Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Jumat
18
Agt '06

Pesta Rondang Bintang Ajang “Mencari Jodoh” dan Upaya Melestarikan Budaya Simalungun


Bangsa Indonesia terdiri berbagai suku (etnis), di dalamnya termasuk suku Simalungun yang dalam kehidupan sehari-hari mempunyai adat, kebudayaan dan bahasa daerah menjadi aset bangsa. Manusia sebagai mahluk sosial dalam menyampaikan maksud dan tujuannya kepada sesama selalu mempergunakan bahasa, karenanya sering disebut “bahasa menunjukkan bangsa”.

Memaknai : “bahasa menunjukkan bangsa “mempunyai arti identitas, hal ini memberikan pemahaman bahwa pergeseran nilai budaya (adat) dapat mengancam mengaburkan jati diri. Untuk mempertahankan jati diri itu tadi maka adat masing-masing  suku penting dilestarikan bagi kepentingan pembangunan menyentuh kehidupan orang banyak dan semua komponen masyarakat berkepentingan senantiasa memeliharanya. Karena adat itu sendiri merupakan pola aturan yang diakui secara bersama dan dilaksanakan secara bersama dalam berbagai kegiatan masyarakat.

Khusus di Simalungun, para pemuka adat bersama tokoh masyarakat yang dikenal dengan Partuha Maujana (Partuha=tokoh adat, Maujana=Cendikiwan) sejak 20 tahun silam mencoba menggali dan melestarikan budaya Simalungun dengan menggelar PRB (Pesta Rondang Bintang). Kegiatan ini mengangkat kebiasaan para remaja daerah ini setelah musim panen.

Ketua PMS (Partuha Maujana Simalungun) Kabupaten Simalungun Drs Jomen Purba Senin menuturkan aktivitas para remaja pada saat rondang bintang (bulan purnama) usai musim panen. Dahulu, kegiatan ini merupakan satu kebiasaan tahunan menjadi ajang pertemuan menjalin kasih atau mencari jodoh dan pembinaan semangat kegotongroyongan para remaja sebagai generasi penerus. Sekarang, akibat perkembangan tehnologi muncul kekhawatiran terjadinya degradasi moral. Karenanya, di masa mendatang PRB akan dijadikan forum pelestarian dan penggalian budaya Simalungun.

Proses terjadinya PRB dituturkan, tidak terlepas dari potensi alam Kabupaten Simalungun yang dikenal sebagai daerah agraris (pertanian). Mengolah lahan pertaniannya, masyarakat yang selalu hormat kepada yang lebih tua senantiasa menumbuhkembangkan semangat “marharoan” (gotong royong) meliputi menanam dan menuai padi, mengambil kayu membentuk tumbukan (gilingan) padi, bahkan dalam pembangunan desa para remaja turut berperan membuka jalan umum, membangun jaringan irigasi serta tempat pemandian.

Kebiasaan “marharoan” memupuk rasa kebersamaan “ra ham roh hu jumangku, ra ahu roh hu juma mu, urupi ham ahu, hu urupi ham. Jadi riap ma hita marhorja marhujai hujon. Riap marsiurupan ibagas riah na madear” (anda senang datang ke ladangku, aku senang datang ke ladang mu, aku membantu anda dan anda membantu saya. Saling membantu dalam musyawarah didasari akal sehat-red).

Setelah panen, melalui hasil musyawarah warga difasilitasi perangkat desa para muda-mudi melakukan persiapan PRB belajar menari, nyanyi, berbalas pantun, mengenakan pakaian adat yang dibimbing orangtua. Bagi muda-mudi yang sudah berumur tetapi belum menikah, menggelar tari khusus sebagai ucapan doa permohonan dengan harapan mendapat jodoh dan cepat menikah. Dalam acara ini juga melibatkan pasangan suami istri yang tidak punya keturunan, panjatkan doa meminta diberkahi anak.

Selain menampilkan pertunjukan tari dan seni, pelaksanaan PRB juga memberikan kesempatan bagi para muda-mudi memperkenalkan hasil dan khasiat tanaman dari masing-masing daerah (desa) asalnya. Di antara tanaman yang diperkenalkan ada yang patut diteliti menjadi ramuan obat bagi kesehatan manusia. Misalnya, Bonang sawei sejenis tanaman semak sering dipergunakan sebagai obat masuk angin dengan mencelupkannya pada air mandian anak-anak.

Jenis tari yang dipertunjukkan muda-mudi pada PRB umumnya mempunyai makna permohonan tersendiri di antaranya adalah gual (tari) Sayur matua (panjang umur), olob-olob (tetap suka ria), parahot (agar tetap utuh), Sampang Apuran (saling memaafkan), Soroung Dayung (agar tersalur rencana), Boniala-boniala (saling memaafkan), Haporas ni si Longkung (jangan anggap remeh), serta tari khusus mohon keturunan bagi pasangan suami-istri yang belum dikaruniai anak.

Rangkaian acara PRB tidak luput dari kegiatan berbalas pantun sesama muda-mudi, perkenalan pertama pada acara ini sering membuahkan kasih sayang dan diakhiri dengan pernikahan sesama muda-mudi. Kalangan pemuda selalu menyampaikan niat dengan mengucapkan pantun ditujukan kepada seorang gadis, mau atau menolak dipersunting.

Contoh pantun dari laki-laki, “Baktei na marjinujur, hambang hondor hapidi, dear pangkei martutur, ulang tarbodur ipudi” (dengan sopan pemuda memperkenalkan dan menjaga diri, mengatakan, sejak awal kita perlu berkenalan agar tidak menuai malu di kemudian hari), Perempuan “Mombur bulung halosi, dear lowoh ni randu, bujur ham mambalosi, aha do ge margamu” (wanita memberitahu identitas garis keturunannya ‘marga’ seraya meminta laki-laki serius dalam perkenalan itu).

Namun, sejak perkenalan pertama sang bidadari adakalanya menolak lamaran laki-laki. Contohnya “Anggo hordong langgeimu, rigaton bulung birah, anggo holong atei mu, dingaton do mandokah” (kalau kamu baik dan suka akan ku ingat selamanya) lalu ditolak dengan halus oleh wanita “Anggo hordong langgei mu, rigaton bulung birah, holong do atei hu, tapi lape tamat sikolah” (aku suka tetapi belum tamat sekolah). Pantun yang terakhir itu menunjukkan, sikap dan rasa persaudaraan sesama sangat kuat tetapi pemuda Simalungun tetap memikirkan pendidikan demi kemajuan di masa mendatang.

Mengingat pola aturan disebut sebagai adat/budaya diakui dan dilaksanakan secara bersama menyangkut berbagai hal tatanan kehidupan bermasyarakat baik dalam kesadaran pembangunan, hukum maupun hubungan sesama warga maka pelaksanaan PRB penting diselenggarakan secara berkelanjutan menggali dan melestarikan budaya Simalungun untuk senantiasa diketahui dan dipahami para generasi penerus. PRB tahun ini adalah yang ke-21 kalinya, dijadwalkan tgl 18-20 Agustus 2006 di Open Stage Parapat.

Semua komponen masyarakat baik eksekutif, legislatif, yudikatif maupun sipil lainnya sesuai dengan bidangnya masing-masing dianggap berkepentingan, turut berperan melestarikan adat/budaya daerah tempat tinggalnya. Pemkab Simalungun bersama DPRD diharapkan mengalokasikan anggaran pembinaan dan pelestarian budaya Simalungun. Bentuk pembinaan dapat dilakukan dengan cara memperkaya literatur, memasukkan pelajaran tambahan muatan lokal bahasa daerah di sekolah melalui program Dinas Pendidikan dan Pengajaran.

Sumber : (Hasudungan Siahaan) Harian SIB


Baru ada 1 tanggapan untuk artikel “Pesta Rondang Bintang Ajang “Mencari Jodoh” dan Upaya Melestarikan Budaya Simalungun”

  1. Tanggapan Frans Purba:

    Pesta Rondang Bintang(PRB) harus difahami lebih dalam dari pada pesta seni budaya,pesta panen dan segala kegembiraan yg tercakup didalamnya,akan tetapi adalah juga dipakai sebagai barometer yg actual dan jujur atas prestasi suatu kampung/daerah /wilayah tertentu.
    Apabila dirasakan dlm kurun waktu tertentu secara merata bagi semua warga relative mengalami kemajuan dari segi ekonomis, sosial ,politis, pendidikan, pertanian, kesehatan ,keamanan, kejujuran, dll… maka suatu kampung dapat melaksanakan PRB,akan tetapi bila kelihatan bahwa tak ada kemajuan yg berarti ,bahkan jumlah pengangguran dan kemiskinan bertambah, hasil pertanian rakyat lesu,tidak laku, anak2 menamatkan SMU saja sudah sulit, skandal2 moral merajalela, lapangan kerja sempit,maka tetap jua melaksanakan PRB ,maka samalah artinya berpesta dgn tidak tahu diri, sama artinya dgn pelarian dari kenyataan atau menipu diri sendiri.
    Sebagai catatan,sangat minim diadakannya PRB di simalungun selama pendudukan jepang, selama revolusi sosial, class I dan class ke dua, dan selama masa PRRI. PRB yg paling ramai disana sini adalah thn 1950 s/d 1954,yaitu setelah penyerahan kedaulatan dan sebelum konstituante.karena dijaman ini export simalungun menguasai pasar asia tenggara(hasil pertanian).Kemudian PRB juga ramai dithn2 sebelum kedatangan jepang, yaitu dimasa satu2nya negeri yg terbebas dari malese dunia ,karena hasil perkebunannya.

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Manimpan Br Tambunan Istri Alm Masohur Butarbutar Klaim Miliknya
Artikel selanjutnya :
   » » Vonis 1 tahun atas 17 anggota DPRD Depok