Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Sabtu
28
Okt '06

Turis Kecewa Saat Saksikan Kulminasi Matahari Di Khatulistiwa


Kekecewaan yang amat mendalam agaknya dirasakan oleh setiap turis asing yang menyaksikan peristiwa
Kulminasi Matahari di tugu Khatulistiwa, Pontianak, Kalimantan Barat, Kamis, yang semestinya dapat disaksikan pada pukul 11.35 WIB. Kekecewaan tersebut tampak terlihat dengan jelas di wajah Presiden ASEAN Veteran Basketball dari Tim Kinsar, Miri, Sarawak, Mah Poi Sang, yang secara khusus diundang oleh Pemerintah Kota Pontianak untuk menyaksikan fenomena alam tersebut.

Mah Poi Sang mengatakan, dia tidak bisa melihat secara langsung peristiwa kulminasi karena lokasi yang disediakan panitia tidak begitu besar, sementara animo warga yang ingin melihat secara langsung sangat besar sekali.  “Saya mendengar banyak warga yang juga kecewa karena tidak bisa melihat secara jelas,” katanya dengan logat Melayu khas Malaysia.

Tamu khusus itu bersama beberapa temannya, hanya menancapkan sebatang kayu kecil ke tanah yang berada tidak jauh dari lokasi puncak kulminasi. Dengan cara itu, ia dan tamu-tamu lainnya baru bisa melihat fenomena alam yang terjadi dua kali dalam setahun di kawasan tugu Khatulistiwa Pontianak itu.
Fenomena alam itu ditandai dengan tidak tampaknya bayangan benda apa pun, saat matahari berkulminasi atau berada pada garis puncak edarnya.

Mah Poi Sang dan rombongan tamu dari 5 negara ASEAN, hadir di Kota Pontianak, bertepatan dengan Kejuaraan Basket Veteran se-ASEAN. Berkaitan dengan peringatan kulminasi matahari itu, ia berharap untuk ke depan, Pemkot Pontianak meningkatkan sarana dan prasarana pendukung agar para wisatawan yang ingin menyaksikan secara langsung peristiwa alam itu tidak perlu berdesak-desakan seperti saat ini.
“Apalagi kejadian seperti titik kulminasi tidak ada di kawasan negara anggota ASEAN sehingga peluang untuk menarik pangsa pasarnya masih sangat luas sekali,” ujar Mah Poi Sang.

Ia menilai, belum banyak wisatawan, terutama dari luar Kalimantan Barat yang hadir menyaksikan peristiwa itu. Padahal kulminasi matahari dapat menjadi aset pariwisata yang menjanjikan. Meski Pemkot Pontianak telah mengundang ratusan pengunjung dari luar di antaranya peserta kejuaraan ASEAN Equinoc Veteran Basketball Tournament (AVBT), yang diikuti sekitar 350 orang, dan utusan enam negara anggota ASEAN.
Enam negara ASEAN itu meliputi Indonesia, Pilipina, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura. Mereka diundang Walikota Pontianak, Buchary Abdurrahman, dalam rangka menarik minat wisatawan untuk menyaksikan peringatan puncak titik kulminasi.

Sementara itu, Gunawan, seorang warga Jeruju Permai, yang sejak pagi sudah berada di sekitar lokasi tugu Khatulistiwa untuk menyaksikan secara langsung kulminasi matahari, juga mengungkapkan kekecewaannya.
“Saya tidak bisa melihat peristiwa alam itu, padahal sudah mempersiapkan diri jauh sebelum hari-H. Tetapi saat tiba di sini (tugu Khatulistiwa-red) harus berdesak-desakan dengan penonton lainnya. Sebagai orang asli sini saja, saya belum pernah melihat secara langsung peristiwa itu,” katanya.
Lelaki muda itu menyatakan untuk ke depan hendaknya Pemkot Pontianak lebih profesional mengelola dan mengemas acara tersebut, sehingga tidak membuat warga maupun pengunjung dari luar menjadi kecewa.
“Saya mendengar banyak pengunjung menggerutu karena tidak bisa menyaksikan peristiwa kulminasi,” kata Gunawan yang ditemui berada di komplek Tugu Khatulistiwa, Jl Khatulistiwa, Pontianak Utara.

Kalender pariwisata      
Kulminasi matahari terjadi dua kali dalam setahun, namun hanya pada setiap 21 September diacarakan dan masuk dalam kalender ‘event’ pariwisata Kota Pontianak. Walikota Pontianak, Buchary Abdurrahman, mengatakan, momen peringatan titik kulminasi matahari sangat penting, karena pada saat terjadi kulminasi, semua benda yang berdiri tegak akan tampak tidak berbayang.

Ia mengatakan, momen penting seperti titik kulminasi, bukan saja menjadi aset Pemerintah Kota Pontianak tetapi juga merupakan aset nasional yang harus dikembangkan dan dilestarikan.
Diakuinya, acara guna menyaksikan fenomena alam itu, mesti dikemas lebih baik lagi agar para wisatawan luar Kalbar tertarik untuk menyaksikannya secara langsung.

Peristiwa kulminasi matahari, maksudnya adalah, matahari melintasi garis khatulistiwa/equator secara tetap. Itu terjadi dua kali dalam setahun, yakni pada 21-23 Maret dengan titik kulminasi tepat pukul 11.50 WIB, dan 21-23 September dengan titik kulminasi tepat pada pukul 11.35 WIB.
Selain melewati Kota Pontianak, garis khatulistiwa juga melewati beberapa kota lainnya di Indonesia, dan lima negara di Afrika, yaitu Gabon, Zaire, Uganda, Kenya dan Somalia. Di Amerika Latin, garis itu juga melintasi empat negara yaitu, Equador, Peru, Columbia dan Brazil.

“Dari semua kota atau negara yang dilewati tersebut, hanya ada satu di dunia ini yang dibelah atau dilintasi secara persis oleh garis khatulistiwa yaitu Kota Pontianak. Karena itu, Pontianak mempunyai ‘trade mark’ Kota Khatulistiwa,” ujarnya.

Untuk menjadikan kawasan Tugu Khatulistiwa memiliki daya tarik dan nilai jual yang lebih bagi turis asing, maka perlu penanganan  secara komersial dan profesional. “Kami berencana akan menata dan mengembangkannya,” ujarnya.

Ia menambahkan, dalam upaya pengembangan Tugu Khatulistiwa, Pemkot telah merintis kerjasama dengan Badan Penelitian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan “Observatorium Bosscha” di Bandung untuk membangun “Sundial”, sehingga masyarakat luas dapat secara jelas menyaksikan matahari berkulminasi.
“Tidak seperti sekarang, untuk menyaksikan titik kulminasi harus saling berdempetan dan saling dorong-mendorong,” katanya.

Pemkot Pontianak merangkai acara peringatan titik kulminasi tersebut dengan berbagai acara kesenian, seperti tari jepin Tembong dari sanggar Bogenville, tari Dayak dari sanggar Borneo Trigas,  atraksi Kuda Lumping oleh sanggar Margotrisno, dan kesenian musik Tanjidor dari Tanjung Besiku, Kampung Dalam, kompleks Kesultanan Pontianak.

Bersamaan dengan itu, juga akan dilakukan penyerahan hadiah pemenang lomba gapura se-Kota Pontianak, perlombaan beduk, dan perlombaan melantunkan syair Melayu dan berbalas pantun.
Kepala Dinas Pariwisata dan Informasi Kota Pontianak, Winarto, mengatakan, peringatan titik kulminasi sengaja dikemas dengan berbagai acara kesenian.
“Peringatan titik kulminasi hanya beberapa menit saja, sehingga kalau tidak diikuti acara kesenian lainnya, maka minat turis asing yang akan menyaksikan akan berkurang,” ujar Winarto.

Sejarah Tugu Khatulistiwa

Tugu Khatulistiwa Pontianak dibangun pada 1928 oleh tim Ekspedisi Geograpi Internasional yang dipimpin oleh seorang ahli Geografi berkebangsaan Belanda. Mereka melakukan pengukuran tanpa mempergunakan alat yang canggih seperti satelit atau GPS, dan hanya berpatokan pada garis yang tidak “Smooth” (garis yang tidak rata/bergelombang).

Kemudian pada Maret tahun 2005, kembali posisi tugu khatulistiwa diukur tim dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) berkerja sama dengan Pemerintah Kota Pontianak menggunakan satelit, ternyata terdapat perbedaan 115 m dari posisi yang asli ke arah selatan khatulistiwa.

Perbedaan antara Pengukuran Astronomi dan Satelit, tidak perlu diperdebatkan. “Kita harus menghargai jerih payah orang-orang terdahulu sebelum pengukuran secara satelit ditemukan,” kata Buchary.
Tugu khatulistiwa yang asli terbuat dari kayu Belian (kayu Besi, atau kayu ulin) terdiri dari empat tonggak yang mana tonggak bagian depan dengan tinggi 3,05 meter dari permukaan tanah, tonggak bagian belakang dengan tinggi 4,40 meter dari permukaan tanah.
Keterangan simbol berupa anak panah menunjukkan arah utara selatan (lintang 0 derajat). Keterangan simbol berupa flat lingkaran yang bertuliskan EVENAAR menunjukkan belahan garis khatulistiwanya atau batas utara dan selatan.

Tugu khatulistiwa mempunyai beberapa tahap penyempurnaan dari tahun 1928. Yakni pada 1930 disempurnakan dengan tonggak, lingkaran beserta tanda panah.
Kemudian tahun 1938 disempurnakan lagi oleh arsitek Silaban dengan lingkaran, kemudian pada 1990-1991 dibangun duplikat Tugu Khatulistiwa beserta kubah menggunakan semen, diresmikan pada 21 September 1991 Oleh Gubenur Kalbar (waktu itu) Parjoko Suryo Kusomo.

Sumber : (Anspek/t) Harian SIB


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.