Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Minggu
5
Nov '06

Mengenang Uning-uningan



Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

Zaman telah berubah. Berbagai produk kesenian tradisional pun kian terkikis waktu. Salah satunya adalah Uning-uningan. Untungnya, meskipun bisa dihitung jari, masih ada juga orang-orang teguh mempertahankan seni tradisi ini.

Uning-uningan merupakan kesenian tradisional Batak Toba yang tersisa. Selain digunakan sebagai sarana pendekatan kepada pujaan hati, konon juga bermanfaat sebagai alat komunikasi antara manusia dengan Sang Pencipta (Mula Jadi na Bolon). Kesenian ini terdiri dari unsur musik (musik instrumental) di mana alat musiknya merupakan alat musik tertua dan asli dari masyarakat Batak Toba.

M Hutasoit dalam bukunya, Ende Batak dohot Uning-uningan mengatakan, perkataan uning-uningan berasal dari dua kata un dan ing. Un berarti suara yang rendah (bongor) dan ing berarti suara yang tinggi (sihil). Dengan demikian, pengertian uning-uningan berarti, suara bongor dan sihil yang bersahut-sahutan.

Ada beberapa jenis alat musik yang dipakai dalam uning-uningan, antara lain jenis aerophone (alat musik yang ditiup) terdiri dari sarune na met-met, sulim, sordam, tulila, tataloat, salung dan along-along. Jenis chordophone (alat musik yang dipetik) terdiri dari hasapi, tanggetong atau mengmong dan sidideng. Jenis idiophone (alat musik yang dipukul) terdiri dari garantung, saga-saga, jenggong dan hesek. Kemudian jenis membranophone (alat musik yang terbuat dari kulit binatang) terdiri dari gardap.

Biasanya, dalam pertunjukan musik tradisional Batak Toba, tidak semua alat musik ini digabung dalam satu ensambel, tetapi dipilih beberapa jenis saja (biasanya tiga sampai enam jenis alat musik dalam satu ensambel). Misalnya, sebuah sarune na met-met, seperangkat garantung, dua buah hasapi (hasapi ende dan hasapi doal), sebuah sulim dan sebuah hesek. Yang penting dalam uning-uningan harus ada paling sedikit satu jenis alat musik yang berfungsi sebagai pembawa melodi dari repertoar yang dimainkan.

Pendapat lain dikemukakan Arthur Simon dalam bukunya, Gondang Toba Instrumental Music of the Toba-Batak. Ia mengatakan uning-uningan selalu terdiri dari sarune na met-met, hasapi dan hesek. Sebagai pelengkapnya boleh ditambahkan garantung dan tanggetong. Sistem penggarapan melodi atau ritem dan repertoar pada uning-uningan mempunyai kemiripan dengan gondang sabangunan, seperti Gondang Sampur Marmeme, Gondang Si Unte Manis, Gondang Mula-mula dan lain sebagainya. Dengan kata lain uning-uningan merupakan bentuk imitasi dari gondang sabangunan.

Fungsi Uning-uningan
Selain berfungsi sebagai alat untuk memanggil roh, fungsi lain dari Uning-uningan adalah sebagai alat komunikasi antara manusia dengan Sang Pencipta (Mula Jadi na Bolon).

Dalam hal pemanggilan roh, beberapa persyaratan harus dipenuhi yang diminta oleh Datu (dukun) sebelum upacara dimulai, seperti menyediakan sesajen, membatasi orang yang hadir dan lain sebagainya. Setelah seluruh persyaratan terpenuhi, Uning-uningan pun dimainkan. Si dukun kemudian menari mengikuti irama musik dan biasanya kemasukan roh orang yang sudah mati (trance) yang sengaja diundang.

Fungsi lainnya, uning-uningan digunakan sebagai pelengkap pembacaan doa bagi kesembuhan orang sakit. Malah, dimanfaatkan sebagai pengantar doa permohonan untuk mendapatkan keturunan. Saat upacara berlangsung, biasanya dilengkapi beberapa umpasa (umpama) yang dibacakan penatua kampung. Isiumpasa tersebut disesuaikan dengan keadaan orang yang akan didoakan. Contohnya, Bintang na rumiris, ombun na sumorop; Anak pe antong riris, boru pe antong torop (Bintang yang bertabur, embun yang berserakan; Anak laki-laki pun banyak, anak perempuan pun banyak). Hadirin spontan menyahuti umpama tersebut dengan seruan,”Ima tutu” (semoga benarlah adanya).

Untuk fungsi secara pribadi, beberapa perangkat uning-uningan bisa dimainkan sendiri-sendiri. Seorang ibu hamil, bisa memainkan garantung agar kelak anaknya lahir dalam keadaan sehat. Seorang kakek juga sering memainkan hasapi begitu mendengar kabar kelahiran cucunya. Sedangkan sordam dimainkan para orangtua yang sedang bersedih hati pada malam ketika suasana sudah benar-benar sepi.

Kini, uning-uningan sudah semakin jarang dimainkan. Agaknya, generasi muda sekarang takut dicap kolot bila memainkannya. Mereka lebih memilih untuk memainkan atau mendengarkan musik yang lagi tren.

Belum lagi larangan gereja kepada jemaatnya untuk melakukan upacara yang berhubungan dengan kekuatan gaib. Akibatnya, tak usah heran uning-uningan akan hilang suatu saat nanti.

Sumber : (Abraham Sitompul) Harian Global


Ada 2 tanggapan untuk artikel “Mengenang Uning-uningan”

  1. Tanggapan edy panggabean:

    Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

    Fungsi Uning-uningan bukan hanya itu saja, pernah lihat uning-uningan digabungkan dengan orkestra ?. Pernah dilakukan di Jakarta pada tahun 90 an. Jadi uning-uningan adalah seperangkat alat-alat musik tradisional batak (yang ditiup, petik dan dipalu). Kalo cerita soal fungsinya yah..banyak. Kelengkapannya tergantung “order” kalo yang mampu, akan semakin banyak dan lengkap. Kalopun akan segera punah, penyebabnya adalah “kita sendiri”. Beberapa orang Batak yang kita harapkan bisa menjadi motor/akses/pemberi informasi, malah diam dan tidak memberikan support. Misalnya saja Halak Hita yang ada di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, baik di DKI maupun di Departemen. Anda tau kalau Budaya Batak suka di”anak tirikan” mewakili Budaya Indonesia ?. Mengapa Yayasan Pengembangan Uning-uningan “melem”? Karena kita sendiri males membangunnya. Salah satu contoh ; Padahal setiap tahunnya pasti Panitia Pesta Kemerdekaan Republik Indonesia, pasti mencari Budaya Batak. So… Halak Hita yang di DKI saja kurang memberikan responnya. Saya pernah ikutan menjadi wakil untuk budaya batak bersama, Nortier Simanungkalit, Lidang Panggabean, Silo Marbun, Tigor Simanjuntak dan 8 orang pemain musik bataknya. Dan sangat banyak Duta yang melihat budaya kita, kok kita enggak yah….??. Usul saya, mulailah dari “Rumah” semisalnya, kalo pesta gunakan gondang, bukan keyboard tunggal ! atau Band!!. Kalo mau nortor, jangan minta lagu Poco-poco, anak medan, kasihnya seperti sungai dan lain sebagainya. Dalam gondang hasahatan atau sitio-tio, Coba minta lagu “si bunga jambu” “Tumba Sidikalang” “Palty Radja” Poltak ma bulan” “Masih Baunyyak Judul Lagu-lagu lain”.

    Kalo uangnya nggak banyak, yah.. cukup tagading 1, seruling 1, hacapi 1, sarune na metmet 1, kalo ada duit dikit lagi, tambah ogung 1 org, tambah seruling 1 lagi, dan lain-lain.

    Aku hanya sedikit kecewa, banyak yang ngomong, tapi ketika “mereka” berpesta, pasti yang mereka panggil Bandlah, Keyboardlah. Alamakkkkkkkk.
    Horas ma dihita (takut kepanjangan)

  2. Tanggapan edy panggabean:

    Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

    Fungsi Uning-uningan bukan hanya itu saja, pernah lihat uning-uningan digabungkan dengan orkestra ?. Pernah dilakukan di Jakarta pada tahun 90 an. Jadi uning-uningan adalah seperangkat alat-alat musik tradisional batak (yang ditiup, petik dan dipalu). Kalo cerita soal fungsinya yah..banyak. Kelengkapannya tergantung “order” kalo yang mampu, akan semakin banyak dan lengkap. Kalopun akan segera punah, penyebabnya adalah “kita sendiri”.

    Beberapa orang Batak yang kita harapkan bisa menjadi motor/akses/pemberi informasi, malah diam dan tidak memberikan support. Misalnya saja Halak Hita yang ada di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, baik di DKI maupun di Departemen. Anda tau kalau Budaya Batak suka di”anak tirikan” mewakili Budaya Indonesia ?. Bukannya cemburu, tetapi halak hita sendiri nggak antusias untuk mencari dan memberikan tanggapan. Mengapa Yayasan Pengembangan Uning-uningan “melem”? Karena kita sendiri males membangunnya. Salah satu contoh ; Padahal setiap tahunnya pasti Panitia Pesta Kemerdekaan Republik Indonesia, pasti mencari Budaya Batak. So… Halak Hita yang di DKI saja kurang memberikan responnya. Saya pernah ikutan menjadi wakil untuk budaya batak bersama, Nortier Simanungkalit, Lidang Panggabean, Silo Marbun, Tigor Simanjuntak dan 8 orang pemain musik bataknya. Dan sangat banyak Duta yang melihat budaya kita, kok kita enggak yah….??.

    Usul saya, mulailah dari “Rumah” semisalnya, kalo pesta gunakan gondang, bukan keyboard tunggal ! atau Band!!. Kalo mau nortor, jangan minta lagu Poco-poco, anak medan, kasihnya seperti sungai dan lain sebagainya. Dalam gondang hasahatan atau sitio-tio, Coba minta lagu “si bunga jambu” “Tumba Sidikalang” “Palty Radja” Poltak ma bulan” “Masih Baunyyak Judul Lagu-lagu lain”.

    Kalo uangnya nggak banyak, yah.. cukup tagading 1, seruling 1, hacapi 1, sarune na metmet 1, kalo ada duit dikit lagi, tambah ogung 1 org, tambah seruling 1 lagi, dan lain-lain.

    Aku hanya sedikit kecewa, banyak yang ngomong, tapi ketika “mereka” berpesta, pasti yang mereka panggil Bandlah, Keyboardlah. Alamakkkkkkkk.
    Horas ma dihita (takut kepanjangan)

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.






Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel sebelumnya :
   » » [SB] podcast LAUNCH… Musik Batak - Your Mood ! Your Choice !!

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel selanjutnya :
   » » Lapdangmat: Toba Dream Vocal Contest 2006 (Audisi 3)