakdirkan untuk hidup menderita. Ia bukan raja yang kaya raya tetapi hidup sama miskin seperti rakyatnya.

Dengan demikian, Parmalim meyakini bahwa Raja Sisingamangaraja dan utusan-utusannya mampu mengantarkan mereka (Bangsa Batak) kepada Debata.

Hanya saja, hingga kini persepsi umum mengatakan bahwa Parmalim memuja Raja-raja Batak terdahulu dan utusan-utusannya. Tentu saja ini dipandang dari tata cara pelaksanaan setiap ritualnya sangat berbeda dengan ritual agama-agama samawi dan agama lainnya. Mereka menggunakan dupa dan air suci (pagurason) di samping daun sirih untuk ritual khusus.

Namun, dalam menyoal status Parmalim muncul lagi sebuah pertanyaan mengenai sampai kapan keterkungkungan mereka itu akan lepas? Kenyataan menjelaskan bahwa Parmalim selalu diperlakukan secara diskriminatif dalam banyak perolehan akses hidup sebagai warga negara. Contohnya, dalam memperoleh pekerjaan di dinas pemerintahan, izin-izin resmi serta bias sosial yang negatif. Di samping itu tak jarang pula media mengadvokasi eksistensi mereka demi hak-hak dan kebebasan mereka, namun hasilnya tetap nihil.

Di sisi lain, bunyi pasal 29 ayat 1 dan 2 UUD 1945, yang menyatakan bahwa setiap WNI diberi kebebasan meyakini agama dan kepercayaan nyata-nyatanya belum memberi mereka kebebasan dan hak mereka sebagai WNI.

Anjing menggonggong kafilah berlalu. Demikianlah adanya. Pengalaman mereka menunjukkan, hingga kini mereka merupakan komunitas marginal “original” di Tanah Batak. Aliran Ugamo Malim diyakini sebagian orang sudah ada sebelum ajaran Kristen dan Islam masuk ke daerah itu. Namun, mereka kian terpinggirkan kini.

“Pemerintah menganggap Ugamo Malim bukan sebagai agama, melainkan hanya sebuah budaya yang bersifat religius,” kata Marnangkok.

Alasan ini jugalah yang menjadikan Ugamo Malim belum mendapat pengakuan dari pemerintah. Seperti kata Marnakkok, akibat keterkungkungan ini banyak pengikutnya yang secara diam-diam mengakui agama lain secara formalitas demi mematuhi birokrasi yang berlaku di pemerintahan, dalam pengurusan KTP dan pekerjaan misalnya. Namun ada juga yang secara formalitas mencatatkan agama lain pada KTP-nya tapi kenyataannya ia tetap mengikuti ajaran Parmalim. Yang terakhir, ada yang samasekali tidak mau keduanya, yaitu tidak mau mengikuti formalitas dan tetap menjalani hidup diskriminatif sebagai Parmalim, seperti Marnagkok sendiri.

Hidup dalam kepasrahan
Perjuangan akan kebebasan dan hak, nyatanya bukanlah tanpa kendala. Demikianlah yang terjadi. Bukan hanya tidak adanya pengakuan dari pemerintah maupun masyarakat. Kendala utamanya tak lain adalah ketidakberdayaan mereka.

Marginalisasi komunitas kecil ini (yang hanya 1.400 kepala keluarga, termasuk di seluruh dunia), sudah mengakar dalamnya. Sejak dulu ketidakberdayaan ini diakibatkan sedikitnya pengikut Parmalim yang berkecimpung di lingkungan pemerintahan dan dunia politik.

Hidup dalam kepasrahan. Barangkali itu jugalah intisari dari pernyataan kata bijak Parmalim yang mengatakan: “Baen aha diakkui sude bangso on hita, ia anggo so diakkui Debata pangalahon ta.” (Tidakklah begitu berarti pengakuan semua bangsa terhadap kita, dibandingkan pengakuan Tuhan terhadap perilaku kita).

Seperti apa yang kemudian dijelaskan Marnangkok, “ Untuk apa pengakuan dari setiap bangsa jika Tuhan sendiri tidak mengakui perbuatan kita di dunia ini?” Nampaknya, perjuangan Ugamo Parmalim sudah berujung pada kepasrahan. “Seorang rekan pernah mengusulkan agar mengajukan petisi kepada pemerintah mengenai hal pengakuan ini,” kenangnya menyebut Dr Ibrahim Gultom (kini Pembantu Rektor UNIMED) yang selama 2 tahun pernah meneliti gejala sosial dalam eksistensi mereka dalam tesis doktoralnya “ Ugamo Malim di Tano Batak.” Tapi, saat itu ia menolak.

Dalam kepasrahan ini tentu saja masih ada harapan. Tapi, harapan itu bukanlah berasal dari dunia, melainkan dari Oppu Mula Jadi Nabolon. Dalam harapan itu, ada pula ketaatan untuk selalu mempertahankan hidup suci.

“Kami tidak diakui bukan karena kami telah melakukan kejahatan, melainkan hanya prasangka buruk tentang kami,” katanya. Selanjutnya ia mengucapkan kalimat dalam bahasa Batak, ”Berilah kepada kami penghiburan yang menangis ini, bawalah kami dari kegelapan dunia ini dan berilah kejernihan dalam pikiran kami.”

Mereka yakin Debata hanya akan memberkati orang yang menangis. Nah, dalam kepasrahan yang berpengharapan inilah mereka hidup. Dalam keterasingan itu juga mereka menyerahkan hidupnya pada “kemaliman” (kesucian). “Parmalim adalah mereka yang menangis dan meratap,” katanya.

Dalam ritual Ugamo Parmalim sendiri, terdapat beberapa aturan dan larangan. Selain mengikuti 5 butir Patik ni Ugamo Malim (5 Titah Ugamo Malim), juga terdapat berbagai kewajiban lainnya seperti Marari Sabtu atau ibadah rutin yang diadakan setiap Sabtu. Kewajiban lain di antaranya adalah Martutu Aek, yakni pemandian bayi yang diadakan sebulan setelah kelahiran, Pasahat Tondi yaitu ritual sebulan setelah kematian, Pardebataan, Mangan na Paet dan Pangkaroan Hatutubu ni Tuhan.

Ada pun larangan yang hingga kini masih tetap dipertahankan di antaranya adalah larangan untuk memakan daging babi dan darah hewan seperti yang lazim bagi umat Kristen. Memakan daging babi atau darah dianggap tidak malim (suci) di hadapan Debata. Padahal dalam ajaran Parmalim sendiri dikatakan, jika ingin menghaturkan pujian kepada Debata, manusia terlebih dahulu harus suci. Ketika menghaturkan pelean (persembahan) kesucian juga dituntut agar Debata dan manusia dapat bersatu.

Selain itu, Parmalim juga tidak diperbolehkan secara sembarangan menebang pohon. Larangan ini diyakini akan mendatangkan bala apabila tidak diacuhkan. Pasalnya, hutan sebagai bagian dari alam yang sekaligus merupakan ciptaan Tuhan harus dilestarikan. Secara tradisi, apabila seseorang ingin menebang pohon di hutan, haruslah menanam kembali gantinya. Konon, ajaran Parmalim meyakini bahwa terdapat seorang raja yang berkuasa di hutan (harangan) yang lalu dikenal dengan Boru Tindolok (raja harangan).

***

Jika melihat fisik bangunan rumah ibadah Parmalim, maka pada atap bangunan terdapat lambang tiga ekor ayam. Lambang ini, menurut Marnangkok, merupakan lambang ”partondion” (keimanan). Konon, menurut ajaran Parmalim, ada tiga partondian yang pertama kali diturunkan Debata ke Tanah Batak, yaitu Batara Guru, Debata Sori dan Bala Bulan. Sementara ayam merupakan salah satu hewan persembahan (kurban) kepada Debata.

Ketiga ekor ayam itu berbeda warna. Yang pertama, berwarna hitam (manuk jarum bosi) merujuk kepada Batara Guru, putih untuk Debata Sori dan merah untuk Bala Bulan. Sedang masing-masing warna juga memiliki arti tersendiri. Hitam melambangkan kebenaran, putih melambangkan kesucian dan merah adalah kekuatan atau kekuasaan (hagogoon). Kekuatan adalah berkah yang diberikan kepada manusia melalui Bala Bulan yang tujuannya untuk mendirikan “panurirang” (ajaran dan larangan).

Hanya saja, diyakini bahwa Raja Sisingamangaraja adalah utusan Debata yang lahir melalui perantaraan roh Debata kepada Boru Pasaribu. Diyakini pula, pada waktu di Harangan Sulu-sulu sebuah cahaya, yang kemudian diyakini sebagai roh Debata datang kepadanya dan mengatakan, “baen pe naung salpu i roma na tonggi, tarilu-ilu ho sonari, roma silas ni roha.” yang menyatakan bahwa: “Walaupun hari ini engkau menangis namun engkau juga akan merasakan kebahagiaan kelak.”

Boru Pasaribu kemudian mengandung dan dianggap berselingkuh dengan marga asing tetapi kemudian disangkal, sebab pada saat roh Debata hadir dan mengucapkan hal itu kepadanya, ia tak sendirian melainkan turut disaksikan putrinya. Maka kemudian, putra yang terlahir itu (yang kemudian dikenal dengan Raja Sisingamangaraja I), diakui sebagai utusan Debata.

Selanjutnya, Raja Sisingamangaraja memiliki keturunan hingga 12 keturunan. Itu pun secara roh. Hanya saja, hingga kini banyak yang tidak mengakui Raja Sisingamangaraja sebagai nabi bagi Ugamo Malim, melainkan hanya sebagai manusia biasa. Raja Sisingamangaja XII sendiri dikenal sebagai pahlawan Nasional. “Itulah yang menjadi anggapan ganjil terhadap Ugamo Parmalim selama ini,” kata Marnangkok.

Hingga akhir hayat Raja Sisingamaraja XII, keyakinan Ugamo Malim kemudian diturunkan melalui Raja Mulia Naipospos, yang merupakan kakek kandung Marnangkok Naipospos sendiri.

Inilah yang kemudian menjadi acuan pada acara atau ritual-ritual besar Ugamo Parmalim yang diadakan rutin setiap Sabtu dan setiap tahunnya. Ritual-ritual besar Parmalim itu seperti Parningotan Hatutubu ni Tuhan (Sipaha Sada) dan Pameleon Bolon (Sipaha Lima), yang diadakan pertama pada bulan Maret dan yang kedua bulan Juli. Yang kedua diadakan secara besar-besaran pada acara ini para Parmalim menyembelih kurban kerbau atau lembu. “Ini merupakan tanda syukur kami kepada Debata yang telah memberikan kehidupan,” kata Marnangkok.

Begitulah Ugamo Malim dalam ritual dan eksistensinya. Persoalan marginalisasi, kesucian, kontradiksi opini publik hingga harapan mereka, barangkali masih menunjukkan banyak pertanyaan. Namun, setidaknya dalam kepasrahan mereka dapat menikmati sedikit kebebasan di desa mereka sendiri, Hutatinggi. Tapi, hanya sedikit.

Sumber : (Toggo Simangunsong) Harian Global


Ada 32 tanggapan untuk artikel “Parmalim: “Kami Bukan Penganut Ajaran Sesat””

  1. Tanggapan zico:

    Molo ta Ulahon do na denggan, sai dapot hita do sogot na denggan balos ni denggan naung ta ulahon,
    Jala Molo marparulan na roa do hita, sai na roa do tong na roa tu hita sogot haduan ..

    Songoni do di dokhon Oppung i di ahu..

    Untuk penulis, saya pribadi ingin sekali menanggapi secara langsung, tanggapan positif tentunya, karna saya sebagai penganut Ugamo Malim secara pribadi merasa berterima kasih kepada penulis dan silaban.net, artikel nya di muat disini, itu tandanya, Parmalim, sungguh masih ada yang memperhatikan.

    Terima kasih

  2. Tanggapan Jhon peter manurung:

    Tanggapan saya:aku percaya n yakin yg diajarkan di parmalim itu kebenaran jalan hidup kepada tuhan yg murni n sifat manusia yg alami!!!kalau tuhan menciptapkan warna warna yg saling berbeda,bahasa,suku,kenapa agama n keyakinan tidak?maksud n tujuan tuhan semuanya itu kan supaya kita mengenali satu sama laen nya n segala sesuatu nya yg diberikan tuhan kepada kita selaku ciptaan nya!!!

  3. Tanggapan Maradop Manurung:

    Thanks banget buat teman2 yg menanggapin positif ama kami penganut Ugamo Malim.

    Kami penganut ugamo Malim mungkin sama dengan penganut agama lain tentang kecintaan dan keyakinannya atas agama yang dianut. Intinya kita mau menganut suatu agama karena kita yakin akan agama itu demikian juga dengan kami penganut ugamo Malim.

    Jadi saya cuma menghimbau bagi yang menganggap mirimg tentang agama kami tolong lah berpikir jernih dan ingat lah hanya Tuhanlah yang bisa menghakimi ato ” Only God can Judge ”

    Mauliate - Horas………….!

  4. Tanggapan Eddy Susilo:

    Saya kenal dengan Marnakkok Naipospos. Senang betul berkenalan dengan beliau. Bulan januari yang lalu saya bertemu dengan beliau di TMII Jakarta. Berpeci, memakai jas hitam, bicaranya terbuka dan sangat mengenakkan. Sudah selayaknya kita menghormati agama asli yang tumbuh di Nusantara, Parmalim harus diberi ruang untuk berekspresi. Beberapa bulan yang lalu ada teman fotografer freelent di Medan (Mantobing) meliput upacara Sipaha Lima di Laguboti. Fantastik sy mendapatkan foto-foto yang bagus.

    Salam Rahayu,
    Eddy Susilo

  5. Tanggapan Maridup Hutauruk:

    Terimakasih pak Eddy Susilo, mungkin bpk salah satu teman saya dulu di industri pesawat. Saya memang bukan penganut parmalim tapi sangat setuju anjuran bpk utk memberi ruang kpd parmalim. Saya melihat dari sudut pandang budaya dan terimakasih masih ada komunitas yang melestarikannya. Soalnya saya khawatir pak..kami ini akan punah digilas yang disebut ‘mono-culture’. Mauliate tu hamu Parmalim, Mulajadi Nabolon do mulajadi saluhut portibi on. Horas.

  6. Tanggapan Agust Hutabarat:

    Menurut saya, pada dasarnya smua itu kembali pada diri kita masing-masing. untuk apa kita meributkan sesuatu hal yang seharusnya tidak pantas diperdebatkan.bagi saya, masalah agama dan keyakinan seseorang adalah mutlak dan menjadi salah satu butir dari Hak Azasi Manusia. untuk sejenak kita boleh melihat contoh negara Amerika. dalam kehidupan bernegara, segala sesuatu yang tidak membuat tindakan kriminal adalah legal bagi mereka.

  7. Tanggapan afank:

    Saya berpendapat bahwa setiap orang bebas untuk beragama dan berkeyakinan menurut apa yang dipercayai mereka, begitu juga dengan Parmalim. Tidak ada satupun yang boleh mengatas namakan apapun yang bisa dan berhak menentukan Agama mana yang resmi ataupun tidak resmi!
    karena \” Beragama dan Berkepercayaan adalah Hak Asasi manusia\”

    Terus berjuang teman-teman……..

    Horas, Rahayu, Sampurasun, salam sejahtera…….

    Parhobas [SB] :
    Terima kasih saudara Afank.. Mudah2an dengan adanya dukungan dari orang-orang seperti Anda, para penganut Parmalim terus bersemangat memperjuangkan hak-haknya.

  8. Tanggapan Laris Naibaho:

    Saya telah menulis buku Cermin Kaca Retak. Beredar luas di Indonesia. Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama (GPU). Dalam buku itu, sekilas saya jelaskan ajaran yang dianut oleh Ompung saya, yang menjadi Panuturi di masa hidupnya. Ia percaya Mulajadi Na bolon, dan setiap kali selalu memandang Pusuk Buhit, yang dia yakini sebagai jembatan menuju Sorga tempat bernaung Mula Jadi Na Bolon. Ia sangat takut berbuat hal yang tidak patut kepada sesmanya. Ya sungguh-sungguh menganut “Habonaran” atau kalau tidak salah Ompungku itu adalah seorang Parmalim. Dia penyabar dan, tutur-katanya lemah lembut. Dan karena itu, hehehe, saya trus terang saja, jangan-jangan saya ini adalah seorang parmalim, hehehe. Tapi apa iya saya seorang parmalim? Soalnya, saya masih suka marah-marah, masih suka harta, dan yang sejenisnya. Padahal Ompungku tidak begitu.Sebab, ciri yang paling melekat pada diri seorang parmalim, sangat takut pada Ompung Mula Jadi Nabolon. Dalam segala hal harus berbuat benar. Ah.

  9. Tanggapan Ama Doli Sibarani:

    Ia au ndang na parmalim. Karisten do au. Alai molo taringo tu masalah boasa ugamo parmalim ndang diakui negara jala adong do na menganggap ugamo parmalim ugamo na sesat ta pasombu ma songoni. Alani aha dohononku songoni, ia Debata mamereng roha ndang mamereng rupa. Hujaha sude artikel di ginjang jala hujaha komentar angka dongan sai hira naeng tangis do au manjahai sasudena i. Alana ugamo parmalim i ugamo ni ompu ta sijolo-jolo tubu. Botti ma komentar sian hami… Horas…… horas……. horas……..

  10. Tanggapan Bergman Silitonga:

    Parmalim…. harus kita hormati dan hargai keberadaannya… Sebagaimana kita menghormati dan menghargai agama lain dan juga komunitas lain seperti Kejawen, maupun Badui ….
    Namun untuk diakui sebagai agama,…. ah nggak usah diperdebatkanlah…. bisa bersinggungan dengan Iman seseorang….. Pokoknya hidup damai.. dan rukun

  11. Tanggapan sitogol:

    Agama apa itu parmalim?/ Masak Raja sisingomangarojo dianggap Nabirong??

  12. Tanggapan sitogol:

    Agama apa itu??/masak Raja dianggap nabirong???

  13. Tanggapan sinar sianturi:

    antara agama dan kepercayaan mana yang anda pilih? Agama adalah ciptaan manusia, cari di alkitab apa konotasinya dgn sebutan “agama”, persisnya religion? sedangkan kepercayaan adalah satu bawaan alamiah manusia, agama apapun anda, kepercayaan atau faith tetap ada. Selalulah berpegang pada kepercayaan apapun kepercayaan anda. Pemimpin agama tidak beda dengan politisi, tidak bertanggung jawab, selalu mengumpulkan pengikut, padahal pengikut percaya hanya kepada Tuhan penciptanya. Tidak berbeda dengan agama-agama di Indonesia, pemimpinnya malah makan uang dari koruptor, contoh ada aliran dana dari dari Bulog jaman Gus Dur dan di Departemen Kelautan, dan lucunya udah ngaku ngembat uang tapi tidak mengembalikan. Parmalim suatu kepercayaan yang telah pernah menjadi way of life dari bangsa batak banyak mengajarkan tentang kekudusan, rendah diri, kerja keras (coba lihat arti kata “bosta” dalam bahasa batak) dan terbukti dipercaturan militer, politik, pendidikan, bahkan bisnis bangsa ini telah membuktikan eksistensinya yang sangat significant. tapi dalam hal culinary, masak memasak sangat kurang. karakter batak ini ditambah dengan karakter Jerman, yang oleh dunia dikenal sangat tangguh. Lihat Sejarah Germania, yang berkuasa setelah kekaisaran Romania. Tentu puji syukur pada Tuhan Jesus dan Terimakasih harus disampaikan kepada ompu i Nommensen yang telah menularkan virus karakter jerman yang tangguh kepada bangsa batak. ini sudah diakui oleh siapa saja. So Biarkanlah Parmalim berkembang (eksis) ataupun tidak berkembang tapi bukan karena pengaruh dari luar kepercayaan itu. Dan bagi kita orang batak, agama apapun anda, janganlah pernah ada yang mengatakan Parmalim itu Kafir. Jika anda sebut, aku akan bilang anda “hau-hau”. Pernah dengar bahwa Raja terakhir dari Mojopahit, yang oleh anaknya, darah daginya sendiri, mengatakan “Engkau Kafir”. Mestinya Between father and son naturally blood speaks. Mudar mangkatai. Jadi di hita halak batak unang adong hata mandok parmalim kafir.

  14. Tanggapan Frans Purba:

    Menurut sejarah dunia kuno-Nabi Sulaiman dgn pengikut2 sering berkunjung ketanah batak sehubungan dgn sumber bahan barus dan kayu barus. Kita tahu bahwa agama nabi sulaiman adalah agama yg benar dgn memakai bahasa ibrani kuno,yaitu bahasa yg sama ketika jahudi dan arab belum terpisah.maka kata malim itu sebenarnya masih tetap dipakai oleh al Quran yg artinya adalah pengikut2 yg benar,yg berilmu dan org2 baik yg bertujuan keselamatan dan amanah.Kemudian disebut si pelebegu ,kata2 ini juga adalah kata2 yg sudah diplesetkan oleh missionaris2 kristen demi untuk memfitnah parmalim.Karena kata begu itu berasal dari kata “ghoib” artinya yg gaib. salah satu sifat Allah, ruh, malaikat,iman yg bukan beruzud zhohir.
    Maka agama parmalim itu adalah agama yg dibawa Nabi sulaiman ,turun temurun bertahan di tanah batak , dan silahkan periksa parmalim itu lebih dekat ke al Quran daripada agama lain.

  15. Tanggapan sinar sianturi:

    Lae Frans Purba sangat cepat mengambil kesimpulan bhw parmalim dekat dengan Quran. Cobalah lae ambil pendekatan yang lebih scientific umpamanya pendekatan semantik apa ada hubungan kata-kata batak dengan arab. sama sekali tidak! Pendekatan aksara, aksara batak sama levelnya dengan abjad latin aksara arab lebih rendah karena lebih complicated bayangkan hebatnya omputta dahulu. Ini dipakai parmalim. Sistim perobatan juga tidak sama. Sistem penanggalan, kalender, kita mengikut matahari. Arah penjuru, kata purba berarti apa ya. Dalam hal kultur sistem pemerintahan kerajaannya juga tidak sama. Mencari kebenaran dari agama ada pengujiannya lae yaitu apakah secara semantik konsisten, apakah secara astronomi, geographi, biologi, lineaologi atau tarombo, termasuk history benar apa tidak. Jangan karena ada sedikit mirip kata ” begu dengan ghoib” langsung disimpulkan ada persamaan. Pendekatan ini bisa bisa kata dalam bhs batak “tu” yang sama dengan “to” dalam bhs Inggris lantas lae menyimpulkan org batak itu keturunan inggris” Bila lae perhatikan asal kata mother hampir sama di seluruh suku bangsa di dunia tapi bukan langsung mengatakan suku itu sama. Dipasu-pasu ma halak Batak jala sai mabiar ma tongtong tu Tuhanta Jahowa.

  16. Tanggapan Fery Siagian:

    Horas…!
    Kepercayaan/agama PARMALIM adalah salah satu bukti bahwa suku batak sejak dahulu adalah suku yang memiliki nilai kebudayaan yang tinggi dan luhur. TAROMBO/SILSILAH yang cukup akurat, sistem dan aturan tatanan kehidupan masyarakat (DALIHAN NATOLU) suku/orang BATAK yang begitu indah menggambarkan kepercayaan suku BATAK yang luhur.
    Saya sangat kurang setuju jika Kepercayaan/agama BATAK dihubung-hubungkan dengan salah satu kepercayaan orang-orang ARAB yang notabene silsilah nabinya pun masih diragukan kebenarannya!
    Tidak ada ajaran nenek moyang suku/orang BATAK untuk memaksakan kepercayaan/agama nya pada suku lain. Kepercayaan/agama suku/orang BATAK hanyalah untuk orang BATAK! (Justru ini lebih mirip dengan kebudayaan salah satu suku/bangsa di Timur Tengah yang sangat dibenci oleh agama yang berasala dari ARAB)
    Bahkan sejarah menunjukkan suku/orang BATAK dulu diperangi oleh orang-orang yang memeluk agama ARAB tersebut agar mau masuk agama tersebut.

    Maaf kalo ada lae atau apara yang merasa tersinggung jika saya mengatakan hal ini. Orang BATAK adalah suku bangsa yang punya kebudayaan sendiri, dan tak perlu dihubung-hubungkan dengan kebudayaan asing yang justru bertentangan dengan budaya suku/orang BATAK asli.

    Mauliate…

  17. Tanggapan Bilson Simamora:

    Setuju tu Sinar Sianturi. Molo hataan do agama, adong do saribu bohi ni agama, mulai sian hadameon sahat tu na mengerikan. On ma sungkun-sungkunhu: “Lebih takut pada yang mana, kumpulan orang-orang yang baru pulang nonton film di bioskop atau kumpulan orang-orang yang selesai beribadah?” Ahu sandiri, umbiar do tu kumpulan na paduahon. Unang sampe ni ganggu nasida. Alana, nunga godang binereng, molo atas nama agama, boi do halak bertindak mengerikan. Mulak ma hita muse tu sungkun-sungkun si nangkiningan: “Molo hutiop ugamoku, lam denggan do ngoluku manang dang?” Menurut ahu, molo lam roa do ngolungku, tumagonan ma ahu dang maragama, ai napailahon Tuhan i do ahu disi. Horas, horas, horas.

  18. Tanggapan skyline:

    wahai parmalim……………………

    kenallah Tuhan yang sesungguhnya……………

    jangan sia-siakan hidupmu dengan membunuh ayam!

    semoga Tuhan besertamu

  19. Tanggapan Johan Sianturi:

    HORAS
    HORAS

    marende majo hita kedan..

    molo adong na burju
    molo adong na lambas maroha
    lambok do situtu na ro
    tung uli na tubu

    unang pola marsak hamu
    unang pola marsak hita
    ai songon i do sude
    molo hita mahattai naso boi siataon ta

    eta hamu kedan…
    marlasniroha be marsada hita
    eta hamu halak hita…
    marsinondang disi
    ai disi do naburju i
    na lambasi…eta hamu halak hita

    songoni majo sian ahu
    horas halak hita
    tuhan jesus menyertai kita

  20. Tanggapan Maridup Hutauruk:

    Mungkin ini hanya sebagai wacana penambah wawasan masyarakat bangsa batak bahwa agama parmalim mulai populer pada masa pemerintahan Sisingamangaraja X (sepuluh), yang sudah menjalin hubungan erat dengan kerajaan Aceh (islam). Agama ini berlanjut sampai kepada penyerahan kedaulatan keagamaan diserahkan oleh Sisingamangaraja XII (duabelas) kepada Raja Mulia Naipospos, sebelum Sisingamangaraja-XII menghembuskan nafas terakhir. Perlu pemahaman bahwa agama parmali bukanlah agama batak, tetapi sekelompok batak menganut agama ini semasa tanah batak mulai dimasuki oleh pengaruh asing (Paderi, Evangelisasi Kriten, penjajahan Belanda/Inggeris).Agama Bangsa Batak adalah agama yang dianut oleh Bangsa Batak yang sama tuanya dengan legenda Siboru Deangparujar, yang meriwayatkan panompaan banua-banua dan mula ni jolma, yang kemudian berlanjut kepada penataan tatanan kemasyarakatan dengan Dalihan Natolu. Intinya agama Bangsa Batak yang monotheis berorientsi kepada Mulajadi Nabolon sebagai ’supreme god’, sementara datu (konotasi positip) adalah sebagai perantara kepada Mulajadi Nabolon (pengejawantahannya sama dengan nabi-nabi pada sejarah Perjanjian Lama di Alkitab Kristen)

    Kajian pribadi tentang batak sudah menunjuk kepada penemuan-penemuan purba di lembah indus (bronze-age)yg sdh terjalin perdagangan dgn sumer/akhadia (sekarang Iraq) untuk perdagangan jenis logam yang berasal dari Meluhha yaitu P.Sumatra yang harus ditempuh dengan marluga; malluga = meluhha (suatu pulau). Bahwa kata Batak berasal dari (bat.a)yang mempunyai berbagai arti, tetapi yang mendekati kepada konteks ‘Habatahon’ diartikan sebagai bat.a = jalan, bat.a = sej.burung, d.e.bat.a = sej. burung besar, bat.ara/ batara = burung berwarna abu, batak= sej. itik terbang; inilah terjemahan glyph yg ditemukan pada kapal karam di daerah Haifa yang diperkirakan ada pada peradaban ‘bronze-age’ sekitar abad 20-an sebelum masehi; korelasinya dengan legenda Debata Asiasi dalam wujud Manuk Patiaraja sebagai jalan manusia penyampai pesan kpd Mulajadi Nabolon. Bat.a dikatakan juga sebagai ‘pengelana’; Sementara dalam bahasa batak, kata ‘batak’ berarti ‘memecut kuda untuk berlari kencang’.

    Banyak lagi misteri habatahon yang perlu diungkap agar insan-insan yg masih berasal dari keturunan Bangsa Batak mengetahui identitasnya, yang dalam konteks kebangsaan Indonesia menjadi manusia paling berhak menyebut dirinya asli pemilik Indonesia oleh karena dapat merunut identitasnya sampai 20 generasi kebelakang. Siapa lagi yg bisa klaim keasliannya di Indonesia ini selain manusia Bangsa Batak. Jadi Batak harus menyadari kesulitan2 administratip yg dialaminya dikeasliannya sbg satu unsur bernegara.
    Horas!

  21. Tanggapan Maridup Hutauruk:

    Pada masa pemerintahan Sisingamangaraja-X berkembang penganut agama parmalim yang sudah berhubungan baik dengan kerajaan Aceh (islam). Kata parmalim sendiri berasal dari kata malim=orang suci. Sisingamangaraja adalah sebutan suatu gelar yang berkuasa berazaskan keagamaan (Priest King).Sisingamangaraja bukanlah berkonotasi singa-mangaraja sebagaimana legenda spinx di mesir yang melambangkan kekuatan menguasai. Kata ’singa’ tidaklah dikenal di batak kuno, karena binatang singa sebagai simbolisari kekuatan dan kekuasaan bukanlah dari kata Singa = binatang singa, melainkan berdasarkan dari kata ’sanga = priest’; kata ini terungkap dari penelitian bahasa yang dipakai pada masa (bronze-age), kemudian beradaptasi ke bahasa yang dipakai di kawasan India, termasuk bahasa yang dipakai dalam carita mahabharata

  22. Tanggapan sitastasnambur:

    Saya sangat setuju dengan berbagai hal positif diatas. Saya sendiri akhir-akhir ini mulai merasa gerah dan tidak nyaman karena mulai menyadari ketidakjelasan identitas saya.
    Saya sebagai orang Batak,punya oppung alias nenek moyang punya identitas budaya yang sangat hebat, kepercayaan (agama - kata orang kini) yang sangat hebat, tatanan kehidupan yang sangat luar biasa. Dan ternyata selama 29 tahun masa hidup saya harus diperkosa oleh budaya dan kepercayaan alias identitasnya orang atau suku lain.

    Setelah membaca uraian diatas dan berbagai sumber lain yang saya telaah, saya yakin bahwa Tuhan (Mulajadi Nabolon) itu pernah menampakkan diri di Tanah Batak dan kepada orang Batak (Oppungta Najolo), sama seperti Dia menampakkan diri kepada Nabi2 perjanjian Lama di Arab (spt Musa dan lainnya).

    Awal mula Tuhan memunculkan diri bahkan berkomunikasi baik kepada Abraham (yang menjadi Bapak semua orang percaya), karena Abraham sangat disukai oleh Allah sebab perilaku dan perbuatannya menurut kehendak Allah.
    Kenapa kita tidak bisa meyakini kemungkinan oppungta najolo adalah orang yang berperilaku baik dan menuruti kehendak Allah sehingga dia sangat dekat dengan Allah dan bisa jadi karena sangat mengasihi dia (oppungta),Allah memberikan dia salah seorang Malaikat perempuannya (Siboru Deak Parujar) menjadi istrinya dan menghasilkan keturunan dari dia (Siboru Deak Parujar). Dan hasil dari keturunan itulah kita-kita ini sekarang (orang batak).

    Tidakkah kita harus mensyukuri itu, sama seperti orang Jahudi yang bangga dengan kodratnya sebagai bangsa pilihan-Nya?

    Jadi bangso Natarpillit do hita on, boasa ma ikkon paragoontai?

    Aku sendiri adalah penganut agama Kristen, tapi itu adalah hasil doktrinasi oleh keluarga dan lingkungan saya termasuk gereja dimana saya bertumbuh.

    Seharusnya kita tidak mudah menerima segala sesuatunya. Sebab ada juga tertulis di Alkitab (pernah saya baca), bahwa mencari kebenaran itu tidak mudah, dan itu menjadi salah satu ‘kerja’ manusia sejak kejatuhan manusia kedalam dosa di zaman Adam dan Hawa.

    Mauliate Godang…

  23. Tanggapan pakpahan:

    parmalim merupakan ajaran yg sudah diperbaharukan seiring waktu, eksistensi dari masuknya agama kristen dan islam ke tanah batak pada saat itu. maka muncullah nama parmalim, sebenarnya sebelum disebut parmalim, orang batak saat itu titisan alam dimana kepercayaan bahwa alam merupakan ‘ibu’ yang melahirkan ‘kebatakan’. sejarah batak mengatakan asal usul org batak dari ‘homang’ (kera), menjadi pertanyaan apakah betul demikian? titisan dari ompu mula jadi na bolon yaitu TOMTOM DEBATA. tatanan batak merupakan adat istiadat yang ketat, ada ‘norma’ yang mengatur setiap kehidupan baik tindakan, perkataan, dimana apabila dilanggar ada hukuman dari alam. ‘alam’ dalam arti roh leluhur, dipercaya sebagai kekuatan (berupa berkat dan kutukan). saat itu kehidupan memang nyata teratur, semua rusak ketika kristen dan islam mulai menyebarkan ajarannya.

  24. Tanggapan Rio Panjaitan:

    Horas Ompung/Tulang !

    Mohon maaf kalau saya menulisnya dalam bahasa Indonesia. Bisa sih berbahasa batak, tapi tidak dalam tulisan, takut salah ejaan/spellingnya.

    Hal pertama yang membuat saya tertarik dengan ugamo ini yakni title/julukan yang diberikan pada Pencipta alam semesta yakni : “Oppu Mula Jadi Nabolon”. Khususnya kata “Oppu”. Relasi manusia dan Pencipta dinyatakan dalam garis darah, dalam garis keturunan yang lantas mengingatkan saya pada sapaan “Abba” atau “Bapa” yang diungkapkan oleh Yesus Kristus.

    Hal kedua adalah deskripsi alam roh yang disampaikan yakni : banua ginjang, banua tonga (dunia/earthplane) dan banua toru.

    Yang sampai saat ini belum jelas saya ketahui adalah bagaimanakah sikap Oppu Mula Jadi Nabolon terhadap manusia yang berdosa, terhadap orang yang tidak kudus. Apakah Dia akan membinasakan mereka ? membiarkan mereka atau malah akan menyelamatkan mereka ?

    Kalau ternyata Oppu Mula Jadi Nabolon memiliki kehendak/berkehendak menyelamatkan orang yang berdosa dan sekaligus hendak memberi mereka hidup kekal dan berkelimpahan maka deskripsi Oppu itu kurang lebih sama dengan Allah saya. (Btw Allah saya bukan Yesus Kristus ya, Yesus Kristus adalah Anak Allah, dan saya bukan Saksi Yehova juga).

    Terima kasih

    Horas !
    Rio

  25. Tanggapan AB Setiadji:

    Salam hormat saya kepada para penjaga warisan leluhur tanah Batak… Parmalim menurut saya yang awam, begitu juga dengan berbagai kepercayaan asli nusantara, adalah suatu bentuk pencapaian kecerdasan dan tata perilaku luhur yang telah dihayati sejak berabad-abad selama kurun waktu ratusan tahun. Bahwa sekarang orang cenderung menyembah2 ajaran dari jasirah Timur Tengah, ini tentu tak lepas dari bentuk2 penjajahan yg telah menimpa selama ini. Lalu, soal sesat. Saya yakin bhw penganut Parmalim tahu pasti bahwa Hyang Maha Agung (Tuhan) itu ada dimana-mana, kapan saja. Tak ada setitik ruangpun di semesta ini dan seperjuta detik saja yang Tuhan tidak ada. Jadi, kalau tingkat penghayatan sudah bulat sepeerti ini, mau sesat kemana coba? Kemanapun, kapanpun pasti berjumpa Tuhan. jadi, biarlah anjing menggonggong… Semoga cahaya kebenaran semakin bersinar dalam tiap sanubari, mengenyahkan segala kebodohan, kesombongan dan kemunafikan.

  26. Tanggapan siehol siehaloehoe:

    menurut saya parmalim itu sah2 aj
    toh ga ganggu yang lain
    lagian juga itu merupakan salah satu khasanah budya yang harus di lestarikan
    lagian ngapain seh gurusin kepercayaan orang’
    bercermin aj dulu ama diri sendiri agamanya dah bener apa belum
    menurut saya mereka justru harus di beri acungan jempol soalnya mereka ga terpengaruh ama namanya globalisasi
    n tetap memegang teguh ajaran leluhur
    pokoknya “go or it aj lah bwt parmalim

  27. Tanggapan Hojot Marluga:

    Salam;
    Setelah saya baca beberapa buku dan artikel yang berkaitan dengan Ugamo Malim. Saya berkesimpulan aliran agama Parmalim adalah berasal dari kearifan budaya Batak. Budaya mengajarkan sopan santun, etika, saling hormat menghormati kemudian mengkristal menjadi agama.

    Agama sebagai mana yang kita ketahui adalah untuk membuat manusia tidak kacau balau. Kalau agama telah membuat kekacauan berarti bukan agama.

    Terkait dengan kearifan budaya, bukan hanya orang Batak yang mempunyai adat dan budaya kebaikan. Akan lebih kacau lagi jika kita menyebut hanya budaya Batak yang sempurna, itu jelas salah. Karena semua budaya mengajarkan kebaikan, baik budaya Jawa, Sunda, Dayak, Bugis, dll.

    Yang paling penting adalah sebagai manusia, kita harus mengakui bahwa masing-masing kita (Tuhan) diberikan pemahaman, pengalaman, dan lingkungan yang berbeda. Dan jelas akan mempengaruhi tindakan dan nalar kita merespon kekuatan dari luar. Bagaimana pun setiap orang diberikan ruang yang sama untuk memahami dirinya. Manusia secara alami sudah memiliki sifat agama dalam dirinya.Jadi agama parmalim muncul karena respon nenekmoyang orang Batak terhadap kekuatan diluar kehendaknya. Itulah agama muncul di ciptakan manusia.

    Menurut saya dia alam demokrasi ini–tidak perlulah pengekangan lagi pada semua pemahaman, aliran. Masa sih untuk mengurus KTP saja sulit, jelas Pemda Tobasa kurang mengayomi rakyatnya.

    Jadi saudara yang menganut Parmalim terus saja tunjukkan aksimu. Saya tunjukkan Jesus sudah datang untuk semua agama termasuk untuk saudara. Ia tidak membawa agama Kristen, tetapi pengikutnyalah yang mendirikan agama Kristen.

    Hojot Marluga
    Seorang Wartawan budaya

  28. Tanggapan FERRY LIRUNGAN:

    Saya Katolik, cukup banyak mengenal teman etnis Batak dengan berbaga macam agama, termasuk Agama Parmalim. Wah tadinya teman Parmalim saya menyembunyikan identitasnya namun akhirnya dia mengakui beragama Parmalim.
    Malahan saya respek, menghormati, mengakui itu agama. Saya nasehatkan dia bahwa jangan takut da malu mengakui beragama Parmalim, itu kan di lindungi konstitusi RI. Semua agama mengakui adanya TUHAN, termasuk agama Parmalim yang menyebut TUHAN dengan sebutan DEBATA. Kadang kala saya mengingatkan ibadah Sabtu, sesekali memberikan Jeruk Purut yang tumbuh di halaman rumah saya. Saudara-saudara ku dari agama Parmalim, jangan putus asa dengan sikon sekarang, mari anda berdoa kepada DEBATA mohon lindungan dan berkat DEBATA, saya pun akan berdoa kepada ALLAH BAPA di Surga, TUHAN YESUS agar melindungi & memberkati damai sejahtera untuk saudara-saudara ku dari Agama Parmalim. Salam FL

  29. Tanggapan FERRY LIRUNGAN:

    Saudara-saudara ku dari Agama Parmalim, saya, Ferry Lirungan, Katolik, mendoakan agar Agama Parmalim senantiasa di lindungi, di berkati oleh ALLAH BAPA di Surga TUHAN YESUS. Saya prihatindengan beberapa teman saya dari etnis Batak yang kurang/tidak mengenal agama asli Batak yaitu Agama Parmalim. Saya yakin dan yakin DEBATA melindungi,memberkati komunitas Agama Parmalim karena itu memang agama. Salam sejahtera selalu.Gbu Amin

  30. Tanggapan robert simorangkir:

    Syalom

    Saya cuma ingin mengatakan…”TIDAK SEORANG PUN BERHAK MENGHAKIMI ORANG LAIN APALAGI UNTUK URUSAN IMAN & PERCAYA!!!” Holan DEBATA do na boi manguhumi halak dead or alive.
    Jadi, sodara-sodaraku Parmalim followers JANGAN pernah berkecil hati, keep faith on your belief & always love to each others even to another people who has different belief with you and refuse you. Saya yakin bahwa Ompu Mulajadi Na Bolon will keep on smiling bila Dia melihat umat Parmalim selalu berusaha untuk hidup harmonis dengan alam dan manusia lain and His Blessing will be sent you.
    Untuk sodara-sodara yang lain yang tidak mengimani Parmalim, I beg you please stop your negative judgment & respect to each other. Dunia akan LEBIH indah kalo kita saling mengasihi dan selalu membuat orang lain tersenyum. Horas…
    Tuhan Jesus Memberkati & Love U all

  31. Tanggapan Suan's:

    dear all,,
    if u want to know more about PARMALIM, clik www.parmalim.com

    thanks
    Suans

  32. Tanggapan H.P.PANJAITAN:

    Horas

    salam kenal semuanya.saya baru gabung dan saya mau berkomentar boleh kan?
    Apa arti agama ? saya tanya ama adik saya yg masih duduk di bangku sekolah dasar , jawab nya Tidak kacau.berarti dia aja tau,apalagi kita yang udah besar 2 ini , ya gak?
    orang mengatakan diri nya punya agama berarti baik arti nya , tergantung anda menjalan kan ajaran agama anda masing 2.
    Masalah nya kenapa kata 2 parmalim itu seperti asing di telinga kami orang batak yang lahir di tanah rantau ? jawaban nya karena memang tidak banyak orang yang mau cerita tentang parmalim.Dan disini banyak ilmu pengetahuan tentang adat istiadat orang batak yang saya Pelajari , yang memang tidak ada satupun suku di Indonesia ini yang lebih indah dan tertata rapi seperti orang Batak ( Menurut Saya ).Jujur saya Katakan Kalau saya bertemu disuatu tempat dengan orang lain dan saya belum kenal dengan orang tersebut , tapi saya merasakan sesuatu bergetar di hati saya ( Bukan lagi liat cewe )Pasti saya hampiri dan tanya nama dan asal nya dari mana ? Pasti orang itu akan menjawab dia orang batak dan pasti juga satu marga dengan saya.itu pasti terjadi apabila saya bertemu orang yang belum kenal dengan saya dan dia itu satu marga dengan saya.
    Dalam hal ini saya menyadari betapa kuat nya ikatan darah tersebut.Apakah anda merasakan hal ini ? Artiya memang Masalah keturnan/silsilah Sudah ter organaize ( dalam bahasa orang sebrang )Sejak dahulu kala.Berarti nenek moyang kita pintar 2 ya kan?
    jadi Sepintar apa anda , mengatakan Parmalim itu agama yang sesat.dan menyembah roh jahat ? Apalagi Tadi diatas katanya Lebih Dekat dengan suatu kitab ajaran agama seberang yang memang “gak jelas”. DISINI SAYA KATAKAN BEDA .Parmalim itu suatu kepercayaan Terhadap Tuhan yang maha kuasa.Dan gak pernah Menyuruh umat nya Membunuh Orang Biar Masuk Surga.Gimana Menurut Amang Dan Inang Benar gak? Cocok?
    jujur saya katakan Agama Saya kristen Protestan dan adik saya Barusaja Mausuk Jadi Parmalim.Saya liat dia gak macam 2 kok,Malah jadi seseorang yang lebih sopan, ramah dan lemah lembut,Baik hati serta Rajin Menabung.
    Katanya gak ada ajaran agama Parmalim itu mengajar kan berbuat jahat.Jadi gak ada alasan ANDA ANDA SEMUA YANG GAK TAU APA 2 TENTANG HIDUP INI MENCELA PARMALIM.SUDAH DENGAR KALIAN SEMUA.( BUKAN MARAH MEMANG KEK GITULAH ORANG BATAK NGOMONG NYA KERAS TAPI HATI NYA LEMBUT ).Semoga saudara sau dara sekalian Tetap maju terus ,jangan Malu menceritakan tentang parmalim kepada siapa saja,dan saya juga mau belajar banyak tentang Parmalim buat pengatahuan dan pelajaran saya dalam menjalani hidup yang singkat ini.Salam Hangat dari saya buat Bangso Batak Dimana Pun Berada.

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.






Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel sebelumnya :
   » » Monumen Nasional Kenangan Perjuangan Bangsa

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel selanjutnya :
   » » Karyawan Kaltim Post Donor Darah