Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Kamis
21
Sep '06

Mereguk Pesona Danau Toba di Semenanjung Tuk Tuk


Matahari mulai meninggi ketika Panther kami melaju. Membawa bekal secukupnya, mobil bergerak menuju ruas jalan Medan – Tebingtinggi - Siantar – Parapat. Tujuan kami adalah desa kecil Tuk Tuk di peninsula timur Pulau Samosir.

Perjalanan ini memakan waktu tiga jam lebih dengan jarak tempuh 172 km. Sepanjang jalan yang datar itu, kami melewati banyak wilayah berciri Melayu dan berakhir di Kabupaten Simalungun.

Melewati Pematangsiantar yang terkenal dengan oleh-olehnya roti ganda dan tengteng, Panther meluncur menuju Parapat. Menjelang kota tujuan wisata itu, pemandangan Danau Toba mulai terlihat. Di kiri jalan gugus pegunungan berdiri kekar sementara di kanan hamparan danau toba tampak memukau.

Danau Toba
Untuk sekadar menghilangkan penat, kami beristirahat sebentar di dekat jembatan tua bekas peninggalan Jepang dan Belanda. Tempat yang kemudian dikenal sebagai wilayah perlindungan monyet (macaques). Di tempat ini banyak monyet berkeliaran. Pengunjung bisa melihat puluhan monyet diberi makan oleh penjaganya. Uniknya, ia memanggil gerombolan monyet itu dengan menggunakan terompet dari tanduk.

Setelah penat berkurang, kami melanjutkan perjalanan menuju Parapat. Hanya berjarak 3- 4 km lagi sebelum menuju pelabuhan penyeberangan menuju Samosir. Tiba di “kota turis” itu, kami berhenti mengisi perut. Setelah berkeliling mencari tempat makan yang pas, kami menyantap hidangan khas Batak di salah satu rumah makan.

Menyeberang Danau Toba
Siang semakin panas, saat kami bergerak menuju Ajibata. Ini adalah dermaga penyeberangan boat menuju Tomok atau Tuk Tuk di Pulau Samosir. Dari sini kami berpisah dengan rombongan yang akan melanjutkan perjalanan ke kawasan lembah Bakara, Humbanghasundutan.

Penulis kemudian menumpang sebuah boat sederhana berlantai dua. Kapal kayu ini akan mengantar kami menuju Tuk Tuk, persinggahan berikutnya. Tepat pukul 13.30 WIB, sirene kapal dibunyikan tanda akan segera angkat sauh dan berlayar menuju Samosir.

Danau Toba dengan air hijau kebiruan beriak halus saat kapal bergerak pelan. Kabut tipis melayang di permukaannya saat langit tampak sedikit mendung. Sambil menikmati panorama dan semilir angin, petugas mulai memungut tiket kapal. Biayanya hanya Rp 7 ribu rupiah perorang.

Kapal yang kami tumpangi agak kosong, maklumlah ini bukan hari libur. Menurut kru kapal, biasanya penumpang ramai saat Sabtu, Minggu, dan hari libur. Di dek atas hanya ada beberapa penumpang dan dua di antaranya turis asing asal Swedia.

Tak lebih dari 45 menit, kapal merapat di salah satu dermaga penginapan yang sudah kami pesan. Sekadar informasi, biasanya penumpang kapal dari Parapat menuju Tuk Tuk sudah menentukan dermaga tujuannya. Karena di Tuk Tuk ada beberapa dermaga yang bisa disinggahi kapal penumpang. Biasanya masing-masing penginapan atau hotel yang berada di tepi danau punya dermaga sendiri-sendiri. Tinggal sebutkan penginapan mana, maka kapal akan mengantar kita ke dermaga tujuan.

Tuk Tuk
Tuk Tuk hari itu, Kamis (1/6), tampak sepi pengunjung. Setelah menyelesaikan administrasi penginapan, kami pun mulai mengitari peninsula Tuk Tuk yang tenang. Sore itu sedikit mendung dan angin bertiup agak kencang. Menurut penduduk lokal, kemungkinan hujan akan turun.

Tuk Tuk adalah semenanjung kecil di Pulau Samosir yang menjorok ke Danau Toba. Desa ini sejak tahun 1960 berkembang menjadi lokasi wisata dan penuh dengan tempat penginapan, café, bar, warung, dan rumah makan. Tuk Tuk memang sangat tenang, sejuk, dan cocok untuk bersantai. Pemandangan Danau Toba dari semenanjung ini memang cukup memukau. Pantainya relatif bersih dan menjadi persinggahan bagi turis yang ingin berkeliling Samosir.

Penduduk Tuk Tuk sangat familiar terhadap wisatawan, apalagi turis asing. Mereka menjaga lingkungan sekitar tetap bersih, membangun rumah-rumah yang beberapa di antaranya berciri khas Batak. Begitu juga dengan penginapannya yang asri dan sebagian menonjolkan ornamen dan kerajinan Batak.

Di Tuk Tuk ada beberapa toko yang menjual suvenir khas Batak, rental mobil, sepeda motor, sepeda, dan travel biro. Harga-harga yang ditawarkan memang relatif tidak mahal, yang terasa mahal hanyalah makanan dan minuman.

Lebih dari itu, Tuk Tuk memang menawarkan relaksasi. Ada beberapa shelter (tempat istirahat) yang menyajikan panorama keindahan teluk dan hamparan Danau Toba. Ketenangan dan keindahannya membuat kita enggan beranjak dari sana. Apalagi saat matahari terbenam, nuansa panoramanya sangat memukau.

Sumber : (Evin Bakara) Global, Medan


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.