Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Jumat
4
Agt '06

Gempa Guncang Nias, Meulaboh, dan Sumbawa


Warga Labuan Lalar Sempat Berlari ke Perbukitan

Serangkaian gempa bumi tektonik mengguncang Pulau Sumbawa, Nias, dan Meulaboh pada Rabu malam dan Kamis (3/8) dini hari. Rangkaian gempa itu tidak menimbulkan kerusakan, hanya sempat membuat panik warga Desa Labuan Lalar, Taliwang, karena khawatir terjadi tsunami.

Gempa berkekuatan 6,1 skala Richter (SR) mengguncang Kecamatan Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Rabu sekitar pukul 22.45 Wita. Warga Desa Labuan Lalar, Taliwang, sempat panik dan berlarian ke bukit karena khawatir terjadi tsunami.

Menurut Wakodim dari Badan Meteorologi dan Geofisika Bandara Selaparang, Mataram, Kamis, pusat gempa berada di 11,45 Lintang Selatan dan 116,171 Bujur Timur (BT), atau sekitar 300 km barat daya Taliwang. Getaran gempa itu dirasakan pula di Mataram dan Lombok Tengah, bahkan sampai ke Ubud (Gianyar) dan Denpasar, Bali.

Setelah memastikan tak terjadi tsunami, Kamis sekitar pukul 03.00 warga kembali ke rumah masing-masing.

Didi S Agusta Wijaya, Sekretaris Ikatan Ahli Geologi NTB, yang juga dosen Fakultas Teknik Universitas Mataram, mengatakan, gempa di NTB terjadi secara rutin setiap bulan dengan kekuatan sekitar 5 SR.

Nias dan Meulaboh

Gempa juga mengguncang Meulaboh, Nanggroe Aceh Darussalam, Kamis pukul 01.31, dan Nias, Sumatera Utara, pukul 03.31. Data BMG menyebutkan, di Nias kekuatan getaran tercatat 5 SR, berpusat di 2,8 Lintang Utara (LU) dan 97,0 Bujur Timur (BT). Episentrum gempa terletak 210 kilometer di bawah permukaan laut, sekitar 374 km arah tenggara Labuhan Haji, NAD.

Adapun gempa yang mengguncang Meulaboh tercatat 5,4 SR, berada pada posisi 3,96 LU dan 95,9 BT. Episentrum gempa berada 35 km di bawah permukaan laut, sekitar 31 km barat daya Meulaboh.

Di Nias, sebagian besar warga tak menyadari adanya gempa. “Saya tidak tahu ada gempa karena masih nyenyak tidur. Kalau gempanya besar, mungkin bisa celaka,” kata Serius Nehe, warga Gunungsitoli.

“Ini yang keempat kalinya dalam dua pekan ini, kami merasa cukup terbiasa dan tidak panik,” kata Budi Silaban, warga Gunungsitoli.

Dari Ambon dilaporkan, meski berada di wilayah rawan gempa dan tsunami, Maluku masih belum memiliki alat pendeteksi gempa yang mampu menjangkau seluruh pulau di wilayah itu. Kondisi ini diperparah oleh terbatasnya sarana transportasi dan telekomunikasi.

Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu dalam rapat kerja dengan bupati dan wali kota se-Maluku di Ambon, Kamis, mengatakan, Maluku termasuk wilayah yang rawan karena tempat pertemuan tiga lempeng benua aktif, yaitu lempeng Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik. Menurut sejarah, pesisir selatan Pulau Seram dilanda tsunami hebat pada tahun 1654 yang menyebabkan tenggelamnya sejumlah desa.

Fenomena alam

Satelit milik Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional tak dapat merekam dengan sempurna awan-awan aneh yang muncul di langit Bandung pada pukul 09.00 dan 16.00, Selasa lalu (Kompas, 3/8).

Menurut Sarmoko Saroso, peneliti geomagnetik dari Lapan, Kamis, tidak ada cukup data untuk memastikan fenomena awan aneh di Bandung karena setelah melihat rekaman satelit milik Lapan, ternyata awan aneh itu tak tertangkap dengan baik. “Mungkin karena resolusi satelit kami rendah,” kata Sarmoko.

Selain itu, ia mengatakan, posisi awan amat rendah. Dengan data terbatas itu, untuk sementara dia menyatakan, awan tersebut bukan awan gempa, melainkan awan cuaca dari jenis cirrus yang sering terlihat lurus.

Sumber : (RUL/ANS/FRO/MZW/YNT)  Mataram, Harian Kompas


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.