Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Jumat
14
Jul '06

Selesaikan kisruh di Jamsostek


Menakertrans Erman Suparno meminta agar kisruh antara karyawan melalui Serikat Pekerja Jamsostek (SPJ) dengan Dirut PT Jamsostek segera diselesaikan agar tidak berlarut-larut, sementara KSBSI melaporkan Iwan Pontjowinoto ke KPK.

Seusai pembukaan Rakornas Reformasi Penempatan dan Perlindungan TKI di Jakarta, kemarin, Erman mengatakan PT Jamsostek terlalu strategis untuk dibiarkan menjadi berlarut-larut.

Sebelumnya, SPJ meminta Menneg BUMN untuk memberhentikan Iwan P. Pontjowinoto dari jabatannya sebagai Dirut Jamsostek. SPJ, atas nama 3000 karyawan Jamsostek, membeberkan sejumlah ‘dosa’ Iwan.

Menurut Erman, Jamsostek merupakan lembaga yang memenuhi hak normatif dan dana pekerja dalam jumlah yang besar. Ketika ditanya tentang usulan SPJ, Erman menyatakan akan membicarakannya dengan Menneg BUMN.

Dalam perkembangan lain, mantan Ketua SPJ Priode 2000-2005 Firmansyah Jusuf mengatakan tuntutan SPJ yang meminta pemerintah mengganti Dirut Jamsostek Iwan Pontjowinoto sebelum akhir masa jabatannya dinilai tidak substansial.

“Sebagai senior di Jamsostek, saya tidak melihat ada masalah yang prinsipil dituntut oleh SPJ yang dipimpin Abdul Latief Algaff. Sebaliknya dasar yang dijadikan tuntutan mereka tidak fokus,” katanya kemarin, tulis Antara.

Dia menilai kepemimpinan Iwan Pontjowinoto cukup bagus. “Kalau soal gaya memimpin, setiap orang pasti punya gaya masing-masing. Tapi jangan karena gaya memimpin, seseorang dipaksa turun. Ini tidak fair,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI) Rekson Silaban kemarin melaporkan Iwan Pontjowinoto ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas dugaan penurunan bunga Jaminan Hari Tua (JHT) peserta Jamsostek.

Dia menuturkan, kebijakan Dirut Jamsostek menurunkan bunga JHT peserta Jamsostek pada 2005 menjadi lebih rendah dari bunga deposito bank telah merugikan peserta jamsostek, yang umumnya para buruh, sebesar Rp288 miliar.

“Dirut Jamsostek sengaja mengurangi manfaat JHT agar terlihat PT Jamsostek mendapat keuntungan besar pada 2005, padahal keuntungan itu didapat dari pengalihan dana manfaat JHT ke dalam pos laba,” tuturnya di Gedung KPK, Jl. Veteran, Jakarta, kemarin.

Meski kasus yang dilaporkan tersebut menyangkut kerugian peserta Jamsostek dan belum tentu termasuk dalam kerugian negara, Rekson mengatakan pihaknya juga melaporkan beberapa penyimpangan yang dilakukan Iwan Pontjowinoto, di antaranya dugaan penyimpangan dalam pembelian server teknologi informasi, perangkat komputer dan kendaraan dinas.

Terkait berbagai tuduhan itu, Iwan sendiri sebelumnya mengatakan siap menghadapinya. “Saya berharap, untuk yang masalah internal dapat selesai Senin depan…Dan untuk permasalahan yang mulai digiring ke eksternal, saya juga siap menghadapi,” tandasnya.

Periksa Direktur Garuda

Sementara itu, Direktur PT Garuda Indonesia Agus Prijanto diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi terkait dugaan korupsi penjualan tiket domestik oleh BUMN penerbangan tersebut.

Usai pemeriksaan yang berlangsung pukul 09.55 WIB hingga 20.30 WIB, Agus mengatakan dirinya diperiksa terkait jabatannya terdahulu sebagai vice president revenue management di Garuda.

Saat itu, lanjut dia, dirinya tidak termasuk sebagai tim terkait kerja sama BUMN penerbangan tersebut dengan bank settlement plan (BSP) sebagai bank yang bertugas mengumpulkan hasil penjualan tiket domestik dari para agen sejak 2001.

Dia menolak menjelaskan secara lebih rinci mengenai pemeriksaan KPK terhadap dirinya.

Terkait persoalan BSP, Agus menjanjikan akan membicarakan hal tersebut secara khusus kepada media.

“Saya tidak akan menjelaskan pengelolaan BSP ini karena kalau dijelaskan secara parsial bisa misslead. Saya akan alokasikan waktu untuk membicarakan itu,”ujarnya tadi malam.

Saat ditanya apakah BSP harus menyetorkan hasil penjualan kepada Garuda setiap tanggal 17 Agus menolak merinci penjelasan itu. “Saya tidak masuk ke masalah teknis.”

Sumber (redaksi@ bisnis.co.id)  Bisnis Indonesia via BUMN Online


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.