Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Minggu
9
Jul '06

“Mutiara” di Teluk Tapian Nauli


090706_sibolga3.jpgBukan cerita baru lagi bahwa kawasan perairan laut wilayah pantai barat Sumatera ini banyak menyimpan “mutiara”. Tersimpan, dan belum seluruhnya digali. Dan menurut survei, “mutiara” ini bersifat renewable.

Teluk Tapian Nauli sudah lama dikenal dengan kekayaan laut yang dimiliki. Di kawasan Lautan Indonesia tersimpan ikan-ikan yang terkenal mahal dalam pasaran dunia seperti kerapu, kakap, tuna, tenggiri serta berbagai jenis ikan pelagis kecil seperti lemuru, tembang, kembung dan layang-layang.

Di sini hidup pula ikan-ikan demersal, udang, lobster, yang dikenal laku keras di pasaran untuk memenuhi permintaan berbagai rumah-makan terkenal di Hongkong, Singapura dan Malaysia.

Ikan tuna, misalnya, jenis ikan sangat digemari di pasaran dunia ini ternyata banyak terdapat di perairan laut Sibolga. Hal ini dibuktikan berdasarkan hasil penelitian oleh sekelompok pengusaha dan peneliti dari Australia yang menyimpulkan bahwa perairan Sibolga sampai pada batas ratusan kilometer ke Samudera Indonesia merupakan sarang ikan tuna.

Hasil penelitian Pusat Penelitian dan Pegembangan (Puslitbang) Oceanologi LIPI juga memperkirakan potensi lestari ikan tuna baik di wilayah perairan Zona Economi Exclusif (ZEE) maupun perairan wilayah mencapai sekitar 32.000 ton per tahun.

Lebih mencengangkan lagi, hasil pengecekan langsung dengan menggunakan sistem deteksi ikan hi-tech yang pernah dilakukan sekelompok calon investor dari Malaysia. Hasil deteksi menunjukkan ikan tuna dalam ukuran raksasa yang beratnya bisa mencapai 150 kilogram per ekor. Ini merupakan suatu hal yang sulit ditemukan di laut mana pun.

Tuna hanya salah satu contoh dari jenis dan keanekaragaman sumber hayati yang berkeliaran di kawasan perairan laut Sibolga. Dilihat dari segi potensi lestari, kawasan ini memang benar-benar menjadi “sarang” ikan. Menurut hasil penelitian Puslitbang Oceanologi LIPI bekerjasama dengan Ditjen Perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan, potensi lestari perairan pantai barat Sumatera meliputi Perairan ZEE mencapai angka 115.330 ton per tahun, sementara di perairan laut wilayah sebanyak 202.126 ton per tahun. Dengan demikian potensi lestari pantai barat Sumatera termasuk ZEE diperkirakan mencapai 317.456 ton per tahun.

Namun kekayaan ini masih belum sepenuhnya tergali. Persisnya, dari seluruh potensi itu, baru sekitar 10 sampai 12 persen atau rata-rata 37.000 ton per tahun yang tergarap. Ini masih “setitik embun”, dengan kata lain angka ini masih jauh dari angka idel yang sudah pernah diperkirakan oleh Badan Perencanaan Kota Sibolga bekerjasama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Dalam Negeri yang mengatakan bahwa tingkat produksi yang optimal di pantai barat Sumatera seharusnya mampu mencapai 224.831,1 ton per tahunnya.

Dan berdasarkan proyeksi produksi perikanan pantai barat Sumatera Utara, angka itu baru dicapai pada tahun 2016. Artinya, pada saat itulah baru akan terjadi keseimbangan antara ketersediaan potensi lestari dengan produksi yang dihasilkan. Dan meski setiap saat para nelayan “mengobok-obok” perairan laut Sibolga untuk mengambil kekayaan laut itu, sumber daya hayati itu masih akan tetap lestari karena ikan adalah kelompok sumberdaya yang dapat diperbaharui (renewable), yang apabila dipanen masih akan tumbuh kcmbali dalam waktu dan dengan kecepatan tertentu.

Sibolga Menuju Kota Primer

Salah satu langkah pembangunan yang sedang dicanangkan di kawasan pantai barat hingga saat ini adalah terwujudnya Kota Sibolga menjadi kota primer yang bisa mendukung kegiatan ekspor dan impor.

Demikian dikatakan Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Sibolga S Zaluchu SH, yang ditemui Rabu, (5 Juli 2006) kemarin.
Zaluchu menjelaskan, nantinya Sibolga akan menjadi pusat atau sentral ekpor dan impor hasil pertanian dari kawasan pantai barat melalui pelabuhan Sibolga. Hal ini dikarenakan Kota Sibolga merupakan satu-satunya kota di pantai barat Sumatera Utara yang memiliki pelabuhan laut.

Namun guna mendukung pengembangan perekonomian Kota Sibolga ini masih ditemui kendala yakni masih minimnya sarana infra strktur yang tengah dibangun. Pemerintah Provinsi sendiri masih membangun trans-Sumatera jalur barat mulai dari Manduamas- Sibolga-Natal- terus ke Pasaman Barat di wilayah Sumatera Barat.

“Minimnya lokasi yang akan akan direncanakan menjadi sentral-sentral sementara pendistribusian barang juga menjadi kendala selain jalan uyang belum memenuhi kapasitas layak,” kata Zaluchu menjelaskan.

Katanya, faktor tofografi Sibolga yang berbukit juga berpengaruh sehingga mengakibatkan sulitnya menetapkan lokasi strategis untuk nantinnya digunakan sebagai sentral sementara ekpor impor.

“Oleh karena itu kita belum bisa menprediksi kapan terwujudnya Kota Sibolga menjadi kota primer seperti yang diharapkan pemerintah kota dan masyrakat, karena hingga saat ini pembangunan masih terkendala.”

Namun meskipun demikian kata Zaluchu, masyarakat sangat optimis. “Jika ini nantinya hal ini terwujud, perekonomian masyarakat Sibolga pasti terdongkrak naik karena nantinya masyarakat semakin akan memiliki peluang yang lebih luas dalam mencari sumber-sumber uang melalui perdagangan dan jasa,” katanya menambahkan.

Sumber : (Tonggo S-Parlindungan Gultom) Harian Global


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Bukan Pergeseran Tapi Inovasi Kebudayaan
Artikel selanjutnya :
   » » Adat “Adopan Dongan Anjuon Tutur”