Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Minggu
19
Nov '06

Samosir yang Tak Banyak Berubah



Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

Samosir1Pagi itu sekitar pukul 10.00 waktu setempat, serombongan tamu dari Malaysia tiba di Pelabuhan Tomok diantarkan seorang pemandu dari sebuah biro perjalanan. Seorang guide lokal pun sudah siap menunggu.

Mazwar (44 tahun), seorang owner sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang programming ringtone handphone yang bekerjasama dengan salah satu perusahaan telekomunikasi ternama di negerinya (Telco) datang bersama istri dan kelima anaknya.

Ini bukan kali pertama Mazwar berkunjung menikmati panorama danau yang baginya memikat dan penuh kesejukan alami. “Saya suka hembusan angin dan panorama perbukitan hijau di sekitar danau, memandangi airnya dari atas kapal. Pengalaman menarik,” katanya dengan aksen Melayu yang kental.

Hanya saja, setelah beberapa saat ketika ditanya di sela-sela penjelajahan mengitari kawasan alun-alun Tomok dan beberapa tempat perbelanjaan suvenir di lokasi itu, Wazwar mengeluh. Yang mengganjal di hatinya jika ingin berkunjung ke Danau Toba adalah persoalan jarak dan waktu. Baginya waktu sangat berharga. “Empat jam lebih terasa cukup lama dari Medan. Padahal seharusnya bisa ditempuh lebih cepat dan bisa berlama-lama di sini.”

Sebelumnya pada tahun 1986, Mazwar sudah pernah mengunjungi Tomok. “Tak ada yang berubah,” katanya. Sejak dahulu hingga sekarang, masih sama seperti dulu. Lagi-lagi ia mengeluhkan soal akses jalan tempuh yang baginya sangat lambat.

“Dari tahun 1986 hingga sekarang. Sudah berapa tahun? Coba hitung,” katanya sambil tertawa miris. “Jalannya masih sama. Akses jalan menuju Samosir masih sangat lambat. Bayangkan empat jam lebih dari Medan. Padahal kan bisa lebih cepat sehingga bisa menikmati Tomok lebih lama dan pulang kembali ke Medan,” ujarnya sedikit mencoba-coba bahasa Indonesia.

Siang itu adalah waktu yang terbatas bagi Mazwar dan keluarganya, sebab mereka harus kembali ke Medan, selanjutnya menuju Malaysia. “Petang ini kami akan ke Medan sekejap lalu pulang ke Kuala Lumpur untuk kembali bekerja,”katanya. Hanya beberapa jam saja. Mereka bahkan tak sempat menikmati tarian Patung Sigale-gale yang sempat dipesan kepada para pemusik. Jarak dan waktu adalah salah satu persoalan klasik.

Dari data statistik yang diperoleh dari Dinas Pariwisata Kabupaten Samosir, terjadi penurunan pengunjung setiap tahunnya. Sebelum tahun 1997, jumlah wisatawan ke Samosir mencapai sedikitnya 35.000 orang. Pada tahun 2005 turun menjadi sekitar 25.000 orang.

Siang itu Mazwar menunjukkan mimik wajah sedikit kurang puas. Maklum, jauh dari Malaysia, mereka hanya bisa menikmati waktu sekejap di Tomok.

Rute Strategis
Samosir2 Hingga kini, Samosir merupakan kawasan yang menjadi favorit wisatawan dan dipertahankan hingga kini meskipun ada beberapa penemuan lokasi wisata baru seperti Danau Aek Natonang dan Danau Sidihoni. Sangat disayangkan, tempat-tempat favorit yang potensial ini hingga kini masih sebatas pendataan dan belum dikelola oleh pemerintah setempat.

Ketika dikonfirmasi soal pengelolaan kawasan-kawasan potensial Samosir, Kabid Pariwisata Drs O S Simbolon mengatakan, sejauh ini pemerintah masih melakukan pendataan dan selanjutnya akan dipikirkan lokasi mana yang akan diprioritaskan untuk dikelola dan dikembangkan sepenuhnya.

Selanjutnya Simbolan menjelaskan, hingga saat ini belum ditentukan lokasi mana yang akan difokuskan pengembangan karena masih terkendala oleh dana dan minimnya SDM yang bergerak di sektor ini. “Untuk tahun 2006, kita menganggarkan dana sekitar 5 miliar dan untuk tahun 2007 sedang dibahas di rapat APBD,” katanya, (Selasa, 14/11).

Berikut beberapa rute penjelajahan lokasi wisata yang ada di Kabupaten Samosir.

  • Makam Raja Sidabutar
    Objek wisata sejarah ini merupakan lokasi yag paling sering dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara. Pada tahun 2005 tercatat sebanyak 11.374 orang wisatawan mancanegara dan 160 orang wisatawan nusantara. Lokasinya berada di Desa Tomok, Kecamatan Simanindo.Ada tiga buah makam di sana yang merupakan makan tiga orang raja yang pernah memimpin Kerajaan Sidabutar. Raja yang pertama dipimpin oleh Raja Oppu Sori Buttu Sidabutar yang wafat pada usia 115 tahun. Kemudian diambil alih oleh anaknya Oppu Ujung Ni Barita Sidabutar dan Raja ketiga, Oppu Solompoan merupakan orang pertama yang menjadi penganut agama Kristen setelah berkelana ke Tapanuli Utara dan bertemu dengan misionaris Jerman Ingwer Ludwig Nommensen.Kerajaan Sidabutar sekitar 500 tahun silam dikenal sebagai kerajaan terbesar dan terluas kekuasaannya di Samosir.
  • Patung Sigale-gale
    Ada beberapa versi di balik kisah Patung Sigale-gale. Patung ini menurut penuturan guide yang dipantau Global ketika sedang menjelaskan kepada para pelancong, dulunya adalah sebuah sarana untuk melepaskan rindu Raja Sidabutar yang ingin bertemu secara langsung dengan anaknya yang sudah meninggal. Maka, dipanggillah seorang pemahat kayu untuk melukiskan wajahnya.Kenapa bisa menari? Secara mistis, masih menurut guide itu, tarian itu digerakkan oleh roh anaknya yang telah dipanggil kembali oleh seseorang yang berilmu tinggi.Sekali lagi, ini adalah versi guide itu. Tentu saja tidak sesuai lagi dengan pemikiran rasional kehidupan modern saat ini. Namun percaya atau tidak, selanjutnya terserah Anda.
  • Museum Tomok
    Museum Tomok merupakan lanjutan dari kisah makam Raja Sidabutar. Di museum ini terdapat sebagian peninggalan raja dan penduduk Sidabutar pada masa silam.Beberapa peninggalan itu di antaranya adalah Hobbung (tempat tidur Raja Sidabutar yang sekaligus dijadikan sebagai tempat penyimpanan harta sang raja), Tongkat Tunggal Panaluan, Laklak (buku yang mencatat sejarah Batak dan kalender penanggalan kuno), rudang, ulos, appang na bolon, parhokkom dan pangir.
  • Peninsula Tuktuk
    Tuktuk terdapat di Kecamatan Simanindo. Dari Pelabuhan Tiga Raja Parapat, pelancong dapat langsung menuju ke sana. Tapi jika Anda sedang berada di Tomok menikmati tarian Patung Sigale-gale, Anda harus mencarter sepedamotor atau sepeda, karena belum ada kendaraan umum menuju lokasi yang dikenal memiliki panorama indah ini.Tuktuk merupakan daratan Pulau Samosir yang menjorok lebih dekat ke danau. Jumlah penduduknya sekitar 1.973 orang dan di lokasi ini terdapat banyak penginapan yang siap menampung para wisatawan, namun ini masih sebagian saja sebab beberapa lokasi lain belum sepenuhnya dapat dinikmati dengan baik akibat nihilnya fasilitas pendukung, di antaranya adalah kawasan Danau Sidihoni. Berdasarkan data kunjungan tahun 2005, lokasi ini hampir tidak pernah dikunjungi lagi sejak tahun 2003.Lokasi lainnya, Danau Aek Natonang yang minim akses tempuh, Pantai Pasir Putih Sukkean dan Pohon Rakasanya yang unik dan beberapa lokasi lainnya seperti Aek Sipitu Dai di Kecamatan Sianjur Mula-mula.


Memoar Seorang Guide Mengumbar Kisah, Mereguk Rupiah

Pemandu wisata atau dikenal dengan guide, tak bisa lepas dari dunia pariwisata. Tanpa mereka, perjalanan tidak akan sempurna karena melalui merekalah para wisatawan dapat mengetahui dan mengenal lebih dalam mengenai lokasi wisata yang ada. Apalagi lokasi wisata itu banyak menyimpan kisah atau sejarah. Tapi, benarkah seorang guide rela melakukan apa saja demi memuaskan tamunya?

Malam itu (Selasa 14/11), telepon genggam Sarman (31 tahun) berdering. Dalam pembicaraan jarak jauh itu, ia mendapat tugas untuk menjemput tamu di Pelabuhan Tomok keesokan hari.

Esok harinya, sekitar pukul 09.00 waktu setempat, masih setengah jam lagi, ia sudah menunggu di sana. Kapal berlabuh. Ia pun datang menyambut tamu itu. “Welcome to Tomok,” katanya dengan aksen lokal yang masih kental.

Hal serupa ia lakukan pada setiap tamunya. Setelah itu mengajak tamu berkeliling dan memperkenalkan satu persatu apa yang menjadi pesona di Tomok. Tak jarang pula ia mendapat tawaran untuk berkeliling lebih jauh untuk menjelajahi Pulau Samosir dengan berjalan kaki, melewati bukit dan menyinggahi tempat-tempat yang belum dikenal luas. Tentu saja dengan mengumbar sejumlah kisah menarik seputar peristiwa-peristiwa di balik panorama alam sepanjang Danau Toba itu, mulai dari yang mistis hingga yang masuk akal. “Asal tamu senang,” katanya.

Sayang, tamu dari Malaysia itu hanya berkunjung sebentar saja. Satu jam lebih ia membawanya berkeliling dan berbelanja di sepanjang alun-alun menuju Makam Raja Sidabutar. Mengisahkan segala sejarahnya, berusaha membuat tamu itu kagum akan segala benda-benda tua yang ada di Museum Tomok hingga mengantarkannya kembali menuju kapal dan mereka pulang. “Thank you, terima kasih,” katanya setelah menerima sejumlah uang tip. “Till meet you again, sampai jumpa lagi.”

Hanya beberapa saat kemudian, Sarman bergegas kembali. Kali ini tamu lokal. Jumlahnya sekitar 50-an orang. Dengan nada ramah ia kembali menyapa,” selamat datang di Tomok,” lalu bibirnya kembali berkomat-kamit menceritakan kisah yang sedikit beda dengan apa yang baru saja diceritakan pada tamu dari Malaysia yang telah pulang. Hanya saja karena jumlah rombongan itu lebih banyak, ia membumbui cerita itu dengan lelucon.

Kali ini lebih membutuhkan ekstra energi dan kelihaian berbicara yang lebih komunikatif dan bisa mengocok perut tamu. Mereka pun tertawa, kagum dan menari Tor-tor bersama Patung Sigale-gale yang kelihatan seperti benar-benar hidup itu.

Cukup lama dan cukup meriah. Beberapa saat kemudian, acara itu pun diakhiri dengan berbelanja suvenir, selanjutnya kembali ke kapal dan pulang. “Terima kasih banyak,” katanya lagi setelah mengantarkan rombongan itu kembali ke pelabuhan dan menerima sejumlah tip. Kali ini jumlahnya pasti lebih banyak dari sebelumnya.

“Lumayanlah,” kata Sarman. Pun begitu, baginya hari itu adalah hari yang sepi. Meski hanya mendapat dua rombongan tamu, namun jumlah itu sangat jauh dari tahun sebelumnya. Sarman mengaku pernah memperoleh penghasilan sebesar Rp 6,5 juta dalam satu hari. Waktu itu tamunya bukan orang biasa, Miranda Gultom, Gubernur Bank Indonesia.
Saat ini Sarman mengaku, penghasilannya tidak tetap. “Kadang kosong sama sekali” katanya.

Seks bebas, benarkah?
Bagi Sarman, guide adalah profesi menyenangkan. Dari profesi ini ia hidup. Hidupnya tergantung tamu, tapi sebaliknya tidak semua tamu mengharapkan jasanya. “Kaum hippies biasanya tak mau memakai jasa guide,” katanya. Mereka lebih suka berjalan sendirian atau bersama dengan teman-temannya sesama hippies.

Di Amerika, kaum hippies dikenal sebagai komunitas anti kemapanan. Komunitas ini lahir untuk menolak budaya borjuis yang mengutamakan kemakmuran. Ada juga wisatawan yang bagi mereka cukup hanya sebatas pengalaman bahwa mereka pernah mengunjungi Danau Toba. Lain tidak. Mereka hanya ingin diakui bahwa mereka juga pernah berlibur ke luar negeri. Selain untuk tujuan wisata, mereka melakukannya demi status. Untuk menghemat biaya, maka mereka tidak butuh guide. Tapi, biasanya sebelumnya mereka telah mempelajari setiap detail lokasi wisata tujuan sebelum mereka pergi.

Namun, ada juga yang hanya mencari kesenangan lewat seks. Mereka bukan hanya wisatawan mancanegara tapi juga wisatawan lokal. “Dunia pariwisata tidak bisa hidup dari seks. Pengalaman saya menjelaskan fakta itu,” ujar Sarman.

Sarman mengaku, hal ini sudah biasa dilakukannya demi “memuaskan” tamu. Dan tentu saja, demi uang. “Ini sudah menjadi risiko, sebab bisa saja tamu hanya memberi tip ala kadarnya saja hanya karena mereka tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan yaitu seks.” Tapi Sarman menepis hal itu. “Tidak semua guide seperti itu,” katanya.

Terkendala Bahasa
Sarman tentu hanya sekelumit kisah di balik gemerlapnya dunia pariwisata. Bagi Sarman, semarak dunia pariwisata Samosir tidak berarti apa-apa tanpa kehadiran mereka. Meski pada tahun-tahun terakhir jumlah kunjungan wisatawan menurun drastis, namun bagi Sarman, pariwisata adalah hidupnya. Ia hidup dari pariwisata dan pariwisata akan semakin hidup dengan kehadiran mereka.

Tomok dan Peninsula Tuktuk merupakan kawasan strategis bagi para guide Samosir. Hanya saja mereka masih terbentur beberapa kendala. Yang pertama adalah bahasa.

Pasalnya, wisatawan yang datang bukan hanya dari Eropa seperti Jerman, Belanda, Prancis dan negara lainnya, tapi juga Asia, seperti Taiwan, Hongkong dan Jepang. Otomatis persoalan bahasa menjadi kendala utama jika guide bertemu dengan wisatawan dari negara ini, sebab tidak semua dari mereka yang sungguh-sungguh fasih berbahasa Inggris.
Sarman mengharapkan agar pemerintah juga membenahi mereka dengan keterampilan berbahasa dengan memberikan pelatihan atau workshop.

Sumber : (Tonggo Simangunsong) Harian Global


Ada 2 tanggapan untuk artikel “Samosir yang Tak Banyak Berubah”

  1. Tanggapan HENRY SAGALA:

    Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

    Saya seorang putera daerah Samosir yang berdomisli di Jakarta, kebetulan saya bekerja di salah satu perusahaan Biro Perjalanan Wisata. Yang menjadi pemikiran saya adalah mengapa sekarang ini hampir semua Biro pejalanan lebih cenderung menawarkan Paket Wisata ke Bali dan Lombok, pada hal jelas kita ketahui Wilayah Bona Pasogit yang kita cintai, tidaklah kalah jika dibandingkan dengan wilayah tersebut, justru kalau menurut saya Wilayah Danau Toba dan sekitarnya lebih memiliki nilai wiasata sejarah dari pada daerah lain di Nusantara.

    Melihat kenyataan sekarang ini, bahwa kunjungan wisata ke Danau Toba dan Sekitarnya sangatlah jauh menurun jika dibandingkan dengan beberapa tahun kebelakang. saya pernah mencoba membuat terobosan Paket Tour khusus Danau Toba dan sekitarnya di kantor kami dan ternyata sangat mendapat respon dari pimpinan saya begitu juga tamu kami, cuma yang menjadi masalah adalah, saya mengalami kesulitan mencari Operator Tour di Medan khusus untuk Danau Toba dan Sekitarnya.

    Sesuai dengan program pemerintah daerah Kabupaten Samosir saat ini yakni meningkatkan pendapatan daerah dari sektor Parawisata saya kira sangat tepat, cuma tekhnisnya aja yan belum pas.

    Menurut pendapat saya, mudah2an pihak Pemda Kabupaten Samosir membaca opini ini, yaitu mencoba terobosan baru dengan merangkul Travel Agent di Jakarta atau daerah lain supaya dapat mengalihkan sebagian pengunjung Wisata ke Danau Toba dan Sekitarnya yang sangat kita cintai.

    Semoga semua harapan kita untuk kemajuan Samosir dapat terwujud. Tuhan Memberkati..!

    Salam Sejahtera,,,
    HENRY SAGALA

  2. Tanggapan Damianus sagala:

    Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

    saya ingin juga agar gambar-gambar objec wisata yang ada di samosir,di tampilkan pada website ini.

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.






Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel sebelumnya :
   » » Kepengurusan Perguruan Karate – Do Tako Indonesia Cabang KabupatenTapanuli Tengah Terbentuk

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel selanjutnya :
   » » Koalisi Buruh Sampaikan Petisi Buat Bush