Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Jumat
14
Jul '06

Lappet dan Ombus-ombus, Kue Tradisional Batak


LappetTiap daerah biasanya punya penganan khas tradisional. Meski pun Medan memiliki penganan khas Bika Ambon, namun masih ada kue tradisional Batak yang hingga kini tetap disukai yaitu lappet dan ombus-ombus.

Lappet dan ombus-ombus adalah kue tradisional Batak. Tak jelas sejak kapan penganan ini mulai “membudaya”. Namun pada acara seremonial adat Batak tertentu, biasanya lappet atau ombus-ombus tetap menjadi hidangan sela dibarengi kopi atau teh.

Lappet dan ombus-ombus adalah dua jenis penganan yang berbeda. Namun keduanya terbuat dari bahan yang sama: tepung beras, kelapa, gula merah (aren). Namun untuk lappet performanya tak jauh beda dengan lepat pisang. Tetapi rasa dan bahannya jelas beda.

Ombus2Perbedaan antara lappet dan ombus-ombus ada pada bentuk olahan dan rasa. Lapet biasanya dibentuk menyerupai limas dan dibungkus daun pisang. “Sementara Ombus-ombus, bentuknya bulat dan tidak dibungkus dengan apapun,” kata B Hutabarat salah satu penjual lapet dan ombus-ombus selama puluhan tahun.

Proses pembuatannya sendiri tidak begitu rumit, dimulai dari tepung beras, kelapa parut (jangan terlalu tua), dicampur. Menyusul parutan gula aren, dan air secukupnya. Setelah merata seluruh adonan, kemudian dibungkus dengan daun pisang, lalu dikukus hingga matang. Sama halnya dengan lappet, Ombus-ombus terdiri dari bahan sama, namun penampilan proses akhir berbeda. Ombus-ombus tidak dibungkus dengan daun, hanya dibentuk sebesar bulatan bola golf, sudah langsung dapat dikukus.

Kue tradisional ini lebih enak dinikmati jika panas-panas dan disajikan sebagai makanan pelengkap minum teh atau kopi. Soal rasa tak perlu ditanya. Bagi yang pernah mencicipnya mungkin akan punya pendapat yang berbeda. Tetapi paduan tepung beras dan gula aren akan memberika cita rasa yang unik.

Namun lappet dan ombus-ombus ini kurang populer sebagai dagangan. Jika ingin mendapat rasa yang asli boleh membeli di Siborong-borong. Karena ombus-ombus yang terkenal memang di Siborong-borong. Tetapi di Medan juga kedua kue ini sudah beredar. Biasanya dipesan langsung dengan pembuatnya atau dijual secara berkeliling pada masa tertentu. Terkadang di daerah pasar sentral Sambu ada juga penjual penganan ini.

Sumber : (Eva Simanjuntak/Yeni Kurniawi) Harian Global, Medan


Ada 6 tanggapan untuk artikel “Lappet dan Ombus-ombus, Kue Tradisional Batak”

  1. Tanggapan Thio Hutabarat:

    Jadi pengen beli kesenen…. :) :)

  2. Tanggapan vera napitupulu:

    lappet itu rasanya sangat khas sekali apalagi klu dihidangkan dengan kopi dan teh manis di pagi hari,,,tp ada lg yg lbh enak kue pohul pohul,,,wlupun cetakannya tangan manusia tp justru itu yg membuat semakin unik,,,dan klu dikukus jgn diagkat semua dl,tetap dikukusan,nah klu dihangati lg rasanyawaduhhh nataboan,,,,,,,,,,, semakin eeenak bgt,,,cobain deh,,,buatnya jg gampang kok,,ok,,,horas,,,,,,,,,,,,,

  3. Tanggapan Maridup Hutauruk:

    Mendengar lampet dan ombus2 tentu akan keluar air liur. Kue tradisional ini terutama bagi pangaranto tentu akan mengajak kilas balik kepada kenangan2 masa lalu semasa masih di bonapasogit. Keinginan untuk merasakan nikmatnya lampet sambil mengenang-ngenang maka lampetpun menjadi suguhan pelengkap di setiap acara persta perkawinan di gedung, bahkan untuk warga batak jakarta dapat setiap hari membeli lampet di pasar senen dengan harga Rp 1000 per satuan.

    Tetapi ada hal kadang kadang yang membuat keinginan menikmati menjadi kenikmatan parsahalian. Dua tahun lalu sewaktu berkunjung ke bonapasogit. Perjalanan dari Medan tentu haruslah membawa oleh2 yang kebetulan diputuskan untuk membeli lampet di Siborong-borong yang terkenal paling enak. Sesampai di Siborong-borong, di pertokoan sebelah kanan jalan sebelum terminal dibelilah makanan enak ini seharga Rp 1000 persatuan dan ternyata lebih tebal bulung-bulung daripada isinya. Sepulang dari kampung ke arah Medan terlihat pula penjual lampet dipintu masuk Pasar Balige lalu dibeli dengan harga hanya Rp 1000 per tiga lampet (1/3 harga Siborong-borong). Karena persaingan beberapa penjual maka mereka mengemas dengan bungkusan daun yang bagus dan berisi, puaslah memakannya. Sesampai di Parapat yang kebetulan lagi musim mangga Toba dibeli dengan harga Rp 12.000 per kg. mangga yang dipilih bagus2 ternyata sewaktu membungkus ditukarkan dengan beberapa yang sudah busuk. Sementara di Jkt orang dapat menikmati mangga unggulan hanya rp. 5.000 per kilo tanpa tipu-tipu.
    Jadi kalau banyak pangaranto yang kheki membelanjakan uangnya di bonapasogit… janganlah jatuhkan tuduhan.

    Cerita ini hanya sekelumit pengalaman pribadi sebagai insan yang masih mencintai bonapasogitnya. HORAS

  4. Tanggapan roy saragi:

    wah tabo kali itu!!

    ada gak di jual di daerah bandung!

  5. Tanggapan antony:

    Kayaknya ito Vera Napitupulu pinter bikin ombus2 dan lappet
    Memang nikman nian makan panganan tradisional ini.
    Aku paling suka klo inong dulu bikinin kami lappet dan ombus2, juga nitak dan pohul-pohul.
    Biasanya inong bikin klo ada yg ulang tahun dlm keluarga.
    Semoga Inong tenteram di Surga bersama Yesus Kristus.
    Ito Vera bikinin Lappet donk.

  6. Tanggapan andre:

    Nah kalo makanan yang ini neh… dulu waktu masih kecil sering dibawa oleh opung ku dari SAMOSIR ISLAND kalau datang ke Medan…

    Tapi sejak 17 tahun kemarin ampe sekarang… ngak pernah makan yang ginian lagi… Soalnya family di sekitar daerah TOBA & SAMOSIR ISLAND udah kagak ada…

    Tapi gak apa dech… ini sebuah daya tarik buat aku… untuk mengunjungi tanah nenek moyang ku yang hampir sekitar 17 tahun tidak pernah aku kunjungi lagi…

    Jadi pengen pulang ke kampung halaman leluhur ku neh…
    Mari… pulang… ayo jalan2… berwisatalah bersama saya…

    Hehhehehee…….. :D

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.






Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel sebelumnya :
   » » Pekerja Laporkan Dugaan Korupsi di Jamsostek

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel selanjutnya :
   » » Direktur Jamsostek Diadukan ke KPK