Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Jumat
15
Sep '06

Warisan Ulos


UlosSalah satu keunikan yang banyak menyimpan rahasia keterampilan seni yang unik yang berpadu dengan budaya terdapat dalam ulos.Keunikan itu setidaknya masih terjaga berkat kepudilan orang-orang yang masih eksis menjaga warisan tua ini.

Diantaranya adalah pasangan suami-istri St D Sitompul (67) dan F Br Panggabean (60) sejak tahun 1980-an telah bergelut dalam melestarikan tenun ulos. Bukan hanya mereka penduduk Desa Sitompul Kecamatan Siatas Barita, mayoritas memiliki ketrampilan bertenun olos selain bertani padi.

Proses pembuatan ulos bukanlah pekerjaan mudah. Selain butuh waktu lama, juga dibutuhkan kecakapan seni dalam memadukan warna serta merangkai benang menjadi sebuah ulos maupun mandar (sarung) yang bermotif seni.

St D Sitompul“Ini bukan pekerjaan mudah,” begitu kata Sitompul sambil menunjuk-nunjukkan bahan-bahan pewarna kimia yang tesusun rapi di belakang rumahnya. “Inilah kantor saya,” tambahnya berseloroh.

Bahan baku utama benang adalah penentu. Semakin tinggi kualitas benang semakin tinggi juga harganya. Di samping itu, semakin sulit mengerjakan corak ulos maka semakin tinggi pula harganya. Misalnya Mandar Surat Batak, harganya lebih mahal dari ulos atau mandar lain, mulai Rp 250 ribu hingga Rp 2 juta.

Satu ulos atau mandar dengan kualitas benang bermutu dan tingkat kesulitan pembuatan corak lebih tinggi membutuhkan waktu dua minggu jika dikerjaan oleh satu orang. “Makanya kami lebih sering mengerjakannya bersama-sama,” kata Br Panggabean.

Sementara ulos yang pembuatannya sederhana berharga lebih murah. Seperti halnya Ulos Ragi Hidup, Ragi Hotang dan Sadun harganya lebih murah, yakni mulai Rp 20 ribu hingga Rp 600 ribu.

Benang 100 adalah salah satu bahan baku berkualitas tinggi. Benang ini didatangkan dari India setelah dibeli oleh agen dari Surabaya, Bandung atau Jakarta. Warnanya ini masih putih polos. “Di sinilah dibutuhkan keterampilan khusus memadukan warna kimia menjadi warna yang diinginkan,” kata Sitompul. Selanjutnya setelah benang diberi warna, proses penenunan pun dilakukan setelah benang-benang berwarna itu kering oleh sinar matahari.

“Nah, di sinilah proses yang lebih sulit karena membutuhkan kreasi seni,” kata Sitompul. Selain benang 100, Sitompul mengatakan, untuk menciptakan corak atau tulisan pada ulos mereka juga menggunakan benang emas, yang warnanya menyerupai emas, nilon, porada, dan benang singer.

Namun Sitompul mangaku, lebih sering mendapatkan pesanan daripada menjualnya kepada agen ulos. “Selain Tarutung, pesanan sering juga datang dari Medan, Jakarta, dan kota-kota lain. Mereka sudah mengenal saya dan kampung ini lewat ulos,” katanya.

Sitompul, setelah 20 tahun menggeluti tenun ulos, hingga kini telah berhasil menamatkan tiga orang anaknya dari universitas. “Ini semua berkat kuasa Tuhan dan ketekunan keluarga mempertahankan ulos sebagai salah satu kekayaan dari Tanah Batak,” katanya.

Sumber : (Tonggo Simangunsong - Bisnur Sitompul) Harian Global, Medan


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.