Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Kamis
28
Sep '06

Hukum Adat Batak Yang Bertentangan Dengan Gender Harus Ditinggalkan


Kedudukan perempuan dalam hukum adat Batak berbeda dengan ketentuan dalam hukum nasional, terutama soal warisan. Anak perempuan bukan sebagai ahli waris tetapi dapat menerima bagian harta warisan sebagai pemberian.

“Hukum adat Batak yang tidak menunjang, mendorong kesetaraan dan keadilan gender perlu ditinggalkan karena bertentangan dengan hak azasi manusia. Kedudukan perempuan sangat lemah dibanding laki-laki. Ini suatu indikasi adat Batak diskriminatif terhadap perempuan. Sementara dalam hukum nasional kedudukan seimbang baik dalam hak mau pun kewajiban.”

Demikian Ketua Pengadilan Negeri (PN) Tarutung, Saur Sitindaon, SH,MH pada seminar sehari kedudukan dan peranan perempuan Batak, Selasa (26/9), di Balai Data Kantor Bupati Taput diikuti tokoh-tokoh adat berbagai marga.

Saur Sitindaon dalam makalahnya bertajuk, ‘Kedudukan dan Peranan perempuan Batak dalam hukum adat dikaitkan dengan hukum nasional’, lebih memfokuskan perlunya para tokoh adat menyikapi kedudukan perempuan dalam hukum adat batak. Apalagi dalam masalah pembagian harta warisan.

Ungkapan pepatah Batak ‘Dompak marmeme anak, dompak marmeme boru” (Kedudukan anak dan perempuan sama) hanya teori. Omong kosong pepatah itu. Buktinya, banyak kasus yang muncul di pengadilan bahwa pihak laki-laki merupakan pewaris harta nenek moyangnya.

Bahkan di Taput, sebut Sitindaon, masalah diskriminasi itu terlihat jelas. Dari 30 anggota DPRD Taput, hanya dua perempuan yang duduk. Sementara menurut UU No. 12 tahun 2003, perempuan yang duduk 30 persen. Ini tidak tercapai di Taput karena para pimpinan Parpol tidak memberi kesempatan kepada perempuan. “Ini juga pelecehan terhadap perempuan. Mereka hanya memberi nomor urut tidak jadi. Kalau kita konsis maka berikan nomor urut pertama. Jadi bukan hanya omongan saja soal gender tapi pelaksanaannya.”

Maka pada Pemilu mendatang harus ada 30 persen dari perempuan yang duduk di DPRD Taput sehingga seminar ini bukan hanya retorika atau pidato-pidatoan belaka, ujar Sitindaon menambahkan, laksanakan adat itu dengan baik. Undang-undangnya sudah bagus tinggal pelaksanaannya.

Sementara penceramah lainnya, Drs. BP Nababan dan Waldemar Simamora pada intinya menyebut, perempuan dalam budaya Batak statusnya agak parakdosal. Namun sebenarnya status perempuan bagi masyarakat Batak sangat terhormat dan dihargai. Laki-laki dengan perempuan adalah sama. Perempuan Batak sudah banyak memegang peranan di tengah keluarga, masyarakat. Bahkan secara nasional, ujar BP Nababan (Ketua Lembaga Adat Dalihan Natolu).

Sebelumnya Wakil Bupati Taput, Drs. Frans A. Sihombing, MM yang membuka seminar menyebutkan, perempuan Batak harus dapat memotivasi diri untuk maju. Menempa diri dengan berbagai pendidikan, latihan, kursus keterampilan. Perempuan bagi orang Batak sangat dihormati sebagai ‘Boru ni raja, Parsonduk Bolon, Sitiop Puro’ (penentu dalam suksesnya keluarga), ujar Sihombing.

Disebutkan, ke depan perempuan Batak harus dapat mengambil peranan lebih besar dan meraih posisi lebih baik. Tidak hanya sebatas ibu rumah tangga. “Saya ingin seminar ini menghasilkan output bermanfaat untuk mendorong kaum perempuan Batak memajukan diri,” sebut Wakil Bupati.

Seminar yang diprakarsai Bagian Pemberdayaan Perempuan Pemkab Taput itu ditandai tanya jawab dari peserta, pada intinya bagaimana mengangkat harkat dan martabat perempuan dalam adat Batak.

Sumber : (a09) (sn) WASPADA Online, Tarutung


Ada 5 tanggapan untuk artikel “Hukum Adat Batak Yang Bertentangan Dengan Gender Harus Ditinggalkan”

  1. Tanggapan agus_saragih:

    Kalo menurut saya sih hukum nasional sebisa mungkin jangan sampe mengganggu hukum adat khususnya ada batak. Dalam waris misalkan, emang perempuan tidak memiliki hak mutlak untuk mendapatkan warisan, tapi di dalam adat batak yang paling malu terhadap keluarga adalah pihak laki2 kalo ada masalah yang terjadi terhadap adik perempuan nya. Laki-laki harus benar2 menjadi pelindung untuk yang wanita atau itonya.

    Untuk masalah sekolah misalakan udah ngak ada kok perbedaan itu. Satu hal penting bahwa kita semua bukan lah orang yang mengandalkan warisan orang tua kok di masa yang akan datang.
    kita adalah pejuang dan itulah orang batak. Ngak pernah bergantung pada warisan orang tua.

    Hal inilah yang kemudian membuat perempuan2 batak tidak pernah protes terhadap adat.

    Tidak ada kepastian bahwa si laki2 akan bener-benar bertanggung jawab terhadap ito2 nya ,,, satu ungkapan cerdas menurut saya.

    Jika seorang Pria melepaskan tanggung jawabnya sebagai peindung untuk wanita ( itonya ) maka tanyakan sama si laki2 tersebut .. oi lae / appara … kau orang batak bukan .. kok ito mu ngak bisa kau jaga… tanya aja … buat malu dia sekalian bila perlu.

    Saya khawatir jika kita campur adukkan hukum nasional yang sarat dengan kepentingan politik di DPR sewaktu pembuatan hukum tersebut, dalihan natolu itu menjadi kabur..

    itu menurut saya..

    dan kepada perempuan batak yang membaca tulisan ini ….
    tagih tanggung jawab dari ito2 kalian yang laki2 dirumah …

  2. Tanggapan Radja Martahi Nadeak:

    Salam semua pengunjung

    saya setuju dengan dengan tanggapan Appara Agus Saragih… di keluarga batak tidak ada diskriminatif thdp kaum perempuan…

    adapun masalh pembagian warisan = lebih identik tanah.. itu memang wajar.. apabila tanah leluhur di berikan kepada perempuan, dan suatu saat dia menikah dengan marga lain. berarti tanah warusan tersebut menjadi milik marga suaminya.masuk akalkan?

    dan di keluarga batak terutama batak toba, sangat pantang untuk menjual tanah warisan. itu sama aja menjual harga diri. bila pun tanah itu di bagi ke pada pihak laki2. bukan berarti dia suka2… itu lebih cenderung hanya menjaga…dan suatu saat nanti dia juga akan mewariskanya ke anaknya laki2… begitulah terus sampai turun temurun…dan tanah tersebut tetap dikuasai oleh marga tersebut…dan itu menjadi kehormatan bagi semua marga..

    satu hal jgn disamakan dengan suku lain yang kadang klo di tanya asal usalnya sampai 3 turunan ga bisa di jawab. orang batak… bila ada yang sampai sekarang tidak tau asal-usulnya dan nama nenek moyangnya minimal 3 generasi…( MALU….)

    satu hal mengenai seminar diatas… klo bisa marilah kita mendengar dari orang yang benar benar memahami apa itu adat istiadat batak.. biar ga kabur nantinya.jgn melihat jabatannya sebagai apa, langsung kita benarkan….dan jgn disamakan dengan hak dan keawajiban pewrempuan duduk di di kursi Legislatif, ga ada hubungan….

    Mauliate

  3. Tanggapan Maridup Hutauruk:

    total bagus adat batak itu termasuk hukum-hukum adatnya. tak ada yang diskriminatif termasuk kepada perempuan. kita batak yang tidak sepenuhnya menjalankan. untuk perempuan (boru) kan ada istilah ‘ulos na soolo buruk’ hal pembagian tanah tu boru. Selengkapnya ada di karangan orang belanda J.C.Vergouwen 1933, terjemahan Inggrisnya: The Social Organisation and Customary Law of the Toba Batak of Northern Sumatra. Edisi indonesia tahun 1986: Masyarakat dan Hukum Adat Batak Toba. Ada juga katanya buku bagus lagi sayangnya saya belum punya; karanganW.K.H.Ypes: Coba kita baca-baca tentang batak ini walaupun terpaksa dari luar: Batak itu memang indah, tapi janganlah kita buat jadi payah

  4. Tanggapan sabar tambunan:

    Syalom, Horas

    Opini bapak Sitindaon hanya melihat dari permukaan saja. Bagaimana dengan keberlansungan Konsep Marga dan Dalihan Natolu (Batak = Marga Dalihan Natolu. Toh ini hanya menyangkut tanah, tanah yang di bona pasogit. Gamblang sekali uraian dari Bapak Nadeak, ini bukan diskriminasi.

    Mertua lelaki saya orang Inggris Skonlandia, perempuan Jerman Ingris. Waktu rapat adat tambunan untuk mempersiapkan perkawinan kami, mereka ikutan (kebetulan mereka mengerti juga bahasa Indonesia). Wow…mereka kaget dan kagum sekali. Para ibu ikut berbicara. Lelaki perempuan tak ada beda, sama saja, kita berbicara seperti debat antar para anggota parlemen mereka yang disiarkan di-telivisi (budaya barat). Bahkan untuk sebatas hak bicara di lingkungan keluarga, mereka mengaku perempuan mereka kalah jauh dengan perempuan batak.

    Mereka tanya ke saya, kenapa bisa begitu. Saya jawab saja dengan enteng..”tanpa para ibu mana mungkin acara adat bisa bisa dilaksanakan. Jadi mereka memang harus punya hak bicara dan mengatur…”

    Mengenai peran dan kedudukan perempuan batak di legislatif atau urusan publik lainnya, itu bukan karena adat batak. Itu sistem sosial budaya politik diluar adat dan budaya kita yang menyebabkan itu.

    Tidak ada masalah diskriminatif dalam adat dan budaya batak. Malah perempuan batak merupakan potensi yang besar bagai kemajuan keluarga, komnitas dan bangsa kita. Karena mereka dikenal tangguh membangun keluarga. Justru yang jadi masalah adalah para pengambil kebijakan dan keputusan (Pemda2 dan DPRD di tano batak). Sampai sekarang tidak ada kebijakan yang berarti untuk memanfaatkan ketangguhan perempuan batak.

    Mana program dari pemerintah yang secara nyata agar ketangguhan perempuan batak semakin berbuah. Cobalah kita evaluasi berapa alokasi dana APBD untuk program2 untuk kepentingan para perempuan batak. Contohnya untuk para pengrajin tenun kain ulos ataupun pedagang inang-inang di pasar. Juga menyangkut kesehatan kehamilan dan anak balita. Contohnya, Apakah sudah ada program susu vitamin gratis untuk mereka??.

    Ayolah Bapak Tindaon, kita sama2 diskusi dan berdebat menyangkut bagaimana ketangguhan perempuan batak ini bisa semakin berbuah. Kita para laki-laki yang sampai saat ini masih sangat ‘menguasai’ kebijakan publik, bertindak nyata mendorong kemajuan perempuan batak.

    Ada Joke seperti ini;

    ” Kalau mau titip adik perempuan, titiplah kepada orang batak..pasti aman. Tapi jangan coba-coba titip uang ke orang batak”

    ” Titiplah uangmu ke-orang Ambon, tapi jangan sekali-kali kau titipkan adik perempuanmu,…wah bahaya! ”

    Muliate

  5. Tanggapan noel:

    diskriminasi terhadap perempuan harus di hapuskan !
    karena tidak sesuai dengan perikeadilan dan perikemanusian.

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Jambi Siapkan Tiga Petinju Hadapi STE di Ambon
Artikel selanjutnya :
   » » Jelang Buka Puasa, SMKN 11 Meriahkan Merdeka Walk