Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Kamis
26
Okt '06

Dari Berastagi ke Gundaling Hill


 Gunung Sibayak dari Gundaling HillSIBAYAK dan Sinabung bukanlah gunung utama di pulau Sumatera. Dibanding Kerinci atau Leuser popularitasnya masih berada beberapa tingkat di bawahnya. Namun, gunung-gunung kecil yang terletak di Kabupaten Karo, Sumatera Utara itu bukan sama sekali tak punya sisi kemenarikan. Sibayak dan Sinabung bahkan telah menjadi semacam ikon pariwisata Tanah Karo Simalem.

Memandang Sibayak dari kejauhan, kita seperti tengah memandang lanskap Jepang atau negeri-negeri Eropa. Puncaknya yang bersemburat warna keputih-putihan itu, sepintas seperti tumpukan salju. Padahal itu cuma leleran material vulkanik yang keluar dari lubang kepundan. Tak hanya itu, lanskap masih dimanjakan oleh deretan pohon pinus serta hawa sejuk pegunungan.

Pada perjalanan dari kota Berastagi menuju Gundaling Hill, salah satu objek wisata di Dataran Tinggi Karo, beberapa waktu lalu, kami menyempatkan diri berhenti di sebuah punggungan bukit. Dari sana, Sibayak yang berketinggian 2.094 meter di atas permukaan laut (dpl) itu terlihat anggun. Meski tak terlampau agung, tapi cukup membuat kagum.

Andai ada kepulan asap dari kepundannya, tentu keindahan Sibayak jadi makin sempurna. Tak ingin melewatkan kesempatan, kami segera mengarahkan lensa kamera ke arahnya, dengan latar depan reranting dan dedaunan cemara.

Sibayak dalam bahasa Karo berarti ‘’raja'’. Konon pada masa lalu, Tanah Karo diperintah oleh lima orang Raja, yakni Sibayak Lingga, Sarinembah, Suka, Barusjahe dan Kutabuluh. Nah, Gunung Sibayak merupakan representasi dari kekuasaan mereka.

Kalau saja, saat itu punya cukup waktu, kami ingin sekali mendakinya. Dari cerita yang kami dengar, alam Sibayak amat kaya dan memesona. Sungai-sungainya berair jernih, ekosistemnya masih cukup terjaga, sementara puncaknya senantiasa hangat oleh gelegak magma. Masih ada lagi kemenarikan yang lain, yakni keindahan panorama yang terhampar di sepanjang jalur pendakian, dari kaki gunung hingga Takal Kuda (puncak tertinggi Gunung Sibayak). Karena amat terburu-buru, dengan terpaksa kami cuma bisa membayangkan saja: berada di Takal Kuda, menikmati kerlip bintang di hari malam, mengagumi matahari terbit di kaki langit, atau memandang Bukit Barisan yang membentang panjang dari utara ke selatan.

Perjalanan kami lanjutkan, melalui jalan aspal yang berkelok-kelok dan naik-turun bagaikan ular. Tak terlampau lebar memang, tapi relatif bagus dan mulus. Yang menarik, jalan dari Berastagi menuju Gundaling Hill itu dibuat satu arah, hingga kami tak perlu mengkhawatirkan datangnya kendaraan dari arah berlawanan. Selain Gunung Sibayak, banyak panorama menarik yang terlihat di sepanjang perjalanan yang memakan waktu sekitar 30 menit itu. Di sebelah barat ada Gunung Sinabung, sedangkan di arah timur tegak berdiri Gunung Baros menaungi kota Berastagi.

Tenang

Sesuai namanya, Gundaling Hill adalah bukit berketinggian 1.575 meter dpl. Suasananya tenang, karena jauh dari keramaian. Warga Kota Medan dan sekitarnya kerap menggunakan kawasan ini untuk tetirah di akhir pekan atau saat musim liburan. Di situ, pengunjung dapat berjalan-jalan mengelilingi taman yang dirindangi aneka pepohonan: pinus merkusii, Toona surei, durian, dadap, rambutan, pulai, hingga aren dan Rotan. Kalau beruntung, kita dapat melihat beberapa jenis hewan seperti monyet, rusa, elang, atau babi hutan. Kalau malas berjalan kaki untuk berkeliling lokasi, tersedia angkutan berupa kuda. Tarifnya lumayan mahal. Rp 60.000 tiap jam. Tapi untuk tujuan yang berjarak pasti, bisa dinegosiasi.

Lantaran bukan hari libur, suasana Gundaling Hill hari itu relatif sepi. Warung-warung makan dan hanyabeberapa kios suvenir yang buka. Tidak mengapa, justru dalam suasana seperti itu kami dapat menikmati keindahan alam secara leluasa. Dari sebuah tempat di situ, kami bisa memandang kembali Gunung Sibayak, Gunung Sinabung dan beberapa gunung kecil lain yang seperti bermunculan di dataran mahaluas. Elok dan menggetarkan.
Perempuan petani Berastagi

 Bebuahan segar Berastagi Dari Gundaling Hill kami kembali ke Berastagi. Namun di tengah perjalanan harus berhenti untuk melihat aktivitas penduduk desa di ladang berikut bagaimana mereka merawat kuda-kuda di kandang. Di sebuah gubuk, dua perempuan muda ditemani seorang bocah berusia balita tengah bersiap-siap menggarap ladang. Mereka mengenakan sepatu bot sebagai pelindung kaki dan topi lebar untuk meredam terik matahari. Karena belum masanya panen, para petani, termasuk dua perempuan itu bekerja menyiangi tanaman sayur dan bebuahan. Dari gubuk mereka berjalan beriringan menuju ladang yang hanya berjarak sekitar 50 meter, diikuti anjing-anjing piaraan.

Laiknya daerah pegunungan berhawa sejuk pada umumnya, Berastagi juga merupakan penghasil sayur-mayur, bebungaan dan bebuahan. Di kawasan ini, ribuan hektar ladang terbentang, baik di dataran maupun lereng-lereng pebukitan. Hasil produksinya memenuhi kebutuhan masyarakat Medan dan kota-kota lain di Sumatera Utara. Di antara beragam varietas sayur, bunga, dan buah yang ditanam, hanya beberapa yang dijadikan produk unggulan. Yakni, buah markisa, jeruk manis, dan terong Belanda. Ketiganya bahkan telah menjadi semacam tanaman khas daerah Berastagi.

Bebuahan segar Berastagi
 Perempuan petani Berastagi Di Pajak (pasar) Buah Berastagi, semua hasil pertanian mudah sekali ditemukan. Para pedagang menjajakannya di kios-kios yang tertata rapi. Ada kubis, wortel, mangga, salak, kesemek, jeruk, apel, dan labu mi. Buah yang disebut terakhir adalah sejenis labu Siam, hanya saja bentuk daging buahnya menyerupai mi. Adapun bunga yang dijual di tempat itu juga cukup beragam antara lain lili, dahlia, dan mawar.

Khusus markisa dan terong Belanda, pengunjung dapat memilih bentuk produk yang mereka suka, baik yang masih berupa buah segar atau sudah diolah menjadi jus dan dikemas dalam botol. Karena dalam bentuk aslinya, buah markisa dan terong Belanda berasa masam dan mengandung banyak biji-bijian, pengunjung cenderung menyukai yang berbentuk olahan. Selain lebih praktis, rasanya juga manis. Satu botol jus markisa atau jus terong Belanda ukuran satu liter dijual antara Rp 17.500- Rp 20.000. Pedagang biasanya menyarankan pengunjung membeli satu paket yang berisi dua botol, jus markisa dan terong belanda. Paket itu dikemas rapi dalam sebuah kotak kardus sehingga mudah untuk dibawa pulang.

Selain sayur, bunga dan buah-buahan, sebagian kios di Pajak Buah Berastagi juga menjual aneka suvenir untuk kenang-kenangan. Banyak pilihan, dari sekadar gantungan kunci, kaos, kain ulos, gelang, kalung, kopiah, sendal bermotif etnik, hingga yang menarik yaitu kalender Batak. Bah, apa pula itu? Berbeda dari kalender masehi pada umumnya, ia dibuat dari material kayu dan bambu. Kayu diukir sedemikian rupa, biasanya bermotif rumah adat Batak. Adapun bilah-bilah bambu yang digantung di kayu berukir itu bertuliskan angka-angka tanggal yang menyerupai simbol arkais. Sayang, pedagang suvenir yang kami tanyai tak mampu menjelaskan cara membaca kalender antik tersebut. ‘’Maaf Dik, saya sendiri juga tidak paham,'’ ujarnya jujur.

Memadai

Sebagai kota wisata, Berastagi didukung infrastruktur yang memadai. Meski kecil, kota yang berjarak sekitar 66 km arah barat daya Medan itu punya banyak pilihan hotel dan restoran, dari kelas melati hingga bintang empat yang berstandar internasional. Akses jalan, baik dari Kota Medan maupun Kabanjahe, ibu kota Kabupaten Karo cukup bagus, yakni berupa jalur trans-Sumatera. Berastagi bagi Medan, tak ubahnya Puncak bagi Jakarta, atau Bandungan bagi Semarang. Pada hari libur dan akhir pekan, banyak warga kota yang berbondong-bondong menuju ke sana. Tak heran jika pada waktu-waktu semacam itu kerap terjadi kemacetan di jalur Medan-Berastagi. Jika waktu tempuh normal kedua kota itu sekitar 1,5- 2 jam, pada saat liburan bisa berjam-jam.

Di sepanjang jalur Medan-Berastagi saja sudah bertebaran objek-objek wisata menarik. Taruh misal Sembahe, sebuah tempat pemandian yang berair jernih dan berhawa sejuk. Lalu Sibolangit, kawasan hutan wisata yang pernah masyhur lantaran dijadikan sebagai lokasi Jambore tingkat nasional dan internasional. Di tempat itu dapat dinikmati pula kekayaan flora dan fauna khas Sumatera. Kalau lelah di perjalanan, ada sebuah tempat di jalur Medan-Berastagi yang bisa digunakan untuk beristirahat sejenak. Tempat itu bernama Penatapen, yang dalam bahasa Karo berarti ‘’pemandangan'’. Dinamakan demikian, karena dari sana, seseorang bisa melihat pemandangan luas ke arah Bandarbaru, Kota Medan, Air Terjun Sikulikap, atau jalur pendakian ke Gunung Sibayak. Sebagai teman melepas penat, banyak pedagang yang menjajakan jagung rebus dan jagung bakar. Masih ada lagi pemandian air panas Lau Debuk-debuk, Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Barisan, Kampung Lingga, sebuah kampung adat Batak Karo yang unik, serta air terjun Sipiso-piso yang ketinggiannya mencapai 1.200 m dpl. Ya, sekali lagi sayang, waktu yang kami miliki tak memungkinkan untuk mendatangi semua objek wisata tersebut. (Rukardi,Agus Toto W, Saktia Andri S-13)
***

Dua Ikon Keunikan Medan

PAGI mulai terasa hangat di Istana Maimun, Jalan Brigjen Katamso, Medan, Sumatera Utara. Tiga siswi berseragam abu-abu putih berdiri di depan gapura utama pada halaman istana. Masing-masing memegang selembar kertas, dan mereka berdialog. Sesekali mereka memandang ke bangunan Istana Maimun yang kokoh itu. Kicau burung terdengar menambah nyaman suasana.

Halaman Istana Kesultanan Deli yang luas dan dipenuhi hamparan rumput serta pohon-pohon rindang itu menjadi pilihan mereka untuk belajar membaca puisi dan berlatih gerak teater. Kesemrawutan lalu lintas di jalan raya depan istana seolah-olah tak terasakan.

Ya, salah satu keunikan Kota Medan memang bisa dijumpai di istana peninggalan Kesultanan Deli itu. Tidak hanya gaya arsitekturnya, kompleks istana itu juga digunakan warga untuk bernyaman-nyaman belajar. Suasana itu tampak kontras dengan kondisi kota itu yang panas, lalu lintas semrawut, dan sesak. Lihat saja lalu lintas di Jalan Brigjen Katamso. Lampu pengatur lalu lintas seperti hanya jadi simbol bahwa ada aturan main di jalan raya. Sementara mobil dan sepeda motor terus saja melaju ketika lampu menyala merah. Becak motor atau becak mesin juga ikut berebut untuk lekas mengantar penumpangnya sampai di tujuan.

Lihat juga di Jalan Sisingamangraja, tepatnya di simpang raya depan Masjid Raya Al Mashun atau sekitar 200 meter dari Istana Maimun. Hampir semua kendaraan berebut untuk melintas lebih awal, entah lampu hijau menyala dari jalur yang mana.

Untungnya, selama lima hari di Kota Medan, kami belum menemui adanya kecelakaan. Tapi setiap kali menumpang becak motor, rasa was-was menyungsang hati kami. Ketika menumpang becak motor, kami pernah mengingatkan kepada pengemudi yang terus melaju kendati lampu pengatur lalu lintas menyala merah.

‘’Ini Medan, Bung!'’ ujar Darwin Purba, pengemudi becak motor itu, singkat. Jawaban yang terdengar singkat, padat, lugas. Mungkin dia ingin menekankan kepada pengunjung Kota Medan setelah tahu kami berasal dari luar kota.

Kelugasan itu bukan berarti lantas mengajak duel dan ingin menangnya sendiri. Buktinya, saat kendaraan kami berada di tengah jalan simpang raya, kendaraan lain dipersilakan untuk melaju terlebih dulu.

Keramahan

Ketika berbincang dengan beberapa pengemudi becak, tukang ojek, dan sopir angkutan umum, kami juga menemui cerminan keramahan. Petugas keamanan hotel tempat kami menginap juga siap mengantar, kendati malam sudah larut.

Dan keramahan itu terasa benar kalau Anda mengunjungi Istana Maimun. Apalagi lokasinya gampang dijangkau para pendatang, baik dari Bandara Polonia yang berjarak sekitar 10 km, maupun dari Pelabuhan Belawan (sekitar 28 km). Tak hanya ramah pada pelajar yang berlatih teater, tapi juga pada penjual makanan yang gampang ditemui di kompleks tersebut. Mereka yang berjualan pada umumnya para kerabat kesultanan.

Penting dicatat, Istana Maimun didirikan oleh Sultan Kerajaan Deli, Sultan Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah. Pendesainnya adalah seorang arsitek Italia, dan rampung pada tahun 1888. Bangunan yang menghadap ke timur itu berdiri di atas lahan seluas 2.772 meter persegi.

Bangunan istana terdiri dari dua lantai yang terbagi dalam tiga bagian. Bagian depan merupakan bangunan induk, lalu melebar di sayap kiri dan sayap kanan. Meski bangunan itu didominasi warna kuning, bukan berarti memiliki hubungan erat dengan sebuah partai politik. Menurut keterangan dari Pemerintah Kota Medan, warna kuning itu sebagai perlambang keemasan Kerajaan Deli yang subur makmur dengan perkebunannya.

Memasuki ruangan tamu atau balairung akan dijumpai singgasana yang juga didominasi warna kuning. Lampu-lampu kristal menerangi singgasana. Itu bukti keterpengaruhan kebudayaan Eropa di situ. Pengaruh itu juga tampak pada perabotan istana seperti kursi, meja toilet dan lemari hingga pintu dorong menuju balairung.

Ruangan seluas 412 meter persegi itu digunakan untuk acara penobatan Sultan Deli atau acara adat lainnya. Data Pemkot Medan juga menyebut balairung dipakai sebagai tempat sultan menerima sembah sujud dari sanak familinya pada hari-hari besar Islam.

Kamar-kamar di dalamnya berjumlah 40 ruang. Kamar tersebut terdiri atas 20 kamar di lantai atas tempat singgasana Sultan dan 20 kamar di bagian bawah. Itu belum termasuk empat kamar mandi, gudang, dapur, dan penjara di lantai bawah. Istana itu menyimpan foto-foto keluarga, perabotan, dan senjata-senjata kuno. ‘’Kalau ingin berfoto dengan busana gaya Melayu juga bisa,'’ kata seorang kerabat kesultanan. Sayang sekali, pagi itu penjaganya belum datang sehingga kami tidak bisa mencoba mengenakan pakaian adat Melayu.

Bagaimana dengan pengaruh budaya Islam pada arsitektur istana? Itu bisa dijumpai pada lengkungan-lengkungan di bagian atap, mirip bentuk kubah. Pola arsitektur Belanda dengan pintu serta jendela yang lebar dan tinggi. Pengaruh Belanda tampak pula pada prasasti marmer di depan tangga yang ditulis dengan bahasa Belanda. Adapun pintu-pintu Istana Maimun lebih bergaya Spanyol. Sungguh suatu perpaduan beragam pola arsitektur yang menarik untuk dicermati.

Bukan hanya Istana Maimun yang menambah keunikan kota Medan. Masjid Raya Al Mashun juga contoh keunikan lain. Apalagi ia juga menjadi ikon kota yang berpenduduk sekitar 2 juta jiwa tersebut. Di kompleks masjid itu pula keluarga Sultan Deli dimakamkan, termasuk Sultan Deli Letkol (Inf) Tito Otman Perkasa Alam yang tewas dalam kecelakaan pesawat jenis CN 235 milik TNI Angkatan Udara yang jatuh di Bandara Malikus Saleh, Lhokseumawe, Aceh Utara pada 21 Juli lalu. Kerabat Sultan Deli yang juga Gubernur Sumatera Utara Tengku Rizal Nurdin yang tewas dalam kecelakaan Mandala Airlines pada (5/9) di Jalan Jamin Ginting, Padang Bulan, Medan juga dimakamkan di kompleks itu, berdekatan dengan makam Sultan Tito.

Masjid Raya ini adalah salah satu peninggalan Sultan Deli di Sumatera Utara setelah Istana Maimun. Masjid yang disebut-sebut sebagai yang terindah dan terbesar di Sumatera Utara itu masih dipergunakan oleh masyarakat muslim untuk salat setiap hari. Dibangun pada tahun 1906 oleh Sultan Makmun Al Rasyid, dan dipergunakan pertama kali pada 19 September 1909.

Yang pasti keanggunan kedua bangunan peninggalan Kesultanan Deli itu selain menjadi ikon keunikan Kota Medan, juga menawarkan kemarahan dan kenyamanan. Sesuatu yang sungguh bernilai di balik semboyan orang Medan yang lugas: Ini Medan, Bung!

Sumber : ( Agus Toto W, Rukardi-13) Suara Merdeka


Ada 3 tanggapan untuk artikel “Dari Berastagi ke Gundaling Hill”

  1. Tanggapan Franky Fransiskus Silaban:

    brastagi…sudah lama aku menantimu ternyata bukan hanya cerita aja, tuggu kedatanganku yaaaaaaa…

  2. Tanggapan Charly Silaban:

    Gabe masihol iba manginum markisa…!

  3. Tanggapan elita sari lubis:

    madung deges do dai Silaban artikel mon. Au pe antong sian Batak Mandailing na godang ma rohakku maligi halak na sian huta ni hita an malo songoni. Toruskon ma antong parjuanganmu, asa laing hita obanma goar ni Batak tu dunia on. Laing tarkobulkon ma nian sinta2 ta on. (elita sari lubis)

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Viky Sianipar: Musik Tradisi ke Panggung Dunia
Artikel selanjutnya :
   » » Iwan: Mau Dibawa Ke KPK Silakan…