Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Minggu
15
Okt '06

Membangun Tradisi Tanpa Sikap Tradisional


Kehidupan kebudayaan berlangsung dalam pasang surut antara pemantapan
kebudayaan itu dalam tradisi dan pembaruan kebudayaan itu melalui perubahan dan reformasi. Kebudayaan itu merupakan sesuatu yang kontinum dan diskontinum (iqnas Kleden, 1986)

Pengantar
Sejarah adalah sebuah proses dialektik yang menyiasati antara kontinuitas dan diskontinuitas, kompetisi antara konsolidasi dan transformasi, suksesi antara order dan change atau dalam pengungkapan Soekarno disebutkan bahwa sejarah adalah semacam simfoni revolusioner yang bermula dari upaya menjebol dan membangunnya kembali.

Kaitannya dengan kebudayaan adalah bahwa kebudayaan termasuk sebagai proses dialektik antara ketenangan dan kegelisahan, antara penemuan dan pencarian, antara integrasi dan disintegrasi antara tradisi dan reformasi. Itu berarti, dalam kebudayaan ada semacam daya dorong yang mengakibatkan terjadinya sesuatu hal, katakanlah yang mengakibatkan seseorang menjadi tenang dan gelisah, upaya menemukan dan upaya mencarikan yang dilakukan oleh manusia sebagai pelaku kebudayaan.

Menyikapi adanya proses pencarian identitas kebudayaan nasional sebagai benteng untuk menyaring atau menjaga kebudayaan nasional dari terpaan budaya asing, adalah sebagai gejala kekhawatiran akan lenyapnya kebudayaan nasional yang bersumber dari pemerkayaan kebudayaan daerah. Akan tetapi upaya itu tidak berhasil karena sesungguhnya yang kita lakukan adalah menentang kebudayaan asing itu dengan membiarkan kebudayaan nasional (daerah) lepas dari pengkajian-pengkajian dalam menemukan identitasnya kembali.

TRADISI DAN TRANSFORMASI
Persoalan yang harus dipertanyakan terhadap tiap-tiap kebudayaan, tak terkecuali kebudayaan Indonesia (modern) adalah efek mana saja yang ditimbulkan oleh tradisi dan reformasi dalam kebudayaan yang bersangkutan, apakah perimbangan antara keduanya masih merupakan perimbangan yang kreatif, atau barangkali terlalu unggulnya salah satu dari keduanya justru telah membawa resiko yang terlalu besar bagi kebudayaan yang bersangkutan, baik resiko terhadap identitas maupun resiko terhadap pembaruan kebudayaan.

Ini berarti bahwa dengan mengandalkan tradisi dan integrasi, suatu kebudayaan akan terpelihara identitasnya, terjamin kelanjutannya tetapi belum terjamin perkembangan lebih lanjut. Sebaliknya, dengan mengandalkan transformasi atau hanya dengan mengutamakan reformasi dalam suatu kebudayaan, muncul resiko bahwa terjadi disintegrasi identitas sementara belum dapat dipastikan apakah suatu identitas yang baru dapat memberikan rasa aman dan pegangan baru yang lebih disukai.

Tingginya angka untuk melanjutkan studi keluar negeri misalnya, akan mengakibatkan paling tidak lima hal dibawah ini seperti: pertama perlakuan sederajat yang mereka terima (dimana mereka hidup di negeri asing) sama dengan orang-orang yang tinggal di negeri asing itu. Kedua, munculnya ketercerabutan mereka terhadap budaya lokal dan kebudayaan daerah. Ketiga bahwa kepalsuan dari gambaran dimana mereka tinggal. Keempat yakni bahwa dengan berbekal jenjang tinggi serta pendidikan yang mereka peroleh telah mempersiapkan keinginan mereka pada posisi (calon) pemimpin serta yang kelima adalah bahwa mereka memiliki kesempatan luas untuk memikirkan ideologi.

Setidaknya, keadaan ini akan memberikan warna bagi kebudayaan Indonesia yang tengah dicarikan identitasnya atau paling tidak kebertahanannya. Untuk masa sekarang, Untuk kasus Indonesia, kebudayaan sering sekali dijadikan sebagai alat politik, sebagai asset dalam pertarungan politik tak ubahnya seperti sebuah komuditas industri. Kebudayaan politik (political culture) ini ditandai oleh adanya upaya-upaya untuk menangani politik kebudayaan (cultural potilic) (Emerson, 1976).

Dengan begitu, tidak pernah tercapai suatu perubahan kebudayaan yang signifikan. Bisa dibayangkan, akan terputus upaya yang telah dikembangkan ketika pemimpinnya pun selesai masa kerjanya. Apa yang telah dikembangkan oleh Soekarno yaitu membangun kebudayaan nasional, ternyata tidak dilanjutkan oleh pemimpin orde baru. Dalam dirinya ada semacam xenophobia terhadap budaya luar tetapi tidak mengemukakan dan menyampaikan komunismephobia.

Dalam uraian yang lebih luas, dalam kancah kehidupan bernegara dan berbangsa, ada hubungan antara kebangsaan dan persatuan yang berkaitan dengan tradisi, yaitu mencakup : pertama bahwa kebudayaan daerah direlativisir untuk memberi tempat bagi kesadaran nasional atau cultural solidarity group. Yang kedua adalah bahwa kebudayaan daerah yang menjadi referensi kelompok etnis dipertemukan sebagai sumber daya bagi suatu kebudayaan persatuan yang masih harus dikembangkan yang pada akhirnya kebudayaan daerah menjadi unsur utama pembentuk budaya nasional. Itu berarti kebudayaan daerah dimanfaatkan secara telologisnya daripada strategisnya (Kleden, 1986).

Di pihak lain, gerakan untuk kebudayaan baru atau kemudian gerakan untuk modernisasi, melihat kemunculannya justru ditandai oleh putusnya hubungan dengan tradisi. Seakan-akan dianggap tidak adanya suatu kontinum antara kebudayaan-kebudayaan tradisional dengan kebudayaan baru. Kebudayaan tradisional dipandang statis, mengutamakan sifat kolektif anonim dan mistis. Sedangkan kebudayaan baru yang dianggap lebih beradap sebagai kebudayaan baru Indonesia yang memiliki syarat-syarat seperti individualisme, egoisme, intelektualisme dan materialisme.

NASIONALISASI KEBUDAYAAN
Terdapat dua hal yang memiliki peranan yang lebih besar menyoal stabilitas nasional dan kepribadian bangsa. Stabilitas nasional berperan besar sebagai anti kritik sedangkan kepribadian bangsa berperan sebagai anti konsep. Yang pertama merupakan instrumen konseptual yang sangat dekat dengan masalah security dan banyak berfungsi untuk membantu mechanics of power sedang yang kedua merupakan instrumen konseptual yang dekat dengan masalah legitimasi dan banyak berfungsi untuk mendukung aesthethics of power. Kalau yang pertama buat sebagian dapat diterangkan secara ilmu politik (political science) maka aesthethics of power harus dijelaskan oleh semacam metafisika politik (political methaphysics) (Geertz, 1980).

Secara singkat, baik mengenai kebudayaan nasional dalam masa Soekarno maupun mengenai kepribadian bangsa dalam masa Soeharto tidak pernah ada suatu defenisi yang cukup jelas dan dapat diterima luas yang dapat menjadi pegangan bagi orang-orang yang bekerja dalam bidang kebudayaan. Jika ini dianggap sebagai sebuah kelalaian memberikan kerangka dan isi kepada konsep itu, sehigga satu-satunya yang ada hanyalah defenisi politis yang serba umum dan kabur yang diinterpretasikan berdasarkan kepentingan politik.

Inilah sebab utamanya, bahwa selama tidak ada kesulitan dengan kekuasaan politik, maka masalah kebudayaan nasional dan kepribadian bangsa pun tidak pernah menjadi masalah bagi pemerintah. Sebaliknya, jika terjadi kritik yang cukup beralasan terhadap suatu kebijakan dan implementasi pemerintah, maka kontra argumen yang bersifat estetik terdengar kembali, dimana suatu kritik bisa ditolak atau diabaikan karena cara-cara menyampaikannya tidak sesuai dengan halusnya kepribadian bangsa.

Anggapan yang memandang kebudayaan baru sebagai kebudayaan yang terputus dari tradisi, praktek kesenian baru yang meninggalkan praktek kesenian rakyat dan memandang kesenian barat sebagai modelnya serta kaburnya konsep kebudayaan nasional dan kepribadian bangsa yang tidak pernah digarap defenisinya secara ilmiah telah menyebabkan beberapa akibat yang dilematis dan problematik terhadap kehidupan kebudayaan kontemporer.

Di pihak lain, tidak jelasnya konsep kebudayaan nasional dan ketidakjelasan hubungan antara kebudayaan baru dengan kebudayaan tradisional dalam kerangka pembentukan kebudayaan nasional, telah menyebabkan bahwa dalam perkembangan sekarang kebudayaan nasional lebih menjadi isyu politik daripada isyu kebudayaan. Daripada menjadi semacam cultural entity atau suatu sociological fact, kebudayaan nasional/kepribadian bangsa lebih banyak dihayati sebagai political norm yang diberlakukan secara asimetris.

Dari segi kebudayaan dapat diterangkan perkembangan kebudayaan dalam masa orde lama dengan orde baru. Dalam orde lama, slogan kebudayaan nasional merupakan alat untuk mempersatukan berbagai kebudayaan daerah yang didukung oleh berbagai-bagai kelompok etnis. Dalam perkembangannya kemudian, digunakan untuk menolak kebudayaan barat. Yang terjadi sebenarnya adalah proses nasionalisasi kebudayaan daerah. Kebudayaan nasional yang belum jelas wujudnya ternyata dapat menjadi slogan kuat untuk menentang dan menolak kebudayaan barat, tetapi belum menjadi kenyataan yang cukup kuat untuk menggantikan kebudayaan tradisional. Sedang dalam orde baru, kebudayaan barat dan gaya hidup negara maju masuk dengan leluasa bersama modal asing, tenaga kerja asing dan alat-alat komunikasi modern yang semuanya diperlukan secara mutlak oleh pembangunan ekonomi.

Dengan demikian, kebudayaan nasional atau kepribadian bangsa tidak dapat dipakai sebagai alat kontrol gaya hidup internasional yang memang dimungkinkan oleh hasil-hasil pembangunan ekonomi yang memakai strategi production centered (Kleden, 1986) Kebudayaan nasional/kepribadian bangsa itu cenderung digunakan sebagai alat kontrol untuk mengawasi gaya politik dan gaya intelektual. Dalam bidang politik misalnya, tidak diperkenankan adanya oposisi, sedang dalam intelektual setiap pemikiran kritis harus memenuhi syarat-syarat estetika sopan santun menurut tuntutan kebudayaan nasional dan kepribadian bangsa.

Sementara itu, perluasan dan ekspresi gaya hidup dan usaha ekonomi perusahaan asing telah menerobos setiap sendi yang disamping mengancam usaha ekonomi tradisional masyarakat, mengancam pula kebudayaan tradisional, sebelum kebudayaan itu sanggup digantikan oleh kebudayaan nasional yang kuat dan tangguh. Ternyata, kecenderungan nasionalisasi kebudayaan pada masa orde lama digantikan oleh kecenderungan internasionalisasi kebudayaan pada masa orde baru.

PENUTUP
Barangkali dengan bertanya kembali terhadap kebudayaan nasional dan kepribadian bangsa kita saat sekarang, maka kitapun tak jarang akan menemui sejumlah kesulitan untuk menguraikannya. Kondisi demikian muncul karena kebudayan yang kita anut sekarang sebagai kebudayaan nasional tidak tumbuh pada tempatnya atau lahir bukan sebagai kebudayaan tradisional.

Pada waktu kita sedang membangun sebuah kebudayaan nasional, dan pemenuhan kebutuhan bangsa lewat pembangunan, pada waktu itu pula tawaran dan guncangan terhadap berbagai kebudayaan kita berdatangan, sedang kita belum mendapatkan suatu identitas budaya nasional dan apalagi kepribadian bangsa. Kita juga tak jarang mengemukakan bahwa kita tidak mungkin berhaluan barat, tetapi lebih cenderung ke timur, sedangkan kitapun tidak mampu memberikan pendapat yang disebut sebagai budaya timur yang dimaksud.

Agaknya perlu dilakukan ulang pengkajian mendalam untuk menemukan kembali kebudayaan nasional kita serta kepribadian bangsa kita yang bersumber dari kebudayaan tradisional. Membangun tradisi tanpa sikap tradisional atau menjadi maju dan modern bersama tradisi tanpa dikungkungi oleh sikap-sikap tradisonal.

Oleh : Erond, Litno Damanik, M.Si
Penulis :P emerhati Pendidikan, Pembangunan Sosial dan Kemasyarakatan: Ketua Center for Cultural Study and Rural Community Development (SIMETRI)

Sumber : Harian SIB


Ada 4 tanggapan untuk artikel “Membangun Tradisi Tanpa Sikap Tradisional”

  1. Tanggapan sabar tambunan:

    Horas,

    Bangsa YAHUDI maju karena adat dan tradisinya. Begitu juga dengan bangsa Jepang, India, Skotlandia dan Irlandia, Korea, dan Italia.

    Untuk putaran pertama (hasil generasi pertama yang merantau), memang bangsa batak lumayanlah kemajuannya. Yakni, Orang Batak sampai saat ini memiliki tingkat pendidikan rata-rata tertinggi di Indonesia!! Ini juga tak lepas karena didasari oleh semangat dan nilai-nilai yang terkandung dalam adat dan budayanya yang kuat.

    Bagaimana dengan putaran kedua berikut ?? Sudah banyak muncul keluhan, “adat itu boros waktu dan boros biaya”. Bagi yang masih miskin dan generasi muda ini masalah serius !

    Dimana masalahnya??? Begini masalahnya. Yaitu imbalannya apa dong kalau kita ber’adat’, cuma buang biaya dan buang waktu..?? Bagi orang kaya mungkin tak masalah, cukuplah imbalannya silaturrahmi dan bukti orang lihat bahwa dia mampu melaksanakan adat.

    Jangan lupa, adat dan budaya batak berangkat tumbuh berkembang dari masyarakat agraris yang tradisional. Nah, sekarang khan orang batak di perantuan bukan lagi masyarakat agraris. Sudah menjadi masyarakat urban dalam kehidupan modern dan kota-kota besar. Kerja beragam profesi ; sebagai supir, dokter, tukang ledeng, pengacara, pengusaha dan lain-lain.

    Sebagai sebuah gugatan kritis ” Apakah adat dan budaya Batak masih diperlukan ? ” Jawaban saat ini, TIDAK PERLU ! Adat dan Budaya Batak harus berubah segera secara dinamis dan kreatif. Agar mampu berguna dalam membawa kemajuan bangsa batak ke-depan.

    Banyak tantangan yang semakin berat dalam kehidupan di Indonesia ke-depan ; biaya pendidikan dan kesehatan semakin mahal, lapangan pekerjaan terbatas, narkoba dan Internet Addictive Disorder menggila, kehidupan hedonis dan konsumerism merajalela, bisnis dikuasai hanya pemodal besar, dll.

    Bagaimana Adat dan Budaya Batak menghadapinya ??
    Jangan lagi terlalu banyak energi dan waktu kita membahas dan berdebat soal-soal teknis par-adat-on. Mulai saja dengan isu-isu yang penting dan berguna dalam membawa kemajuan. Kemajuan diperoleh dengan mengandalkan kekuatan 3 modal sosial kita ; marga, Dalihan Natolu dan Adat.

    Caranya, tiru saja bagaimana sejarahnya bangsa Yahudi, Italia, Jepang, dan lainnya. Pasti ada beberapa pengalaman mereka yang cocok dan bisa kita lakukan dengan bersandar pada kekuatan modal sosial kita sendiri.

    Saya sarankan agar Admin membuat tempat khusus untuk membahas soal bagaimana membuat bangsa batak maju dalam berbagai aspek kehidupan.

    Muliate
    Sabar Tambunan

  2. Tanggapan Maridup Hutauruk:

    Kupasan sdr. Erond, Litno Damanik, M.Si tentu memaparkan kenyataan yang ada di Indonesia sebagai bangsa dalam konteks budaya sebagai budaya bangsa dan bukan budaya lokal yang berjalan dari tradisi2 lokal daerah atau etnis, serta mengajak siapapun itu; insan, keluarga, kelompok, etnis, suku berpola pikir kepada pembentukan identitas bangsa.

    Berbicara tentang budaya tentu akan jau berbeda dengan tradisi atau adat istiadat walaupun budaya dapat saja berkembang dan muncul dari tradisi2 atau adat istiadat yang ada (exist) disuatu etnis atau daerah. Untuk Indonesia sebagai Bangsa dan Negara yang dalam pembahasan mempertanyakan budaya bangsa mungkin masih panjang jalannya untuk mencapai identitas budayanya oleh karena sedemikian banyaknya parameter yang harus bersinergi untuk membentuk budaya bangsa. Bumi Indonesia yang menghidupi ratusan etnis bahkan lebih dari 300 bahasa tentu sekian banyak pula tradisi (adat istiadat) yang berpotensi untuk membentuk budaya bangsa, namun harus dipahami bahwa tidak banyak tradisi (adat istiadat) yang mampu dikategorikan sebagai pembentuk budaya bangsa oleh karena ketidakmampuan mempengaruhi komunitas yang lebih besar, namun adapula tradisi (adat istiadat) dari komunitas yang berjumlah relatif lebih kecil berkemampuan untuk mempengaruhi komunitas yang lebih banyak dikarenakan komunitas tersebut sudah terbentuk suatu budaya. Dan banyak lagi faktor2 pembentuk budaya bangsa.

    Tradisi adalah adat istiada yang berlaku secara lokal dan bersifat homogen. Perpaduan berbagai homogenitas dapat pula menggambarkan tradisi atau adat istiadat dalam komunitas yang lebih besar pula, tentu ini dapat terjadi karena ada kekuatan yang memayunginya dan kekuatan itulah yang menjadi budaya. Budaya tentu terambil dari kata ‘budi = perilaku baik, benar, agung, mulia, dll.’ dan ‘daya = kekuatan, kekuasaan, pengaruh, dll.’ jadi budaya adalah budidaya yang memberdayakan kebaikan, kebenaran, keagungan, kemuliaan, dan lain-lain yang bersifat suci dan universal yang tentusaja sudah tidaklagi mutlak bersifat tradisi atau adat istiadat melainkan berlaku untuk siapasaja, untuk etnis apasaja, untuk bangsa apasaja. Kalau kita mau pinjam kata asing maka budaya adalah filsafat atau falsafah, yang berasal dari kata Philosa=kebenaran dan Sophia=cinta, atau singkatnya mencintai kebenaran. Kalau kita berbicara kebenaran tentu tidak akan ada yang salah, ya untuk siapa saja, untuk etnis apasaja, untuk bangsa apasaja, dimana saja, kapan saja. Untuk yang lebih mendalam lagi maka kita boleh katakan “AKU MEMBELA KEBENARAN KARENA KAU MENJALANKAN KEBENARAN MAKA DIA MENGIKUTI KEBENARAN, DAN KITA SEMUA ADA DIDALAM KEBENARAN”.

    Dalam konteks kecil BATAK sebagaimana diarahkan oleh sdr. Sabar Tambunan, bahwa ada tradisi yang disebut adat istiadat dan mereka menyebutnya sebagai ‘Adat Silindung, Adat Toba, Adat Humbang, Adat Samosir, Adat Angkola, Adat Mandailing, Adat Simalungun, Adat Karo, Adat Pakpak-Dairi, Adat Pesisir, dan adapula adat yang baru muncul belakangan ini yang disebut Adat Pangarantoan diluar tanah leluhur yang membawa kekhasan masing2 sehingga berkembang menjadi Adat Medan, Adat Jakarta, Adat Batam, dll.” akan tetapi mereka yang menjalankannya dibawah payung budaya TAROMBO DAN DALIHAN NATOLU, maka BATAK itu akan bangga mengatakan saya punya ‘BUDAYA’. Ironis apabila komunitas dari lingkup adat-adat di atas harus mengatakan ‘takperlu adat/buang itu adat’ disaat dia berada diluar lingkupnya yang kebetulan lingkup-lingkup itu hanya berbatas angin, sehingga dia harus melarikan diri dari TAROMBO DAN DALIHAN NATOLU sebagai payung budaya bangsa Batak, maka ada kecenderungan dianya katanya berpayung kepada tuhannya saja tanpa perlu adat tapi tetap membawa identitas marganya, dan yang lebih ironis lagi bahwa dia-dia itu tak menyadari bahwa tuhannya itu Tuhanku juga, Tuhannya ihan/dengke, Tuhannya manuk, Tuhannya pinahan lobu, Tuhannya sigagat duhut, dan Tuhan Semuanya. Jadi kalau saya orang silindung dan berada di Silindung maka saya sebagai satu diantara sekian ratus ribu insan yang menghormati adat Silindung maka saya hanya punya hak sepersekian ratus untuk mengatakan seperti yang dikatakan oleh sdr. Sabar Tambunan ” Apakah adat dan budaya Batak masih diperlukan ? Jawaban saat ini, TIDAK PERLU !” dan tentusaja saya lebih berdosa dan tak punya hak sama sekali untuk mengatakan tak perlu adat Angkola. Kalau saya sangat berat melaksanakan adat pangarantoan Jakarta yang mahal itu, tentusaja saya akan bijaksana untuk melaksanakan adat Kampung Melayu dengan kerabat2 yg disitu saja karena saya diantara 1 juta pelaku adat pangarantoan Jakarta tak akan mampu menghapus adat pangarantoan yang mahal itu, dan karena saya hanya punya hak 1/1.000.000.000, apalagi saya tak akan berani katakan ‘TAK PERLU’ adat Simalungun karena semua komunitas dalam tatanan adat-adat ini dalam naungan budaya TAROMBO DAN DALIHAN NATOLU. Yang mampu saya perbuat adalah memutus hubungan komunitas dan membuang marga dibelakang nama

    Membawakan diri dibawah naungan budaya bangsa tentu masih akan meniti jalan panjang bagi Indonesia sebagai Bangsa. Seorang presiden, sejumlah menteri, semua wakil rakyat, semua aparat pemerintahan sudah sedemikan mahalnya dibayar oleh rakyat yang bernaung mengatasnama Indonesia sebagai negara yang seharusnya sudah terbentuk budaya yang dipertanyakan oleh sdr.Erond, Litno Damanik, M.Si
    tentu harus berterimakasih kepada insan bangsa Batak yang juga sudah, sedang, dan akan membayar mahal pula memelihara budayanya TAROMBO DAN DALIHAN NATOLU, karena memang sudah ada dari dulu.

    Kalau memang insan yang bernaung mengatasnamakan Indonesia sebagai bangsa belum mendapatkan budaya bangsa, mengapa budaya yang sudah ada dan solid seperti TAROMBO DAN DALIHAN NATOLU tidak difalisitasi untuk membentuk budaya bangsa Indonesia, karena bangsa Batak sudah sejak dari dahulu mengeluarkan biaya yang tak terhingga memeliharanya dan bahkan banyak masyarakatnya terutama di Bonapasogit yang begitu menderita secara ekonomis memikul budaya ini demi untuk kemajuan Indonesia di segala bidang. Contoh: Sudah beberapa menteri orang batak yang memeras pikiran untuk membangun yang bukan bonapasogitnya. Di Bonapasogitnya hanya 1x panen setahun, tetapi siorang Batak membuat bonapasogit orang lain 3x panen setahun(Pertanian). Di bonapasogit orang lain ada bangunan yang monumental tapi di bonapasogitnya lebih banyak gubuk setelah kejadian bumi hangus Paderi (Arsitek). Di bonapasogit orang lain disebarkannya perputaran uang tetapi dibonapasogitnya ditariknya uang untuk pasingkolahon dari hasil panen 1x setahun tadi(Pengusaha/Konglomerat). Di bonapasogit orang lain dibelanya penderita hukum secara gratis tetapi dibonapasogitnya dibiarkannya terhimpit hukum ketidak setaraan (Ahli Hukum). Di bonapasogit orang lain disuntiknya vitamin umur panjang, di bonapasogitnya dibanggakan memakan gambas natinutung (Kedokteran). Di bonapasogit oranglain dibangunnya jalan menuju langit untuk roda empat atau lebih tetapi dibonapasogitnya di biarkannya marhoda boban untuk maksimum berkaki empat (Kontraktor), dll., dll.

    Akir kata “Speak is Silver, Silent is Golden” Horas ma.

  3. Tanggapan sabar tambunan:

    Horas Sdra. Maridup..

    Saya terpancing mau ‘berpolemik’ dengan anda ataupun siapa saja yang tertarik membahas eksistensi budaya Batak. Tak usahlah kita pikirkan itu yang namanya budaya nasional.

    Dalam makna positif, menurut saya saat ini budaya nasional itu tidak ada…yang ada yang negatif2 aja.. Saat ini budaya nasional itu lebih terbentuk dari pengaruh 16 stasiun TV, yang isinya hiburan2 semata…dan sebagian besar malah kontennya pembodohan..membuat masyarakat apalagi untuk anak-anak dan remaja menjadi bodoh dan tak berdaya!!

    Mana itu budaya Batak ?? ‘Khan, acara adat hanyalah bagian kecil dari ekpresi/karya budaya kita. Masalahnya adalah mana ekspresi-ekpresi/karya lainnya ?? Kalau cuma acara adat…sangat-sangat tidak memadai.

    Budaya adalah way of life dari sebuah komunitas/suku/bangsa. Suku Batak punya MARGA/TAROMBO DAN DALIHAN NATOLU sebagai sumber utama dari budayanya. Sederhana namun jelas/jernih dan egaliter/demokratis…betul-betul sebuah modal besar dan istimewa. Sumber ini seharusnya mampu menghasilkan budaya yang membuat komunitas itu lebih bertenaga (powerfull) dan berbahagia (happiness) dalam menjalani kehidupannya dengan segala problematika dan cita-citanya.

    Sudah saya katakan sebelumnya, acara adat batak membebani ekonomi bagi kita yang kurang mampu, tidak menarik bagi generasi muda. Dan saya yakin, mereka kalau bisa bebas memilih minimal akan bilang ‘ Nantilah dulu..adat itu’

    Jadi dimana masalahnya ?? Masalahnya ssas M A N F A A T !! Budaya Batak lahir dan tumbuh dalam masyarakat agraris-tradisional yang homogen. Saat itu, budaya ini mampu memenuhi segala kebutuhan dan memecahkan problem yang timbul pada komunitas itu. Memang saat itu budaya yang ada masih bermanfaat.

    Sejak kekristenan/Islam masuk ke tanah batak, seiring dengan terbentuknya negara Indonesia..orang batak merantau dan menyebar. Yang pergi ke kota-kota besar kehidupannya berubah sebagai masyarakat-URBAN,… bukan agraris lagi. Juga bergaul dengan suku-suku lainnya..tidak homogen lagi.

    Tantangan hidup-pun berubah !! Apakah budaya kita juga berubah sesuai dengan tantangan yang ada ???

    Begini analisa saya.
    Tetap terjadi perubahan yang penting menyangkut pelaksanaan acara adat….acara berhari-hari menjadi ulaon sadari ! Yang lainnya ?? Tidak ada betul-betul yang signifikan, hanya sebatas penyesuaian dan dinamika.

    Yang malah terjadi sebenarnya malah hilangnya atau tergerusnya falsafah/nilai dasar yang bersumber dari TAROMBO dan DALIHAN NATOLU, yaitu yang utama adalah HOLONG.

    HOLONG hanya sebatas terungkap dan tersisa pada acara adat.. yaitu aspek simbolis !! Melalui kata-kata dan ulos….

    Contoh, ada sebuah kejadian yang sangat ironis. Seorang bapak(bere) sakit keras, agar selamat nyawanya harus dioperasi di rumah sakit. Dia tak punya uang,…datang ke Tulang-nya untuk minta bantuan uang. Tak diberi…akhirnya meninggal !! Acara adat dan penguburan.. semua biaya ditanggung oleh Tulang itu. Biayanya sekitar 3 kali dari ongkos operasi..!! Juga datang pengurus Punguan Marga dengan anggota 500 Keluarga. Berbicara tentang Holong sambil menyerahkan amplop…berisi Rp.200ribu..padahal bapak itu supir angkot !! Artinya…masing-masing keluarga hanya menyumbang Rp.400.

    Memang dimata adat, Tulang itu dan Punguna telah ber-adat dan ‘telah’ menunjukkan HOLONG-nya. Namun begitukah maksud dari HOLONG yang bersumber dari konsep Dalihan Natolu ???

    Saya tidak bermaksud menyalahkan Tulang atau Pengurus Punguan. Yang terjadi memang budaya kita belum berkembang secara maemadai untuk mengatasi berbagai persoalan kehidupan sehari-hari kita dijaman modern ini. Orang URBAN meninggal butuh beli tanah kuburan, mayatnya diformalin dan perlu ambulan untuk membawanya kekuburan…lagi-lagi biaya yang besar.

    Kata kunci dari semua hal ini adalah budaya batak belum menghasilkan organisasi atau intitusi sosial MODERN untuk mengatasinya. Budaya kita baru berhasil membangun banyak gedung gereja (HKBP dll)di seluruh pelososk Indonesia. Dan pasti akan jauh lebih banyak lagi bila tidak ada hambatan/ijin untuk membangunnya.

    Saya memimpikan komunitas batak suatu berhasil membangun sebuah institusi/lembaga yang mengurus kematian orang batak di tano parserahan/perantaoan. Juga sebuah institusi yang menjamin tidak akan ada anak orang Batak putus sekolah karena masalah biaya. Biarlah dia putus seolah karena tidak lulus tes masuk.

    Saya memimpikan sebuah intitusi yang menjamin orang batak tidak akan kesulitan modal awal untuk berbisnis. Ataupun sebuah intitusi yang menjamin lulusan SMA minimal skor TOEFL berbahasa Inggris 450 atau tidak Gagap-Teknologi ICT. Saya yakin mimpi ini sangat mungkin terwujud. Karena kita punya MODAL - SOSIAL yang bersifat ‘given’, yang sangat powerful dan egaliter, yaitu MARGA/TAROMBO dan konsep DALIHAN NATOLU.

    Bangsa Yahudi dengan SINAGOGA-nya, bukan semata-mata tempat beribadah…Sinagoga sebuah ‘Gereja’ sebuah institusi yang sangat modern yang sangat ‘powerful’ membawa bangsa Yahudi menjadi sangat maju !!

    Sdra. LITNO DAMANIK betul sekali, ” Membangun Tradisi Tanpa Sikap Tradisional “. Ini harus dimulai saat ini juga, yaitu dengan berpikir, bersikap dan berbuat secara institusional. Semua energi dan waktu diarahkan untuk membangun institusi yang akan membantu kemajuan kehidupan dan peradaban orang Batak dalam 20 tahun mendatang.

    Mari, siapapun kita, kita buat langkah historik…memang tidak lansung jadi atau terasa manfaatnya segera.., dan bukan seperti makan cabe rawit..instant pedasnya !! Kurangi energi dan waktu kita untuk membahas segala tetek bengek acara adat di forum/website ini, kalau memang kita tidak mau meninggalkannya. Kejarlah yang lebih bermanfaat….

    Usul kongkrit saya, kita mulai dengan membentuk forum bersama punguan marga-marga di setiap wilayah atau kota. Sasarannya fokuskan pada masalah-masalah sosial dan ekonomi saja dulu.

    Akhir kata ” Realy, Silent is not enough, Batak people must speak ”

    Muliate
    Sabar Tambunan

  4. Tanggapan Maridup Hutauruk:

    @Sabar Tambunan
    Horas di tungganei. Dalam beberapa artikel di SB, saya sudah memahami tanggapan2 ST yang bermakna dan mendalam mengalir dari buah pikiran yang sudah mengamati perjalanan masyarakat Bangsa Batak ini. Didalam tanggapan artikel ini memang saya ulas sedikit tanggapan ST karena ada muatan kecil tentang adat Batak, padahal saya tau bahwa aliran pemikiran ST sudah sangat mendalam ke arah budaya batak yaitu MARGA/TAROMBO dan konsep DALIHAN NATOLU. Kekaguman saya sebenarnya mau saya bisikkan kpd ST supaya kita mengarahkan kepedulian bukan dalam konsep kecilnya karena tatacara adat istiadat itu sangat kental dengan kandungan lokal yang tidak bisa kita ganggu gugat bahwa itu baik untuk kelompok demi kelompok, walaupun pelaksanaannya tanpa disadari sudah mengorbankan banyak hal. Banyak hal yang kurang kita pahami bahwa ‘Budaya merupakan hasil cipta, rasa, dan karsa manusia’, ini kata Prof.Dr.H.M.Ridwan Nasir,MA dalam buku Antropologi, dan saya setuju itu. Budaya Bangsa Batak sangat luas pemaparannya namun masih kita syukuri ada adat istiadat yang dijalankan dan masih mau dijalankan oleh kelompok-kelompok komunitas Bangsa Batak harus kita syukuri juga dengan segala konsekwensinya, karena memang dari sedemikian banyak unsur Budaya Bangsa Batak itu hayaknya hanya acara Adat Perkawinan & Kematian yang lebih pamor dijalankan. Oleh karena hanya yang sedikit itu saja sebagai kendaraan untuk memunculkan Budaya Bangsa Batak itu maka kita akan kurang bijaksana untuk meniadakannya, bakal punah kita nanti seperti suku yang terpinggirkan di Jakarta atau suku yang terpinggirkan di Medan.

    Mungkin ST akan lebih memahami jalan pikiran saya apabila mengunjungi komentar-komentar pada artikel-artikel di SB ini, ada cukup banyak juga. Bagi saya untuk judul ” Membangun Tradisi Tanpa Sikap Tradisional “ sah-sah saja, tetapi jalan pikiran saya bahwa harus ada sikap tradisional itu supaya kita bisa memahami tradisi-tradisi sebagi bagian dari budaya. Sebagai contoh bahwa saya membutuhkan waktu dan energi yang sangat besar untuk mendalami Budaya Bangsa Batak itu dan masih banyak misterinya. Upayanya bagaimana generasi yang lebih muda dapat secara gampang untuk ikut memahaminya supaya mereka tidak langsung meninggalkannya sebagimana tendensi sekarang ini. Oleh karena itu, ikhtiar apapun yang dibuat baik oleh pribadi atau kelompok yang berkaitan dengan kegiatan tradisi adalah baik untuk membangun kembali Budaya Batak yang hampir hilang itu. Kalau kita setuju untuk memunculkan kembali Budaya Bangsa Batak yang hampir hilang itu maka kesempatannya tak terbatas kepada pribadi, keluarga, kelompok kecil, marga, huta, desa, kecamatan, kabupaten. Juga tak terbatas kepada kegiatan-kegiatan partondongan, adat istiadat, ritual, horja, keagamaan. Juga tak terbatas kepada kapasitas intelektual (berbagai bidang keilmuan) dan banyak lagi.

    Eforia keagamaan yang kurang mendukung keberadaan Budaya Bangsa Batak malah cenderung menghilangkannya untuk tujuan yang sangat tak jelas, padahal institusi keagamaan merupakan kendaraan yang paling efektif untuk melestarikan Budaya Bangsa Batak itu. Intinya adalah bahwa Budaya itu kan mutlak untuk kebaikan komunitas yang menjalankan, agamapun katanya untuk kebaikan komunitas yang menjalankan. 140an tahun masuknya agama-agama impor ke Tanah Suci Leluhur Bangsa Batak tentu sebagai catatan waktu untuk membandingkan kebaikan yang dijanjikan. Ukuran untuk suatu komunitas tentu berpatokan kepada ‘moral’ kalau orang Batak bilang kira2 ‘Partorning ni Parhundulan’. Apakah ‘Partording ni Parhundulan’ ini sudah solid ditanamkan oleh ajaran agama di Tanah Batak? Anak ni Raja dan Boru ni Raja untuk komunitas Bangsa Batak memang benar bisa diterima, tapi apakah Guru Jemaat dan Pandita sudah tak mau lagi menjadi Raja ni Boru? atau hanya mau jadi raja saja di bagasjoro? (maksudnya jadi raja untuk anggota huria), walaupun sering dikumandangkan sebagai parhalado, kita bisa banding2 dan amati. Tentu orang orang akan bilang ‘kan bukan agama/gereja yang salah’, itu kan orangnya yang nggak benar! tetapi apabila persentasi komunitas dalam suatu institusi sudah lebih banyak yang tidak lagi membawa kebaikan kepada komunitas secara umum tentu siapa yang salah? Institusinya kah? atau pribadi orang Bataknya? Siapa yang membentuk pribadi-pribadi ini?

    Dunia moderen sudah semerek dengan materialistis dan siapapun bilang tidak akan adalagi yang tidak bersinggungan dengan hipnotisme materi. Aspek materialis inipula yang kurang berdaya di bonapasogit sebagai kawasan tunggal terciptanya Budaya Bangsa Batak, maka perekonomian masyarakat disana yang perlu diberdayakan, dan biarlah masyarakat di pangarantoan survive karena potensi pribadinya. Dilematis… inilah yang harus kita pikirkan termasuk Erond, Litno Damanik, M.Si, Sabar Tambunan, Saya, dan lainnya yang mau.

    Jadi saya setuju pendapat ST, jangan dulu memikirkan budaya Nasional, Budaya MARGA/TAROMBO dan konsep DALIHAN NATOLU sudah melingkupi budaya nasional. MAULIATE, HORAS

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Lake Toba Aikon Sumut yang Kian Menghilang
Artikel selanjutnya :
   » » Umpasa dan Falsafah Batak