Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Minggu
17
Des '06

Orang Minang Memburu, Non Muslim Memakan



Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

Silaban (38 tahun), warga Tangkerang kota Pekanbaru, dengan karung disandang bergegas ketempat babi yang sudah semaput dikerubuti anjing. Di pinggangnya terselip sebuah belati tajam yang siap dihunuskan. Silaban adalah etnis Batak Toba beragama Kristen yang diuntungkan oleh tradisi buru babi ini.Para pemburu ini mayoritas berasal dari etnis Minangkabau yang beragama Islam. Bangkai babi ini haram bagi mereka untuk dimakan. Biasanya, bangkai babi dikubur agar tak menyebarkan bibit penyakit dan menimbulkan bau busuk.Namun, lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Jika di Sumatra Barat bangkai babi dikubur, tapi di Bumi Lancang Kuning ini bangkai babi dimanfaatkan oleh saudara-saudara pemburu yang non muslim dan halal bagi mereka untuk menyantapnya.

“Rata-rata setiap kali berburu, saya dapat 4 ekor, satu ekor bisa dijual 100 ribu,” tutur Silaban dengan logat Bataknya yang kental. Tangannya terus berusaha melepaskan bangkai babi dari gigitan anjing pemburu. Karung yang sudah disediakannya selalu terpental saat babi dimasukan ke dalamnya. Usaha Silaban ini berhasil setelah pemilik anjing kembali mengikat anjingnya dan membawa keluar hutan.

Tanpa sungkan, Silaban menggendong di bahu karung yang berisi bangkai babi tersebut. Di jalan setapak, seorang kawan Silaban sudah stand by dengan motor dan menaikan karung itu. Babi tersebut rencananya akan dikumpulkan bersama temannya yang lain dan sudah ditunggu dengan mobil.

Menurut Silaban, dia dan lima temannya yang lain sudah dua tahun mengumpulkan babi dari medan perburuan yang digelar tiap hari Minggu dan Rabu. Berbagai pelosok di Riau sudah dikunjungi. Pokoknya, dimana ada tradisi buru babi, disana dipastikan ada dirinya.

Daging babi itu dijual di pasaran seharga 12 ribu per kilogram. Setiap acara berburu, Silaban dan kelompoknya bisa mendapat dua puluh sampai lima puluh ekor babi. Hasil penjualan babi tersebut nanti dibagi bersama. Penggemar daging babi memang lebih suka daging babi hutan dibanding dengan babi ternakan. Menurut mereka, rasanya lebih gurih dibanding daging babi ternakan.

Tak jarang Silaban terlibat pertengkaran dengan sesama pemburu daging babi dari kelompok lain. Jika pertengkaran terjadi, mereka tidak diperbolehkan lagi mengambil daging babi dan diusir dari medan perburuan oleh muncak yang berkuasa di medan perburuan.

“Itu sudah keputusan Alek (acara buru babi). Mereka tidak boleh bertengkar, kalau bertengkar di usir dari perburuan,” tutur Bagindo Ali (50 tahun), yang menjadi Muncak Tuo pada perburuan di Palas.

Bagindo Ali sendiri sudah lebih dua puluh tahun mengikuti tradisi buru babi. Saking mahirnya berburu, dirinya diangkat jadi muncak oleh para pemburu. Tugasnya adalah mencari babi dan memberikan komando dari dalam hutan. Kemahiran berburu ini diperoleh Bagindo Ali sejak berada di kampung halamannya di desa Cacang Randah, Pariaman, Sumatra Barat.

“Kalau ada dua orang yang mencari daging babi di suatu tempat, maka daging itu harus di bagi dua,” tegas Bagindo Ali.

Inilah bentuk kerukunan antar etnis di kota Pekanbaru. Etnis Minang dengan tradisi berburu hanya sekedar berolahraga dan memberantas hama babi semata. Sedangkan bagi saudara-saudara yang non muslim, disilahkan untuk menikmati hasil buruan itu, tetapi tentu dengan cara-cara yang damai.

Sumber : (P 171 TL) Mapala UBH , Padang & Ranah Minang


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.






Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel sebelumnya :
   » » Membaca Patung Primitif Batak Sebagai Teks Filsafat Tersembunyi

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel selanjutnya :
   » » Natal Umum UNITA Bersama Dosen UCA Ceko Berlangsung Hikmat