Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Sabtu
23
Des '06

Raja dan Kerajaan di Simalungun


Pengantar
Secara historis, terdapat tiga fase kerajaan yang pernah berkuasa dan memerintah di Simalungun. Berturut-turut fase itu adalah fase kerajaan yang dua (harajaon na dua) yakni kerajaan Nagur (marga Damanik) dan Batanghio (Marga Saragih). Berikutnya adalah kerajaan berempat (harajaon na opat) yakni Kerajaan Siantar (marga Damanik), Panai  (marga Purba Dasuha), Silau (marga Purba Tambak) dan Tanoh Jawa (marga Sinaga). Terakhir adalah fase kerajaan yang tujuh (harajaon na pitu) yakni: kerajaan Siantar (Marga Damanik), Panai (marga Purba Dasuha), Silau (marga Purba Tambak), Tanoh Jawa (marga Sinaga), Raya (marga Saragih Garingging), Purba (marga Purba Pakpak) dan Silimakuta (marga Purba Girsang). Demikian pula halnya dalam mengurai asal muasal masyarakat Simalungun, yang banyak berpijak dan tergantung pada aspek diaspora masyarakat Batak (Toba) sehingga, raja dan kerajaan di Simalungun itu dinyatakan berasal dari Batak (Toba).

Padahal, secara struktur dan organisasi sosial, terdapat perbedaan yang sangat jelas antara kedua suku Batak tersebut, sehingga tidak dengan begitu saja menarik kesimpulan bahwa suku Simalungun merupakan diaspora Batak Toba yang sukses di perantauan sebagaimana yang banyak dilakukan oleh para penulis seperti JV. Vergouwen, Washinton Hutagalung, JR. Hutauruk, Batara Sangti maupun MO. Parlindungan yang kontroversial  itu. Yang sangat mengesankan, jika bukan ironis adalah bahwa penulis Simalungun banyak pula yang mengutip pendapat tersebut sebagai sebuah fakta kebenaran tanpa melakukan penggalian lebih lanjut seperti yang dilakukan oleh TBA Purba Tambak dalam bukunya Sejarah  Simalungun  maupun oleh MD. Purba dalam berbagai bukunya yang diterbitkan untuk kalangan sendiri. Akibatnya, sejarah kebudayaan Simalungun menjadi rapuh dan tidak dapat berdiri sendiri.

Simalungun dalam Literatur
Dalam masyarakat Simalungun tidak terdapat begitu banyak literatur (pustaha) yang mengisahkan tentang riwayat kerajaan tersebut sehingga mengalami kesulitan dalam rekonstruksinya kemudian. Hanya saja, berdasarkan sejarah lisan yang hidup di tengah-tengah masyarakatnya bahwa setidaknya tiga fase yang disebutkan di atas pernah hidup, berkuasa dan memerintah. Sejarah lisan tersebut, agaknya menjadi pedoman bagi bangsa Eropa seperti Tideman (1922) untuk mengurai Simalungun dalam laporannya sebagai penguasa pada saat itu dan juga bagi penulis Simalungun berikutnya.

Oleh karenanya, masing-masing penulis sejarah di Simalungun membuat rekonstruksi sendiri atas kemauan sendiri dan kepentingan sendiri tanpa terikat waktu, tempat dan ruang. Akibatnya, sejarah tersebut sulit diterima secara umum dan apalagi dipergunakan sebagai rujukan dalam penulisan-penulisan demi kepentingan akademik ilmiah berikutnya.

Jika kemudian terdapat literatur yang mengetengahkan tentang kebudayaan Simalungun, yakni sejarah dan perkembangannya, maka hampir dapat dipastikan bahwa tulisan itu banyak mengadopsi pendapat-pendapat yang banyak ditulis oleh non Simalungun, dan tulisan itu pula banyak bersinggungan dengan pengaruh Agama Kristen yang dilakukan oleh rohaniawan Kristen Simalungun.

Literatur dari masa lampau Simalungun yang masih ada hingga saat ini seperti Pustaha Parpadanan Na Bolak (Hikayat Nagur), Partikkian Bandar Hanopan (Hikayat Silau), Partikian Panai Bolah (hikayat Panai) serta beberapa literatur yang disusun kembali serta ditransliterasi latin oleh JE. Saragih dalam pustaha lak-lak. Menurut Marim Purba, jumlah keseluruhan literatur yang membahas Simalungun, baik dari segi sejarah masa lampau dan masa kini, baik yang ada di luar negeri (Belanda) maupun di Museum Simalungun tak lebih dari 150 judul. Kesulitan lain dari beberapa pustaha tersebut adalah tidak memiliki angka tarikh (tahun) sehingga mengalami kegagalan dalam rekonstruksi kronologis kesejarahannya. Kenyataan ini sangat menyulitkan dalam rekonstruksi sejarah kebudayaan Simalungun berikutnya seperti yang banyak diakui oleh para penulis Simalungun masa kini. Oleh karena itu, diperlukan penggalian mendalam serta penelusuran secara herastik sehingga pelurusan sejarah tersebut dapat dilakukan kembali.

Leluhur Simalungun
Dalam sejarah masyarakat Batak (Toba) seperti yang telah banyak diketahui bahwa masyarakat Batak (Toba) adalah keturunan Siraja Batak yang beranak cucu kemudian menyebar ke berbagai penjuru di Sumatera Utara seperti Mandailing Angkola, Pak-pak Dairi, Karo, Simalungun dan Toba serta  Nias. Belakangan, Nias menyatakan bahwa mereka bukan keturunan dari Siraja Batak berdasarkan perbedaan  fisik dan budaya lainnya. Dengan begitu, ke lima sub etnik itu adalah merupakan diaspora dari Batak (Toba) yang menyebar ke berbagai wilayah di kawasan itu. Keadaan lain adalah adanya klaim, penarikan garis keturunan (genealogis) berdasarkan marga (clan) yang mengacu pada klan Batak (Toba) dimana semua klan yang ada pada sub etnik Batak tersebut seolah-olah memiliki kemiripan dan kesamaan.

Dalam penguraian sejarah moety masyarakat Batak seperti yang dilakukan oleh BA Simanjuntak dipaparkan bahwa leluhur nusantara (juga Batak) berasal dari dataran tinggi Yunan dekat hulu Sungai Mekong di Cotte dan Napur Hindia Belakang. Kemudian dengan alasan tertentu melakukan migrasi ke berbagai wilayah dan sebagian di antaranya tiba di wilayah nusantara yang menghuni wilayah pantai. Gelombang yang pertama memasuki wilayah nusantara (sebahagian tiba di Sumatera Utara) ini disebut dengan Protomelayu (Melayu dalam). Selanjutnya, dalam rentang waktu tertentu, gelombang migrasi serupa juga terjadi yang disebut dengan Deutromelayu (Melayu luar). Gelombang yang kedua serta memiliki peradaban yang lebih tinggi ini, kemudian mendesak protomelayu ke pedalaman.

Secara signifikan, dapat ditarik korelasi dimana gelombang yang pertama masuk itu pastilah berdiam di Selat Malaka, kemudian mereka terdepak ke daerah pedalaman oleh gelombang migrasi berikutnya hingga ke kawasan Simalungun. Dengan begitu, gelombang yang masuk ke Simalungun pun dapat dinyatakan mengalami dua gelombang, yakni gelombang proto Simalungun dan deutro Simalungun sampai pada akhirnya terbentuk neo Simalungun pasca revolusi berdarah 1946. Dengan begitu, kondisi ini lebih memungkinkan dan hampir mendekati kebenaran sejalan dengan sejarah penyebaran ras-ras umat manusia.

Sejalan dengan itu, sesuai dengan pendapat Uli Kozok (1992) (Profesor Filologi berkebangsaan Belanda) yang mengurangi bahwa di antara bahasa-bahasa Batak, bahasa Simalungun adalah bahasa yang lebih dulu terbentuk, maka asumsi ini menjadi masukan yang sangat berharga untuk merekonstruksi  kembali sejarah Simalungun. Bahasa Simalungun lebih dekat dengan Bahasa Mandailing, dan lebih jauh jika dibanding dengan Bahasa Batak Toba, Karo ataupun Pak-pak. Itu berarti bahwa, kemungkinan suku bangsa Simalungun adalah suku yang pertama ada dibanding suku Batak lainnya. Kendati demikian, penggalian serta penelusuran yang lebih mendalam tentang hal ini senantiasa dilakukan sebagai upaya pelurusan sejarah, khususnya pada masyarakat kebudayaan Simalungun.

Monarhi Simalungun
Dalam literatur Simalungun (pustaha laklak) seperti Pustaha Parpadanan Na Bolak (pustaka tertua di Simalungun) yang mengisahkan hikayat kerajaan Nagur (kerajaan Tertua di Simalungun dinasti Damanik) dikisahkan bahwa sewaktu raja Nagur yakni Sormaliat ingin memiliki istri sekaligus sebagai puang bolon (permaisuri) dari putri pamannya (marboru tulang) yang ada di Negeri Padang Rapuhan. Untuk rencana ini, raja memerintahkan utusannya berangkat menuju negeri yang dituju untuk memberitahukan rencana tersebut.

Untuk sampai di negeri tujuan, dibutuhkan perjalanan selama tiga (bulan) dengan berjalan kaki. Berarti, dibutuhkan waktu selama enam bulan untuk kembali ke tempat semula yakni di negeri Hararasan (Kerasaan sekarang) tempat Kerajaan Nagur berdiri.

Dengan estimasi dan kalkulasi tertentu, maka kemungkinan negeri yang dituju adalah Mataram Lama (Medang Faihbhumi). Kejadian itu diperkirakan berlangsung sekitar tahun 550 M bersamaan dengan kejayaan kerajaan Mataram Lama pada waktu itu. Hal ini tentu saja sangat beralasan dimana terdapat kesamaan struktur kerajaan yang sama seperti di Jawa. Di Sumatera hal sedemikian tidak diketemukan dan apalagi di Sumatera Utara. Jika seandainya Padang Rapuhan yang dimaksud dalam hikayat itu adalah negeri Padang (Tebing Tinggi), maka perjalanan yang dibutuhkan tentulah tidak selama itu. Lagi pula, kota Tebing Tinggi tersebut yang dibuka oleh keturunan klan Saragih berkisar tahun 1200-an.

Jadi, berdasarkan penuturan yang terdapat pada hikayat Parpadanan na Bolak tersebut dapat diketemukan bahwa asal usul monarhi (kerajaan) di Simalungun tersebut telah bersentuhan dengan kerajaan yang ada di Pulau Jawa pada saat itu. Keadaan ini juga dipertegas dengan berbagai asumsi penulis Eropa, bahwa pengaruh Jawa telah ada dan berkembang di kawasan ini terbukti dengan penamaan salah satu area (Tanah Djawa) di Simalungun. Lagi pula, terdapat berbagai kesamaan dalam hal perangkat kebudayaan seperti pemakaian destar (gotong dan Bulang) dalam khasanah adat. Di samping itu, juga telah bersentuhan dengan pengaruh Sinkretis (Hindu-Jawa) seperti permainan Catur, meluku sawah dan lain-lain. Hal yang paling mengesankan adalah bahwa hewan korban dalam perangkat adat istiadatnya adalah ternak ayam.

Ini berarti bahwa, keadaan dimana kerajaan di Simalungun telah mengambil corak modern seperti layaknya sebuah negara yang memiliki perangkat-perangkat tertentu. Keadaan seperti ini tidak dimiliki suku lain seperti Tapanuli (Utara), Karo, Pak-pak, Mandailing Angkola sungguhpun mereka itu mengenal konsep raja. Dengan demikian, konsep raja dan kerajaan yang telah lama berdiri di Simalungun merupakan peninggalan dalam kebudayaannya sebagai dampak persentuhannya dengan budaya lain (Hindu-Jawa). Kendatipun pada akhirnya, kerajaan itu hancur dan lebur akibat peristiwa berdarah di Sumatera Timur yang lebih dikenal dengan peristiwa revolusi sosial, dimana pada saat itu, golongan bangsawan dikejar dan dibunuh serta pembakaran istana sebagai dampak economic lag yang terjadi antar kelas.

Keadaan seperti ini bukan semata-mata bertujuan untuk memutus mata rantai integritas serta harmoni kesukuan tetapi yang lebih dipentingkan adalah bagaimana sejarah itu dapat ditegakkan. Karena dari sanalah kita dapat mencapai fakta dan kebenaran sejarah sehingga tidak terjadi pengebirian sejarah di kemudian hari.
Oleh : Erond Litno Damanik MSi
Penulis: Pemerhati Pendidikan dan Pembangunan Sosial Direktur: Center for Cultural Study and Rural Community Development/The Simetri/d

Sumber : Harian SIB


Ada 4 tanggapan untuk artikel “Raja dan Kerajaan di Simalungun”

  1. Tanggapan Frans Purba:

    Sbg tambahan ttg literatur ttg simalungun.Kita melupakan utk mencari literatur2 simalungun yg dirampas dan di obrak abrik oleh jepang. saya sbg seorg turunan dari partuanan Purba Pak2 kehilangan - piring sapa, pedang ,belati,tombak, cangkir bambu yg disaput dgn emas ,yg mana pd barang2 tsb ditulisin dgn berbagai riwayat masa lampau, dan barang2 tsb sebenarnya sudah menjadi barang pusaka turn temurun,Boleh dibilang semua pusaka kerajaan Purba dihancurkan oleh Jepang dan dihancurkan oleh Barisan harimau liar pd waktu revolusi sosial ,sehingga sejarah yg tertulis itu lenyap , dan juga sama dgn maskud melenyapkan sejarah Purba yg jadi bagian significan dari sejarah simalungun.

  2. Tanggapan Masrul Purba Dasuha, S.Pd:

    Saya setuju atas tulisan yang anda muat, namun masih banyak yang belum akurat mengenai keberadaan suku Simalungun sebagai satu etnis yang agung di antara etnis yang ada di Indonesia. Ketidakakuratan itu tidak perlu jelaskan mengingat persoalan mengenai sejarah Simalungun hingga kini masih belum tuntas digali dan dibahas, sehingga hal itu menjadi problematika kompleks yang berlarut-larut di tengah warga Simalungun, terutama bagi mereka yang maniak terhadap sejarah Simalungun.

    Perlu saya terangkan di sini bahwa di kalangan warga Simalungun, terutama para penulis dan pemerhati sejarah Simalungun masih banyak melihat Simalungun tidak secara obyektif. Ada yang melihat dari aspek teritorial, agama, dan budaya. Padahal bila kita mengenyampingkan hal itu, sungguh bukanlah suatu hal yang mustahil bila sejarah Simalungun akan semakin konkrit ke permukaan dan akurat dalam hal data.

    Di daerah Bandar yang meliputi Kecamatan Bandar, Pematang Bandar, Bandar Masilam, dan Bandar Huluan yang dahulunya merupakan wilayah kekuasaan Harajaon Bandar dengan rajanya bermarga Damanik Bariba. Di daerah ini masih ada beberapa bukti sejarah, baik dalam bentuk materi dan turiturian,namun hingga kini masih kurang penggalian. Padahal sungguh demikian besar kerajaan ini ketika masa kejayaannya, yang kekuasaannya menembus daerah-daerah bukan hanya Simalungun, tetapi sampai daerah Asahan bahkan sampai ke daerah Labuhan Batu sekarang. Mengapa, realita sejarah ini diabaikan, jawabnya adalah karena masyarakat Simalungun di daerah ini mayoritas beragama Islam, yang kerap diberi predikat oleh orang Simalungun atas dan Horisan sebagai orang Jaheijahei atau mayamaya, dan dianggap sudah menanggalkan identitas Simalungunnya akibat pengaruh agama. Namun, kenyataannya tidak demikian, penulis sebagai putra kelahiran Pematang Bandar sangat mengesalkan hal itu. Oleh sebab itu, di sini penulis akan mencoba menguraikan sekilas tentang kondisi kehidupan masyarakat di daerah itu. Penduduk di daerah Bandar yang meliputi 4 kecamatan di atas hidup saat ini dihuni oleh beragam suku, seperti Simalungun (15%), Jawa (55%), Batak Toba (20%) dan suku lain 10% (Mandailing, Karo, Pakpak,dll).
    Mata pencaharian umumnya bertani, berladang, dan wiraswasta. Masyarakat Simalungun masih banyak yang menggunakan bahasa Simalungun sebagai media komunikasi, dan persoalan adat istiadat ala Simalungun di beberapa tempat juga masih eksis dijalankan.

    Terkait situs sejarah, di beberapa tempat masih ada ditemukan meskipun sudah dalam kondisi memprihatinkan. Seperti di desa Parhutaan Kecamatan Pematang Bandar terdapat sejumlah pekuburan para raja dan partuanon Bandar tempo dulu. Desa ini merupakan pamatangnya Harajaon Bandar. Sebagaimana kita ketahui, bahwa kerajaan ini tidak dapat dipisahkan dengan kerajaan Siantar dan Partuanon Sidamanik, karena ketiganya berasal dari satu nenek moyang yang semula punya satu kerajaan yang kemudian mengembangkan diri menjadi dua kerajaan dan satu partuanon.

    Masyarakat Simalungun di daerah ini menganggap bahwa kerajaan mereka lebih besar dibanding Siantar, mereka berasumsi bahwa raja Siantar datang dari tempat ini,demikian juga di Sidamanik; bukan sebaliknya dari Kerajaan Siantar ke Bandar.

    Pernyataan ini bisa benar bisa juga tidak, namun kenyataan di lapangan yang dengan nyata penulis dengar dan lihat kondisi demikianlah yang terjadi. Hal demikian barangkali bisa saja terjadi mengingat, secara geografi daerah ini berdekatan dengan pesisir pantai timur Sumatera yang dahulunya merupakan jalur lintas para peziarah dan partigatiga yang datang dari Selat Malaka melalui Tanjung Tiram dan Tanjung Balai.

    Kembali ke situs sejarah, di desa parhutaan ini mengalir sungai besar yang mereka sebut dengan Bah Pamujian, yang pada masa eksisnya kerajaan dijadikan sebagai tapian dari para keluarga kerajaan.

    Terkait adat istiadat di desa ini masih eksis dijalankan, terutama ketika acara Marhajabuan (pernikahan). Demikian juga seperti doding mananggei, taurtaur dan tortor simbandar masih banyak yang mahir melantunkan dan mempraktikkan.

    Tidak jauh dari tempat ini, terdapat satu kampung bernama Batangiou yang dijadikan sebagai areal perladangan.Penulis berkeyakinan bahwa tempat inilah barangkali pusat kerajaan Batangiou dahulu, yang hingga kini keberadaannya masih menjadi tanda tanya besar, karena di beberapa tempat di daerah Simalungun tidak ada yang menunjukkan identitas konkrit Batangiou sebagai nama tempat.
    Kemudian di tempat lain, tepatnya di Kecamatan Bandar Huluan terdapat kampung bernama Bah Tobu, yang menurut keyakinan masyarakat terjadi disebabkan oleh tiga bersaudara marga Damanik yang kala itu mengadakan perjalanan dari arah pesisir timur, yang ketika sampai di desa itu mereka mengalami kehausan, lantas meminum air di atas bulung ni sungkit (daun kincung) yang terasa masni (tobu)hingga akhirnya akibat kekenyangan salah satu dari mereka meninggal, maka di namakanlah kampung itu Bah Tobu. Kemudian dua orang lagi melanjutkan perjalanan ke arah perdagangan, sesampai di sana kondisi yang mustahil terjadi pada mereka, di mana salah seorang mereka terkecoh dengan pemandangan pepohonan yang berbuah lebat yang berbayang di permukaan air, ia lalu menyelam dan ingin mengambil buah, tapi apa yang terjadi ia akhirnya tenggelam. Melihat itu, saudara satu lagi kemudian ikut menyusul, karena dia menganggap saninanya itu telah habis melahap buah-buahan itu, maka kondisi yang sama pun terjadi, ia turut tenggelam. Merujuk pada fenomena ini, masyarakat Simalungun di sekitar itu menyakini tempat itu bertuah dan angker hingga kemudian mereka membangun tempat pemujaan bernama Keramat Kubah.

    Demikianlah sekilas turiturian tentang 3 bersaudara marga Damanik, yang diyakini sebagai cikal bakal leluhur marga Damanik di tempat itu.

    Hanya demikian yang dapat penulis tanggapi dan utarakan, yang penting sekarang bagaimana kita dengan bahu-membahu bersama menelusuri jejak-jejak kehidupan nenek moyang kita orang Simalungun. Sonai ma, Horas 3 x Banta Ganupan. Diatei Tupa

  3. Tanggapan Habibi Lubis:

    Ini wawasan baru yang mencengangkan, saya menunggu wawasan baru lagi dari Lae Silaban. Karena saya sangat tertarik mendalami kenapa Orang Mandheling, Simalungun, Karo, Pakpak diasosiasikan sebagai sub etnik Batak, kenapa ? Kalo Mandheling mungkin karena dominasi muslim/paderi maka mengelak disebut etnik batak karena dominasi etnik batak yang kristian, tapi kalo yang lain juga tidak mau disebut batak, simalungun ya simalungun, karo ya karo dan dairi ya dairi.
    Padahal kalo saya jumpa marga Damanik dia bilang kita Saudara, samanya kita itu. Jumpa pasaribu juga, jumpa harahap juga, saya bingung gimana mengkaitkannya.

  4. Tanggapan dori girsang:

    Sebagai tambahan dari saya pribadai yang asli orang simalungun dan masih keturuanan Tuan dolok mariah Kecamatan Silimakuta, kebetulan di rumah saya ada photo-photo lama oppung sayang dengan warna hitam putih tentu nya itu photo usia nya udah tua dan di dalam photo-photo itu oppung saya sedang membaca lak-lak dan di sebelah kanan dan kiri nya ada tunggal panaluan dan ada patung pangulubalang.Dan aku katakan pada orang tua ku dimana sekarang lak-lak dan tunggal panaluan dan juga patung pangulu balang orang tua ku menjawab semua itu udah habis dan lenyap terbakar ketika terjadi jaman revolusi tahun 45 an kalo aku engga salah dengar,nah setelah aku berpikir andaikan dulu nya tidak terjadi revolusi mungkin saya dengan senang hati maw memberi kan lak-lak oppung saya itu untuk di pelajari para ahli-ahli purba kala dan itu tentu nya bisa membentuk suatu konsep sejarah simalungun itu sendiri dan kita orang simalungun engga sampe seperti ini ribet nya mencari asal-usul sejarah simalungun itu sendiri.Tapi untung saya masih bisa membaca parpandanan na bolang karena buku itu masih utuh di rumah saya.dan isi nya juga hampir sama dengan dengan serat jaya baya yang pernah meramalakan masa sekarang ini,begitu juga hal nya dengan isi parpandanan na bolang itu dimana seorang guru gombak na bolon bernubuat tentang masa depan ( saat ini ) dan setelah dia bernubuat di ilang dan gak tau dia kemana,begitulah sekilas kisah di parpandanan na bolang. Kalo ada yang ingin mendapat kan buku tersebut bisa mengubungi saya ke dori@bona-gallery.com

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.






Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel sebelumnya :
   » » Kapal Motor Sentosa 89 Tenggelam di Perairan Pulau Meratas

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel selanjutnya :
   » » 25 Desember Natal “Ai So Ise Plus” Siborong-borong Doakan Pembentukan Propinsi Tapanuli