Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Senin
20
Nov '06

Hak Presiden Yudhoyono Terima Bush


Mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid menilai, secara konstitusional, penerimaan kedatangan Presiden Amerika Serikat George W. Bush ke Indonesia adalah hak prerogatif Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. Hal itu dikatakan Gus Dur usai mengikuti dialog kebangsaan kepada wartawan, Minggu (19/11).

Menurut Gus Dur, aksi-aksi penolakan yang saat ini gencar dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat adalah hak dari masyarakat itu sendiri. Namun demikian, ia menegaskan, penerimaan kedatangan orang nomor satu di AS tersebut pada 20 November besok adalah hak prerogatif Presiden RI.

“Secara konstitusional, penerimaan kedatangan Presiden AS George W Bush adalah hak prerogatif Presiden RI. Kita melihatnya secara konstitusional saja. Jadi sah-sah saja jika Presiden RI menghadirkan Presiden AS,” jelas Gus Dur.

Sementara itu, Koalisi Nasional Serikat Pekerja (Konsep) akan mengajukan lima tuntutan yang akan disampaikan pada saat kedatangan Presiden Amerika Serikat George W Bush ke Indonesia melalui Atase Perburuhan Amerika Serikat.

Demikian dikatakan Ketua Umum Konsep, Rekson Silaban kepada wartawan di Jakarta, Senin (20/11). Ia mengatakan, lima tuntutan tersebut antara lain menuntut kepada Presiden Bush untuk mendesak Pemerintah Singapura agar bersedia meratifikasi perjanjian ekstradisi di antara Pemerintah Indonesia dan Singapura.

Mantan Ketua MPR, Amien Rais mengaku malu atas perlakuan pemerintah yang menerima kedatangan Presiden Amerika, George Walker Bush secara berlebihan. “Ini sudah berlebihan dan menghina diri sendiri. Seharusnya, jika pun diterima di Istana Negara saja, ala kadar dan seperlunya, untuk kemudian diminta pulang,” tandasnya di Bandung, Sabtu (18/11).

Menurut dia, penolakan terhadap kedatangan Bush sendiri sudah banyak disuarakan oleh rakyat Indonesia. Mulai dari pelajar, mahasiswa, tapi juga kepada kiai, pastur, pendeta, bahkan anggota DPR.

“Suara seperti ini tidak boleh diabaikan. Pemerintah terlihat membutakan mata dan menulikan telinga dengan tetap menyambut Bush,” ungkap Amien seraya menambahkan kedatangan Bush itu merugikan masyarakat karena penerbangan ditutup, sekolah diliburkan, telepon ditutup dan PKL, tukang becak dan sopir angkot tidak bisa bekerja.

Pada hari yang sama, aksi penolakan kedatangan Bush digelar sekitar tiga ribu dari Persatuan Islam (Persis) di Lapangan Tegallega, Bandung. Ketua umum DPP Persis Shiddiq Amien mengatakan, Bush telah bertindak sebagai pembunuh dan penjahat perang, sehingga tidak layak dianggap sebagai tamu.

“Apalagi, kedatangannya ini menyulitkan dan merugikan masyarakat di Bogor. Seharusnya, tamu tidak akan menyulitkan tuan rumah,” tandasnya.

Hal Prinsip

Janji Presiden Amerika Serikat (AS) George W Bush memang ditepati, tetapi janjinya untuk tidak mengintervensi pemerintah dalam negeri Indonesia, terus saja dilakukan.Maka dari itu, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono sebaiknya tidak usah membicarakan hal-hal yang prinsip kepada Pre- siden AS itu.

Begitu komentar Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof Dr Syafii Maarif kepada wartawan, di kediamannya, Minggu (19/11) siang. “Saya sudah punya pengalaman, pertemuan di Bali 23 Oktober 2003, Bush memang berjanji memberikan bantuan bagi pendidikan kita sebesar US $ 150 dan tanpa diikuti intervensi. Tetapi nyatanya, bantuan itu tetap diikuti intervensi,” ujar Syafii.

Bush, ujar Syafii lagi, juga berjanji akan mendukung kemerdekaan Negara Palestina pada tahun 2005. “Tetapi kenyataannya dia hanya bohong besar,” lanjutnya seraya menegaskan bahwa dirinya akan menolak jika diundang untuk lagi berdialog dengan Bush.

Dalam pandangan Syafii, meski mayoritas bangsa Indonesia menolak kedatangan presiden dari negara adi daya itu, toh nyatanya pemerintah Indonesia tetap tidak berdaya.

“Pemerintah Indonesia tidak mungkin mengangkat muka dan berkata tidak terhadap rencana kunjungan Bush. Sebagai negara pengutang dan punya keter- gantungan, tidak mungkin menolak kedatangannya,” tegasnya.

Karena itu Syafii meminta kepada Presiden Yu- dhoyono, agar ngobrol yang ringan-ringan saja, dengan logika-logika yang mudah dicerna. “Tetapi saya harap Yudhoyono berani ngomong apa adanya. Yudhoyono juga seorang presiden dari sebuah negara yang berdaulat,” ucapnya.

Pertemuan antar dua presiden itu, menurut Syafii, sangat berbeda konteks dengan pertemuan Bush dengan tokoh agama di Bali 2003 lalu.

Sumber : [E-5/152/153] Suara Pembaruan, Jakarta


Baru ada 1 tanggapan untuk artikel “Hak Presiden Yudhoyono Terima Bush”

  1. Tanggapan Andi Munawir Fatra:

    Benar sekali apa yang dikatakan oleh Bapak Amien Rais dengan kedatangan Bush tersebut tidak ada faidah bagi bangsa ini.Banyak merugikan masyarakat secara tampak merugikan disamping itu amerika di belakang sangat merugikan bangsa ini, karena pengaruhnya. Hendaknya kita hidup mandirilah jangan bergantung pada negara-negara barat tersebut,carilah mitra yamg lain yang lebih konsisten.

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Lelaki yang Menjadi Minyak
Artikel selanjutnya :
   » » Tim Moot Court La Sale FHUI Juara I Nasional