Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Minggu
2
Jul '06

Pergeseran Adat Batak Toba (bagian II)


>> Artikel ini merupakan lanjutan dari Pergeseran Adat Batak Toba (bagian I)

3. Adat na Niadathon
Adat na Niadathon yaitu tingkatan pelaksanaan tata upacara adat yang sudah dipengaruhi kebudayaan dan peradaban yang telah menjadi kebiasaan dan kelaziman baru. Melalui kebiasaan pelaksanaan adat pada species 2 yaitu Adat na Taradat terjadilah pergeseran-pergeseran nilai dan perobahan pelaku adat untuk menyikapi pelaksanaan upacara adat inti, melainkan memunculkan “adat baru” melawan dan menindas tata laksana upacara adat inti. Bentuk-bentuk kegiatan upacara adat yang baru pun muncul antara lain upacara adat wisuda, babtisan anak, lepas sidi, perayaan ulang tahun, peresmian perusahaan, dan lain-lain, yang sebenarnya jenis upacara adat di atas tidak dijumpai pada upacara adat Batak Toba khususnya pada adat inti.

Pada upacara adat dalam species Adat na Niadathon ini sangat dipengaruhi oleh unsur keagamaan. Di sini keterbukaan pintu adaptasi terhadap budaya dan kebiasaan dari luar atau pengaruh era globalisasi telah digunakan untuk merongrong dan menjajah adat inti atau adat asli yang selalu dilaksanakan etnis Batak Toba yang lama kelamaan menjadi memudar dan kabur, dan mungkin pada suatu saat akan tidak jelas dan pada akhirnya akan lenyap.

4. Adat na Soadat
Spesies adat berikut ini secara harafiah Adat na Soadat adalah adat yang bukan adat, karena tata laksana upacara adat disini tidak lagi berdasarkan struktur dan sistematika yang lazim dilaksanakan oleh etnis Batak Toba. Upacara yang dilaksanakan adalah sekedar “ngumpul” dalam bentuk resepsi, baik dalam upacara perkawinan, kematian dan lain-lain.

Struktur kekerabatan Dalihan Natolu yaitu hula-hula (pihak pengambilan boru), dongan tubu (saudara semarga), dan boru (pihak yang mengambil isteri) tidak lagi difungsikan, demikian juga halnya simbol-simbol dan media yang digunakan dalam upacara adat seperti dengke (ikan), boras (beras), ulos, jambar (daging yang dibagi-bagikan sesuai dengan kedudukan (status) kekerabatan (affina) seseorang pada upacara adat) dan lain-lain semua disingkirkan. Dalam penolakan upacara adat dalam spesies Adat na Soadat ini umpama Batak Toba menyebutkan :

Mumpat taluktuk, sega gadu-gadu
Nunga muba adat naung buruk ala ro adat naimbaru,

(Tercabut patok, rusak pembatas sawah, adat yang lama telah berobah karena sudah datang adat yang baru).

Ungkapan ini sebenarnya berkonotasi yang tidak baik karena patok adalah petunjuk yang ditetapkan dan dimufakati justru dicabut, maka ketetapan boleh dilanggar, hal ini akan menimbulkan ketegangan dan perpercahan. Pembatas sawah yang dianalogikan sebagai aturan dan batas-batas tindakan dan perilaku dengan dasar nilai-nilai adat sudah rusak akan menimbulkan kekhaosan, pertentangan dan perpercahan.

Kelompok yang menolak upacara adat ini adalah sebahagian dari kelompok agama Kristen sekte kharismatik dan juga kelompok agama Kristen Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA) dan mungkin individu-individu pada gereja suku yang menolak pelaksanaan upacara adat. Menurut kelompok ini upacara adat berasal dari leluhur yang masih hidup dalam penyembahan berhala pada masa kegelapan sebelum agama Kristen masuk ke daerah Batak Toba. Oleh karena itu upacara adat tidak hanya sebagai aktivitas sosial yang berdiri sendiri tetapi terkait dengan segala ide, gagasan, paradigma, norma kuasa roh kegelapan yang ada di belakangnya dengan demikian upacara adat sangat bertentangan dengan hukum dan Firman Tuhan (H J Silalahi, 2004).

Kelompok Kharismatik yang menolak upacara adat perkembangannya sangat pesat termasuk di Indonesia. Menurut Pdt Burju Purba dalam waktu relatif singkat sejak tahun 1960 sampai sekarang sudah memiliki anggota lebih kurang 500 juta jiwa di dunia. Menurut penelitian David Berret, umat Kristiani di dunia saat ini terdiri dari gerakan Kharismatik 44 %, Katolik 33 % dan selebihnya 22 % di luar Katolik dan Kharismatik (SIB, 7 Maret 2004). Perkembangan jumlah jemaat Kharismatik akan terus bertambah diprediksi tidak lama lagi hanya 2 (dua) komunitas kristen di dunia ini yaitu komunitas sekte Kharismatik dengan persentase lebih besar dan sekte Katolik dalam persentase yang lebih kecil. Dengan demikian apabila sekte Kharismatik konsisten menolak upacara adat, maka dalam hitungan tahun upacara adat Batak Toba tidak lagi sekedar bergeser tetapi akan tamatlah riwayatnya.

Penutup
“Seandainya” ada sisi negatif dari pelaksanaan upacara adat tetapi masih lebih banyak sisi positifnya. Oleh karena itulah masih banyak (mayoritas) etnis Batak Toba melaksanakan upacara adat. Adat yang dilaksanakan pada saat sekarang adalah berlandaskan kepada ajaran agama yang diterangi oleh Firman Tuhan. Dengan demikian adat merupakan media perwujudnyataan “kasih” seperti yang diajarkan oleh Tuhan Allah. Sesudah agama Kristen dianut mayoritas etnis Batak Toba fungsi adat sebagai mengatur kehidupan manusia untuk menciptakan keteraturan, ketentraman dan keharmonisan, dikonotasikan dalam istilah hadameon (kedamaian), bukan menciptakan ketegangan dan perpecahan di tengah-tengah masyarakat. Untuk itu seluruh komponen khususnya etnis Batak Toba berkewajiban melestarikan adat Batak Toba itu.

Kepada saudara-saudara dari kelompok sekte Kharismatik dan kelompok-kelompok lainnya yang menolak upacara adat Batak Toba perlu disadari bahwa manusia adalah mahluk sosial yang hidup saling ketergantungan antara yang satu dengan yang lain. Lebih-lebih satu rumpun keluarga yang masuk dalam sistem kekerabatan. Manusia hidup di tengah-tengah kemajemukan suku, agama, ras dan adat. Supaya hidup berdampingan rukun dan damai tidak mungkin dipaksakan suatu norma aturan dan hukum yang digariskan dengan satu sudut pandang satu agama untuk itu perlu tenggang rasa dan saling menghargai, menghindarkan kekhaosan perpecahan dan konflik.

Penulis : Drs. Brisman Silaban MSi.
(Pengamat Sosial Budaya, Dosen Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan/t)

Sumber : Harian SIB


Ada 3 tanggapan untuk artikel “Pergeseran Adat Batak Toba (bagian II)”

  1. Tanggapan BD TAMBUNAN:

    TANGGAPAN BAGIAN PERTAMA
    Sebelum para pembaca lebih jauh mendalami makna tanggapan ini maka sangat tepat jika kita menambah khasanah berpikir tentang terminologi dan sejarah Batak. Kurang lebih jika tidak tepat mohon kami dikoreksi dan saya tidak sekalipun menghakimi siapapun dalam konteks tanggapan ini.
    Batak adalah sebuah istilah kolektif yang digunakan sebagai identitas sekelompok etnik yang terdapat di kawasan dataran tinggi di sumatera utara atau tepatnya disekitar danau toba. Sedangkan bahasa Batak berasal dari bahasa Austronesia dengan kebiasaan bertutur berbalas-balasan dalam rapat.
    Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu “buddhayah” yang merupakan bentuk jamak dari “buddhi” yang berarti hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere dan dalam bahasa Indoensia diterjemahkan “kultur”.
    Menurut Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski bahwa kebudayaan Batak merupakan bagian tidak terpisahkan dari etnik Batak sehingga segala sesuatu yang terdapat dalam kelompok etnik Batak ditentukan oleh kebudayaan yang dimilikinya dan sifatnya turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya dan hal ini disebut superorganic. Kebudayaan Batak merupakan sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran etnik Batak pada zaman dahulu kala, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan Batak adalah benda-benda yang diciptakan oleh etnik Batak sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu etnik Batak dalam melangsungkan kehidupan etnik.
    Adat adalah gagasan kebudayaan yang melembaga menjadi kebiasaan yang lazim dilakukan di suatu kelompok etnik. Apabila adat tidak dilaksanakan akan terjadi keresahan sehingga kelompok etnik tersebut perlu menjatuhkan sanksi terhadap pelaku yang menyimpang namun sanksi ini tidak menjadi pranata hukum sehingga tidak bersifat bilateral atau universal. Kata adat sendiri berasal dari bahasa Arab yaitu Adah yang berarti “kebiasaan-kebiasaan dari masyarakat”.
    Manusia memiliki keterbatasan pikiran dan daya tahan fisik untuk memahami serta mengungungkap rahasia-rahasia alam sehingga muncul keyakinan akan adanya penguasa tertinggi dari sistem jagad raya ini, yang juga mengendalikan manusia sebagai salah satu bagian jagad raya. Sehubungan dengan itu, baik secara individual maupun hidup bermasyarakat, manusia berkeyakinan bahwa ada penguasa alam semesta yang dapat memberi kebahagiaan sejati. Kepercayaan ini terkristalisasi menjadi agama.
    Agama menjadi sebuah institusi dimana keberadaannya diakui sehingga anggotanya dapat berkumpul bersama untuk beribadah menerima paket doktrin yang menawarkan hal yang terkait dengan sikap dan perbuatan yang harus diambil oleh masing-masing individu sehingga mereka memiliki keseimbangan dalam menjadi hidup.
    Agama biasanya memiliki suatu prinsip, seperti “10 Firman” dalam agama Kristen atau “5 rukun Islam” dalam agama Islam. Yahudi adalah agama tertua dan merupakan agama monotheistik yang masih ada sampai sekarang, sedangkan seharah umat Yahudi adalah bagian utama dari agama Ibrahim lainnya, seperti Kristen dan Islam.
    Agama dan sistem kepercayaan lainnya seringkali terintegrasi dengan unsur kebudayaan yang penting dalam sejarah umat manusia. Kristen adalah salah satu agama penting yang berhasil mengubah wajah kebudayaan Eropa pada akhir abad 17. Pemikiran para filosopis modern pun banyak terpengaruh oleh para filosopis Kristen semacam St. Thomas Aquinas dan Eramus. Sementara itu, nilai dan norma agama Islam banyak mempengaruhi kebudayaan Timur Tengah dan Afrika Utara, dan juga sebagian wilayah Asia Tenggara.
    Agama kristen sendiri masuk ke Batak pada abad 19 oleh beberapa missionaris dan salah seorang yang terkenal ialah Ludwig Ingwer Nommensen oleh sebab itu HKBP memiliki faham Lutheran. Kisah awal masuknya para missionaris ke tanah Batak adalah memakai strategi membaur dengan keyakinan bahwa agama akan dapat dikenal melalui budaya etnik Batak. Walaupun demikian bahwa perlawanan dari etnik Batak dengan eksistensi budaya dan adat istiadatnya tetap tidak dapat dihindarkan dan hal ini terbukti pada tahun 1934 Pdt. Samuel Munson dan Pdt. Hendry Lyman yang diutus Bandan Zending Boston Amerika Serikat mati martir di Lobu Pining Tapanuli Utara.
    Pola pembauran ajaran Kristiani kedalam budaya etnik Batak yang dimulai oleh Van der Tuuk pada tahun 1849 dengan menterjemahkan sebagian dari Alkitab ke dalam aksara batak membawa kerancuan sampai sekarang. Kurun waktu 158 tahun ternyata belum cukup untuk memisahkan ajaran agama dengan adat budaya etnik batak.
    Pada tahun1825 -1829 tuanku Rao dari Padang menyerang tanah Batak dan diperkirakan pada saat itu muncul kepercayaan Parmalim. Kepercayaan Parmalim juga menerapkan pola pembauran namun beberapa hal prinsip adat istiadat Batak di hilangkan secara total yaitu tidak boleh memakan darah, babi, anjing dan monyet.
    Mengingat bahwa dalam aliran kepercayaan parmalim tidak diperbolehkan makan darah, babi, anjing dan monyet maka aliran ini tidak dapat diterima secara utuh sebab beberapa media penyembahan dalam budaya batak telah dipantangkan. Sementara para missionaris pada awal mula masuknya agama nasrani ke etnik Batak tidak menyentuh hal tersebut.
    Pola pembauran yang dilakukan oleh para missionaris telah membuat manipulasi ajaran alkitab dan hal ini terpatri hingga sekarang.

    Perkeliruan prinsip yang dilakukan adalah :
    Berdasarkan tulisan Drs. Brisman Silaban Msi. bahwa adat inti mencakup seluruh kehidupan yang terjadi pada penciptaan dunia oleh Debata Mulajadi Nabolon. Adat inti diberikan bersamaan dengan penciptaan. Sesudah Mulajadi Nabolon menciptakan dewa tiga serangkai yaitu Batara Guru, Bala Sori dan Bala Bulan, maka dengan segera dimamahkanlah kepada mereka undang-undang dan hukum untuk mengetahui yang baik dan yang buruk. Tatkala pada awal mula manusia pertama dicipta (ada) di dunia ini maka Mula Jadi Nabolon memeteraikan “adat” dalam diri manusia tersebut serta memeteraikan undang-undang dan hukum ke dalam hati mereka tentang yang boleh dan terlarang, yakni “terlarang” (tongka), “jangan” (unang) dan tak patut (naso jadi). Dalam konteks ini bahwa Debata Mulajadi Na Bolan adalah dewata pencipta dewa. Para missionaris merekayasa bahwa pada hakekatnya Tuhan adalah Debata yang menciptakan langit bumi dan segenap isinya. Para missionaris untuk tidak menghilangkan perkataan dari dewata yang diyakini oleh etnik Batak sebagai pencipta segala sesuatu yang ada dan merupakan penguasa jagad raya yang menguasai banua ginjang, banua tonga dan banua toru.
    2. Dalihan na tolu, yaitu Hula-hula, Dongan Tubu and Boru. Sementara dalam aplikasi kehidupan sehari-hari satu sama lain menjalankan peran sesuai dengan status masing-masing, yaitu : “Somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru”. Jika hak dan kewajiban yang terkandung didalamnya tidak dilaksanakan maka akan mendapat sanksi magis yaitu : “Angka na so somba marhula-hula siraraonma gadongna, molo so Manat mardongan tubu, natajom ma adopanna, jala molo so elek marboru, andurabionma tarusanna”.
    Mengutip dari tulisan Drs. Brisman Silaban Msi. yang disadur dari pendapat RP Tampubolan bahwa melanggar adat inti sebagai undang-undang (patik) dan hukum (uhum) adalah soal hidup atau mati, melanggar dan mengobahnya adalah dosa berat yang mengakibatkan kebinasaan. Untuk meyakinkan doktrin ini maka si raja Batak umpasa yang harus dipatuhi yaitu “Ompunta naparjolo martungkot salagunde. Adat napinungka ni naparjolo sipaihut-ihut on ni na parpudi”. Itulah tiga falsafah hukum adat Batak yang menjadi pedoman dalam kehidupan sosial yang hidup dalam tatanan adat sejak lahir sampai meninggal dunia.
    BD Tambunan

  2. Tanggapan BD TAMBUNAN:

    Tanggapan Bagian Kedua
    Perbandingan : (Yang bercetak miring adalah kutipan tulisan Silaban) dan yang bercetak tebal adalah kutipan dati Alkitab :

    Masa Mula Dunia Diciptakan Allah (Alkitab, buku kejadian)
    1:1. Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.
    1:2 Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.
    Rekayasa para missionaris pertama pada orang Batak.
    Ia di mula ni mulana ditompa Debata ma langit dohot tano, dungi hira na ginargaran do tano i jala songon halungonan jala holom do, rodi banua toru. Dungi manareap-reap ma hosa ni Debata di ginjang ni aek i.
    Terjemahan diatas diambil dari Alkitab pertama untuk etnis batak (aksara Batak).
    Missionaris menterjemahkan Allah menjadi Debata karena ada kesamaan dengan kepercayaan etnis batak yaitu Debata Mula Jadi Na Bolon. Missionaris juga menambahkan kata banua toru dengan maksud agar terkesan ada kesamaan dengan kepercayaan animisme orang batak tentang penciptaan Debata Mula Jadi Na Bolon, yaitu Banua Ginjang, Banua Tongan dan Banua Toru. Rekayasa ini juga diperkuat pada Tangiang Ale Amanami yaitu Tangiang Na Pinodahon ni Tuhan Jesus tu Angka Sisean Na dimana Hata Pamungkaan adalah Ale Amanami na di banuaginjang.

    Rekayasa Lucifer tentang penciptaan yang diyakini oleh etnis batak yang masih loyal melaksanakan ritual adat batak sampai sekarang, seperti tertera dibawah ini.
    1. ADAT INTI
    Adat inti mencakup seluruh kehidupan yang terjadi pada penciptaan dunia oleh Debata Mulajadi Nabolon. Adat inti diberikan bersamaan dengan penciptaan. Sesudah Mulajadi Nabolon menciptakan dewa tiga serangkai yaitu Batara Guru, Bala Sori dan Bala Bulan, maka dengan segera dimamahkanlah kepada mereka undang-undang dan hukum untuk mengetahui yang baik dan yang buruk. Tatkala pada awal mula manusia pertama dicipta (ada) di dunia ini maka Mula Jadi Nabolon memeteraikan “adat” dalam diri manusia tersebut serta memeteraikan undang-undang dan hukum ke dalam hati mereka tentang yang boleh dan terlarang, yakni “terlarang” (tongka), “jangan” (unang) dan tak patut (naso jadi). Dengan demikian, Adat Inti mutlak harus dituruti dan dilaksanakan sebagai undang-undang, adat dan hukum dalam kehidupan, seperti yang ditegaskan dalam ungkapan berikut :
    Adat do ugari
    Sinihathon ni Mulajadi
    Siradotan manipat ari
    Siulahonon di siulu balang ari
    artinya :
    Adat adalah aturan yang ditetapkan oleh Tuhan Pencipta, yang harus dituruti sepanjang hari dan tampak dalam kehidupan (Simanjuntak, 1966)

    Pelaksanaan Adat Inti tidak boleh dimufakati untuk mengobahnya dalam upacara adat karena terikat dengan norma dan aturan yang diturunkan oleh Mula Jadi Nabolon (sebelum agama mempengaruhi sikap etnis Batak Toba terhadap upacara adat).
    Kalau Mula Jadi Nabolon memang adalah Tuhan Pencipta berarti adat inti mutlak adanya dan kekal maknanya sehinga tidak ada satu kekuatan agama manapun yang mampu mempengaruhi etnis Batak. Pemahaman kami terhadap pendapatan diatas adalah kontradiktif.
    Dengan uraian tentang Adat Inti di atas maka kita pada saat sekarang yang masih setia melaksanakan upacara adat, kita tidak mungkin lagi (tidak mampu) melaksanakannya sesuai dengan iman berdasarkan agama yang kita anut dan inilah merupakan pergeseran pelaksanaan adat yang kita laksanakan.
    Pemahaman kami pada tulisan diatas bahwa rekayasa dan manipulasi penulis terhadap pengerian Adat dimeteraikan oleh Mula Jadi Na Bolon ke dalam diri manusia, tidak konsisten dengan kita tidak mungkin lagi (tidak mampu) melaksanakannya sesuai dengan iman berdasarkan agama yang kita anut .
    Tuat ma na di dolok martungkot siala gundi
    Napinungka ni ompunta na parjolo
    Tapa uli-uli (bukan tai huthon) sian pudi
    Mencermati akan pengertian umpasa diatas maka sangat jelas bahwa konsistensi terhadap rekayasa tersebut tidak dapat dipertahankan penulis Artinya adat istiadat yang sudah diciptakan dan diturunkan nenek moyang kita terdahulu kita ikuti sambil diperbaiki (disesuaikan) dari belakang. Siapa sebenarnya yang menciptakan adat tersebut ?. Apakah Debata Mula Jadi Na Bolan yang diyakini oleh penulis sebagai Tuhan Pencipta adalah juga sama menjadi ompunta na parjolo. Kalau memang adat dimeteraikan bersamaan dengan penciptaan manusia dan menjadi bagian dari hidup manusia itu sendiri, mengapa adat itu tidak bersifat universal ?. Kita akan mendalami lagi pada tanggapan bagian ke tiga.

  3. Tanggapan B TAMBUNAN:

    Tanggapan Bagian Kedua
    Perbandingan : (Yang bercetak miring adalah kutipan tulisan Silaban) dan yang bercetak tebal adalah kutipan dati Alkitab :

    Masa Mula Dunia Diciptakan Allah (Alkitab, buku kejadian)
    1:1. Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.
    1:2 Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.
    Rekayasa para missionaris pertama pada orang Batak.
    Ia di mula ni mulana ditompa Debata ma langit dohot tano, dungi hira na ginargaran do tano i jala songon halungonan jala holom do, rodi banua toru. Dungi manareap-reap ma hosa ni Debata di ginjang ni aek i.
    Terjemahan diatas diambil dari Alkitab pertama untuk etnis batak (aksara Batak).
    Missionaris menterjemahkan Allah menjadi Debata karena ada kesamaan dengan kepercayaan etnis batak yaitu Debata Mula Jadi Na Bolon. Missionaris juga menambahkan kata banua toru dengan maksud agar terkesan ada kesamaan dengan kepercayaan animisme orang batak tentang penciptaan Debata Mula Jadi Na Bolon, yaitu Banua Ginjang, Banua Tongan dan Banua Toru. Rekayasa ini juga diperkuat pada Tangiang Ale Amanami yaitu Tangiang Na Pinodahon ni Tuhan Jesus tu Angka Sisean Na dimana Hata Pamungkaan adalah Ale Amanami na di banuaginjang.

    Rekayasa Lucifer tentang penciptaan yang diyakini oleh etnis batak yang masih loyal melaksanakan ritual adat batak sampai sekarang, seperti tertera dibawah ini.
    1. ADAT INTI
    Adat inti mencakup seluruh kehidupan yang terjadi pada penciptaan dunia oleh Debata Mulajadi Nabolon. Adat inti diberikan bersamaan dengan penciptaan. Sesudah Mulajadi Nabolon menciptakan dewa tiga serangkai yaitu Batara Guru, Bala Sori dan Bala Bulan, maka dengan segera dimamahkanlah kepada mereka undang-undang dan hukum untuk mengetahui yang baik dan yang buruk. Tatkala pada awal mula manusia pertama dicipta (ada) di dunia ini maka Mula Jadi Nabolon memeteraikan “adat” dalam diri manusia tersebut serta memeteraikan undang-undang dan hukum ke dalam hati mereka tentang yang boleh dan terlarang, yakni “terlarang” (tongka), “jangan” (unang) dan tak patut (naso jadi). Dengan demikian, Adat Inti mutlak harus dituruti dan dilaksanakan sebagai undang-undang, adat dan hukum dalam kehidupan, seperti yang ditegaskan dalam ungkapan berikut :
    Adat do ugari
    Sinihathon ni Mulajadi
    Siradotan manipat ari
    Siulahonon di siulu balang ari
    artinya :
    Adat adalah aturan yang ditetapkan oleh Tuhan Pencipta, yang harus dituruti sepanjang hari dan tampak dalam kehidupan (Simanjuntak, 1966)

    Pelaksanaan Adat Inti tidak boleh dimufakati untuk mengobahnya dalam upacara adat karena terikat dengan norma dan aturan yang diturunkan oleh Mula Jadi Nabolon (sebelum agama mempengaruhi sikap etnis Batak Toba terhadap upacara adat).
    Kalau Mula Jadi Nabolon memang adalah Tuhan Pencipta berarti adat inti mutlak adanya dan kekal maknanya sehinga tidak ada satu kekuatan agama manapun yang mampu mempengaruhi etnis Batak. Pemahaman kami terhadap pendapatan diatas adalah kontradiktif.
    Dengan uraian tentang Adat Inti di atas maka kita pada saat sekarang yang masih setia melaksanakan upacara adat, kita tidak mungkin lagi (tidak mampu) melaksanakannya sesuai dengan iman berdasarkan agama yang kita anut dan inilah merupakan pergeseran pelaksanaan adat yang kita laksanakan.
    Pemahaman kami pada tulisan diatas bahwa rekayasa dan manipulasi penulis terhadap pengerian Adat dimeteraikan oleh Mula Jadi Na Bolon ke dalam diri manusia, tidak konsisten dengan kita tidak mungkin lagi (tidak mampu) melaksanakannya sesuai dengan iman berdasarkan agama yang kita anut .
    Tuat ma na di dolok martungkot siala gundi
    Napinungka ni ompunta na parjolo
    Tapa uli-uli (bukan tai huthon) sian pudi
    Mencermati akan pengertian umpasa diatas maka sangat jelas bahwa konsistensi terhadap rekayasa tersebut tidak dapat dipertahankan penulis Artinya adat istiadat yang sudah diciptakan dan diturunkan nenek moyang kita terdahulu kita ikuti sambil diperbaiki (disesuaikan) dari belakang. Siapa sebenarnya yang menciptakan adat tersebut ?. Apakah Debata Mula Jadi Na Bolan yang diyakini oleh penulis sebagai Tuhan Pencipta adalah juga sama menjadi ompunta na parjolo. Kalau memang adat dimeteraikan bersamaan dengan penciptaan manusia dan menjadi bagian dari hidup manusia itu sendiri, mengapa adat itu tidak bersifat universal ?. Kita akan mendalami lagi pada tanggapan bagian ke tiga.

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.