Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Jumat
14
Jul '06

Dilaporkan ke KPK, Dirut Jamsostek Dituding Rugikan Buruh Rp 288 Miliar


Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI) melaporkan dugaan korupsi di PT Jamsostek ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dirut Jamsostek Iwan P Pontjowinoto diduga telah merugikan buruh Rp 288 miliar. “Kebijakan Dirut yang menurunkan bunga jaminan hari tua (JHT) dari 9,2 persen menjadi 8 persen telah merugikan kami (buruh) Rp 288 miliar,” kata Ketua Umum KSBSI Rekson Silaban di Gedung KPK, Jalan Veteran III, Jakarta, Kamis (13/7).

Rekson menjelaskan laporan ini didasarkan atas laporan pertanggungjawaban Iwan pada 2005 yang menyatakan Jamsostek mengalami keuntungan. “Setelah diteliti keuntungan itu ternyata diperoleh dari penurunan bunga JHT,” ujarnya. Menurut Silaban, dana tersebut seharusnya dibayarkan kepada peserta Jamsostek namun oleh Dirut Jamsostek selisih dana itu ditransfer ke rekening Jamsostek. “Dirut dengan sengaja mengurangi JHT agar terlihat Jamsostek mendapat keuntungan besar pada 2005,” jelas dia.
Selain itu KSBSI juga melaporkan adanya dugaan korupsi dalam proyek teknologi informasi di mana dana Rp 18,9 juta telah diselewengkan Iwan. “Komputer-komputer itu dibeli Iwan sebelum menjadi Dirut dan setelah menjabat Dirut justru meminta reimbus. Meskipun kecil tapi ini memalukan bagi seorang Dirut,” urainya.

Dugaan korupsi lainnya yang dilaporkan adalah pengadaan server, pemberian honorarium pembicara yang tidak lazim dan pengadaan mobil baru. “Untuk pengadaan mobil baru ini cukup aneh karena 2 unit mobil Nissan Terano dan Kijang Innova tiba-tiba ada setelah 19 hari dia menjabat. Padahal pada tahun tersebut tidak ada anggaran untuk membeli mobil karena mobil lama masih terbilang baru,” jelasnya.

Sugiharto Nilai Dirut Jamsostek Terlalu Revolusioner

Dirut Jamsostek dituntut mundur oleh serikat pekerjanya. Posisi direksi dan komisaris ikut terbelah menyikapi tuntutan serikat pekerja ini. Keadaan ini disebabkan sikap Dirut Jamsostek Iwan P Pontjowinoto terlalu revolusioner dalam melakukan reformasi di tubuh perusahaan plat merah itu.
Demikian disampaikan oleh Menneg BUMN Sugiharto usai menghadiri Rakornas Reformasi Sistem Penempatan dan Perlindungan TKI di Balai Kartini, Jalan Gatot Soebroto, Jakarta, Kamis (13/7).
“Barangkali behavior yang harus diluruskan, terlalu revolusioner. Saya kira di BUMN ini memerlukan kehati-hatian. Manajemen emosi perlu terjaga,” kata Sugiharto

Sejauh ini Kementerian BUMN belum menentukan sikap atas tuntutan mundur Dirut PT Jamsostek oleh serikat pekerjanya. Kementerian masih akan mengevaluasi laporan dari komisaris PT Jamsostek yang baru diperoleh pada Jumat 7 Juli kemarin.
“Nanti akan dievaluasi secara obyektif apa yang harus dilakukan. Ini sebenarnya persoalan internal manajemen yang harus diselesaikan secara arif,” jelas Sugiharto.
Sebelumnya, Senin 10 Juli lalu Serikat Pekerja Jamsostek yang mewakili sekitar 3.000 karyawan menuntut Iwan P Pontjowinoto menanggalkan jabatan selaku direktur utama di perusahaan beraset Rp 40 triliun ini.
Keinginan karyawan ini mendapat dukungan dari sejumlah direktur. Antara lain Direktur Keuangan Tri Lestari, Direktur Investasi Iskandar Rangkuti, Direktur Umum dan SDM Andi Achmad, dan Direktur Operasi dan pelayanan Tjarda Muchtar.

Ketua Serikat Pekerja Jamsostek Abdul Latif Algaff mengatakan, pihaknya menuntut mundur Iwan karena dinilai tidak mampu menangani portofolio Jamsostek. Langkah Iwan yang mengundang kontroversi adalah menyetop trading dan transaksi di pasar modal. Sebagai gantinya, ia disebut-sebut menunjuk PT Danareksa dan PT Bahana untuk mengelola investasi senilai Rp 6 triliun.

Sumber : (Detikcom/v) Harian SIB, Jakarta


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.