Terletak jauh di bibir Pasifik, Pulau Morotai seperti terlupakan. Padahal, Jenderal Douglas MacArthur menyulap pulau itu sebagai pusat komando dalam Perang Dunia II. Sayang, jejak-jejak sejarah itu sebagian besar hilang akibat ulah manusia.
Terdorong latar sejarah pulau yang pernah diduduki pasukan Jepang dan AS (Sekutu) itu, pagi-pagi sekali, akhir Agustus lalu, saya sudah berada di dermaga di Pantai Swering, Ternate, untuk melakukan perjalanan ke pulau terujung di Provinsi Maluku Utara itu. Dari Ternate, kira-kira lebih dari setengah jam speedboat membelah ombak menuju Sidangoli di Halmahera Barat, meninggalkan gunung-gunung di Pulau Ternate, Hiri, Maitara, Tidore.
Dari Sidangoli, perjalanan darat sejauh 213 km dilanjutkan ke Tobelo, ibu kota Halmahera Utara. Perjalanan darat itu berkelok-kelok melewati kebun kelapa di sepanjang pesisir Teluk Kao. Di teluk yang pernah dijadikan basis pertahanan Jepang itu masih tersisa rongsokan kapal perang di laut.
Saya sempat berdiskusi mengenai bangkai kapal itu dengan Mayor (Inf) M Susilo, Wakil Komandan Satgas Kompi C Batalyon Infanteri 310/Kidang Kencana Sukabumi, teman seperjalanan bersama dua tentara lainnya, Serda Ircham dan Prada Wawan. Sementara di Malifut masih terlihat sisa beberapa rumah warga yang terbakar saat terjadi konflik tujuh tahun silam. “Perjalanan kita masih panjang,” ujar Mayor Susilo yang saya tafsir juga sebagai kiasan sejarah perjalanan bangsa ini.
Dari Tobelo, sekitar dua jam speedboat ukuran 2 x 9 meter membelah Selat Morotai. Saya memilih duduk di atas atap, menemani motoris Taher Marsaoli yang sore itu memberikan kemudi kepada asistennya. “Cuaca sedang bagus. Kalau lagi buruk, ombak minimal setinggi 2 meter,” cerita Taher. Saya ukur tinggi atap speedboat dari permukaan laut hanya kira-kira 1,2 meter.
Berdiri di atap speedboat membuat mata dengan leluasa menyapu perairan Selat Morotai. Beberapa kali kawanan lumba-lumba berpacu dengan speedboat. Burung-burung laut beterbangan dan menyelam ke laut, pertanda ada kumpulan ikan seperti cakalang atau tongkol. Beberapa kali ikan terbang melayang di permukaan laut, bak pesawat mencari landasan.
Perburuan besi tua
Setelah lebih satu jam perjalanan, satu per satu pulau-pulau di sekitar Morotai terlihat. Pulau Sumsum dulu dikenal sebagai tempat tinggal MacArthur. Di pulau itu ada goa yang disebut tempat berlindung jenderal bintang lima itu.
Tak jauh dari pulau itu, tampak dua Pulau Dodola yang tersambung dengan hamparan pasir putih. Bila air surut, dari Dodola Besar menuju Dodola Kecil bisa berjalan kaki di hamparan pasir putih itu. Tetapi, bila air pasang hamparan pasir itu lenyap ditelan laut. Jadi, bila ingin menyeberang harus menggunakan perahu. Menurut kisah penduduk, di pasir putih itulah MacArthur kerap berjemur.
Semasa PD II, posisi geopolitik Morotai sangat strategis. Setelah dipukul mundur oleh tentara Jepang dari Filipina hingga terus menyingkir ke Australia (1942), Panglima Divisi VII AS Jenderal Douglas MacArthur menjadikan Morotai bagian dari janjinya, “I shall return”. Bagaikan katak melompat, dia merebut kembali wilayah yang pernah direnggut Jepang itu. Dari Morotai, MacArthur merebut Filipina dan kemudian menembus jantung pertahanan Jepang di Iwojima dan Okinawa.
Ketika itu, tujuh lapangan terbang dibangun di Morotai, dua di antaranya berupa airstrip. Panjang landasan itu sekitar 3.000 meter dan lebar 40 meter. “Siang malam pasukan AS dan penduduk membangun lapangan itu,” kenang H Imam Lastory (82), tokoh masyarakat yang juga saksi sejarah yang sering melihat MacArthur memimpin pasukannya di pulau itu. Kini cuma dua landasan yang difungsikan.
Sekutu juga membangun pelabuhan militer di Tanjung Dahegila sehingga kapal-kapal perang bisa merapat. Terbayang Morotai yang jauh dari hiruk-pikuk, saat itu justru menjadi “kota” yang ramai. Menurut informasi, 63 batalyon tentara Sekutu bermarkas di pulau itu pada bulan September 1944 hingga awal 1945.
Itu dulu. Morotai hari ini ibarat lukisan yang merana. Jalan-jalan terlihat lengang karena kendaraan mungkin bisa dihitung dengan jari. Sebagian jalan berupa tanah hanya sejauh 50 km yang beraspal.
Di kota teramai, Daruba, listrik menyala hanya 18 jam sehari. Runyamnya, peninggalan sejarah nyaris tak bersisa. Kapal perang, mobil jip, panser, tank, senjata, dan tiang-tiang dermaga menjadi besi tua yang menjadi obyek penjarahan. Di Morotai, berburu besi tua menjadi pekerjaan banyak orang, termasuk orang luar.
Menurut Camat Morotai Selatan Lukman SY Badjak, penjarahan besi-besi itu terjadi sejak tahun 1980-an ketika sebuah pabrik baja di Jawa membutuhkan bahan baku besi. Inilah runyamnya, benda-benda bernilai sejarah pun dipreteli dan diangkuti.
Kalau pemerintah daerah sekarang giat menawarkan wisata sejarah itu, apa lagi yang bisa dilihat bila banyak benda bersejarah dijual kiloan? Paling-paling yang tersisa kapal perang atau pesawat yang tenggelam di dasar laut yang mungkin jadi obyek menyelam.
Pertahanan perbatasan?
Beda dengan Sekutu yang menyadari pentingnya geopolitik Motorai, kini pulau seluas 2.476 km persegi itu nyaris tak terurus. Lanud Morotai yang didukung 80-an personel saja, kata Komandan Lanud Morotai Mayor (PSK) M Silaban, berkategori tipe D. Artinya, tidak ada pesawat dan tidak ada radar. Hanya disiapkan untuk operasi. Jadi, sudah pasti pesawat asing tak terpantau.
Sebagai kawasan perbatasan, pertahanan Morotai sangat rapuh. Dari lima kecamatan, hanya dua kecamatan yang ada markas koramil dan polsek, yaitu di Daruba (Morotai Selatan) dan Berebere (Morotai Utara). Jumlah anggota koramil di dua lokasi itu hanya 25 personel, sementara polisi di dua polsek juga cuma belasan personel. Masih untung, karena menurut Kepala Staf Korem 152/Babullah Ternate Letkol (Inf) Yudi Zanibar, di Morotai ada tiga pos Satgas Kompi C Yonif 310/KK, yakni di Daruba (22 personel), Satuan Permukiman 1 (21), dan Sabatai Baru (20).
Dengan kekuatan seperti itu, sudah pasti mereka tak mampu memantau sampai wilayah utara pulau. Di Sopi, ibu kota Kecamatan Morotai Jaya, penduduk setempat lebih banyak bergaul dengan warga Filipina karena komunikasi dengan wilayah selatan boleh dikata terputus.
Tak ada jalan darat. Hanya lewat laut dan paling cepat ditempuh enam jam. Kalau ombak ganas, tidak ada yang berani melayari bibir Samudra Pasifik itu. Dalam satu pulau saja sulit melakukan kontak, apalagi dengan pusat kekuasaan di Jakarta. Saat kembali, dari buritan speedboat tampak Morotai seakan tenggelam dalam kesunyian di tepi Pasifik.
Sumber : (Subhan SD) Harian Kompas
[SB] Tags : -Ada 3 tanggapan untuk artikel “Hilangnya Jejak MacArthur di Kesunyian Morotai”
Silahkan memberikan tanggapan !
Artikel sebelumnya :
» » Kecewa Tidak Dilibatkan Sosialisasikan Propinsi Tapanuli, Massa Sadabato & IKPPI Datangi DPRD Dairi
Artikel selanjutnya :
» » Menghormati Leluhur


Pada tanggal 17 November 2007 jam 1:11 pm
Pada tanggal 16 Desember 2007 jam 10:25 pm
Pada tanggal 3 Desember 2008 jam 9:20 am