Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Selasa
10
Okt '06

Tahun 2007, Mengenang 100 Tahun Wafatnya Raja Sisingamaraja XII Dipamerkan di Belanda


Sastrawan  Sitor Situmorang dan istrinya Barbara  datang ke Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas)  Senin 26 Juni 2006 lalu dengan tujuan  mengenang wafatnya Raja Sisingamangaraja XII ke-100 tahun yang akan dipamerkan di Negeri Belanda.  Tujuan dan maksud kedatangan sastrawan tersebut disambut baik Pemkab dan masyarakat Humbahas.

Dengan semangat tinggi, Bupati Humbahas Drs Maddin Sihombing MSi, Kapolres Humbahas AKBP GP Hutajulu SH, Plt Sekda Martuaman Silalahi SH, Kadis Pertambangan dan Kehutanan Ir Darwin Lumbangaol MM, Kadis PU Ir Parlaungan Lumbantoruan, Camat Parlilitan Ratna Fride Marbun BA dan rombongan lainnya dari Pemkab Humbahas mengunjungi makam dan markas Sisingamangaraja XII di Pearaja Desa Sion Utara  Kecamatan Parlilitan, Jumat (6/10).  Dalam kunjungannya, Maddin Sihombing sangat tertarik  dengan akan dipamerkannya wafatnya Sisingamangaraja XII yang ke 100 di Belanda.  Kedatangan Pemkab Humbahas di Desa Sion Utara disambut baik masyarakat setempat dan membawa rombongan ke Tugu Pertanda Markas Besar Sisingamangaraja XII tepatnya di Pearaja yang diresmikan 17 Juni 1959 lalu. Dalam kesempatan itu, mantan Kepala Desa Sion Utara  Siner Sihotang  mewakili masyarakat menceritakan sedikit seluk-beluk perjuangan Sisingamangaraja XII melawan Belanda di tanah Batak.

Usai meninjau lokasi tugu Sisingamangaraja XII di Pearaja Desa Sion Utara dilanjutkan dengan peninjauan lokasi  wafatnya Sisingamangaraja  XII di Sitapongan Desa Sion Utara Kecamatan Parlilitan. Menuju lokasi tersebut harus berjalan kaki menelusuri lembah dan gunung sepanjang  2 kilometer lebih karena tidak bisa dilalui kendaraan roda dua dan empat.   Lokasi penguburan putri Lopian, dari  makam Sisingamangaraja  XII hanya berjarak  sekira 25 meter.

Pengamatan SIB di lapangan sewaktu mengikuti rombongan,  di lokasi tugu pertanda Markas Besar Sisingamangaraja XII  di Pearaja Desa Sion Utara  dituliskan bahwa markas tersebut dibangun dan diprakarsai Robert G Sinambela dan diresmikan 17 Juni 1959. Kemudian masih di lokasi, Pea Aek Tugal ciptaan langsung Sisingamangaraja XII tahun 1885 dipugar mantan Bupati Dairi Drs S.IS Sihotang tepatnya 3 Maret 1996.  Sebelum menuju Sitapongan Desa Sion Utara tempat wafatnya Sisingamangaraja XII, di Desa Ambalo juga ditemukan Mual Rimo Kayu Sisingamangaraja XII bertuliskan bahwa Mual itu sebagai Parsaktion, Partonggoan dan Pangurason yang bisa mengobati penyakit. Dalam kesempatan yang baik itu, para rombongan menyempatkan diri cuci muka dan meminumnya bahkan ada yang membawa air itu dengan botol air mineral.

Drs Nelson Lumbantoruan  salah seorang peneliti kebudayaan dari Medan mengatakan, tujuan kedatangannya ke Bona Pasogit untuk mengangkat potensi alam dan sejarah yang ada di Humbahas. Dasar penelitian itu merupakan tindaklanjut kunjungan Sitor Situmorang dan istrinya Barbara ke Pemkab Humbahas Juni 2006 lalu. Tahun 2007 mendatang, wafatnya Sisingamangaraja XII ke 100 akan dipamerkan di Belanda dengan sutradara Thomson Hutasoit. “Pameran keliling itu  merupakan kehormatan tersendiri bagi Raja Batak Sisingamangaraja XII.  Kiranya masyarakat Humbahas mendukung pameran itu dan merupakan semangat Pemkab Humbahas. Karena ini merupakan langkah awal perjalanan Sisingamangaraja XII. Harapan saya, semoga pameran tersebut terwujud dengan dukungan masyarakat Humbahas,” tambahnya.

Bupati juga menjelaskan bahwa pameran itu merupakan suatu kecintaan masyarakat  Humbahas khususnya untuk mengenang wafatnya seorang pahlawan darah Batak. Dengan tujuan untuk mengetahui dan melihat secara langsung sejauhmana  peningggalan serta makam Raja Sisingamangaraja XII. “Perlu juga saya laporkan bahwa mengenang wafatnya Raja Sisingamangaraja XII ke 100 tahun akan dipamerkan di Negeri Belanda dan perlu dukungan masyarakat. Berdasarkan sejarah, Raja Sisingamangaraja XII wafat tepatnya 16 Juli 1907 lalu  di Sitapongan Desa Sion Utara”,  ujar Bupati di hadapan masyarakat disambut tepuk tangan. Pemkab Humbahas juga berencana akan merenovasi  lokasi pemakaman dan markas Sisingamangaraja XII di Parlilitan.

Sumber dihimpun di Parlilitan menyebutkan,  kendatipun pusat kerajaan Sisingamangaraja berada di Bakkara namun untuk mempertahankan kedaulatannya telah dibangun suatu benteng pertahanan di Parlilitan. Dengan maksud guna menjaga dan menangkis segala bentuk serangan dari penjajah kolonial Belanda. Tahun 1885 Sisingamangaraja XII membangun suatu sumur yang menurut banyak orang memiliki nilai sakral dan magis. Menurut para orangtua bahwa air sumur tersebut tidak pernah kering dan dapat mengobati berbagai penyakit.

Tahun 1876, Belanda mulai mengadakan ekspansi ke Tanah Batak melalui pertempuran di berbagai wilayah termasuk di Bakkara. Serangan Belanda selalu mendapat perlawanan dari rakyat yang langsung dipimpin Sisingamangaraja XII dibantu panglimanya termasuk panglima dari Aceh. Akibat  peralatan canggih pihak Belanda, maka pasukan Sisingamangaraja XII mundur dan bertahan di Benteng Parik Sabungan Pearaja Sion Parlilitan. Belanda dengan segala macam tipu muslihat berhasil memancing Sisingamangaraja XII keluar dari Benteng pertahanan dengan cara menawan permaisuri beserta keluarganya. Menyaksikan hal tersebut, Sisingamangaraja XII semakin marah dan terjadilah baku tembak yang sengit sampai terjadi perang.
Dalam pertempuran itu,  putranya Patuan Nagari dan Patuan Anggi termasuk panglima dan putrinya Lopian tewas tertembak. Melihat putrinya Lopian tertembak, Sisingamangaraja XII berlari dan merangkulnya sehingga tubuh Raja itu terkena darah dan kekebalannya menjadi sirna. Pada waktu itulah, pimpinan pasukan Belanda Kapten Christofel memerintahkan penembakan yang mengakibatkan gugurnya Sisingamangaraja XII 17 Juni 1907.

SUmber : (RHS/d) Harian SIB


Ada 5 tanggapan untuk artikel “Tahun 2007, Mengenang 100 Tahun Wafatnya Raja Sisingamaraja XII Dipamerkan di Belanda”

  1. Tanggapan Franky Fransiskus Silaban:

    Hidup pahlawan BATAK

  2. Tanggapan Frdolin Hasugian:

    Horas.
    Membaca rencana mengenang 100 tahun wafatnya Raja SM XII, Bagus juga, ada upaya yang dilakukan. Selama ini, seolah-oleh tenggelam begitu saja, tanpa ada upaya untuk mengorbitkannya. Pokoknya kita dukung dengan doa. Hanya itu yang bisa saya lakukan. Semoga.

  3. Tanggapan Charly Silaban:

    Barusan Pemkab Humbahas mengadakan lomba karya tulis dalam rangka mengenang SSRaja. Tapi cuma untuk wartawan. Kenapa ngga dibuka buat umum ya ?

  4. Tanggapan BINTON FERBADY S:

    GIMANA ORANG MAU BERKUNJUNG KE MAKAM SISINGAMANGARAJA XII KALAU JALAN KESANA AJA RUSAKNYA MINTA AMPUN BAGUSI DONG JALANNYA PERHATIKAN DONG SARANA DAN PRASARANA DI PARLILITAN

  5. Tanggapan Edward Simanungkalit:

    Berdasarkan buku “Aku do Sisingamangaraja” yang ditulis oleh W.B. Sijabat, di sana diceritakan bahwa Sisingamangaraja XII sudah pernah tertembak lengannya di daerah Porsea-Laguboti jauh sebelum dia meninggal dunia. Jadi, kurang dapat diterima bahwa Sisingamangaraja XII hilang kekebalannya oleh karena darah putrinya. Ini tanpa mengurangi rasa hormat saya pada kepahlawanan Sisingamangaraja XII.

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.