Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Sabtu
5
Agt '06

Dua Generasi Melangkah Untuk Jadikan Lagu Batak Komoditi Ekspor Non Migas


Musik dan lagu daerah harus familier di telinga penikmat musik, bukan hanya dikalangan etnis tertentu saja, tetapi, musik dan lagu tradisional harus dibuat sepopuler mungkin tanpa menghilangkan jati diri sang penyayi dan sang musisi.

Musik dan lagu batak era Nahum Situmorang, Gordon Tobing, Tilhang Gultom, dan S Dis harus diakui mampu mempesonakan komunitas penikmat musik dunia. Tidak heran, bila lagu Lissoi, Tao Toba, Situmorang, dan Alusia sempat mendunia dan tidak asing bagi orang diluar suku batak. Kelompok penyayi orang Batak, seperti Solu Bolon, Parisma, Tarombo, Melody King sangat terkenal di luar negeri ketimbang di dalam negeri, terakhir kelompok musik Batak yang diakui eksitensinya dibelahan Eropah, Asia dan Afrika adalah Amigos. Sayang grup yang lebih banyak mendendangkan lagu Batak berirama Amereka Latin ini membubarkan diri karena faktor usia.

Memasuki era tahun 2000, eksitensi musik dan lagu batak mulai goyah. Disamping lagu-lagu yang diciptakan musisi kurang mengena, ratusan penyayi Batak yang lahir pun terkesan tidak memperdulikan kualitas. Walau banyak album musik Batak yang beredar, hasilnya sangat meragukan. Buktinya, dari puluhan trio Batak yang berkompetisi tercatat hanya Trio Ambisi yang dimotori Charles Simbolon, Joe Harlen Simajuntak dan Andy Situmorang saja yang eksis dan mampu menembus pasar musik nasional melalui lagu bertajuk “Jangan Sampai Tiga Kali”.

Melihat kemerosotan ini, seorang putra Batak bernama Syukur Hamonangan Nababan brontak Melalui perusahaan Indonesian Creativity Technologi (ICT) yang dinahkodainya , dia mengibarkan sebuah event organizer (EO) yang mencanangkan beberapa langkah terobosan dalam menggairahkan musik dan lagu Batak untuk ditangani secara professional dan berkualitas. Bukan hanya dana, tenaga dan pemikiran yang tersita, tetapi usaha Syukur Hamonangan Nababan menyatukan artis, pencipta lagu dan musisi dari dua generasi yakni generasi tahun 1970 yang diwakili Vico Pangaribuan, Jack Marpaung, Rita Butar-Butardan Joel Simorangkir, Sedangkan generasi tahun 1990, ICT mampu menyakinkan artis nasional berdarah Batak antara lain Bella Saphira Simajuntak, yang lebih dikenal sebagai artis sinetron, Rita Butar-butar yang melejit di blantika musik tahun lewat lagu ciptaan Rinto Harahap, Lea Simajuntak yang baru pertama kali menerjunkan diri untuk pop Batak, Dewi Marpaung sebagai artis yang menyabet berbagai juara di festival tingkat nasional maupun internasional, Rani Simbolon yang tidak mau kalah dengan ayahnya Charles Simbolon yang terkenal bersuara emas dan mempunyai ciri khas serta Mega Sihombing, plus pencipta lagu sekaliber Tagor Tampubolon, Tigor Gipsy Marpaung dan musisi Andolin Sibuea yang sempat bergabung dengan Koes Plus, pantas diajukan jempol, sekaligus sebagai bukti putra Batak yang low profil ini keseriusan untuk mewujudkan musik dan lagu Batak familier di telinga penikmat musik. “Mengangkat musik dan lagu Batak sejajar dengan karya-karya populer lainnya harus bisa terwujud tanpa menghilangkan jati diri sang penyayi dan sang musisi”, tegas Syukur Hamonangan Nababan kepada wartawan di gedung Kencana Cawang Jakarta, Rabu (2/08).

Melihat semangat yang membara dari Syukur Hamonangan Nababan dengan potensi artis, musisi dan pencipta lagu yang disatukannya untuk satu tujuan bersama, bukan hal mustahil kejayaan lagu batak kembali berkibar menghentakkan teliga penikmat musik dunia. Langkah awal ICT disamping merajut sebuah rekaman bertajuk ‘Album Kompilasi All For One 2′, juga menjadwalkan show spektakuler 15 September mendatang. Menurut Dewi Marpaung langkah yang dirintis ICT ini sebagai upaya membangkitkan kembali kejayaan lagu Batak yang sempat mendunia melalui lahu Lissoi, Tao Toba, Situmorang dan Alusia. Artis peraih Juara I Weekly Champion Asia Bagus and Second Week ini mengakui sangat tertantang untuk menjadikan lagu Batak sebagai komoditi ekspor non migas.

“Yang tak kalah harus dibuktikan, bahwa lagu Batak juga dibutuhkan kalangan etnis lain dan lagu Batak bukan hanya dinyayikan di kelas lapo atau cafe pinggiran”, ini tantangan istimewa ujar pemenang Grand Prix Christmas Award 2004. Sementara pentolan grup Amigos, Vico Pangaribuan mengakui eksitensi penyayi dan lagu batak yang merosot. Sekarang hampir tidak ada vocal grup Batak yang dikontrak untuk tampil di luar negeri. Bahkan, eksitensi penyayi Batak di Jakarta pun, sudah pudar dan tidak adanya grup Batak yang mengisi dunia hiburan berkelas di Jakarta. Kenapa hal ini bisa terjadi?

Menurut Vico yang membawakan acara country road di TVRI ini, disebabkan penyanyi Batak lebih banyak terfokus hanya bisa rekaman dan cepat merasa puas. Mudah-mudahan terobosan yang dilakukan kali ini mampu menjadi lagu Batak itu
sebagai ekspor komoditi non mingas, dan target jangka pendek tentu membawa lagu Batak dicintai secara nasional sebagaimana dulu lagu ‘Inang’ yang dinyayikan seluruh masyarakat Indonesia, ujar Vico Pangaribuan. Untuk menjadi penyanyi profesional, kata Vico tidak cukup hanya mempunyai penampilan bagus, tetapi harus didukung dengan penguasaan alat-alat musik, lagu-lagu dari berbagai negara serta mampu mengembangkan talenta” tegasnya.

Semoga motivasi amangboru Syukur Hamonangan Nababan taksurut sebelum terwujudnya musik dan lagu Batak sebagai komoditi ekspor non migas. Horas’ horas’ horas’.!

Sumber : (aya) Berita Sore (pdf)


Ada 3 tanggapan untuk artikel “Dua Generasi Melangkah Untuk Jadikan Lagu Batak Komoditi Ekspor Non Migas”

  1. Tanggapan merdi sihombing:

    born a new star from batak “TONGAM SIRAIT”

  2. Tanggapan Pahala Panjaitan:

    Saya ingin memilik albumnya berupa VCD, dimana dan bagaimana cara mendapatkannya

  3. Tanggapan jaman p.siahaan (tejo):

    horas!!!
    saya,sebagai seorang putra batak sangat prihatin membaca artikel ini,merosotnya musik batak dekade thn 2000 an.
    saya sangat mendukung programnya,lae Syukur Hamonangan Nababan menyatukan,mendiskusikan kembali bagaimana kita ??mempesonakan komunitas penikmat musik dunia,seperti artis artis batak terdahulu.saya adalah seorang technician bergerak dilive music production yg sudah lama bertualang di luar negri dan sampai sekarang.dulu saya kerja sebagai technician untuk groupnya amigos, bangga rasanya sebagai bagian dari group batak itu,dinegara orang lain lagu batak itu sangat popular sekali,apalagi dengan cara khasnya lae,vico pangaribuan menyanyikan lagu lissoi…lissoi menjadikan suasana seperti kita di kampung halaman.lupa iba,hape dang na dihuta niba.
    itu adalah sedikit pengalaman dengan group batak,nah lae-lae marilah kita bangkitkan kembali,budaya lagu batak itu terdengar kembali di pentas pentas dunia.melahirkan musisi muda,atas bimbingan musisi,artis,pencipta lagu yg sukses terdahulu demi kelangsungan budaya kita halak batak.dan menjadikannya komoditi export non migas,semoga program lae syukur hamonangan nababaan kita doakan, terwujud.
    salam buat,lae vico pangaribuan,surya simatupang,iran ambarita,tagor tampubolon dohot semua artis batak.horas horas horas…salam dari perantauan.

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.