Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Senin
14
Agt '06

AWK Samosir - Totalitas Buat Gondang dan Opera Batak


“Abdul Wahab Kasim Samosir” Pimpinan Opera Serindo

Hampir seluruh hidupnya untuk gondang, uning-uningan, tortor dan opera Batak. Ia murid langsung almarhum Tilhang Oberlin Gultom itu (pendiri opera Batak akhir tahun 1920-an). Ia amat gelisah atas perkembangan kesenian Batak dewasa ini. Sebab, menurutnya, semua orang Batak sudah menyeleweng dari budayanya. Lihat pesta-pesta perkawinan, band lebih selalu ditanggap ketimbang gondang termasuk saat mangulosi, menyampirkan ulos kepada pengantin dan kerabatnya.

Menuju rumahnya di belahan timur Jakarta selepas tol, jalan aspal menanjak dan sempit. Hanya bilangan kilometer dari Taman Mini. Di sisi jalan menganga sebuah gang semak dan tanah coklat. Seorang perempuan muda cantik sedang menanti. Ia memandu kami.
Tak sampai tiga menit, tersua hamparan tanah merah 200-an meter persegi. Kering dan keras sebab matahari sedang terik. Tak satu belukar tumbuh. Hanya rumah petak berpintu lima yang kelihatan di seberang. Lantainya satu kaki di bawah permukaan tanah merah itu. Bila hujan turun, gumpalan lumpur mesti melekat di kasut mengonggok di lantai rumah bilik itu.

Sesosok laki-laki dengan seluruh rambut memutih berdiri di mulut pintu salah satu petak. Di tahun 1970 hingga 1980-an, wajah itu kerap terlihat di TVRI. Jarinya memetik kecapi di tengah gondang atau uning-uningan Toba. Tahunan ia menata dan mengisi tayangan tortor dan opera Batak di situ. Di tahun 1990-an sesekali ia mengiringi nyanyian dan tari Batak, bersama regu band Tarida Pandjaitan br Hutauruk, dalam program Horas di televisi swasta. Ia mudah dikenali dalam sorotan kamera, sebab pada usia tujuh puluhan, rambut putihnya selalu terkucir.

“Tak sulit sampai di sini?” kata AWK Samosir dalam Batak Toba, bahasa yang kami pakai selama percakapan. Di salah satu dinding bilik tamu itu beberapa kecapi dan suling tergantung. Di sebuah sudut di baliknya tersusun seperangkat instrumen musik Batak untuk gondang dan uning-uningan. Tak lebih tiga meter dari sana dapur dengan api dan asap mengepul.

Begitu duduk di sofa tua yang compang, murid langsung almarhum Tilhang Oberlin Gultom itu (pendiri opera Batak akhir tahun 1920-an di Tapanuli dan pencipta 360 lagu, 12 tumba, dan 24 judul drama sampai akhir hayatnya tahun 1970) memulai pembicaraan dengan satu keluhan. “Pikiranku sudah buntu mengembangkan kesenian Batak sebab semua orang Batak sudah menyeleweng dari budayanya,” katanya.

Yang menyedihkan, katanya, mereka terutama dari kalangan tua. Lihat pesta-pesta perkawinan. Band lebih selalu ditanggap ketimbang gondang. Ini sebetulnya tak keliru asalkan band untuk mengiringi nyanyian selingan. Akan lain ceritanya bila dipakai pula saat mangulosi, menyampirkan ulos kepada pengantin dan kerabatnya.

“Apakah ulos itu mereka maksudkan bermanfaat atau tak bermanfaat sesuai dengan hakikatnya, sebaiknya gondang yang disajikan untuk menarikan ulos sebelum disampirkan,” katanya. “Sebab saat ulos ditenun dan disampirkan, selalu ada sabda pemberi makna dan penjelas fungsinya.”

Jadi, siapa yang salah?
“Semuanya. Yang menyampirkan dan menerima ulos, juga pemusiknya. Semua jadi bodoh,” kata Samosir yang pernah menjadi dosen tortor di Institut Kesenian Jakarta. “Bayangkan, mereka meminta lagu Poco-poco saat mangulosi. Lalu, apa artinya ulos?”
Penghargaan pada budaya sendiri pun, menurut Samosir, orang Batak sekarang sama sekali tak dapat dibanggakan. Kemunafikan sangat jelas. Baptis, sidi, kawin, memasuki rumah, mengucapkan syukur untuk kandungan berusia tujuh bulan, mati, sampai mengumpulkan belulang orang mati kepinginnya orang Batak diselenggarakan dengan adat, selain ritus keagamaan.

Akan tetapi, mereka masih setengah hati menjalankan adat. Petunjuknya apa?
“Lihat, santabi tu angka na burju (kecuali orang yang mengerti), untuk menawar band orang Batak bersedia di atas Rp 2 juta, tapi untuk gondang rela kalau di bawah Rp 1 juta,” kata ketua Gondang Pardolok na Uli ini. “Yang membuat hati saya teriris adalah bila ada yang mengatakan, ’Sudah cukup Rp 700.000’ untuk gondang, padahal pemain gondang yang berjumlah delapan itu seharian keringatan.”

Lahir di Hutanamora, Onanrunggu, Pulau Samosir, pada 17 Agustus 1928, pria bernama Kasmin ini sudah menyanyi di usia 13 bersama opera keliling pimpinan Tilhang Gultom.
Di tahun 1941 itulah ia kehilangan ibu yang meninggal setahun setelah sang ayah wafat. “Jadi, sekolahku hanya sampai kelas dua SR,” katanya.

Bergabung dengan opera berarti bergaul liat dengan pemusik, penari, dan pelakon. Dari nyanyi, Samosir belajar tortor, lakon, memetik hasapi, dan meniup sulim. Sebagian ia dapat dari seniornya, sebagian lebih besar justru dari mimpi.
“Tahun 1952 aku bermimpi diajari memetik hasapi. Begitu bangun, aku langsung bisa memainkannya,” katanya. “Jadi memang ada rahasia dalam gondang dan uning-uningan ini. Sebelum para pemain mendapatkan kemahirannya dari mimpi, ia tak akan pernah mencapai tahap empu.”

Gondang yang ia maksud adalah kumpulan musik untuk adat. Uning- uningan ialah regu musik untuk panggung, hiburan. Gondang bolon terdiri dari 5 tagading, 1 gordang, 1 odap, 1 sarune bolon, 4 ogung (oloan, ihutan, panggora, doal), dan 1 hesek sebagai pengendali tempo. Uning-uningan terdiri atas 1 hasapi, 1 sarune getep, 1 sulim, 1 garantung, 1 tulila, 1 alatoit, 1 mengmung, 1 bulu maringgotolong, 1 tanduk banua, dan 1 hesek sebagai pengendali tempo.

“Nah, pengetahuan tentang ini pun belum menjadi milik pemusik gondang di Jakarta yang jumlahnya sekarang cukup banyak,” katanya. “Termasuk mereka yang tahun 1991 bikin Orkes Simfoni Batak.”

Opera keliling yang terus berganti nama ini-Tilhang, Pantja Ragam Tilhang, Serindo, dan sebagainya-membawa Samosir menjelajahi seluruh Sumatera, Jakarta, dan Bandung. Sejak 1970, tahun Tilhang meninggal, Samosir menetap di Jakarta seusai manggung di Bandung atas sponsor pengusaha sayur-mayur Thomas Simanungkalit.

Di situ ia memimpin Opera Batak Tilhang Serindo cabang Jakarta, mementaskan turi-turian rakyat di Ancol, Taman Ria, TIM, TMII, dan TVRI dari tahun 1977 sampai tahun 1987.

Sejak tahun 1985 cabang grup opera ini di Sumatera Utara tak manggung lagi sebab tak mendapat dukungan dari penontonnya. Sebagian besar anggotanya hijrah ke Ibu Kota, tapi cabang Jakarta sendiri tak mampu mempertahankan staminanya seperti di masa Ali Sadikin. Requiem opera Batak!

Samosir yang mendapat dua istri dari opera itu, penyanyi Pardamean br Hasibuan dan Mina br Purba, tak tinggal diam menghidupkan tortor dan gondang setelah mentok di opera. Tawaran Ali Sadikin supaya ia mengajar tari di IKJ ia terima hingga pensiun tahun 1986 dengan golongan I-A.

Suasana ruang tamu tempat kami berbincang tidak lazim. Satu meter dari plafon yang menaungi kami tergantung sebilah papan putih yang menempel di dinding. Di sepanjang ketiga sisinya menjuntai daun nyiur. “Ini altar tempat kami martonggo tiap Sabtu,” katanya. Sumber penting tentang opera Batak ini sedang menuturkan tiga tahun lalu ia memeluk Parmalim, agama orang Batak sebelum misi masuk di Tapanuli, yang kini punya penganut 10 keluarga di Jakarta.

Terlahir sebagai Katolik, ayah tujuh anak ini menganut Islam sejak pernikahan pertamanya tahun 1948. Dia mendapat nama tambahan Abdul Wahab. “Saya masuk ke Parmalim karena inilah agama Batak,” kata AWK Samosir yang telah menggubah belasan tortor. “Sejak 1998, dua tahun saya puasa, hanya minum air putih, memohon Mulajadi Na Bolon memberi saya membilang birama musik Batak.”

Disadur dari : TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia),

sumber : Salomo Simanungkalit, Harian Kompas, Jakarta


Ada 3 tanggapan untuk artikel “AWK Samosir - Totalitas Buat Gondang dan Opera Batak”

  1. Tanggapan Rayendra L. Toruan:

    Horas,

    beberapa kesenian dari Batak Tapanuli yang nyaris punah seperti opera Tilhang, drama Guru Saman, Martumba dan sebagainya. Pada kesempata ini saya mengusulkan kepada tokoh-tokoph Batak atau silaban.net bersedia menjadi sponsor untuk:

    1. Menggali data kesenian tradisional Batak yang pernah popular pada pertengahan abad 20 hingga 70-an? Seperti kisah opera si Tilhang, Guru Saman, Martumba, dan sebagainya. Bahan-bahan dikumpulkan dalam bentuk data/tulisan/visual atau mewawancarai orang-orang yang pernah mendukung Opera keliling si Tilhang termasuk melakonkan Guru Saman dan lagu-lagu rakyat Batak.

    2. Menyusun tulisan/buku berisikan cara membuat taganing, ogung, sarune, garantung, hasapi, dan instrumen musik tradisional Batak serta penjelasan nada-nada dan cara memainkannya.

    3. Menyusun tulisan/buku tentang proses pembuatan ulos (tenun) Batak yang kemudian dikaitkan dengan makana ulos pada adat Batak serta relevansinya pada ekonomi rakyat Tapanuli. Kenapa pemberian ulos Batak pada adat perkawinan Batak tidak tampak agung/khidmat lagi? Ulos seolah berubah filosofi/fungsi, kini sekedar kado saja kepada pengantin.

    Untuk menyusun buku/naskah tersebut tadi, saya bersedia sebagai editor naskah hingga ke proses penerbitan buku. Saya optimis dari kalangan tokoh-tokoh Batak (pengusaha, pejabat dan lain-lain) ada yang bersedia sebagai sponsor untuk membiayai perbitan buku-buku.

    Saya tunggu respons sidang pemhaca. Bagaimana tanggapan silaban.net?

    Mauliate godang.
    Tondinta masigomgoman!

    Rayendra L. Toruan
    Email: rlttoruan@elexmedia.co.id

  2. Tanggapan harianja:

    Horas

    Asa tumangkas tu sude na manjaha, marbahasa indonesia ma ate,
    Masalah budaya batak yang kian hari kian pudar itu sangat jelas terlihat.Mulai dari generasi muda batak yang tidak begitu suka lagi dengar gondang (alat musik Batak) sampai pada norma2 batak yang sebenarnya harus dipatuhi. Bahkan generasi muda yang tinggal di bona pasogit sekalipun sudah malas mendengar gondang, manortor,juga untuk memahami silsilah turunan marganya sendiri.
    Kejadian seperti ini saya lihat sendiri,bahkan di tanah kelahiran seniman2 batak.Kebetulan saya dilahirkan di onanrunggu,dimana dari sana banyak seniman tercipta.
    Langkah yang harus ditempuh ialah dengan melibatkan generasi muda ke dalam kegiatan2 budaya sejak dini.
    bsk lagi ya……….

  3. Tanggapan Aja Siahaan:

    “Tentang Opera”
    Say huingot dope Opera batak na 30 taon na salpu; sitilhang, dosroha, serindo,dna.Gumodangan do halak hita lumobi ma angka ntoras mandok tu dakdanak nasida be bahwa opera i ndang tama, jala ndang porlu on tontonon manang gabe tuntunan songon wayang rupani.Tingki i huantusi profil ni angka personil operai godang naso “tama” (marjuji,marsaripe ndang haru takkas,seksi,parhata manggang, marpindah sian sada huta tu lain huta, marlistip-listip) Alai jujur se usia niba tinki i torus nitonton opera on nangpe diorai natuatua.Jala godang do budaya ni halak hita na binoto sian operaon lewat cerita dipentaskan dari malam ke malam tarsongon Si Boru tumbaga, Gr Saman,Siboru Pareme, Raja SM Ke XII,dohot angka naasing naso nidapot disikkola manang di buku umum.Di Psr Senen hea do ahu tu opera ni jawa Barata, alai godang do disi jolma panonton naso pola merasa mardosa manonton. Bohado i tahe, manang holan di huta nami do nasongoni? Horas

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Sileang Nagurasta (Cerita tentang Marga Simbolon)
Artikel selanjutnya :
   » » Kisruh Jamsostek - Kasak-kusuk Politik Uang