Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Kamis
17
Agt '06

Manimpan Br Tambunan Istri Alm Masohur Butarbutar Klaim Miliknya


Manimpan br Tambunan istri almarhum Masohur Butarbutar mengklaim tanah seluas 687,5 hektar di Bosar Galugur dan Mariah Hombang Kecamatan Hutabayu Raja adalah warisan dari mertuanya Maharup Butarbutar. Bahkan dikejayaan Raja Tanahjawa kala itu menghibahkan seluas 2.000 hektar kepada Maharup Butarbutar untuk diolah bersama keluarga dan kerabatnya. Maharup Butarbutar yang menerima areal begitu luas dari Raja Tanahjawa lantas dibangunnya satu bangunan mesjid. Mesjid itu meski sudah tua reot masih berdiri di atas tanah yang saat ini diperebutkan kelompok masyarakat tergabung dalam FPNMH (Forum Petani Nagori Mariah Hombang) di satu pihak dan PT Kuala Gunung di pihak lain.

Dalam penjelasan Manimpan br Tambunan kepada wartawan SIB, Selasa (1/8) malam di Pematangsiantar dia merasa terkejut dan heran, tanah seluas 687,5 hektar diperebutkan kelompok masyarakat FPNMH dan PT Kuala Gunung di lokasi Bosar Galugur dan Mariah Hombang. Dia mengungkapkan, areal  lahan tidur  begitu luas dimasa hidupnya Raja Tanahjawa menghibahkan seluas sekitar 2.000 hektar (termasuk 687,5 hektar yang diperebutkan pihak lain) kepada mertuanya ayah kandung almarhum Maharup Butarbutar. Maharup Butarbutar dan keturunannya berdomisili di lokasi tanah yang dihibahkan Raja  Tanahjawa tersebut bahkan almarhum Maharup pun membangun satu mesjid di lokasi tanah tersebut, kini bangunannya masih ada meski sudah tua.

Manimpan br Tambunan didampingi saudaranya Ompu Poltak Tambunan terkejut dan merasa heran, karena ada dua pihak mengklaim areal seluas 687,5 hektar di Bosar Galugur dan Mariah Hombang miliknya. Dia menceritakan historis areal tanah yang diperebutkan kelompok FPNMH dan PT Kuala Gunung. Semasa hidup suaminya Masohur Butarbutar mengikat perjanjian dengan Suandi Khongsi Direktur PT Kuala Gunung alamat Jln HOS Cokroaminoto 16 Medan untuk berusaha di bidang perkebunan kelapa sawit seluas 2000 hektar. Perjanjian tertulis yang dibuat tanggal 16 Agustus 1988 dengan dua poin penting penyerahan ganti rugi dua tahap.

Katanya, ganti rugi pertama 50 persen dari jumlah ganti rugi keseluruhan (global) jika surat izin dari Gubsu sudah diperoleh Suandi Khongsi. Ganti rugi dalam perjanjian tertulis itu diserahkan kepada Masohur Butarbutar. Lalu ganti rugi kedua (pelunasannya) bila Suandi Khongsi atas nama PT Kuala Gunung sudah memasuki areal tanah tersebut dengan penanaman kelapa sawit. Penyerahan ganti rugi juga disepakati dalam perjanjian itu kepada Masohur Butarbutar. Dalam butir kelima isi perjanjian tertulis itu disebutkan permufakatan ikatan perjanjian ini tidak dapat dibatalkan oleh seorang dari antara Suandi Khongsi dan Masohur Butarbutar, papar Manimpan br Tambunan.

Akan tetapi tambahnya sampai periode tahun 1999 proses ganti rugi belum terealisasi, lalu Masohur Butarbutar menyurati Pangdam I/BB c/q Aster Kasdam bulan Agustus 1999 meminta bantuan instansi tersebut untuk penyelesaian pembayaran ganti rugi atas seluas tanah yang diikat perjanjian tertulis antara Masohur Butarbutar dan Suandi Khongsi Direktur PT Kuala Gunung. Dalam surat itu dirinci nilai-nilai kerugian yang diakibatkan molornya realisasi ganti rugi dijumlahkan mencapai Rp 15,9 miliar. Surat itu disampaikan tembusannya kepada Gubsu, Mendagri, Menhut, Mentan, Menteri Badan Pertahanan, Direktur PT Kuala Gunung dan instansi terkait namun tidak juga membawa hasil.

Masohur Butarbutar tidak hilang akal, lalu mencoba memberi kuasa untuk menguruskannya kepada T Jhonson Situmorang melalui akte Notaris Adi Pinem, di Medan tanggal 1 Agustus 2003. Sipenerima kuasa pun menurut Manimpan br br Tambunan tidak pernah melaporkan hasil kerjanya. Manimpan br Tambunan tetap mencari tahu apa dan bagaimana permasalahan setelah suaminya memberikan kuasa kepada T Jhonson Situmorang. Meski Masohur Butarbutar meninggal awal Januari 2006 lalu tapi dengan semangat mencari kebenaran memberi kuasa tertulis kepada orang, kata Manimpan.

Karena belum juga mencapai hasil sebagaimana diharapkan Manimpan br Tambunan sebagai istri almarhun Masohur Butarbutar  lalu diberi lagi surat kuasa khusus kepada HP Soambaton SH dan B Silaban SH untuk menguruskan tanah seluas 2000 hektar di Bosar Galugur dan Mariah Hombang sehubungan surat-surat tanah tersebut di atas dikuasai T Jhonson Situmorang. Surat kuasa khusus ini dibuat 31 Mei 2006. Manimpan merasa belum menerima  hasil dari penerima kuasa Soambaton dan Silaban lalu memberi kuasa lagi kepada Jan Ferry Manurung dan Maruli Tua Lumbantobing. Surat kuasa dibuat Notaris Fenty Iska SH tanggal 3 Juni 2006.

Dia berharap soal sengketa areal tanah yang diperebutkan pihak-pihak tertentu supaya disikapi pihak kompeten lebih hati-hati dengan arif termasuk penerima kuasa. Sebab sebagai pewaris dari suaminya almarhum Masohur Butarbutar dengan fakta historis, pihaknya punya hak sesungguhnya atas tanah seluas 687,5 hektar.

Sumber : (E3/c) Harian SIB, Pematang Siantar


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.