Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Sabtu
26
Agt '06

Luar Biasa, Sejumlah Tunanetra Yapentra (GKPI) T Morawa Kuliah di PTN dan PTS


DR GM Panggabean sangat kagum dan bangga ketika kepadanya kemaren diberitahukan, bahwa sejumlah tunanetra anak didik Yayasan Tunanetra Sumatera (Yapentra) yang didirikan Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) berlokasi di Jalan Medan-T. Morawa, saat ini sedang mengikuti kuliah di beberapa Perguruan Tinggi Negeri dan swasta di kota ini. Dan berhasil mendapat IP tinggi, bahkan satu di antaranya mendapat IP tertinggi di Fakultasnya, 3,91.

Keluarga Pak GM memang sudah lama mempunyai hubungan dengan Yapentra. Sejak Yapentra dipimpin Pdt Simon Tarigan. Pak GM sendiri punya 10 orang cucu asuh di sana, keluarga menantunya Maja Hutapea/Intan br Panggabean 10 anak asuh dan Ir GM Chandra Panggabean 3 anak asuh. Namun karena kesibukan sehari-hari, perkembangan di Yapentra tidak selalu diikutinya. “Kuliah? Itu luar biasa. Gimana caranya mereka bisa mengikuti kuliah?” tanya Pak GM ingin tahu. Direktur Yapentra Pdt A Hutauruk STh menjelaskan, mereka dibantu dengan talking computer (computer bicara) yang disediakan Yapentra untuk dipakai di mana mereka mengikuti kuliah.

“Dari mana Yapentra mendapat computer canggih seperti itu? tanya Pak GM. “Dari bantuan sebuah bank,” jelas Pendeta Hutauruk. “Wah,- ini luar biasa. Puji Tuhan. Tuhan Maha Besar,” seru Pak GM. Setelah satu per satu mahasiswa tunanetra tersebut diperkenalkan kepadanya, kelihatan Pak GM terharu dan bangga. Yang pria tampan-tampan, pakai dasi lagi, yang wanita juga cantik-cantik. “Kita tidak boleh lupa atas jasa-jasa pendiri yang juga Bishop pertama GKPI Pdt DR Andar Lumbantobing yang telah mendirikan Yapentra ini,” kata Pak GM.

“Tuhan telah mengajarkan kita tentang kasih, dan inilah salah satu contoh konkrit bagaimana kita harus mengasihi,” lanjut Pak GM. “Sebagai Gereja dan sebagai orang Kristen, kita tidak boleh menjauhkan diri dari orang-orang susah,” lanjut Pak GM lagi seperti berkhotbah, padahal tokoh-tokoh pimpinan Gereja yang menjadi tamunya kemaren, adalah Pendeta-Pendeta. Juga ikut hadir Bishop GKPI Pdt. MSE Simorangkir MTh dan Sekjen Pdt M. Simamora STh yang datang berkunjung ke Kantor SIB bersama pengurus Yayasan Yapentra tersebut. “Berita sukacita seperti inilah yang ingin kita dengar setiap hari, jangan berita-berita perselisihan di Gereja,” ucap Pak GM lagi sambil ketawa. Kepada para tunanetra mahasiswa itu pun, Pak GM memberikan motivasi.

Gimana, mau kuajari berpolitik? tanya Pak GM dan semua ketawa. Pertemuan yang berlangsung beberapa jam itu, hiruk pikuk dengan tawa, apalagi ketika Pak GM mengutarakan beberapa anekdote tentang sifat-sifat dan perilaku orang Batak yang tetap kental walaupun sudah menjadi Kristen. Pada kesempatan itu, Bishop GKPI Pdt MSE Simorangkir MTh didampingi Sekjen Pdt M Simamora STh yang juga Ketua Yayasan “mangulosi” DR GM Panggabean dengan Ulos Batak bertuliskan Yapentra, serta berdoa untuk kesehatan Pak GM dan keluarga. Oleh Bishop juga diserahkan kepada Pak GM sebuah buku berjudul: Napak Tilas Ingwer Ludwig Nommensen.

Dan undangan untuk menghadiri acara peresmian Vocation School Centre yang didirikan Yapentra, pada tanggal 31 Agustus 2006. Pada acara yang sama akan diresmikan juga Toko milik Yapentra yang terbuka untuk umum dan dilayani para tunanetra anak asuh Yapentra tersebut. Pak GM memberitahukan, Sabtu ini (hari ini) dia akan ke luar negeri, namun akan diusahakannya kembali sebelum tanggal 31 Agustus. Rencana Peresmian Vocation School Centre Lebih lanjut wartawan SIB Drs Suwandi Purba dan John Prins Manalu SPd melaporkan pertemuan itu, sbb: Yayasan Pendidikan Tunanetra Sumatera (Yapentra) yang berlokasi di Km 21,5 Tanjungmorawa ternyata telah memiliki sejumlah keberhasilan dalam mengasuh dan mendidik anak-anak tunanetra.

Sejumlah anak asuhnya bahkan diterima masuk di PTN, SMA negeri dan swasta top. Bahkan di STT (Sekolah Tinggi Theologi) Abdi Sabda ada yang berprestasi luar biasa, memiliki IP tertinggi mengungguli mahasiswa calon pendeta dari anak-anak normal. Dia adalah Peringaten Gea (Nias), mahasiswa STT Abdi Sabda yang masuk tahun 2002/2003. Saat ini telah mengikuti perkuliahan semester VII dengan predikat penyandang IP tertinggi 3,91 dan tengah mempersiapkan menyusun skripsi. Prestasi lainnya adalah Wilma Margaretha Sinaga, anak asuh Yapentra yang diterima masuk di Unimed jurusan Sastra Jerman tahun 2006 melalui jalur testing umum. Begitu juga Raiam Simbolon, yang lulus testing masuk pendidikan Diakones Balige tahun 2006.

Tahun 2006, 2 orang anak asuh Yapentra juga diterima di SMA Negeri II Lubukpakam, 3 orang diterima di SMP N II Lubukpakam serta 2 orang diterima di STT Abdi Sabda dan seluruhnya berhasil masuk setelah melalui jalur seleksi umum bersama anak-anak yang normal. Sejumlah prestasi anak asuh Yapentra itu disampaikan pengurus Yapentra saat beraudiensi kepada DR GM Panggabean, Jumat (25/8) di Kantor SIB Medan.

Hadir dalam audiensi itu, Bishop GKPI Pdt MSE Simorangkir MTh, Sekjen GKPI Pdt M Simamora STh (Ketua Yapentra), Rajisten Sitorus SH MM (Wakil Ketua Yapentra), Ir AK Hutabarat Magr (Sekretaris), Pdt SM Gurning STh (Wakil Sekretaris), Paimaon Sitompul (Bendahara Yapentra), Pdt A Hutauruk STh (Direktur Yapentra), Lasmaria Lestrina SPd (Kepala Sekolah), Jabes Silaban (Kepala RpM) dan Dra Linda Hutagalung SPd (Guru Integrasi). Ikut juga sejumlah mahasiswa di antaranya Peringaten Gea (STT Abdi Sabda), Arjuna Peranginangin (Unika St Thomas), Lody Sitepu (Karo) (STT Abdi Sabda), Wilma Sinaga (Unimed), Ida Rosari Siagian (STT Abdi Sabda) dan Dewi Sartika Doloksaribu (STT Abdi Sabda).

Selain keberhasilan dalam pendidikan formal, Yapentra juga mulai melangkah lebih maju lagi dengan akan diresmikannya fasilitas pusat sekolah ketrampilan Vocation School Centre. Sekolah pusat ketrampilan ini didirikan dengan tujuan untuk menciptakan ketrampilan bagi anak-anak tunanetra sehingga dengan ketrampilannya tersebut bisa memberikan mata pencaharian bagi dirinya. Di pusat ketrampilan ini akan ditingkatkan kemampuan ketrampilan anak-anak cacat. Misalnya jika selama ini penyandang cacat tunanetra umumnya menjadikan profesi pemijat tradisional dalam mencari nafkah, maka akan diajari pijat refleksi untuk menambah daya saing mereka.

Di pusat ketrampilan ini juga akan diajarkan pembuatan berbagai kerajinan berupa ukiran, sulaman, lukisan dan makanan-makanan ringan lainnya. Seluruh hasil kerajinan anak-anak Yapentra tersebut langsung dijual di toko Yapentra yang juga telah didirikan dan akan diresmikan bersamaan dengan peresmian Vocation School Centre pada 31 Agustus 2006. Acara pembukaan ini akan dihadiri Kadis Sosial Pempropsu, Bupati Deliserdang, Rotary Club dan undangan lainnya. Keterpanggilan Yapentra dalam membina anak-anak tunanetra ini, kata Direktur Yapentra Pdt A Hutauruk STh ternyata mendapat dukungan kuat dari masyarakat di antaranya dari Rotary Club.

Berkat bantuan Rotary Club telah dibangun satu wisma yang lokasinya persis di depan gedung Yapentra seluas 1 Ha. Wisma ini akan disewakan kepada masyarakat umum, namun untuk pengisi musik telah disediakan dari kelompok band anak-anak tunanetra Yapentra. Melalui keberadaan wisma tersebut diharapkan pula bisa memberikan peluang mencari nafkah bagi anak tuna netra. Pembangunan Wisma Yapentra tersebut, kata Pdt A Hutauruk murni bantuan Rotary Club Malaysia sebesar 19.000 dolar AS, Rp 60 juta dari Yapentra dan sisanya ditanggung Rotary Club Medan. Total pembangunan Wisma dan Vocation School Centre mencapai Rp 600 juta lebih. Yapentra juga mendapatkan bantuan dari Pak Edward Silitonga (PT Tulung Agung) menyerahkan lahan seluas 4 Ha untuk perkebunan sawit di Galang.

Bantuan lahan sawit ini pun ditujukan untuk memaksimalkan kemampuan Yapentra dalam memberdayakan anak-anak tunanetra. Diungkapkan Pdt A Hutauruk STh, keberhasilan anak asuh Yapentra dalam mengikuti pendidikan formal di sekolah umum tidak terlepas dari bantuan teknologi. Para tunanetra sebelumnya telah mendapat pengenalan dan penguasaan teknologi komputer bicara (Computer Talk) serta power display. Melalui komputer bicara inilah para tunanetra mampu menyimpan data pelajaran dan kemudian melalui power display bisa mencetak apa yang menjadi buah pikirannya. Saat ini tersedia 6 unit komputer bicara di Yapentra yang merupakan bantuan dari HSBC (Hongkong Standard Bank Chartered).

Dalam kesempatan itu, Direktur Yapentra mengharapkan Pak GM selaku pemilik UNITA untuk mau menerima anak tunanetra menjadi mahasiswanya. Apalagi umumnya anak tunanetra yang diasuh di Yapentra adalah yang berasal dari seluruh daerah di Sumut dan umumnya dari daerah agraris. “Sangat ideal sekali kalau mereka bisa dididik di Unita sehingga mampu menguasai pertanian dan bisa memberikan sumber mata pencaharian mereka nantinya,” kata Pdt A Hutauruk. Di Yapentra Tanjungmorawa saat ini diasuh 82 anak tunanetra (50 pria-32 wanita). Mereka dididik sebanyak 26 orang di jenjang SDLB (Sekolah Dasar Luar Biasa), 16 orang di SMPLB (Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa) Yapentra. Selebihnya bersekolah di lembaga pendidikan umum, 7 orang di SMP N Lubukpakam, 2 orang di SMA Katholik Serdang Murni Lubukpakam dan 9 orang mahasiswa.

Sumber : (A2/d) Harian SIB, Medan


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.