Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Senin
14
Agt '06

Sileang Nagurasta (Cerita tentang Marga Simbolon)


Tersebutlah Ompu Mulajadi Nabolon (Tuhan menurut kepercayaan orang batak dimasa lampau), yang konon katanya bertempat tinggal di langit. Ada sepuluh orang putranya tiga laki-laki dan tujuh orang perempuan. Yang tercantik diantara ke tujuh anaknya yang perempuan adalah Siboru Leang Nagurasta. Dia pulalah yang bungsu dari kesepuluh bersaudaraanak Ompu Mula Jadi Nabolon. selain beranak Ompu Mula Jadi Nabolon adapula mempunyai seorang saudara perempuan. Itulah yang menganakkan Sudiraja Simbolon.

Sekali peristiwa Sudiraja Simbolon pergi berburu ke lembah bukit Pusuk Buhit. Dalam perburuannya itu dia melihat seekor burung tekukur yang amat cantik, sehingga timbul keinginannya untuk menangkap dan membawanya pulang. Sayangnya tidak begitu mudah untuk mendapatkan burung itu. Tak ubahnya seperti kata pribahasa : “Jinak-jinak merpati”, rasa-rasa akan dapat ditangkap, namun begitu akan dipegang dia melompat dan menjauh ketempat lain. Begitu asiknya Sudiraja mengejar burung itu dari sebuah tempat ke lain tampat, dengan tak disadarinya dia telah sampai di puncak bukit. Disana didapati sebuah tempat permandian, tempat putri-putri Ompu Mula Jadi Nabolon berenang dan berkecimpung bersukaria.

Ketika Simbolon sampai disitu didapatinya ketujuh puteri sedang mandi-mandi. Dia sangat terpikat dengan kecantikan si Leang Nagurasta, yang memang tercantik dari ketujuh bersaudara. Timbul keinginan simbolon untuk mendapatkan gadis itu, tetapi belum tahu cara yang dapat dilakukannya. Namun akhirnya diketahuinya juga, yakni dengan jalan mengambil baju tuan putri.

Adapun baju bagi putri-putri itu selain penutup tubuh juga bertugas sebagai sayap untuk terbang ke langit ke tempat asalnya. Jika baju itu sempat diambil orang, maka tertutuplah jalan untuk pulang ke langit, dan tinggallah di bumi seperti manusia biasa lainnya. Hal inilah yang rupanya diketahui oleh pemuda Simbolon. Begitulah ketika mandi sudah selesai, maka ketujuh putri itu naik ke darat dan masing-masing mengambil dan mengenakan bajunya. Hanya si Leang Nagurasta juga yang tidak melihat bajunya, sudah dicarinya kesana kemari, namun tidak berhasil ditemuinya. Karena sudah lama menunggu maka hilanglah kesabaran kakak-kakaknya, maka diputuskanlah untuk meninggalkan sibungsu, dan yang lain terbanglah ke langit.

Alangkah sedihnya perasaan si Leang Nagurasta ditinggalkan kakak-kakaknya itu. Tapi apa hendak dikata, karena semua sudah berangkat meninggalkan dia seorang diri. Dan ketika Nagurasta dalam suasana sedih dan bingung itu muncullah Sibolon memperlihatkan baju yang hilang, tetapi tidak dengan maksud untuk mengembalikan. Terkejutlah putri itu mengetahui bajunya ada ditangan seorang pemuda. dicobanya meminta namun si pemuda tidak mau menyerahkan. Sigadis mendekati pemuda itu dengan maksud hendak merebut baju tersebut, tapi Simbolon melompat mengelak diri. Demikianlah diperbuatnya berulang-ulang, sehingga lama kelamaan sampailah mereka ke kampung orang tua Simbolon. Disana pemuda itu hilang dari penglihatan gadis tersebut, tak diketahuinya dimana ia bersembunyi. Dilihatnya ada sebuah rumah, didatanginya dan bertemulah dia dengan seorang perempuan, yang tak lain adalah bibinya (adik ayahnya) sendiri. Maka ditanyakanlah tentang pemuda Simbolon oleh Nagurasta, dijawab oleh perempuan itu bahwa dia tak melihatnya. Kemudia diajaknyalah Nagurasta tinggal di rumahnya.

Akan halnya Sudiraja, setibanya dirumah segera menyembunyikan baju Nagurasta yang diambilnya dan segera berbuat pura-pura tidur. Baju itu disembunyikannya didalam sondi. Dia mempunyai sejenis kepandaian dapat mengubah wajah sehingga tak mudah dikenal orang. Beberapa lama dirumah itu Nagurasta sangat benci melihat pemuda tersebut, tapi kemudian Simbolon menukar siasatnya. Diubahnya wajahnya menjadi seorang pemuda yang gagah dan tampan dan dipakainya pula pakaian yang bagus-bagus. Nagurasta yang melihat ada pemuda tampan dirumah bertanya kepada bibinya, yang tak lain dari pada ibu Simbolon tentang siapa pemuda itu. Sejak waktu itu Nagurasta mulai tertarik kepada Simbolon dan menyatakan ingin bersuamikan pemuda itu. Hal itu dapat disetujui oleh Simbolon dan ibunya, maka kawinlah mereka.

Mereka beranak dua orang, seorang laki-laki dan seorang perempuan. Yang laki-laki yang tua bernama Simbolon Tua Nahodaraja, dan yang kecil perempuan bernama si Mombang Tua. Pada suatu kali Sudiraja ingin mengadakan pesta adat untuk anaknya. Dipukullah gendang dan orangpun menarilah, namun yang paling menarik dari semua itu adalah si Leang Nagurasta juga. Dia menarik karena cantiknya yang tetap saja seperti waktu gadisnya. Tapi dia juga menarik karena dia jugalah yang paling pandai menari diantara orang-orang yang sedang menari, seluruhnya ditempat pesta tersebut.

Raja Sitempang Raja Naibaho adalah seorang raja didaerah Pangururan. Sifatnya keras dan katanya pantang ditolak. Raja ini bersama-sama dengan pengetua-pengetua adat lainnya ingin melihat Nagurasta lebih cantik lagi. Merekalah menganjurkan kepada Sudiraja supaya memakai baju terbang yang dibawa dari langit kepada si Leang Nagurasta. Tuan putri itu sendiri tak mau melakukannya karena hal itu akan memisahkannya dengan anak dan suaminya. Jika baju sampai dipakainya, maka ia akan segera diterbangkan ke langit, dan hal itu tidak diinginkannya lagi, karena kasihnya kepada anak dan suaminya.

Raja si Tempang tatap mendesak. dan sebagai usaha pencegahan supaya Nagurasta tidak diterbangkan, maka disuruhnyalah membuat penutup tempat pesta itu dengan langit-langit tujuh lapis. Sesudah itu dipakaikanlah baju itu kepada Nagurasta, ia menerima perlakuan itu dengan peresaan teramat sedih. diciumilah dan ditangisinyalah anaknya, dan dia pun menari kembali. Memang sesudah memakai baju itu kecantikannya bertambah berlipat ganda, dan tariannya tambah lebih mempesona para penonton yang hadir di tempat itu. Pemukul gendang tambah bersemangat memainkan alat-alatnya, dan hadirin dengan tak sengaja terbawa dalam arus tarian, seolah-olah semua terpukau oleh suasana tarian yang dibawakan Nagurasta. Dan pada waktu itulah dia tiba-tiba melayang dari lapangan pesta, terusa melangbung ke angkasa menembus langit-langit penahan dengan mudahnya. Orang yang hadir keheran-heranan, anak-anaknya menangis dan menangis dengan penuh kesedihan, begitupula Sudiraja Simbolon tak tau apa yang harus diperbuatnya melihat sang istri sudah pulang ke langit.

Dilangit Nagurasta kembali menemui orang tuanya dan saudara-saudaranya yang sudah lam ditinggalkannya. Tetapi mereka semua tidak sudi lagi menerimanya ditengah-tengah mereka. Agaknya mereka menganggap si Leang Nagurasta sudah tidak sesuci semula karena sudah bercampur dengan makhluk manusia di bumi. Sebagai jalan penyelesaian Ompu Mulajadi Na Bolon menyurus Nagurasta untuk pindah ke bulan dan bertempat tinggal disana. Hal itu dipatuhi oleh Nagurasta. Keturunannya dibumi mempercayai bahwa tuan putri itu memang dapat dilihat dari bumi jika bulan sedang purnama. Kepada keturunan Simbolon dipesankan, bahwa jika terjadi gerhana bulan itu tandanya sang putri sedang datang ke bumi melihat keadaan anak cucunya. Hanya saja keturunan yang bermarga Simbolon dilarang meneriakkan dan memberitahukan adanya gerhana terlebih dahulu. Haruslah orang lain yang melakukan hal itu lebih dahulu, barulah boleh diikuti keturunan Simbolon. Keadaan seperti itu kabarnya masih dipatuhi oleh orang-orang bermarga Simbolon.

Terjadinya gerhana menurut masyarakat di daerah batak toba terutama di Pangururan adalah karena perkelahian bulan dengan matahari. Sebab mula perkelahian itu adalah karena bulan pernah memperdayakan matahari karena hendak menolong manusia. Makhluk manusia dan anak-anaknya merasa kepanasan karena sinar matahari. Tetapi kemudain muslihat itu diketahui oleh matahari, sehingga sangat marah kepada bulan. Untuk membalaskan rasa dendam dan kemarahannya, bila ada kesempatan disambarnya bulan sehingga terjadi gerhana.

Sumber : Museum Sumut


Ada 11 tanggapan untuk artikel “Sileang Nagurasta (Cerita tentang Marga Simbolon)”

  1. Tanggapan andy:

    gak enak pun critanya.
    gak mantap

  2. Tanggapan suwito:

    saya membangun rumah tapi belum ada gentengnya(baru jadi).tetapi ada gerhana bulan berlangsung tadi malam 28-agustus-2007.menurut adat jawa kalau ini terjadi akan ada musibah yang menimpa keluarga saya.Pertanyaan saya adalah: apakah ini betul yang dikatakan oleh orang menganut adat jawa tersebut.kalau betul gimana tindakan saya ? kami mohon jawabannya segera karena saya takut akan keluarga saya. TERIMA KASIH.

    Parhobas [SB]
    Bah… kami ini bukanlah ahli nujum atau paranormal amang hehehe… jadi maaf, kami ngga sanggup menjawab pertanyaan bapak. :)

  3. Tanggapan subandri simbolon:

    saya mengucapkan banyak terima kasih kepada bapak SautP. Slaban. secara pribadi, baru kali ini saya membaca cerita tentang marga simbolon dan sungguh, ini telah memberi suatu nilai bagi saya dan muncul apresiasi yang tinggi terhadap marga simbolon. kalau boleh, tolong tulang mengirimkan marga-marga punguan parna ke alamat saya. nungnga leleng hulului angka marga ni parna i. alai ndang dapot dope sasudena. di ahu sandiri sebagai sahalah naposo na manghaholongi budaya Batak berpikir bahwa penting hian do mamboto sudena marga i. Ahu pardolok sanggul tinggal di onanganjang. mauliate, Tuhan memberkati.

    Parhobas [SB] :
    Kembali kasih…  :)

  4. Tanggapan PAIAN SIMBOLON:

    boasa asing na hujaha di buku pustaha dohot na di situs on?
    molo na di buku i, marga Malau do inna namarsak molo ro gerhana alai di son asing.

  5. Tanggapan Lanpe Simbolon:

    Saya pernah dengar cerita si Leang Nagurasta dari mama. Isinya ga jauh beda. Sejak saat itu saya senang banget ngeliat bulan ( oppungku ada disana ).
    Buat yang ngusahain adanya website simbolon ini, makasih banyak ya. Moga2 melalui website ini keluarga besar simbolon bisa saling berbagi, berkomunikasi dan bersatu.

  6. Tanggapan lambok simbolon:

    lah, kenapa cerita ini hampir sama dengan sejarah marga Malau…yang benar aja lah kau lae kalau mau menulis dan memberitakan, usahakan dulu mengkoreksi dengan sumber asli sebelum di publikasikan sebab banyak orang yang baca ini.

    kalau salah, nanti jadi panjang urusannya.

    ok

    horas

  7. Tanggapan jon:

    ai dia do sai tong di ripu halk mangada-ngada, son ceritaon naeng mirip to cerita jaka tingkir sian jawa, lebih baik pancarion ho do tu sumber na jelas

  8. Tanggapan kk:

    heemmm,,
    aq binun ma marga simbolon..
    orangnya ganteng2..
    hhooo..

  9. Tanggapan PAIAN SIMBOLON:

    boasa asing na hujaha di buku pustaha dohot na di situs on?
    molo na di buku i, marga Malau do inna namarsak molo ro gerhana alai di son asing.

  10. Tanggapan sondang simbolon:

    aq senang dapat cerita tentang suku batak, tp aq bingung koq critanya sprti jaka tingkir yach??? tp trimakasih ya..

  11. Tanggapan b. ibrani simbolon:

    kebetulan saya adalah keturunan simbolon (ya, memang kebetulan). tapi meskipun demikian, saya sangat tertarik untuk mengetahui sejarah marga saya.

    terima kasih buat teman yang mencoba mempublikasikan ‘turi-turian’ mengenai marga simbolon. namun alangkah baiknya juga kalau kita mengetahui darimana sebenarnya turi-turian itu berasal. karena cerita ini hampir mirip dengan cerita di daerah2 lain.

    kalau boleh usul saya, yang perlu kita kaji adalah kenapa cerita tersebut bisa sampai mengalami kemiripan. apakah pada jaman oppung kita dahulu sudah sering terjadi ‘transformasi’ ilmu (mungkin dalam hal ini cerita).

    terima kasih apabila komentar saya ditanggapi kembali. horas..!

    berwaddin ibrani simbolon

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.