Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Selasa
18
Jul '06

Kinerja BUMN - Jamsostek dan Tantangan


Belakangan ini harap maklum bila jajaran direksi PT Jamsostek sedang pusing tujuh keliling. Ada sejumlah tantangan dan persoalan serius membentang di depan mata. Paling serius mungkin tudingan korupsi yang sudah mengarah ke jajaran direksi.

Setidaknya demikian babak lanjutan “Baratayudha” yang sedang terjadi dalam tubuh BUMN tersebut. Awalnya adalah tuntutan mundur terhadap sang dirut, Iwan Pontjowinoto dari posisinya di Jamsostek. Tuntutan tersebut dilontarkan kalangan Serikat Pekerja Jamsostek (SPJ). Direksi lain, minus Iwan Pontjo seakan segerak seirama dengan aspirasi para pengurus serikat pekerja.

Sedangkan jajaran komisaris secara diplomatis akan berupaya mempelajari tuntutan para karyawan Jamsostek yang diwakili oleh SPJ itu. Sementara Kementerian Negara BUMN tegas menandaskan tidak akan ada pergantian direksi Jamsostek. Menurut penilaian Kementerian Negara BUMN, sosok Iwan dianggap terlalu revolusioner melakukan perubahan dalam tubuh Jamsostek.

Semula tuntutan tersebut- dalam penilaian SPJ-karena direksi tidak memiliki kinerja yang baik. Namun akhirnya melebar hingga salah satu elemen organisasi buruh yaitu Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (K-SBSI) melaporkan adanya dugaan tindak pidana korupsi direksi Jamsostek kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

K-SBSI menyatakan para buruh yang merupakan peserta utama Jamsostek dirugikan sebesar Rp 288 miliar. Kerugian terjadi sepanjang tahun 2005 akibat selisih bunga.

Hitung-hitungan tersebut berasal dari kebijakan direksi Jamsostek yang menetapkan penurunan bunga dana pengembangan Jaminan Hari Tua (JHT) menjadi 8 persen. Keputusan itu diambil pada tahun 2005. Atas dasar itu selanjutkna Ketua Umum K-SBSI Rekson Silaban melaporkan dirut Jamsostek kepada KPK.

Seperti diketahui Jamsostek memberikan manfaat bunga atas JHT 8 persen. Sementara suku bunga pasar pada waktu yang bersamaan berada pada level 13,5 persen.

Tudingan itu sendiri telah ditepis jajaran direksi Jamsostek. Ketika melakukan jumpa pers dadakan pekan lalu, Direktur Investasi Jamsostek Iskandar Rangkuty menjelaskan duduk perkara kinerja Jamsostek. Menurut Iskandar pendapatan investasi bruto Jamsostek telah meningkat cukup signifikan. Pasalnya dalam periode tiga bulan pertama sudah mencapai 39,67 persen dari target yang ditetap pemerintah.

Lalu pengembangan dana investasi JHT- sebagaimana dipersoalkan K-SBSI-telah memasik pendapatan kotor hingga RP 1,416 triliun. Pendapatan bruto tersebut ditambah lagi sebesar Rp 437 miliar yang merupakan hasil investasi dana di luar JHT.

Direksi Jamsostek juga telah merevisi bunga pengembangan dana JHT. Berdasarkan kesepakatan rapat umum pemegang saham (RUPS) Jamsostek pada 30 Juni 2006, telah disetujui kenaikan bunga pengembangan investasi dari 8 persen menjadi 10 persen. Revisi bunga dana pengembangan JHT tersebut berlaku efektif mulai 1 Januari 2006. Menurut penuturan kalangan direksi Jamsostek hal tersebut merupakan wujud tanggung jawab direksi terhadap peserta Jamsostek.

Kini persoalan dalam tubuh Jamsostek telah melebar jauh, dari sekadar tuntutan mundur sang dirut dari SPJ ke persoalan tudingan korupsi. Jajaran direksi Jamsostek sendiri menyatakan siap bertanggung ajwab atas tudingan korupsi tersebut. Termasuk dalam hal ini bertanggung jawab dalam kinerja perseroan.

Tudinganmringn dari beberapa kalangan kepada manajemen juga menyangkut transparansi. Jajaran manajemen Jamsostek dinilai tidak transparan terutama menyangkut laporan keuangan. Yang dimaksud kalangan aktifis serikat buruh adalah soal data laporan keuangan terbaru Jamsostek. Argumentasi serikat buruh karena BUMN ini mengelola dana milik para buruh.

Publik barangkali tidak tahu persis persoalan sebenarnya dari pertarungan tuntutan mundur itu. Apakah tuntutan mundur itu juga termasuk penurunan kinerja keuangan PT Jamsostek.

Setidaknya ini berdasarkan penilaian miring diluar tudingan korupsi. Laporan keuangan tahun 2005 dinilai tidak optimal. Tidak ada catatan peningkatan kinerja investasi Jamsostek seperti pada tahun-tahun sebelumnya.

Berdasarkan laporan keuangan tahun 2005, pendapatan kotor Jamsostek mencapai Rp 3,124 triliun. Hingga akhir triwulan I tahun 2006, dari dana invesasi sebesar Rp 40,185 triliun telah dibukukan pendapatan investasi bruto sebesar Rp 1,825 triliun.

Sumber : (Mangku) Suara Karya Online


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.