Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Kamis
24
Agt '06

Asal Usul Marga Sihombing Lumbantoruan


Lumbantoruan merupakan salah satu marga dari suku Batak, diwarisi oleh semua yang bermarga Lumbantoruan, baik lelaki maupun wanita dari garis keturunan Bapak secara turun-temurun. Lumbantoruan yang pertama bergelar BORSAK SIRUMONGGUR, merupakan anak kedua dari Sihombing yang mempunyai 4 orang anaklaki-laki dengan urutan sebagai berikut:

  1. Silaban gelar Borsak Junjungan
  2. Lumbantoruan gelar Borsak Sirumonggur
  3. Nababan gelar Borsak Mangatasi
  4. Hutasoit gelar Borsak Bimbinan.

Marga yang diwarisi oleh keturunan masing-masing adalah Silaban, Lumbantoruan, Nababan, dan Hutasoit. Keempat gelar tersebut sering dipakai sebagai nama perkumpulan marga oleh keturunan yang bersangkutan di perantauan, atau sebagai nama nenek moyang dari marga yang bersangkutan. Misalnya marga Lumbantoruan, pomparan (keturunan) dari Borsak Sorumonggur.

Perlu dicatat bahwa mayoritas orang yang bermarga Lumbantoruan memakai marga Sihombing, sedangkan yang bermarga Silaban, Nababan, dan Hutasoit hanya sedikit yang memakaimarga Sihombing.

Mengingat keturunan dari masing-masing marga telah banyak jumlahnya, maka sejak puluhan tahun yang lalu telah disepakati oleh keturunan dari empat bersaudara: Silaban, Lumbantoruan, Nababan, dan Hutasoit untuk boleh saling mengawini. Artinya,lelaki dari masing-masing marga ini boleh mengawini perempuan marga lainnya dari kelompok empat marga yang bersaudara tersebut. Persetujuan nikah tersebut di dalam upacara tastas bombong.

MENGAPA MARGA ITU PERLU?

Sejak dulu Orang Batak telah mempunyai marga. Marga memegang peranan dalam adat istiadat, budaya, pergaulan, dan kehidupan sosial di lingkungan masyarakat Batak, khususnya dalam rangka melaksanakan falsafah Dalihan na Tolu. Selama- orang masih mengaku dirinya sebagai Orang Batak ia akan tetap memerlukan marganya di dalam penyelenggaraan adat istiadat, budaya, dan tata krama pergaulan di dalam masyarakat, sekalipun ia hidup di perantauan.

Selain itu, marga yang diwarisi secara turun temurun itu dapat berfungsi sebagai family name, yang umumnya pada banyak bangsa di dunia ini diwariskan kepada keturunannya. J adi, marga itu –umpanya Lumbantoruan– dapat berfungsi sebagai salah satu identitas.

SEJAK KAPAN MARGA LUMBANTORUAN ITU ADA?

Di dalam kehidupan sosial dan pergaulan Orang Batak, masing-masing orang yang semarga perlu mengetahui silsilah dan nomor silsilah masing-masing. Kenapa silsilah perlu diketahui adalah untuk membedakan teman semarga yang kita hadapi itu apakah merupakan haha doli (abang) atau anggi doli (adik). Sedangkan gunanya mengetahui nomor silsilah adalah agar kita mengetahui apakah teman semarga yang kita hadapi itu termasuk golongan Bapak, Kakek, Anak, atau Cucu.

Nomor silsilah nenek moyang kita, Borsak Sorumonggur adalah nomor 1. Nomor silsilah anaknya adalah nomor 2, sedangkan cucunya adalah nomor 3, demikian seterusnya. Apabila seorang memiliki silsilah bemomor 15, maka ia akan menyebut marga Lumbantoruan bemomor silsilah 14 sebagai Bapak dan yang bemomor silsilah 16 sebagai Anak.

Dengan memperhatikan nomor silsilah bermarga Lumbantoruan di Jabodetabek, nomor silsilah generasi Lumbantoruan yang hidup sekarang bervariasi, mulai dari nomor 14 sampai dengan nomor 19. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa marga Lumbantoruan sudah ada sejak sekita 3 - 4 abad yang silam.

DI MANAKAH TEMPAT BERMUKIM MARGA LUMBANTORUAN?

Semula, Sihombing bermukim di Pulau Samosir. Mungkin untuk memperoleh ruang hidup yang lebih baru dan lebih baik ia bersama keempat anaknya: Silaban, Lumbantoruan,

Nababan, dan Hutasoit pindah ke Tipang, seberang Danau Toba. Tipang terletak di pantai, selatan Danau Toba, pada tanah pesisir yang sempit, dikelilingi perbukitan yang cukup, tinggi di sebelah selatan, tidak jauh dari Bakara –tempat pemukiman Raja Sisingamangaraja.

Keluarga Sihombing beserta anak-anaknya cepat berlipat ganda di Tipang, hal yang membuat lahan persawahan dan pertanian yang terasa kurang. Oleh sebab itu, sebagian

keturunan Sihombing bermigrasi (pindah) ke dataran tinggi, atau disebut juga Humbang, Semula, keturunan Lumbantoruan mendirikan kampung dekat Lintongnihuta, namanya, Sipagabu. Dari Sipagabu inilah secara bertahap keturunan Lumbantoruan berpencar dii daerah Humbang, yaitu:

a) Lintongnihuta dan sekitarnya

b) Bahalbatudansekitarnya

c) Sibaragas dan sekitarnya

d) Sipultak dan sekitarnya

e) Butar dan sekitarnya.

Di tiga daerah pertama bermukim keturunan Hutagurgur Lumbantoruan, anak sulung Lumbantoruan. Di Butar dan sekitarnya bermukim keturunan Toga Hariara Lumbantoruan, anak kedua (bungsu) dari Lumbantoruan. Di keempat daerah tersebut marga Lumbantoruan merupakan mayoritas ketimbang marga-mara yang lain. Selain di empat daerah itu, keturunan Lumbantoruan juga berbaur dengan Silaban, Nababan, dll

Hutasoit di luar Humbang, persisnya di sekitar Pahae yang berbatasan dengan Angkola. Di Tipang sendiri sampai sekarang masih tinggal bermukim sekelompok Lumbantoruan keturunan Mambirjalang, dalam hal ini Pareme dan Nasorasabat.

Perlu juga diketahui tempat pemukiman ketiga marga keturunan Sihombing (Silaban, Nababan, dan Hutasoit) di Humbang, yaitu:

1. Silaban di Silabanrura, Butar
2. Nababan di Nagasaribu, Lumban Tonga-tonga Paniaran, Sipariama, dan Lumban Motung dan sekitarnya.
3. Hutasoit di Siborong-borong, Butar, Lintongnihuta, dan sekitarnya.

Untuk beberapa abad, persawahan dan pertanian di tempat pemukiman Lumbantoruan masih terasa cukup. Akan tetapi, seiring dengan percepatan pertumbuhan keturunan Lumbantoruan yang cepat berlipat ganda, persawahan dan pertanian pun semakin terbatas. Sejak itulah keluarga-keluarga Lumbantoruan bermigrasi ke tempat lain. Pada masa Perang Kemerdekaan, perpindahan keluarga-keluarga Lumbantoruan makin meningkat ke daerah Sumatera Timur. Secara bertahap hingga sekarang keluarga-keluarga Lumbantoruan (terlebih generasi mudanya) banyak yang pindah ke tempat lain, tersebar hingga ke kota-kota besar dan pulau-pulau lainnya.

Akibatnya sekarang, banyak kampung di Humbang, daerah asal Lumbantoruan, mayoritas penduduknya adalah orang-orang yang sudah tua. Banyak para pemuda meninggalkan kampung halamannya untuk sekolah atau untuk memperoleh hidup yang lebih baik. Di Jakarta, mereka mempunyai Parsadaan (perkumpulan) yang diberi nama Parsadaan Borsak Sirumonggur Sihombing Lumbantoruan Dohot Boru & Bere Se�Jabotabekdep dan sekitarnya.

SIAPAKAH YANG BERMARGA LUMBANTORUAN?

Yang bermarga Lumbantoruan adalah :

1. Pada dasarnya semua orang, lelaki dan wanita, yang mewarisi marga tersebut melalui garis bapaknya.
2. Semua perempuan non-Batak yang sudah diberi (diampehon) marga boru Lumbantoruan melalui proses adat atas permintaanya sendiri dan (calon) suaminya. Suaminya adalah bere dari salah satu keluarga Lumbontoruan, atau anak atau keturunanya dari saudara perempuannya.
3. Semua lelaki non-Lumbantoruan yang diadopsi oleh salah satu keluarga Lumbantoruan.

BAGAIMANA PEREMPUAN ATAU LELAKI NON-LUMBANTORUAN BISA MENJADI LUMBANTORUAN?

Seperti dikemukakan di atas sudah makin banyak keluarga Lumbantoruan yang berdomisili jauh dari daerah asal nenek moyangnya. Dalam situasi yang demikian perkawinan antar suku, bahkan antar bangsa tak terhindarkan. Oleh Sebab itu sudah makin banyak pemuda Lumbantoruan yang menikah dengan perempuan dari suku non-Batak.

Demikian pula para bere dari Lumbantoruan, yaitu anak atau keturunan dari ibu (boru) Lumbantoruan. Dalam hal ini banyak bere dari Lumbantoruan, yang bersama calon isterinya memohon kepada keluarga Lumbantoruan terdekat untuk memberi (mangampehon) marga kepada sang (calon) isteri tersebut . Dengan demikian praktis keluarga Lumbontoruan tersebut “harus” mengadopsi perempuan non-Batak dimaksud menjadi anaknya putrinya atas restu ketiga unsur marga sesuai dalihan na tolu.

Dengan pemberian marga itu, maka :

1. Bere itu mempunyai Hula-hula
2. Anaknya mempunyai Tulang
3. Cucunya mempunyai Bona Tulang
4. Anak cucunya mempuyai Bona ni Ari

Hal yang sama bisa terjadi pada lelaki non-Lumbantoruan, bisa menyandang marga Lumbantoruan melalui proses memberi (mangampehon) marga atas permintaan pihak

keluarga (calon) isteri lelaki dari suku non-Batak tersebut. Hanya memang, peristiwa ini sangat jarang, karena prosedumya lebih ketat dan memerlukan pertimbangan yang lebih matang. Dengan demikian terjamin hak dan kewajibannya dalam adat istiadat orang Batak sampai tiga keturunan.

Dikutip dari “Buku Parsada Borsak Sirumonggur Sihombing Lumbantoruan

Sumber : Tuan Guru Sinomba


Ada 16 tanggapan untuk artikel “Asal Usul Marga Sihombing Lumbantoruan”

  1. Tanggapan Charly Silaban:

    Perlu dicatat bahwa mayoritas orang yang bermarga Lumbantoruan memakai marga Sihombing, sedangkan yang bermarga Silaban, Nababan, dan Hutasoit hanya sedikit yang memakai marga Sihombing.

    Kenapa bisa begini ya ?

  2. Tanggapan SANTI ANDRAYANI:

    Horas……………………..
    Artikel diatas bagus banget tp sepertinya kurang lengkap, bagaimana kalau bisa ditambahkan dengan adanya peta Sumatera Utara Dan kampung2nya/Temat tinggalnya Lbn Toruan. Kalau bisa pakai gambar, jgn cuma peta aja :-D .

    Saya baru lihat web ini, nama saya Santi Andrayani br Lbn toruan no 17. Yang saya mau tanya adalah:
    1. Kok kalau orang tanya dimana kampung saya, maka kata ayah saya, sya harus menjawab Hariara. kenapa bisa begitu yach?
    2. Trus kalau yang mau nikah br Lbn toruan asli, boru ini akan dapat apa saja(ULOS) dan dr siapa saja?

    Terima kasih
    HORAS…HORAS…HORAS
    GBU :*

  3. Tanggapan A. Sihombing:

    >>>>

    saya pomparan dari borsak sirumonggur (lumban toruan).

    kata orang2 marga sihombing (bukan boru) itu playboy….

    soalnya saya diputusin pacar saya, hanya karena masalah

    marga, kata orang katanya sihombing itu parhallet.

    yang mau saya tanyakan:

    1. kenapa bisa gitu ya………….!!!!!!!!???????

    2. apa ada cerita daari dulunya begitu……..?????

    Mauliate

  4. Tanggapan Ir.Ronald L Tobing:

    Horas,
    Saya adalah boru dikel.Silaban siponjot DM/13, saya sangat tertarik dengan Tarombo , saya sedang kumpulkan khususnya mulai dari keturunan marga2 yg berhubungan dengan saya
    # Bolehkah saya dapat akar turunan dari Raja Sihombing, agar bisa saya sambung dengan data Pomparan Silaban DM yg telah saya miliki sebagian>
    # Apakah ada buku khusus yang lengkap mengenai Pomparan Raja Sihombing? kalau ada dimana dapat saya beli?
    # Saya baca di BUku Akar si Raja Batak, dimana asalnya Akar Raja Sihombing
    Demikian dahulu, Horasma

    generasi

  5. Tanggapan Mamby Aritonang:

    Ya menurut saya mengenai asal mula marga sihombing, adalah keturunan dari Raja Batak.

    Anak Raja Batak tersebut, merantau keluar dari tanah Batak yaitu daerah Pulau Samosir sekitarnya. Merantau dan menikah dan mempunyai keturunan. Kemudian orang bertanya tentang marga apa ? Mereka menjawab marga Sihombing.

    Itu menurut saya.

    Terima Kasih.

    Mamby Aritonang
    081375951883

  6. Tanggapan Erick Sihombing:

    Nama saya Erick Sihombing (Lumban Toruan),
    Menarik sekali artikel ini… akan tampak lebih baik lagi apabila disertakan dengan “tarombo” dan foto-foto.
    Saya juga ,memiliki artikel menarik mengenai topik ini (topik mengenai sejarah lumban toruan). Saya bingung mau dipublikasikan dimana, mungin lewat lewat situs ini bisa gak ya?
    Kalo mau tahu lebih detil tentang saya silahkan masukkan kata kunci “erick sihombing” (tanpa tanda petik) dalam browser google anda.

    Terimakasih,
    Erick Sihombing

  7. Tanggapan Saut P. Silaban:

    Bung Erick, Bisa saja kita posting di web ini, kirim aja pakai email ke parhobas[-at-]silaban[-dot-]net selama itu ttg artikel batak, kita pasti posting deh… untuk kemajuan halakhita serta bisa diakses orang lain, dengan senang hati kita bisa posting.
    salam,
    Saut P.silaban

  8. Tanggapan Febiola Sitohang:

    kenapa sesama marga ato masih satu rumpun kok boleh menikah??? sedangkan Parna yg begitu bayk marga meraka tidak boleh saling menikah ???? tolong dijawab dengan jelasa yach…thanks..gbu

  9. Tanggapan Saut P. Silaban:

    Mungkin dulu di kampung marga parna sudah banyak marga yang lain, sedangkan di kampung lumabantoruan belum banyak marga yang lain. Jadi (mungkin) diadakan konsesus untuk boleh “marsibuatan”. Ya agak efektif juga, karena daripada martandang jauh jauh, kenapa nggak yang dekat aja…. mungkin gitu ceritanya, bah ditambahi angka dongan ……!

  10. Tanggapan crescendo:

    Saya adalah keturunan dari Sihombing Lumbatoruan No. 17 dari Pomparan Datu Parulas - Tuan Hinalang dari Orang tua saya dikatakan kalau saya ini pomparan dari Ompu Raja Siampudan sian Bahal Batu yang konon ceritanya kabur dari Bahal batu dan merantau kalau pomparannya banyak ada di Medan untuk Jakarta sangat sedikit saya minta tolong kalau ada yang bisa kasih informasi tentang ompu saya ini….

  11. Tanggapan Robert Malvin Sidabutar:

    saya hanya ingin memberikan kritik tentang tanggapan “SATU PARNA TIDAK BOLEH MENIKAH”

    kalau jawabannya Saudara Saut Silaban seperti itu bagi saya hanya jawaban yang main2 saja padahal banyak saudara2 kita yang KANDAS CINTANYA akibat aturan SATU PARNA TIDAK BOLEH MENIKAH

    TOLONG BAGI AMANG/ABANG/ITO yang mempunyai jawaban yg lebih masuk akal segera ditanggapi

    ATAU KAH ATURAN ITU MASIH RELEVAN DIJAMAN SEKARANG INI!!!Sedangkan anak2 ADAM SAJA menikahi saudara kandungnya!!

  12. Tanggapan Eko H Siahaan:

    Saya punya istri br lumbantoruan no 17, saya ingin tau tarombo lumbantoruan yang terdaftar di borsaksimuronggur

    Parhobas [SB] :
    Mohon maaf, untuk saat ini kami belum memiliki data tersebut. Salam…

  13. Tanggapan Rihard Lumban Toruan:

    Terus terang saya sebelumnya tidak tahu darimana asal usul kampung Sihombing Lumban Toruan, br sekarang saya tahu. Kampung Saya adalah dari Sitampurung Kec. Siborong borong, tp sekarang ini saya merantau ke Kalimantan Timur tepatnya di Kab Kutai Kartanegara. Disitampurung mayoritas marganya adalah Lumban Toruan tp koq tdk termasuk komunitas dlm artikel ini. Trims.

  14. Tanggapan j.sihombing:

    Horas…. kami senang sekali dgn artikel abang nanti akan saya tambahkan dengan tarombo kami bisa?? kami sihombing lumban toruan par juara pagi no 16. Maju terus untuk kemajuan bersama. HORAS…

  15. Tanggapan Indra Christian Lumban Toruan:

    Horas!!! Saya sebelumnya hanya tahu sedikit sekali tentang asal usul Sihombing. Saya menyadari bahwa silsilah dan adat itu sangat perlu mengingat saya lama berdomisili di pulau jawa sehingga perlu untuk mengetahui darimana asal saya. Saya sangat senang bisa memahami silsilah tersebut dari situs ini dan akan lebih jelas jika ditambahkan dengan silsilah (“tarombo”).

  16. Tanggapan Budi Van Hallen Sihombing:

    Mauliate banyak untuk artikel ni abang on bah. tung mancai banyak do kegunaanna lumobi buat marga lumban toruan yang selama ini tidak begitu tahu tentang margana sandiri. anggiat ma nian tidak adong marga lumban toruan khususnya lumobi di hita pomparan toga sihombing na lilu, nasoumboto tuturna. Horas…horas…horas….

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.






Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel sebelumnya :
   » » Pemekaran Tapanuli: SDM dan SDA Masih Sangat Minim

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel selanjutnya :
   » » Ketua DPD Partai Demokrat Sumut, Lakukan Penanaman Pohon Di Kompleks Kantor Bupati Tobasa