Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Minggu
25
Jun '06

Pergeseran Adat Batak Toba (bagian I)


Sejak dahulu kala etnis Batak Toba sangat setia melaksanakan upacara adat dalam berbagai kegiatan. Adat sebagai bahagian dari kebudayaan elemen untuk mempertinggi kualitas kehidupan manusia dan merupakan identitas budaya dalam khasanah kebhinekaan di dalam negara tercinta ini.Pada dasarnya adat di dalam implementasinya berfungsi menciptakan dan memelihara keteraturan, ketentuan-ketentuan adat dalam jaringan hubungan sosial diadakan untuk menciptakan keteraturan, sehingga tercapai harmonisasi hubungan secara horizontal sesama warga dan hubungan vertikal kepada Tuhan. Dengan demikian adat adalah aturan hukum yang mengatur kehidupan manusia sehingga bisa menciptakan keteraturan, ketentraman dan keharmonisan (Prof DR B Simanjuntak, 2001).

Pada saat sekarang ini dalam setiap pelaksanaan adat Batak Toba seringkali terjadi ketegangan, perbedaan pendapat walaupun jarang yang menimbulkan konflik, (jarang bukan berarti tidak pernah). Kenapa hal ini bisa terjadi? Banyak hal yang dapat menimbulkannya antara lain, faktor agama, kemajemukan asal dan etnis dalam suatu daerah, defusi adat yaitu percampuran adat antar etnis misalnya perkawinan berlainan suku, pengaruh era globalisasi dan lain-lain. Faktor-faktor inilah menyebabkan pergeseran pelaksanaan tata upacara adat Batak Toba pada saat sekarang. Sebenarnya hal ini sudah diantisipasi oleh tokoh adat Raja Patik Tampubolon setelah masuknya agama (Kristen) ke tanah Batak Toba.

Beliau mengelompokkan pergeseran adat itu dalam 3 bahagian dan diimplementasikan oleh DR AB Sinaga dalam tiga species dalam pelaksanaan adat tersebut yaitu, Adat Inti, Adat na Taradat, dan Adat na Niadathon. Dalam perkembangan tata upacara adat Batak Toba pada saat sekarang muncul 1 (satu) spesies lagi yaitu Adat na Soadat.

Untuk menghindarkan ketegangan dan beda pendapat kita harus mengetahui dan semufakat bahagian adat manakah yang akan dilaksanakan dalam suatu upacara adat dari ke 4 (empat) spesies upacara adat.

1. ADAT INTI
Adat inti mencakup seluruh kehidupan yang terjadi pada penciptaan dunia oleh Debata Mulajadi Nabolon. Adat inti diberikan bersamaan dengan penciptaan. Sesudah Mulajadi Nabolon menciptakan dewa tiga serangkai yaitu Batara Guru, Bala Sori dan Bala Bulan, maka dengan segera dimamahkanlah kepada mereka undang-undang dan hukum untuk mengetahui yang baik dan yang buruk. Tatkala pada awal mula manusia pertama dicipta (ada) di dunia ini maka Mula Jadi Nabolon memeteraikan “adat” dalam diri manusia tersebut serta memeteraikan undang-undang dan hukum ke dalam hati mereka tentang yang boleh dan terlarang, yakni “terlarang” (tongka), “jangan” (unang) dan tak patut (naso jadi). Dengan demikian, Adat Inti mutlak harus dituruti dan dilaksanakan sebagai undang-undang, adat dan hukum dalam kehidupan, seperti yang ditegaskan dalam ungkapan berikut :

Adat do ugari
Sinihathon ni Mulajadi
Siradotan manipat ari
Siulahonon di siulu balang ari

artinya :
Adat adalah aturan yang ditetapkan oleh Tuhan Pencipta, yang harus dituruti sepanjang hari dan tampak dalam kehidupan (Simanjuntak, 1966).

Harus diakui bahwa adat dilakukan pada saat sekarang oleh masyarakat Batak Toba adalah mengacu pada Adat Inti, walaupun secara empirik tata cara Adat Inti ini tidak pernah lagi dilaksanakan secara utuh. Sifat adat inti adalah “primer” dalam arti mendahului dan konsitutif terhadap yang lain yang mengemban muatan etis normatif dan kemutlakan serta konservatif (tidak berubah). Pelaksanaan Adat Inti tidak boleh dimufakati untuk mengobahnya dalam upacara adat karena terikat dengan norma dan aturan yang diturunkan oleh Mula Jadi Nabolon (sebelum agama mempengaruhi sikap etnis Batak Toba terhadap upacara adat).

Misalnya menentukan hari pelaksanaan upacara adat (maniti ari), menentukan media dan adat yang akan digunakan dalam upacara adat. Misalnya menentukan daging yang akan dimakan, kerbau, lembu atau babi, tergantung pada jenis adat yang dilaksanakan. Gondang sabangunan atau uning-uningan, musik tiup, key board tidak dikenal (tidak diperbolehkan) dalam pelaksanaan adat inti, dan banyak lagi norma-norma yang mutlak harus ditaati dan dipenuhi sejak merencanakan kegiatan, hari pelaksanaan dan sesudah upacara adat.

Karena adat inti ini mutlak dan konservatif serta mengemban muatan etis normatif pelaksanaannya tidak bisa diobah. Misalnya, acara adat sari matua tidak bisa diobah menjadi acara adat saur matua dan lain-lain. Menurut RP Tampubolon menuruti atau melanggar adat inti sebagai undang-undang (patik) dan hukum (uhum) adalah soal hidup atau mati, melanggar dan mengobahnya adalah dosa berat yang mengakibatkan kebinasaan.

Dengan uraian tentang Adat Inti di atas maka kita pada saat sekarang yang masih setia melaksanakan upacara adat, kita tidak mungkin lagi (tidak mampu) melaksanakannya sesuai dengan iman berdasarkan agama yang kita anut dan inilah merupakan pergeseran pelaksanaan adat yang kita laksanakan.

2. ADAT NA TARADAT
Secara harafiah, adat na taradat adalah undang-undang dan kelaziman yang berupa adat. Adat itu menyatakan istiadat yang oleh suatu persekutuan desa, atau tempat tinggal di daerah perantauan dan juga oleh agama diubah dan dimasukkan menjadi suatu kelaziman atau kebiasaan yang boleh disebutkan adat yang dimufakati oleh warga-warga masyarakat.

Ciri khas dari adat na taradat ini adalah pragmatisme dan fleksibilitas boleh jadi dilaksanakan berdasarkan sistematika adat inti. Dalam spesies adat kedua ini pelaksanaan adat demikian akomodatif dan lugas untuk menerima pengaruh daerah manapun asal dapat beradaptasi dengan acuan adat inti. Perpaduan fleksibilitas dan fragmatis menjadikan adat luput dari kekakuan dan kegamangan oleh adat inti yang stagnasi dan konservatisme.

Adat na taradat ini bersifat adaptatif dan menerima pergeseran dari adat inti dan bahagian adat inilah yang dilaksanakan oleh pelaku-pelaku adat Batak Toba pada saat sekarang dengan berpedoman kepada ungkapan folklor Batak Toba.

Tuat ma na di dolok martungkot siala gundi
Napinungka ni ompunta na parjolo
Tapa uli-uli (bukan tai huthon) sian pudi

(Turunlah yang di bukit bertongkat siala gundi, yang sudah dimulai leluhur kita terdahulu kita perbaiki dari belakang). Artinya adat istiadat yang sudah diciptakan dan diturunkan nenek moyang kita terdahulu kita ikuti sambil diperbaiki (disesuaikan) dari belakang.

Ungkapan ini menunjukkan permufakatan pergeseran pelaksanaan adat. Hal ini sering menimbulkan perdebatan di kalangan tokoh-tokoh adat (raja parhata) dan pelaku-pelaku adat. Perdebatan ini sering terjadi dengan suara yang kuat khas Batak Toba antara kelompok yang “seperti” setiap dengan adat inti dengan kelompok yang ingin perubahan oleh sesuatu hal. Lalu perdebatan diredakan dengan beberapa ungkapan umpama dan umpasa yang menimbulkan permufakatan untuk pelaksanaan upacara adat dengan menerima pergeseran dan perubahan antara lain :

Aek godang tu aek laut
Dos ni roha do sibahen na saut, artinya
Kesamaan pendapat untuk jadi dilaksanakan

Nangkok si puti tuat si deak
a i na ummuli ima tapareak, artinya
Sesuatu yang lebih baik itulah yang dilaksanakan

Oleh karena permufakatan untuk pergeseran pelaksanaan adat itu, hampir pada semua upacara adat Batak Toba terjadi perubahan. Misalnya pada upacara perkawinan, sistematika atau urut-urutan tata cara perkawinan sering tidak dilaksanakan lagi mulai dari, marhori-hori dinding, marhusip, marhata sinamot, sibuha-buhai, mangan juhut, paulak une, maningkir tangga.

Marhori-hori dinding adalah istilah yang digunakan kepada anak kecil yang mulai belajar berjalan. Anak kecil tersebut memegang dinding sambil melangkah penuh ke hati-hatian supaya jangan terjatuh. Istilah ini pulalah yang dipakai untuk menanyakan pihak yang punya putri oleh pihak yang punya anak yang akan dikawinkan. Dengan hati-hati pihak paranak menanyakan soal prinsip apakah anak gadis parboru sudah siap untuk dikawinkan, kalau sudah siap pada hari-hari berikutnya dilanjutkan dengan marhusip yaitu menanyakan kira-kira berapa sinamot yaitu jumlah uang (boli) yang akan diberikan untuk pelaksanaan pesta. Selanjutnya adalah marhata sinamot yaitu memastikan jumlah sinamot dan pelaksanaan teknis upacara adat pada hari yang ditentukan adalah upacara pesta adat yang dimulai dengan makan sibuha-buhai, itu pembuka pelaksanaan upacara adat lalu bersama-sama ke gereja menerima pemberkatan setelah itu dilanjutkan acara adat di tempat yang telah ditentukan.

Secara garis besar demikianlah sistematika pelaksanaan upacara adat perkawinan Batak Toba pada adat inti. Namun pada saat sekarang dengan permufakatan banyak yang diobah antara lain, marhori-hori dinding, tidak lagi suatu keharusan dilaksanakan. Marhusip yang biasa tidak dihadiri orang tua si anak yang akan dikawinkan, pada saat sekarang justru orang tua si anak yang akan dikawinkan itulah yang memegang peranan dalam acara marhusip, marhata sinamot hanyalah formalitas sekedar mengumumkan apa yang telah dibicarakan pada acara marhusip. Pada acara marhata sinamot ini pun masih ada sandiwara (pura-pura) menetapkan besar sinamot yang akan diberikan. Jumlah ulos yang harus diterima oleh pihak paranak (pengantin laki-laki) tidak jelas acuannya boleh jadi dari 7 (tujuh) helai sampai 800 (baca delapan ratus) helai. Paulak une dan maningkir tangga adalah suatu skenario sandiwara upacara adat dalam permufakatan ulaon sadari (diselesaikan dalam satu hari). Substansi acara adat paulak une dan maningkir tangga tidak diperlukan lagi pada saat sekarang.

Demikian halnya pada upacara adat kematian status seseorang yang meninggal bisa diobah dengan permufakatan sesuai dengan permintaan keluarga yang meninggal (hasuhutan). Para tokoh adat dan seluruh sanak famili yang masuk ke dalam sistem kekerabatan akan mengalah apabila hasuhuton meminta status yang meninggal dari status mangido tangiang yaitu seseorang yang meninggal pada saat meninggal belum ada anaknya yang sudah berkeluarga atau sudah ada yang kawin tetapi belum mempunyai cucu dari anak laki-laki dan anak perempuan, diobah status kematiannya menjadi “sari matua” status sari matua menurut adat inti diberikan kepada seseorang yang saat meninggal sudah ada anak laki-laki dan anak perempuan yang sudah berkeluarga dan sudah mempunyai cucu dari anak-anaknya tersebut tapi masih ada yang belum berkeluarga (adong sisarihononhon).

Ada juga hasuhuton meminta agar orang tuanya yang meninggal diobah status kematiannya dari sarimatua menjadi saur matua. Saur matua menurut adat inti adalah apabila seseorang saat meninggal mempunyai keturunan laki-laki dan perempuan sudah berkeluarga semua dan dari setiap anak-anaknya yang sudah berkeluarga telah memiliki cucu. Ada juga hasuhuton yang meminta status kematian orang tuanya diobah dari status saur matua menjadi mauli bulung. Kematian status mauli bulung adalah status tertinggi dalam tata upacara adat kematian, mauli bulung adalah apabila seseorang pada saat meninggal meninggalkan keturunannya cucunya telah memiliki cucu dari anak laki-laki dan perempuan atau sudah mempunyai nini dan nono (cicit).

Pergeseran tata acara adat Batak Toba telah terjadi pada setiap kegiatan upacara adat. Misalnya pada upacara adat pemberian ulos tondi pada anak yang sedang hamil 7 bulan diobah menjadi pemberian ulos mula gabe. Substansi pemberian ulos diobah menjadi “mendoakan” anak agar tetap sehat-sehat demikian juga anak yang akan dilahirkan diberikan Tuhan kesehatan. Demikian halnya pada kegiatan upacara adat lainnya perobahan dan pergeseran itu sudah terjadi seperti tata upacara adat, memasuki rumah, menggali tulang belulang, mengambil nama (mampe goar) dan lain-lain.
(Bersambung).

Oleh : Drs Brisman Silaban MSi

>> Artikel ini merupakan lanjutan dari Pergeseran Adat Batak Toba (bagian II)

Sumber : Harian SIB


Ada 26 tanggapan untuk artikel “Pergeseran Adat Batak Toba (bagian I)”

  1. Tanggapan SEHATI… :: Pergeseran Adat Batak Toba (bagian II) :: July :: 2006:

    […] >> Artikel ini merupakan lanjutan dari Pergeseran Adat Batak Toba (bagian I) […]

  2. Tanggapan peter:

    adat batak untuk orang batak
    suatu hal positif adat batak masih dapat dilaksanakan disetiap kehidupan keluarga dan masyarakat batak. pelaksanaan dalihan natolu dewasa ini terasa dipaksakan oleh sebagian keluarga atau masyarakat, maka tak jarang berjalannya prosesi adat hanya formalitas, kehilangan substansinya. materi dan kepemilikan pangkat/jabatan membuat beberapa orang lupa dengan adat yang harus ’somba marhula-hula, elek marboru, manat mardongan tubu’. dalam beberapa kegiatan pesta misalnya ini sangat kelihatan, parboru yang harusnya membantu operasional pesta kalau dia berpangkat atau mempunyai sedikit kekayaan tidak mau aktif, bahkan dia memerintah hula-hulanya. ini suatu sikap menyimpang, tapi apakah ini dibenarkan pada masa ADAT NATARADAT?
    Dipkan suatu kemauan dan keberanian dari para pemuka adat dan pemuka agama (pendeta, sintua, guru, parhangir) mensosialisasikan adat batak kepada orang-orang muda.
    terjadinya pergeseran bentuk dan kegiatan acara adat batak tidak mengurangi substansinya, namun kesadaran menjalankan adat batak kedepan menjadi suatu tantangan bagi para orang tua. orang-orang muda di perantauan khususnya yang dilahirkan di daerah perkotaan, kurang perduli dengan adat batak. nunga godang nalilu.

    terimaksih kepada SB, kiranya web ini dapat membantu pemahaman dan pengembangan adat batak,secara khusus bagi komunitas batak di perantauan. horas madihita sasude.

  3. Tanggapan Ir. Saut Simanjuntak:

    Dengan hormat,
    1. Saya datang bertanya apa guna dan makna adat Batak di saat sekarang ini buat generasi penerus?
    2. Di jaman sekarang ini suku batak masih terbelenggu oleh adat suku batak, kenapa suku batak tidak merancang adat suku batak yang canggih?
    3. Adat suku batak sangatlah bertolak belakang dengan ajaran Alkitab sementara ajaran Alkitablah yang paling penting didalam hidup ini karena di dalamnya memberikan Tiket Kesorga.
    4. Horas.

  4. Tanggapan Ir.Royanto Purba:

    Menanggapi Ir.Saut Simanjuntak.

    Tolong anda tunjukkan dimana Adat Batak bertentangan dengan Injil, saya sudah menelita dan sekarang sedang menulis bagaimana Kasih Allah pada orang Batak melalui adat istiadat yang telah diterangi Injil dapat dipakai sebagai saran saluran Kasih. Mengapa Yesus berkenan membuat anggur di Pesta Kana yang merupakan adat istiadat Yahudi.
    Memang Yesus tidak menyukai jika adat kita gunakan dalih untuk menjauhi Dia, pahami dulu adat baru katakan salah.
    Jika anda bisa menjelaskan esensi kegiatan adat misalnya kenapa harus dengke dipasahat tu boru, kenapa harus ada ulos, dll. Bagaimana saya percaya kepada anda dalam menjelaskan sesuatu yang anda belum pahami.
    Bersyukurlah …Tuhan memakai adat kita dalam pengenalan akan ALLAH yang SESUNGGUHNYA.
    Terus terang saya rindu ada waktu kita berkomunikasi.

  5. Tanggapan Sahat Sipahutar.MBA(Makin Bodo Aje):

    Tanngapan untuk Bapak Ir. Saut Simanjuntak
    1. Berguna untuk keteraturan generasi penerus orang batak agar tidak saling hantam kromo (tidak menikahi sesama satu marga misalnya).
    2. Saya kira orang batak tidak terbelenggu, orang batak adalah manusia yang paling dinamis mau contoh gondangpun bisa diterima oleh orang batak digantikan dengan organ tunggal yang lainnya orang batak sekarang sudah melakukan perbaikan2 terhadapa pelaksanaan adat2 leluhur dahulu .
    3. Coba Amang tunjukkan dulu ayat yang mana bilang bertentangan, jangan-jangan amang tidak mamahami agamanya dan adatnya sekaligus (santai agak keras) karena menurutku beragama bukan harus kehilangan adata budaya, dan berbudaya tidak jadi meninggalkan agama. Amang betul tiket kesorga adalah menyakini Tuhan sepenuh hati dan jadi manusia yang berguna untuk sesama . Salam kenal untuk Amang Ir. Royanto Purba ,horas .

  6. Tanggapan arion:

    horas..
    saya ingin bertanya tentang adat batak yang melarang seseorang menikah dengan orang yang satu marga dengan dia. apa tujuannya dan apa kejelekannya kalau tidak dilaksanakan? apa pula konsekuensi yang harus diterima oleh orang yang melanggarnya..
    mauliate..

  7. Tanggapan Ir. Saut Simanjuntak:

    Sattabi di hamu Amang Inang
    Pimpinan Web Silaban Brotherhood dohot di Sude Naliat Nalolo

    Hami dari keluarga Ir. Saut Simanjuntak mengucapkan Horas !

    Martangiang mahita:

    Ale Amang nabasa, nabadia, Tuhan Yesus Kristus Tuhan ni si Abarham, Isak dohot Yakub, mauliate jala puji-pujian ma di pasahat rohanami namartukkar pikkiran di Web ni Silaban Brotherhood tu adopanMu nabadia i, ima disiala asi dohot holong niroham di hami saluhutna, ima naung manobus hami sian nasa dosa nami, nungnga mian Ho di ngolunami jala gabe anakMu hami. Asi dohot balga ni holongMu do napapunguhon hami di Web SB sian godang inganan, luat hami ro tu Web SB ima nalaho mambege Hatam nabadia i. Ale Tuhan Jesus Kristus Tuhan nami asima roham di hami pamangke Web SB, pinapungu ni mudarMu nabadia i do hami dison, mangkatai ma Ho Amang di ombas on tu hami marhite-hite naposom. Paias ma hami jala buri dohot mudarMu nabadia i asa marbinege sipareon ni partondion nami di Hatami jala marnida mata ni partondion nami di sude lomo ni roham di hami marhite-hite Hatami.
    Mauliate jala hasangapon ma di Ho Amang Pardenggan Basa.
    Dibagasan Goar ni AnakMu Tuhan Jesus Kristus hami mangido to Ho, Amen !

    1

    Tamulaima tabahas nanget-nanget tapatinggilma sipareonta dohot tapanolnol ma simanonggorta be:

    MENYEMBAH KEPADA SIMULAJADINABOLON

    Sudah sangat pasti bahwa Pesta Adat Batak megkuduskan si Mulajadinabolon dan Debata yang tiga akan tetapi sebaliknya melukai hati Yesus Kristus Tuhan. Sekarang bagaimana si Mulajadinabolon melalui manusia melukai hati Tuhan Yesus Kristus ? Seperti yang di perintahkan oleh si Mulajadinabolon mengatakan: ”Somba marhula-hula, elek marboru, manat mardongan tubu” ! Kalau Somba tidak bisa hanya kata-kata, melainkan harus ada Pelean atau sisombahononton kepada Napinele itu yang dikatakan: ”namargoar” atau ”juhut/jagal nabalging-balging”. Juhut nabalging-balging ini yang di katakan ”namargoar”, atau ”simargoar”, padahal barang sudah mati tidak bisa juhut itu dikatakan namargoar atau simargoar. Jadi sebenarnya si Mulajadinabolon itu mengangkat/membuat dirinya ”namargoar”, tidak benar jagal nabalging-balging itu namargoar. Seperti yang telah kuterangkan yang tadi tidak mungkin barang yang sudah mati yang menjadi satu pribadi/oknum, atau namargoar. Akan tetapi si Mulajadinabolon yang di tanah Batak merupakan satu pribadi, satu oknum, bisa dia membuat namanya asalkan ada yang mau memanggilnya, manggoari. Bisa dia kita lihat dari kemuliaan maupun kesohoran namanya ”juhut nabalging-balging i” sama orang Batak. Pesta apapun itu harus ada jagal nabalging-balging itu, tidak bisa tidak ada harus ada. Kalau tidak ada tidak Maradat. Jadi tiap hari itu di panggil-panggil, beraneka ragam dibuat nama di panggil-panggil orang itu. Tidak tahu orang itu bahwa yang di sembah adalah Iblis. Iblis yang dia kehendaki dan di dikuduskan melakukan itu semua jadi si Mulajadinabolon yang di panggil-panggil di situ.

    2

    Sekarang kita selidiki atau di Diselidiki dari Persepsi Upacara, Diselidiki dari Persepsi Goar-Goar, Diselidiki Dari Persepsi Hata Naruar Dohot Gapgap berikut dari segi pangorbanan bagaimana dibikin orang menyembah atau mengkehendaki si Mulajadinabolon atau melukai hati Tuhan kita, melalui jagal nabalging-balging i. Kalau sudah kita selidiki nanti dari beberapa persepsi menjadi bertambah jelas kita mengetahui si Mulajadinabolon betul-betul bahwa dia pencuri ulung dan pemunah di tengah-tengah kekeristenan kita.

    A. Diselidiki dari Persepsi Upacara

    Kita melihat dari pesta mangadati nadenggan dialap bagaimana di buat orang itu menyembah berikut mengiakan kehendak si Mulajadinabolon pada saat penyapaian pelean itulah juhut nabalging-balging itu. Sesudah siap semua mau makanlah para tetamu, harus dipelehon akan tetapi dikatakan penyampaian juhut nabalging-balging itu. Seperti ini penyempaian pelean tersebut: ”harus membentuk satu lingkaran semua yang punya hajat dari yang punya anak laki-laki dan yang punya anak perempuan untuk mamelehon dengan menerima pelean itu. Harus dipegang yang mamelehon itu yang punya anak laki berikut yang punya anak perempuan yang menerima yaitu topi dari talam/sambung tempat juhut nabalging-balging itu”. Sesudah semua pegang topi talam tersebut mulailah dikatakan kata-kata jampi-jampi penyampain sajen itu seperti ini dikatakan:
    ”Godang sibutong-butong otik sipir ni tondi, sai parmurnasmai tu pamatangmuna, saudara tu bohi, sipasindak panaili mai, sipalomak imbulu dohot sipaneang holi-holi, sititi ma sihompa golang-golang pangarahutna, tung sosadiape nahubahen hami on sai godangma pinasuna sai manumpak ma sahalamuna rajanami, manuai tondimuna”, jala sai mamasu-masu ma ompunta debata, sai…………….dohot satorusna.

    3

    Cerpen:

    SIBOLIS MASUK KE HUTA TAPIAN NAULI YANG SEMPURNA

    Orang Batak Laki-laki dan Perempuan memiliki segala sesuatu yang membuat mereka bahagia. Mereka menikmati kesehatan fisik dan mental yang sempurna, hidup di huta Tapian Nauli yang Indah di dunia tanpa cacat (Kejadian 2:8;1:28-31). Tuhan menjanjikan anak-anak dan kemampuan untuk berpikir kreatif, dan menemukan kepuasan di dalam pekerjaan tangan mereka (Kejadian 1:28;2:15). Mereka mengalami persekutuan muka dengan muka dengan Tuhan Yesus Kristus. Tidak ada jejak kekhawatiran, ketakutan, atau kesakitan yang menodai hari-hari mereka yang cerah. Bagaimana huta Tapian Nauli dapat berubah sedemikian drastis menjadi tempat penderitaan dan tragedi ?. Buku kejadian menceritakan kisah keseluruhan tentang bagaimana Iblis Simulajadinabolon masuk ke dalam huta Tapian Nauli. Berikut ini adalah hanya ringkasan dari cerita singkat dari isinya. Sesudah Tuhan Yesus Kristus menciptakan huta Tapian Nauli yang sempurna, Iblis si Mulajadinabolon datang ke huta Tapian Nauli untuk mendoktrin mempengaruhi orang Batak agar mengikuti Ajaran si Mulajadinabolon melanggar perintah Tuhan Yesus Kristus. Tuhan membatasi ruang gerak pengaruh Iblis Ajaran si Mulajadinabolon pada buku Nabadia itu di huta Tapian Nauli. Buku Nabadia adalah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Dan ia memperingatkan orang Batak untuk menjauh dari pengaruh-pengaruh ajaran si Mulajadinabolon supaya tidak makan darah dan tidak melakukan Adat Batak. Namun sudah mendarah daging Ajaran Simulajadinabolon bagi orang Batak. Jadi tung mansai porlu do natua-tua ni halak batak instropeksi, mamodai, godang mangajari gellengna/generasi penerus tu natama asa marsaringar muse goar ni Tuhan Yesus Kristus di huta Tapian Nauli songon di mulanai. Mengapa ? Karena musuh yang tidak tampak, Iblis si Mulajadinabolon yang bekerja keras membuat orang Batak gagal secara moral. Maka dari buku nabadia i selanjutnya menuntun supaya kita orang Batak menemukan jalan yang lurus yang di ingini oleh Tuhan Yesus Kristus karena Tiket kesorga sudah disiapkan bagi yang mau ikut tidak ada paksaan.

    4

    SOTUNG DIAGO DEBA HAMU

    mauliate di namanjaha di pahusor-husor di bagasan rohana Tuhan kita Nabadia i memberi berkat melimpah.

  8. Tanggapan Sijurnal:

    Kurang Ajar.1 !

    Cerita kisah nyata,
    Sekitar Tahun 1990 – 1996 saya pernah mengenal seorang perempuan Boru Batak yang sedang menjalani pendidikan di salah satu Universitas jurusan Teologia di Jakarta. Pada Tahun 1990 saya lulus dari Fakultas Teknik di Jakarta dan Boru Batak ini lulus pada Tahun 1995 menjadi Pendeta. Dalam kurun waktu 5 Tahunan kami berteman akrab dan berpacaran dengan baik. Pada akhir Tahun 1994 mama saya meminta supaya saya berkeluarga (beristri) dan mama meminta, supaya pacar saya diperkenalkan dengan keluarga, saya berpikir positip dengan serba kekurangan tidak memiliki modal nikah untuk Membeli seorang perempuan yang menjadi istri saya sesuai dengan Adat Batak. Saya memberanikan diri melamar dengan membawa natua-tua semarga saya, kerumah siperempuan dengan tolakan yang sangat kasar dan kejam tidak menerima lamaran kami karena tidak memiliki uang sebanyak Rp50JT yang dia minta untuk Tuhor ni Boru, maka pembicaraan pada saat itu tidak bersambung, maka saya mengambil keputusan mengatakan kepada si Boru supaya mencari laki-laki yang ganteng dan kaya seperti Bung Tomi Suharto yang punya pohon duit, maka permintaan mama saya tidak terkabul untuk mengenal parumaen di karenakan Pogos sampai di akhir hayatnya beliau. Mohon dengan sangat cerita ini jangan terulang lagi bagi generasi penerus Bangsa, jika ada di antara saudaraku yang mengalami penderitaan semacam ini, tolong segera menghubungi saya, supaya kita cari perempuan yang tidak mempunyai Tuhor, Sinamot (gratis). Sungguh Tega Orang Tua Batak Menjual Boru dan Membeli Boru, Seperti Benda Mati Saja, hati-hati melakukan seperti perlakuan ini karena sangat di lindungi oleh Undang-Undang 1945 Republik Indonesia. HORAS !

    Sijurnal.

    Kurang Ajar.2 !

    Tenga,
    Mangoli, diwaktu acara pernikahan habis Tano Maraek dan habis Tano Mahiang agar si Boru nauli dapat menjadi Istri, usaha habis-habisan sampai-sampai terhutang dikarenakan melaksanakan Adat Batak, dalam acara Adat Batak tersebut di laksanakan besar-besaran para tetamu puas (maulae) akan tetapi akibatnya buruk kepada si Pelaku habis pesta atau Acara Adat Batak bukannya menuju kepelaminan melainkan menuju ketiang gantungan dalam mempertanggung jawabkan hutang-piutang sapai ke LP, di dalam hal ini menyewa rumah untuk tinggal pun sudah tidak punya uang, maka pada saat itu si Boru tetap kembali kepada orang tuanya sementara si sang laki sudah ke LP. Pada saat saya menulis surat ini saya sudah bebas, bertobat dan tidak melakukan seperti itu lagi, mohon ampun. Permintaan saya jika ada yang mengetahui si Boru dimana tolong dong dibilangin bahwa saya sudah bebas dari hutang-piutang yang menjerat. Tolong, masihol, malungun, marniang, sudah tua, sudah peot, wassalan, Horas Hasian, Hupaitte do ho saleleng ahu mangolu di tano Parserakan on.
    Jangan di contoh karena ini kelakuan buruk dari Anak Rantau mauliate.
    Horas. !

    Sijurnal.

  9. Tanggapan Tambunan:

    TANGGAPAN BAGIAN PERTAMA
    Sebelum para pembaca lebih jauh mendalami makna tanggapan ini maka sangat tepat jika kita menambah khasanah berpikir tentang terminologi dan sejarah Batak. Kurang lebih jika tidak tepat mohon kami dikoreksi dan saya tidak sekalipun menghakimi siapapun dalam konteks tanggapan ini.
    Batak adalah sebuah istilah kolektif yang digunakan sebagai identitas sekelompok etnik yang terdapat di kawasan dataran tinggi di sumatera utara atau tepatnya disekitar danau toba. Sedangkan bahasa Batak berasal dari bahasa Austronesia dengan kebiasaan bertutur berbalas-balasan dalam rapat.
    Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu “buddhayah” yang merupakan bentuk jamak dari “buddhi” yang berarti hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere dan dalam bahasa Indoensia diterjemahkan “kultur”.
    Menurut Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski bahwa kebudayaan Batak merupakan bagian tidak terpisahkan dari etnik Batak sehingga segala sesuatu yang terdapat dalam kelompok etnik Batak ditentukan oleh kebudayaan yang dimilikinya dan sifatnya turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya dan hal ini disebut superorganic. Kebudayaan Batak merupakan sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran etnik Batak pada zaman dahulu kala, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan Batak adalah benda-benda yang diciptakan oleh etnik Batak sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu etnik Batak dalam melangsungkan kehidupan etnik.
    Adat adalah gagasan kebudayaan yang melembaga menjadi kebiasaan yang lazim dilakukan di suatu kelompok etnik. Apabila adat tidak dilaksanakan akan terjadi keresahan sehingga kelompok etnik tersebut perlu menjatuhkan sanksi terhadap pelaku yang menyimpang namun sanksi ini tidak menjadi pranata hukum sehingga tidak bersifat bilateral atau universal. Kata adat sendiri berasal dari bahasa Arab yaitu Adah yang berarti “kebiasaan-kebiasaan dari masyarakat”.
    Manusia memiliki keterbatasan pikiran dan daya tahan fisik untuk memahami serta mengungungkap rahasia-rahasia alam sehingga muncul keyakinan akan adanya penguasa tertinggi dari sistem jagad raya ini, yang juga mengendalikan manusia sebagai salah satu bagian jagad raya. Sehubungan dengan itu, baik secara individual maupun hidup bermasyarakat, manusia berkeyakinan bahwa ada penguasa alam semesta yang dapat memberi kebahagiaan sejati. Kepercayaan ini terkristalisasi menjadi agama.
    Agama menjadi sebuah institusi dimana keberadaannya diakui sehingga anggotanya dapat berkumpul bersama untuk beribadah menerima paket doktrin yang menawarkan hal yang terkait dengan sikap dan perbuatan yang harus diambil oleh masing-masing individu sehingga mereka memiliki keseimbangan dalam menjadi hidup.
    Agama biasanya memiliki suatu prinsip, seperti “10 Firman” dalam agama Kristen atau “5 rukun Islam” dalam agama Islam. Yahudi adalah agama tertua dan merupakan agama monotheistik yang masih ada sampai sekarang, sedangkan seharah umat Yahudi adalah bagian utama dari agama Ibrahim lainnya, seperti Kristen dan Islam.
    Agama dan sistem kepercayaan lainnya seringkali terintegrasi dengan unsur kebudayaan yang penting dalam sejarah umat manusia. Kristen adalah salah satu agama penting yang berhasil mengubah wajah kebudayaan Eropa pada akhir abad 17. Pemikiran para filosopis modern pun banyak terpengaruh oleh para filosopis Kristen semacam St. Thomas Aquinas dan Eramus. Sementara itu, nilai dan norma agama Islam banyak mempengaruhi kebudayaan Timur Tengah dan Afrika Utara, dan juga sebagian wilayah Asia Tenggara.
    Agama kristen sendiri masuk ke Batak pada abad 19 oleh beberapa missionaris dan salah seorang yang terkenal ialah Ludwig Ingwer Nommensen oleh sebab itu HKBP memiliki faham Lutheran. Kisah awal masuknya para missionaris ke tanah Batak adalah memakai strategi membaur dengan keyakinan bahwa agama akan dapat dikenal melalui budaya etnik Batak. Walaupun demikian bahwa perlawanan dari etnik Batak dengan eksistensi budaya dan adat istiadatnya tetap tidak dapat dihindarkan dan hal ini terbukti pada tahun 1934 Pdt. Samuel Munson dan Pdt. Hendry Lyman yang diutus Bandan Zending Boston Amerika Serikat mati martir di Lobu Pining Tapanuli Utara.
    Pola pembauran ajaran Kristiani kedalam budaya etnik Batak yang dimulai oleh Van der Tuuk pada tahun 1849 dengan menterjemahkan sebagian dari Alkitab ke dalam aksara batak membawa kerancuan sampai sekarang. Kurun waktu 158 tahun ternyata belum cukup untuk memisahkan ajaran agama dengan adat budaya etnik batak.
    Pada tahun1825 -1829 tuanku Rao dari Padang menyerang tanah Batak dan diperkirakan pada saat itu muncul kepercayaan Parmalim. Kepercayaan Parmalim juga menerapkan pola pembauran namun beberapa hal prinsip adat istiadat Batak di hilangkan secara total yaitu tidak boleh memakan darah, babi, anjing dan monyet.
    Mengingat bahwa dalam aliran kepercayaan parmalim tidak diperbolehkan makan darah, babi, anjing dan monyet maka aliran ini tidak dapat diterima secara utuh sebab beberapa media penyembahan dalam budaya batak telah dipantangkan. Sementara para missionaris pada awal mula masuknya agama nasrani ke etnik Batak tidak menyentuh hal tersebut.
    Pola pembauran yang dilakukan oleh para missionaris telah membuat manipulasi ajaran alkitab dan hal ini terpatri hingga sekarang.

    Perkeliruan prinsip yang dilakukan adalah :
    Berdasarkan tulisan Drs. Brisman Silaban Msi. bahwa adat inti mencakup seluruh kehidupan yang terjadi pada penciptaan dunia oleh Debata Mulajadi Nabolon. Adat inti diberikan bersamaan dengan penciptaan. Sesudah Mulajadi Nabolon menciptakan dewa tiga serangkai yaitu Batara Guru, Bala Sori dan Bala Bulan, maka dengan segera dimamahkanlah kepada mereka undang-undang dan hukum untuk mengetahui yang baik dan yang buruk. Tatkala pada awal mula manusia pertama dicipta (ada) di dunia ini maka Mula Jadi Nabolon memeteraikan “adat” dalam diri manusia tersebut serta memeteraikan undang-undang dan hukum ke dalam hati mereka tentang yang boleh dan terlarang, yakni “terlarang” (tongka), “jangan” (unang) dan tak patut (naso jadi). Dalam konteks ini bahwa Debata Mulajadi Na Bolan adalah dewata pencipta dewa. Para missionaris merekayasa bahwa pada hakekatnya Tuhan adalah Debata yang menciptakan langit bumi dan segenap isinya. Para missionaris untuk tidak menghilangkan perkataan dari dewata yang diyakini oleh etnik Batak sebagai pencipta segala sesuatu yang ada dan merupakan penguasa jagad raya yang menguasai banua ginjang, banua tonga dan banua toru.
    2. Dalihan na tolu, yaitu Hula-hula, Dongan Tubu and Boru. Sementara dalam aplikasi kehidupan sehari-hari satu sama lain menjalankan peran sesuai dengan status masing-masing, yaitu : “Somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru”. Jika hak dan kewajiban yang terkandung didalamnya tidak dilaksanakan maka akan mendapat sanksi magis yaitu : “Angka na so somba marhula-hula siraraonma gadongna, molo so Manat mardongan tubu, natajom ma adopanna, jala molo so elek marboru, andurabionma tarusanna”.
    Mengutip dari tulisan Drs. Brisman Silaban Msi. yang disadur dari pendapat RP Tampubolan bahwa melanggar adat inti sebagai undang-undang (patik) dan hukum (uhum) adalah soal hidup atau mati, melanggar dan mengobahnya adalah dosa berat yang mengakibatkan kebinasaan. Untuk meyakinkan doktrin ini maka si raja Batak umpasa yang harus dipatuhi yaitu “Ompunta naparjolo martungkot salagunde. Adat napinungka ni naparjolo sipaihut-ihut on ni na parpudi”. Itulah tiga falsafah hukum adat Batak yang menjadi pedoman dalam kehidupan sosial yang hidup dalam tatanan adat sejak lahir sampai meninggal dunia.
    TANGGAPAN BAGIAN KEDUA
    Tanggapan Bagian Kedua
    Perbandingan : (Yang bercetak miring adalah kutipan tulisan Silaban) dan yang bercetak tebal adalah kutipan dati Alkitab :

    Masa Mula Dunia Diciptakan Allah (Alkitab, buku kejadian)
    1:1. Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.
    1:2 Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.
    Rekayasa para missionaris pertama pada orang Batak.
    Ia di mula ni mulana ditompa Debata ma langit dohot tano, dungi hira na ginargaran do tano i jala songon halungonan jala holom do, rodi banua toru. Dungi manareap-reap ma hosa ni Debata di ginjang ni aek i.
    Terjemahan diatas diambil dari Alkitab pertama untuk etnis batak (aksara Batak).
    Missionaris menterjemahkan Allah menjadi Debata karena ada kesamaan dengan kepercayaan etnis batak yaitu Debata Mula Jadi Na Bolon. Missionaris juga menambahkan kata banua toru dengan maksud agar terkesan ada kesamaan dengan kepercayaan animisme orang batak tentang penciptaan Debata Mula Jadi Na Bolon, yaitu Banua Ginjang, Banua Tongan dan Banua Toru. Rekayasa ini juga diperkuat pada Tangiang Ale Amanami yaitu Tangiang Na Pinodahon ni Tuhan Jesus tu Angka Sisean Na dimana Hata Pamungkaan adalah Ale Amanami na di banuaginjang.

    Rekayasa Lucifer tentang penciptaan yang diyakini oleh etnis batak yang masih loyal melaksanakan ritual adat batak sampai sekarang, seperti tertera dibawah ini.
    1. ADAT INTI
    Adat inti mencakup seluruh kehidupan yang terjadi pada penciptaan dunia oleh Debata Mulajadi Nabolon. Adat inti diberikan bersamaan dengan penciptaan. Sesudah Mulajadi Nabolon menciptakan dewa tiga serangkai yaitu Batara Guru, Bala Sori dan Bala Bulan, maka dengan segera dimamahkanlah kepada mereka undang-undang dan hukum untuk mengetahui yang baik dan yang buruk. Tatkala pada awal mula manusia pertama dicipta (ada) di dunia ini maka Mula Jadi Nabolon memeteraikan “adat” dalam diri manusia tersebut serta memeteraikan undang-undang dan hukum ke dalam hati mereka tentang yang boleh dan terlarang, yakni “terlarang” (tongka), “jangan” (unang) dan tak patut (naso jadi). Dengan demikian, Adat Inti mutlak harus dituruti dan dilaksanakan sebagai undang-undang, adat dan hukum dalam kehidupan, seperti yang ditegaskan dalam ungkapan berikut :
    Adat do ugari
    Sinihathon ni Mulajadi
    Siradotan manipat ari
    Siulahonon di siulu balang ari
    artinya :
    Adat adalah aturan yang ditetapkan oleh Tuhan Pencipta, yang harus dituruti sepanjang hari dan tampak dalam kehidupan (Simanjuntak, 1966)

    Pelaksanaan Adat Inti tidak boleh dimufakati untuk mengobahnya dalam upacara adat karena terikat dengan norma dan aturan yang diturunkan oleh Mula Jadi Nabolon (sebelum agama mempengaruhi sikap etnis Batak Toba terhadap upacara adat).
    Kalau Mula Jadi Nabolon memang adalah Tuhan Pencipta berarti adat inti mutlak adanya dan kekal maknanya sehinga tidak ada satu kekuatan agama manapun yang mampu mempengaruhi etnis Batak. Pemahaman kami terhadap pendapatan diatas adalah kontradiktif.
    Dengan uraian tentang Adat Inti di atas maka kita pada saat sekarang yang masih setia melaksanakan upacara adat, kita tidak mungkin lagi (tidak mampu) melaksanakannya sesuai dengan iman berdasarkan agama yang kita anut dan inilah merupakan pergeseran pelaksanaan adat yang kita laksanakan.
    Pemahaman kami pada tulisan diatas bahwa rekayasa dan manipulasi penulis terhadap pengerian Adat dimeteraikan oleh Mula Jadi Na Bolon ke dalam diri manusia, tidak konsisten dengan kita tidak mungkin lagi (tidak mampu) melaksanakannya sesuai dengan iman berdasarkan agama yang kita anut .
    Tuat ma na di dolok martungkot siala gundi
    Napinungka ni ompunta na parjolo
    Tapa uli-uli (bukan tai huthon) sian pudi
    Mencermati akan pengertian umpasa diatas maka sangat jelas bahwa konsistensi terhadap rekayasa tersebut tidak dapat dipertahankan penulis Artinya adat istiadat yang sudah diciptakan dan diturunkan nenek moyang kita terdahulu kita ikuti sambil diperbaiki (disesuaikan) dari belakang. Siapa sebenarnya yang menciptakan adat tersebut ?. Apakah Debata Mula Jadi Na Bolan yang diyakini oleh penulis sebagai Tuhan Pencipta adalah juga sama menjadi ompunta na parjolo. Kalau memang adat dimeteraikan bersamaan dengan penciptaan manusia dan menjadi bagian dari hidup manusia itu sendiri, mengapa adat itu tidak bersifat universal ?.
    Berikut ini adalah Tulisan Tonggo Simangunsong.
    Dalam kepasrahan ini tentu saja masih ada harapan. Tapi, harapan itu bukanlah berasal dari dunia, melainkan dari Oppu Mula Jadi Nabolon. Dalam harapan itu, ada pula ketaatan untuk selalu mempertahankan hidup suci.
    “Kami tidak diakui bukan karena kami telah melakukan kejahatan, melainkan hanya pransangka buruk tentang kami,” katanya. Selanjutnya ia mengucapkan kalimat dalam bahasa Batak, ”Berilah kepada kami penghiburan kepada kami yang menangis ini, bawalah kami dari kegelapan dunia ini dan berilah kejernihan dalam pikiran kami.” Mereka yakin Debata hanya akan memberkati orang yang menangis. Nah, dalam kepasrahan yang berpengharapan inilah mereka hidup. Dalam keterasingan itu juga mereka menyerahkan hidupnya pada “kemaliman” (kesucian). “Parmalim adalah mereka yang menangis dan meratap,” katanya.
    Dalam ritual Ugamo Parmalim sendiri, terdapat beberapa aturan dan larangan. Selain mengikuti 5 butir Patik ni Ugamo Malim (5 Titah Ugamo Malim), juga terdapat berbagai kewajiban lainnya seperti, Marari Sabtu atau ibadah rutin yang diadakan setiap Sabtu. Kewajiban lain di antaranya adalah Martutu Aek, yakni pemandian bayi yang diadakan sebulan setelah kelahiran, Pasahat Tondi yaitu ritual sebulan setelah kematian, Pardebataan, Mangan na Paet dan Pangkaroan Hatutubu ni Tuhan.
    Ada pun larangan yang hingga kini masih tetap dipertahankan di antaranya adalah. larangan untuk memakan daging babi dan darah hewan seperti yang lazim bagi umat Kristen. Memakan daging babi atau darah dianggap tidak malim (suci) di hadapan Debata. Padahal dalam ajaran Parmalim sendiri dikatakan, jika ingin mengaturkan pujian kepada Debata, manusia terlebih dahulu harus suci. Ketika menghaturkan pelean (persembahan) kesucian juga dituntut agar Debata dan manusia dapat bersatu.
    Selain itu, Parmalim juga tidak diperbolehkan secara sembarangan menebang pohon. Larangan ini diyakini akan mendatangkan bala apabila tidak diacuhkan. Pasalnya, hutan sebagai bagian dari alam yang sekaligus merupakan ciptaan Tuhan harus dilestarikan. Secara tradisi, apabila seseorang ingin menebang pohon di hutan, haruslah menanam kembali gantinya. Konon, ajaran Parmalim meyakini bahwa terdapat seorang raja yang berkuasa di hutan (harangan) yang lalu dikenal dengan Boru Tindolok (raja harangan).
    Jika melihat fisik bangunan rumah ibadah Parmalim, maka pada atap bangunan terdapat lambang tiga ekor ayam. Lambang ini, menurut Marnangkok, merupakan lambang ”partondion” (keimanan). Konon, menurut ajaran Parmalim, ada tiga partondian yang pertama kali diturunkan Debata ke Tanah Batak, yaitu Batara Guru, Debata Sori dan Bala Bulan. Sementara ayam merupakan salah satu hewan persembahan (kurban) kepada Debata.
    Ketiga ekor ayam itu berbeda warna. Yang pertama, berwarna hitam (manuk jarum bosi) merujuk kepada Batara Guru, putih untuk Debata Sori dan merah untuk Bala Bulan. Sedang masing-masing warna juga memiliki arti tersendiri. Hitam melambangkan kebenaran, putih melambangkan kesucian dan merah adalah kekuatan atau kekuasaan (hagogoon). Kekuatan adalah berkah yang diberikan kepada manusia melalui Bala Bulan yang tujuannya untuk mendirikan “panurirang” (ajaran dan larangan).
    Hanya saja, diyakini bahwa Raja Sisingamangaraja adalah utusan Debata yang lahir melalui perantaraan roh Debata kepada Boru Pasaribu. Diyakini pula, pada waktu di Harangan Sulu-sulu sebuah cahaya, yang kemudian diyakini sebagai roh Debata datang kepadanya dan mengatakan, “baen pe naung salpu i roma na tonggi, tarilu-ilu ho sonari, roma silas ni roha.” yang menyatakan bahwa: “Walaupun hari ini engkau menangis namun engkau juga akan merasakan kebahagiaan kelak.”
    Boru Pasaribu kemudian mengandung dan dianggap berselingkuh dengan marga asing tetapi kemudian disangkal, sebab pada saat roh Debata hadir dan mengucapkan hal itu kepadanya, ia tak sendirian melainkan turut disaksikan putrinya. Maka kemudian, putra yang terlahir itu (yang kemudian dikenal dengan Raja Sisingamangaraja I), diakui sebagai utusan Debata.
    Selanjutnya, Raja Sisingamangaraja memiliki keturunan hingga 12 keturunan. Itu pun secara roh. Hanya saja, hingga kini banyak yang tidak mengakui Raja Sisingamangaraja sebagai nabi bagi Ugamo Malim, melainkan hanya sebagai manusia biasa. Raja Sisingamangaja XII sendiri dikenal sebagai pahlawan Nasional. “Itulah yang menjadi anggapan ganjil terhadap Ugamo Parmalim selama ini,” kata Marnangkok. Namun meski demikian, juga diyakini bahwa Sisingamangaraja masih hidup hingga kini, tentu saja secara roh.
    Hingga akhir hayat Raja Sisingamaraja XII, keyakinan Ugamo Malim kemudian diturunkan melalui Raja Mulia Naipospos, yang merupakan kakek kandung Marnangkok Naipospos sendiri.
    Inilah yang kemudian menjadi acuan pada acara atau ritual-ritual besar Ugamo Parmalim yang diadakan rutin setiap Sabtu dan setiap tahunnya. Ritual-ritual besar Parmalim itu seperti Parningotan Hatutubu ni Tuhan (Sipaha Sada) dan Pameleon Bolon (Sipaha Lima), yang diadakan pertama pada bulan Maret dan yang kedua bulan Juli. Yang kedua diadakan secara besar-besar karena pada acara ini para Parmalim menyembelih kurban kerbau atau lembu. “Ini merupakan tanda syukur kami kepada Debata yang telah memberikan kehidupan,” kata Marnagkok.
    Begitulah Ugamo Malim dalam ritual dan eksistensinya. Persoalan marginalisasi, kesucian, kontradiksi opini publik hingga harapan mereka, barangkali masih menunjukkan banyak pertanyaan. Namun, sidaknya dalam kepasrahan mereka dapat menikmati sedikit kebebasan di desa mereka sendiri, Hutatinggi. Tapi, Hanya sedikit.
    Dari apa yang ditulis diatas maka semakin jelas bahwa Adat Batak dan Kepercayaan Parmalim yang notabine mempunyai basic dari adat batak adalah merupakan imajinasi manusia yang dipengaruhi oleh Lucifer dengan hanya merekayasa satu dua perkataan sehingga mampu menghipnotis akal sehat etnis batak yang masih konsisten dan loyal terhadap ritual adat Batak. Satu fakta lagi dari tulisan N. Siahaan pada tahun 1964 menjadi wacana berharga untuk membuka matahati rohani kita.
    Siahaan mengatakan bahwa Sastra tulis telah lama ada, diduga sejak abad ke-13, yaitu dengan adanya “aksara Batak yang berasal dari aksara Jawa Kuna melalui aksara Sumatera Kuna”, sesudah Singosari mengirimkan tentaranya ke Jambi di Sumatera Tengah.
    Sastra tulis itu adalah berupa ilmu perbintangan atau astronomi, tarombo atau silsilah, ramuan pengobatan tradisionil, turi-turian yang bersifat mythe atau dongeng. Cerita-cerita itu ditulis dengan aksara Batak Toba pada kulit kayu yang lebarnya dapat dilipat. Tulisan pada kulit kayu itu disebut pustaha ‘pustaka’ yang sekarang ini sulit ditemukan. “Seperti diterangkan di atas bahwa tidak ada seorang ahli yang dapat mengetahui dari mana asal muasal aksara Batak.” Namun, manusia hanya dapat mengira-ngira atau menghubung-hubungkan sejarah terjadinya aksara di muka bumi ini. Tetapi secara linguistik dapat dikaji bahwa aksara itu bermula dari “aksara Hieroglif Mesir”, dan turun temurun sesuai dengan perkembangan zaman pada masa itu (lihat bagan di atas).
    Permulaan Aksara Batak Menurut Versi Batak
    Ompunta Mulajadi Nabolon
    Nasa bangso na di liat portibi on, na marhatopothon adong do Debata, diparhatutu nasida do i, na tarpatupa Debata do na sa na boi dodoan ni roha ni jolma. Bangso Batak pe masuk do tuhorong na marhatopothon, adong Debata, i ma: Debata Mulajadi Nabolon. Parbinotoan i hibul jala Polim do di Jolma na parjoloi.
    Alai tutu molo lam tamba panarihon ni roha ni jolma di atas tano on, lam moru ma parbinotoan i, gabe holan pasi-pasina nama na tading. Ala ni i, massa i maol nama patorangon angka na masa sian narobi ni narobi, ala so diida mata jala so dibege pinggol.
    Dung i laos ditongos muse ma Debata Natolu. Ia dung songon i, ditongos Mulajadi Nabolon ma dua balunbalunan Surat Batak. Dibalunan na parjolo, i ma na margoar “Surat Agong “, i ma di lehon (bagian) ni Guru Tateabulan, jala disi tarsurat ma hadatuon (ilmu kedukunan), habeguon (ilmu tentang hantu), parmonsahon (ilmu silat) dohot pangaliluon (ilmu menghilangkan diri/ilmu gaib). Di balunan na paduahon, i ma na margoar “Surat Tombaga Holing” i ma bagian ni Raja Isumbaon, di si tarsurat taringot tu harajaon (kerajaan), paruhuman (ilmu Hukum), parumaon (Ilmu pertanian/persawahan), partigatigaon (Ilmu perdagangan) dohot paningaon (WM. Hutagalung, 1991:1 dan 33).
    Ompunta Si Raja Batak
    Ianggo anak ni Ompunta Raja Batak dua do, na parjolo na margoar Raja Ilontungon gelar Guru Tateabulan, na paduahon i ma na margoar Raja Isumbaon (WM. Hutagalung, 1991:32). Jadi Surat Agong dan surat Tumbaga Holing diterima Si Raja Batak dari Ompung Mulajadi Nabolon. Kemudian Surat Agong diraksahon (diterjemahkan) oleh Martuaraja doli, dan surat Tombaga Holing ditorsahon Tuan Sorimangaraja. Dari merekalah turun temurun surat Batak itu sampai sekarang ini. Dengan demikian Martuaraja doli dan Tuan Sorimangaraja lah yang pertama sekali membaca surat Batak yang diterima Si Raja Batak itu dari Ompunta Mulajadi Nabolon berupa Pustaha yang dituliskan di kulit kayu (laklak).

  10. Tanggapan Tambunan:

    ADAT BATAK MERUPAKAN MEDIA PERSELINGKUHAN ROHANI
    Sebelum para pembaca lebih jauh mendalami makna tanggapan ini maka sangat tepat jika kita menambah khasanah berpikir tentang terminologi dan sejarah Batak. Kurang lebih jika tidak tepat mohon kami dikoreksi dan saya tidak sekalipun menghakimi siapapun dalam konteks tanggapan ini.
    Batak adalah sebuah istilah kolektif yang digunakan sebagai identitas sekelompok etnik yang terdapat di kawasan dataran tinggi di sumatera utara atau tepatnya disekitar danau toba. Sedangkan bahasa Batak berasal dari bahasa Austronesia dengan kebiasaan bertutur berbalas-balasan dalam rapat.
    Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu “buddhayah” yang merupakan bentuk jamak dari “buddhi” yang berarti hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere dan dalam bahasa Indoensia diterjemahkan “kultur”.
    Menurut Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski bahwa kebudayaan Batak merupakan bagian tidak terpisahkan dari etnik Batak sehingga segala sesuatu yang terdapat dalam kelompok etnik Batak ditentukan oleh kebudayaan yang dimilikinya dan sifatnya turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya dan hal ini disebut superorganic. Kebudayaan Batak merupakan sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran etnik Batak pada zaman dahulu kala, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan Batak adalah benda-benda yang diciptakan oleh etnik Batak sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu etnik Batak dalam melangsungkan kehidupan etnik.
    Adat adalah gagasan kebudayaan yang melembaga menjadi kebiasaan yang lazim dilakukan di suatu kelompok etnik. Apabila adat tidak dilaksanakan akan terjadi keresahan sehingga kelompok etnik tersebut perlu menjatuhkan sanksi terhadap pelaku yang menyimpang namun sanksi ini tidak menjadi pranata hukum sehingga tidak bersifat bilateral atau universal. Kata adat sendiri berasal dari bahasa Arab yaitu Adah yang berarti “kebiasaan-kebiasaan dari masyarakat”.
    Manusia memiliki keterbatasan pikiran dan daya tahan fisik untuk memahami serta mengungungkap rahasia-rahasia alam sehingga muncul keyakinan akan adanya penguasa tertinggi dari sistem jagad raya ini, yang juga mengendalikan manusia sebagai salah satu bagian jagad raya. Sehubungan dengan itu, baik secara individual maupun hidup bermasyarakat, manusia berkeyakinan bahwa ada penguasa alam semesta yang dapat memberi kebahagiaan sejati. Kepercayaan ini terkristalisasi menjadi agama.
    Agama menjadi sebuah institusi dimana keberadaannya diakui sehingga anggotanya dapat berkumpul bersama untuk beribadah menerima paket doktrin yang menawarkan hal yang terkait dengan sikap dan perbuatan yang harus diambil oleh masing-masing individu sehingga mereka memiliki keseimbangan dalam menjadi hidup.
    Agama biasanya memiliki suatu prinsip, seperti “10 Firman” dalam agama Kristen atau “5 rukun Islam” dalam agama Islam. Yahudi adalah agama tertua dan merupakan agama monotheistik yang masih ada sampai sekarang, sedangkan seharah umat Yahudi adalah bagian utama dari agama Ibrahim lainnya, seperti Kristen dan Islam.
    Agama dan sistem kepercayaan lainnya seringkali terintegrasi dengan unsur kebudayaan yang penting dalam sejarah umat manusia. Kristen adalah salah satu agama penting yang berhasil mengubah wajah kebudayaan Eropa pada akhir abad 17. Pemikiran para filosopis modern pun banyak terpengaruh oleh para filosopis Kristen semacam St. Thomas Aquinas dan Eramus. Sementara itu, nilai dan norma agama Islam banyak mempengaruhi kebudayaan Timur Tengah dan Afrika Utara, dan juga sebagian wilayah Asia Tenggara.
    Agama kristen sendiri masuk ke Batak pada abad 19 oleh beberapa missionaris dan salah seorang yang terkenal ialah Ludwig Ingwer Nommensen oleh sebab itu HKBP memiliki faham Lutheran. Kisah awal masuknya para missionaris ke tanah Batak adalah memakai strategi membaur dengan keyakinan bahwa agama akan dapat dikenal melalui budaya etnik Batak. Walaupun demikian bahwa perlawanan dari etnik Batak dengan eksistensi budaya dan adat istiadatnya tetap tidak dapat dihindarkan dan hal ini terbukti pada tahun 1934 Pdt. Samuel Munson dan Pdt. Hendry Lyman yang diutus Bandan Zending Boston Amerika Serikat mati martir di Lobu Pining Tapanuli Utara.
    Pola pembauran ajaran Kristiani kedalam budaya etnik Batak yang dimulai oleh Van der Tuuk pada tahun 1849 dengan menterjemahkan sebagian dari Alkitab ke dalam aksara batak membawa kerancuan sampai sekarang. Kurun waktu 158 tahun ternyata belum cukup untuk memisahkan ajaran agama dengan adat budaya etnik batak.
    Pada tahun1825 -1829 tuanku Rao dari Padang menyerang tanah Batak dan diperkirakan pada saat itu muncul kepercayaan Parmalim. Kepercayaan Parmalim juga menerapkan pola pembauran namun beberapa hal prinsip adat istiadat Batak di hilangkan secara total yaitu tidak boleh memakan darah, babi, anjing dan monyet.
    Mengingat bahwa dalam aliran kepercayaan parmalim tidak diperbolehkan makan darah, babi, anjing dan monyet maka aliran ini tidak dapat diterima secara utuh sebab beberapa media penyembahan dalam budaya batak telah dipantangkan. Sementara para missionaris pada awal mula masuknya agama nasrani ke etnik Batak tidak menyentuh hal tersebut.
    Pola pembauran yang dilakukan oleh para missionaris telah membuat manipulasi ajaran alkitab dan hal ini terpatri hingga sekarang.

    Perkeliruan prinsip yang dilakukan adalah :
    Berdasarkan tulisan Drs. Brisman Silaban Msi. bahwa adat inti mencakup seluruh kehidupan yang terjadi pada penciptaan dunia oleh Debata Mulajadi Nabolon. Adat inti diberikan bersamaan dengan penciptaan. Sesudah Mulajadi Nabolon menciptakan dewa tiga serangkai yaitu Batara Guru, Bala Sori dan Bala Bulan, maka dengan segera dimamahkanlah kepada mereka undang-undang dan hukum untuk mengetahui yang baik dan yang buruk. Tatkala pada awal mula manusia pertama dicipta (ada) di dunia ini maka Mula Jadi Nabolon memeteraikan “adat” dalam diri manusia tersebut serta memeteraikan undang-undang dan hukum ke dalam hati mereka tentang yang boleh dan terlarang, yakni “terlarang” (tongka), “jangan” (unang) dan tak patut (naso jadi). Dalam konteks ini bahwa Debata Mulajadi Na Bolan adalah dewata pencipta dewa. Para missionaris merekayasa bahwa pada hakekatnya Tuhan adalah Debata yang menciptakan langit bumi dan segenap isinya. Para missionaris untuk tidak menghilangkan perkataan dari dewata yang diyakini oleh etnik Batak sebagai pencipta segala sesuatu yang ada dan merupakan penguasa jagad raya yang menguasai banua ginjang, banua tonga dan banua toru.
    2. Dalihan na tolu, yaitu Hula-hula, Dongan Tubu and Boru. Sementara dalam aplikasi kehidupan sehari-hari satu sama lain menjalankan peran sesuai dengan status masing-masing, yaitu : “Somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru”. Jika hak dan kewajiban yang terkandung didalamnya tidak dilaksanakan maka akan mendapat sanksi magis yaitu : “Angka na so somba marhula-hula siraraonma gadongna, molo so Manat mardongan tubu, natajom ma adopanna, jala molo so elek marboru, andurabionma tarusanna”.
    Mengutip dari tulisan Drs. Brisman Silaban Msi. yang disadur dari pendapat RP Tampubolan bahwa melanggar adat inti sebagai undang-undang (patik) dan hukum (uhum) adalah soal hidup atau mati, melanggar dan mengobahnya adalah dosa berat yang mengakibatkan kebinasaan. Untuk meyakinkan doktrin ini maka si raja Batak umpasa yang harus dipatuhi yaitu “Ompunta naparjolo martungkot salagunde. Adat napinungka ni naparjolo sipaihut-ihut on ni na parpudi”. Itulah tiga falsafah hukum adat Batak yang menjadi pedoman dalam kehidupan sosial yang hidup dalam tatanan adat sejak lahir sampai meninggal dunia.
    Masa Mula Dunia Diciptakan Allah (Alkitab, buku kejadian)
    1:1. Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.
    1:2 Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.
    Rekayasa para missionaris pertama pada orang Batak.
    Ia di mula ni mulana ditompa Debata ma langit dohot tano, dungi hira na ginargaran do tano i jala songon halungonan jala holom do, rodi banua toru. Dungi manareap-reap ma hosa ni Debata di ginjang ni aek i.
    Terjemahan diatas diambil dari Alkitab pertama untuk etnis batak (aksara Batak).
    Missionaris menterjemahkan Allah menjadi Debata karena ada kesamaan dengan kepercayaan etnis batak yaitu Debata Mula Jadi Na Bolon. Missionaris juga menambahkan kata banua toru dengan maksud agar terkesan ada kesamaan dengan kepercayaan animisme orang batak tentang penciptaan Debata Mula Jadi Na Bolon, yaitu Banua Ginjang, Banua Tongan dan Banua Toru. Rekayasa ini juga diperkuat pada Tangiang Ale Amanami yaitu Tangiang Na Pinodahon ni Tuhan Jesus tu Angka Sisean Na dimana Hata Pamungkaan adalah Ale Amanami na di banuaginjang.

    Rekayasa Lucifer tentang penciptaan yang diyakini oleh etnis batak yang masih loyal melaksanakan ritual adat batak sampai sekarang, seperti tertera dibawah ini.

    Tulisan Silaban dalam brothershoot.
    1. ADAT INTI
    Adat inti mencakup seluruh kehidupan yang terjadi pada penciptaan dunia oleh Debata Mulajadi Nabolon. Adat inti diberikan bersamaan dengan penciptaan. Sesudah Mulajadi Nabolon menciptakan dewa tiga serangkai yaitu Batara Guru, Bala Sori dan Bala Bulan, maka dengan segera dimamahkanlah kepada mereka undang-undang dan hukum untuk mengetahui yang baik dan yang buruk. Tatkala pada awal mula manusia pertama dicipta (ada) di dunia ini maka Mula Jadi Nabolon memeteraikan “adat” dalam diri manusia tersebut serta memeteraikan undang-undang dan hukum ke dalam hati mereka tentang yang boleh dan terlarang, yakni “terlarang” (tongka), “jangan” (unang) dan tak patut (naso jadi). Dengan demikian, Adat Inti mutlak harus dituruti dan dilaksanakan sebagai undang-undang, adat dan hukum dalam kehidupan, seperti yang ditegaskan dalam ungkapan berikut :
    Adat do ugari
    Sinihathon ni Mulajadi
    Siradotan manipat ari
    Siulahonon di siulu balang ari
    artinya :
    Adat adalah aturan yang ditetapkan oleh Tuhan Pencipta, yang harus dituruti sepanjang hari dan tampak dalam kehidupan (Simanjuntak, 1966)

    Pelaksanaan Adat Inti tidak boleh dimufakati untuk mengobahnya dalam upacara adat karena terikat dengan norma dan aturan yang diturunkan oleh Mula Jadi Nabolon (sebelum agama mempengaruhi sikap etnis Batak Toba terhadap upacara adat).
    Kalau Mula Jadi Nabolon memang adalah Tuhan Pencipta berarti adat inti mutlak adanya dan kekal maknanya sehinga tidak ada satu kekuatan agama manapun yang mampu mempengaruhi etnis Batak. Pemahaman kami terhadap pendapatan diatas adalah kontradiktif.
    Dengan uraian tentang Adat Inti di atas maka kita pada saat sekarang yang masih setia melaksanakan upacara adat, kita tidak mungkin lagi (tidak mampu) melaksanakannya sesuai dengan iman berdasarkan agama yang kita anut dan inilah merupakan pergeseran pelaksanaan adat yang kita laksanakan.
    Pemahaman kami pada tulisan diatas bahwa rekayasa dan manipulasi penulis terhadap pengerian Adat dimeteraikan oleh Mula Jadi Na Bolon ke dalam diri manusia, tidak konsisten dengan kita tidak mungkin lagi (tidak mampu) melaksanakannya sesuai dengan iman berdasarkan agama yang kita anut .
    Tuat ma na di dolok martungkot siala gundi
    Napinungka ni ompunta na parjolo
    Tapa uli-uli (bukan tai huthon) sian pudi
    Mencermati akan pengertian umpasa diatas maka sangat jelas bahwa konsistensi terhadap rekayasa tersebut tidak dapat dipertahankan penulis Artinya adat istiadat yang sudah diciptakan dan diturunkan nenek moyang kita terdahulu kita ikuti sambil diperbaiki (disesuaikan) dari belakang. Siapa sebenarnya yang menciptakan adat tersebut ?. Apakah Debata Mula Jadi Na Bolan yang diyakini oleh penulis sebagai Tuhan Pencipta adalah juga sama menjadi ompunta na parjolo. Kalau memang adat dimeteraikan bersamaan dengan penciptaan manusia dan menjadi bagian dari hidup manusia itu sendiri, mengapa adat itu tidak bersifat universal ?.
    Berikut ini adalah Tulisan Tonggo Simangunsong.
    Dalam ritual Ugamo Parmalim sendiri, terdapat beberapa aturan dan larangan. Selain mengikuti 5 butir Patik ni Ugamo Malim (5 Titah Ugamo Malim), juga terdapat berbagai kewajiban lainnya seperti, Marari Sabtu atau ibadah rutin yang diadakan setiap Sabtu. Kewajiban lain di antaranya adalah Martutu Aek, yakni pemandian bayi yang diadakan sebulan setelah kelahiran, Pasahat Tondi yaitu ritual sebulan setelah kematian, Pardebataan, Mangan na Paet dan Pangkaroan Hatutubu ni Tuhan.
    Jika melihat fisik bangunan rumah ibadah Parmalim, maka pada atap bangunan terdapat lambang tiga ekor ayam. Lambang ini, menurut Marnangkok, merupakan lambang ”partondion” (keimanan). Konon, menurut ajaran Parmalim, ada tiga partondian yang pertama kali diturunkan Debata ke Tanah Batak, yaitu Batara Guru, Debata Sori dan Bala Bulan. Sementara ayam merupakan salah satu hewan persembahan (kurban) kepada Debata.
    Ketiga ekor ayam itu berbeda warna. Yang pertama, berwarna hitam (manuk jarum bosi) merujuk kepada Batara Guru, putih untuk Debata Sori dan merah untuk Bala Bulan. Sedang masing-masing warna juga memiliki arti tersendiri. Hitam melambangkan kebenaran, putih melambangkan kesucian dan merah adalah kekuatan atau kekuasaan (hagogoon). Kekuatan adalah berkah yang diberikan kepada manusia melalui Bala Bulan yang tujuannya untuk mendirikan “panurirang” (ajaran dan larangan).
    Hanya saja, diyakini bahwa Raja Sisingamangaraja adalah utusan Debata yang lahir melalui perantaraan roh Debata kepada Boru Pasaribu. Diyakini pula, pada waktu di Harangan Sulu-sulu sebuah cahaya, yang kemudian diyakini sebagai roh Debata datang kepadanya dan mengatakan, “baen pe naung salpu i roma na tonggi, tarilu-ilu ho sonari, roma silas ni roha.” yang menyatakan bahwa: “Walaupun hari ini engkau menangis namun engkau juga akan merasakan kebahagiaan kelak.”
    Boru Pasaribu kemudian mengandung dan dianggap berselingkuh dengan marga asing tetapi kemudian disangkal, sebab pada saat roh Debata hadir dan mengucapkan hal itu kepadanya, ia tak sendirian melainkan turut disaksikan putrinya. Maka kemudian, putra yang terlahir itu (yang kemudian dikenal dengan Raja Sisingamangaraja I), diakui sebagai utusan Debata.
    Selanjutnya, Raja Sisingamangaraja memiliki keturunan hingga 12 keturunan. Itu pun secara roh.
    Acuan pada acara atau ritual-ritual besar Ugamo Parmalim yang diadakan rutin setiap Sabtu dan setiap tahunnya. Ritual-ritual besar Parmalim itu seperti Parningotan Hatutubu ni Tuhan (Sipaha Sada) dan Pameleon Bolon (Sipaha Lima), yang diadakan pertama pada bulan Maret dan yang kedua bulan Juli. Yang kedua diadakan secara besar-besar karena pada acara ini para Parmalim menyembelih kurban kerbau atau lembu. “Ini merupakan tanda syukur kami kepada Debata yang telah memberikan kehidupan,”
    Dari apa yang ditulis diatas maka semakin jelas bahwa Adat Batak dan Kepercayaan Parmalim yang notabine mempunyai basic dari adat batak adalah merupakan imajinasi manusia yang dipengaruhi oleh Lucifer dengan hanya merekayasa satu dua perkataan sehingga mampu menghipnotis akal sehat etnis batak yang masih konsisten dan loyal terhadap ritual adat Batak. Satu fakta lagi dari tulisan N. Siahaan pada tahun 1964 menjadi wacana berharga untuk membuka matahati rohani kita.
    Permulaan Aksara Batak Menurut Versi Batak
    Ompunta Mulajadi Nabolon
    Nasa bangso na di liat portibi on, na marhatopothon adong do Debata, diparhatutu nasida do i, na tarpatupa Debata do na sa na boi dodoan ni roha ni jolma. Bangso Batak pe masuk do tuhorong na marhatopothon, adong Debata, i ma: Debata Mulajadi Nabolon. Parbinotoan i hibul jala Polim do di Jolma na parjoloi.
    Dung i laos ditongos muse ma Debata Natolu. Ia dung songon i, ditongos Mulajadi Nabolon ma dua balunbalunan Surat Batak. Dibalunan na parjolo, i ma na margoar “Surat Agong “, i ma di lehon (bagian) ni Guru Tateabulan, jala disi tarsurat ma hadatuon (ilmu kedukunan), habeguon (ilmu tentang hantu), parmonsahon (ilmu silat) dohot pangaliluon (ilmu menghilangkan diri/ilmu gaib). Di balunan na paduahon, i ma na margoar “Surat Tombaga Holing” i ma bagian ni Raja Isumbaon, di si tarsurat taringot tu harajaon (kerajaan), paruhuman (ilmu Hukum), parumaon (Ilmu pertanian/persawahan), partigatigaon (Ilmu perdagangan) dohot paningaon (WM. Hutagalung, 1991:1 dan 33).
    Ompunta Si Raja Batak
    Ianggo anak ni Ompunta Raja Batak dua do, na parjolo na margoar Raja Ilontungon gelar Guru Tateabulan, na paduahon i ma na margoar Raja Isumbaon (WM. Hutagalung, 1991:32). Jadi Surat Agong dan surat Tumbaga Holing diterima Si Raja Batak dari Ompung Mulajadi Nabolon. Kemudian Surat Agong diraksahon (diterjemahkan) oleh Martuaraja doli, dan surat Tombaga Holing ditorsahon Tuan Sorimangaraja. Dari merekalah turun temurun surat Batak itu sampai sekarang ini. Dengan demikian Martuaraja doli dan Tuan Sorimangaraja lah yang pertama sekali membaca surat Batak yang diterima Si Raja Batak itu dari Ompunta Mulajadi Nabolon berupa Pustaha yang dituliskan di kulit kayu (laklak).
    Maka sangatlah kasihan etnis Batak yang sudah berilmu dan berpengetahuan serta sudah hidup dalam jaman tehnologi masih tetap mempercayaai adat batak dan hidup dalam ritualnya. Saya mengatakan bahwa etnis batak yang masih loyal dan melaksanakan adat Batak telah melakukan perselingkuhan rohani. Orang Batak yang demikian mengakui ALLAH dan juga allah.
    Saya akan memberikan referensi yang utuh dari Alkitab tentang pemahaman perselingkuhan ini dalam tulisan berikutnya.

  11. Tanggapan Ir. Saut Simanjuntak:

    SOTUNG DIAGO DEBA HAMU

    JANGAN TERBELENGGU OLEH AJARAN SESAT

    Ajaran Palsu,
    Kita lihatlah di Acara Adat orang Batak yang beragama Kristen: Bersepakat mereka memegang tepi Sambung tempat dari Ihur-ihur, Soit, Osang, Ulu, Panamboli, Aliang-aliang dari pinahan tersebut.
    Martonggo/Martangiang/Berdoa meminta asa Manumpak Sahala berikut Manuai Tondi dari Hula-hulanya yaitu wakil dari Debata Bataraguru, di Pasu-pasu/di Berkati oleh ”Oppuna Debata”. Berdoa berikut meminta berkat di dalam ”Goar-Goar” dari juhut babi. Menuruti Patik, Ajaran, Perintah, Pesan dari siapakah ini ?. Kenapa harus di adop-adop dan di pegang juhut babi untuk meminta sesuatu ? Kenapa harus tonggo-tonggo atau berdoa dari Ompunta naparjolo yang di Ajarkan oleh Datu dan Malim di katakan untuk Mamelehon/Mempersembahkan juhut Nabalging-balging ? Bisakah kita yang sudah mengikuti Ajaran Alkitab sepenuh hati, sungguh-sungguh melakukan hal yang seperti ini ? Sangat jelas Ajaran dari Bapa kita Yesus Kristus Tuhan, Acara seperti ini sangat Menyembah dan Mempersembahkan berikut menuruti Debata Sileban. ”Ndang jadi marangkup Ahu adong Debatam”, itu Firman dari Tuhan Yesus Kristus kita ! Kita yang memiliki Ajaran Nabadia, Berdoa meminta hanya kepada namargoar Yesus Kristus Tuhan, tidak ada yang lain namargor. Biarpun kata-kata di ganti-ganti: ”ompunta debata” atau ”Tuhanta parasi rohai”, tidak di dalam kebenaran seperti itu. Kalau ada sama kalian, Tondi dari Tuhan Yesus Kristus (Nabadia), kalian pasti tahu yang mana Ajaran Iblis Simulajadinabolon dan yang mana Ajaran Nabadia. Sudah barang tentu semuanya kata-kata si Iblis yang telah Menghujad Nabadia. Walaupun berumur ho Amang, Inang, ompung 70 Tahun margelar Doktor dohot Professor ho molo so adong do di ho Tondi Porbadia marisuang do sude ngolum di portibion. Karena itu Barita nauli mengingatkan kita dari Firman: “Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus” (Kolose 2:8). Jadi sangat jelas Mempersembahkan juhut nabalging-balging tersebut tidak mengikuti Ajaran dari Kristus, karena itulah pesan-pesan dari ompunta yang terdahulu, yang percaya kepada Ajaran si Mulajadinabolon. Karena pikiran pengikutnya sudah di tawan Iblis, sudah terjadi pembodohan melalui filsafat yang bagus supaya terlena, sesat, dan tidak lagi menghiraukan panggilan dari Kristus yang sebenarnya pada umumnya cendrung mendua. Jadi kalau Berdoa, bermohon kepada Kristus tidak perlu juhut Nabalging-balging (babi), perlakuan ini melukai hati Kristus yang sangat dalam karena Dia Nabadia.
    Oleh karena itu kita di ingatkan supaya:
    1. Selalu berjaga-jaga ! Pegang kata-kata Firman, kebenaran Nabadia.
    2. Jangan sampai di tawan Iblis ! jangan sampai dipengaruhi oleh Ajaran Sesat.
    3. Melalui bujuk rayu yang enak didengar kuping ! kata-kata-kata Palsu dari pendusta.
    4. Melalui pesan-pesan dari Manusia, lesem nasomarimpola ! ini Adat, Patik, Hata, Parenta, Pesan dari si Mulajadinabolon yang selalu membodohi !
    5. Mengikutkan kesia-siaan dari dari dunia ini ! Mengikuti Tondi Nahodar di dunia yang nantinya berlalu ini !
    6. Tidak mengikuti Kristus ! Tidak mengikuti Firman Nabadia !
    Sangat jelas kita mengetahui bahwa juhut Nabalging-balging itu tidak pernah di Ajarkan oleh Bible, sangatlah bertolak belakang dengan Ajaran Kristus, akan tetapi karena sudah di tawan Iblis yang mengikuti Adat tersebut yaitu melalui bujuk rayu yang manis-manis yang sungguh menjanjikan atau dengan kata-kata lesem dari si Iblis Mulajadinabolon karena sangat dirawat/di lestarikan pesan-pesan Adat tersebut. Sampai-sampai Pendeta saya mengatakan bahwa saya keliru karena tidak mengindahkan Ajaran si Mulajadinabolon di dalam hal ini saya kekeh karena ini suatu janji terhadap Kristus. Jadi disini terlebih-lebih kepada suku Batak jangan seperti Orang Israel di Juluki Sijogal Rohai ini berlaku seperti yang di tulis di Surat Apostel Paulus ke Jemaat Korintus Mengatakan:
    20. Bukan ! Apa yang kumaksudkan ialah, bahwa persembahan mereka adalah persembahan kepada roh-roh jahat, bukan kepada Allah. Dan aku tidak mau, bahwa kamu bersekutu dengan roh-roh jahat.
    21. Kamu tidak dapat minum dari cawan Tuhan dan juga dari cawan roh-roh jahat. Kamu tidak dapat mendapat bagian dalam perjamuan Tuhan dan juga dalam perjamuan roh-roh jahat. (1 Korint 10:20-21).
    Sudah sangat jelas kita mengerti Amang, Inang bahwa ”Juhut Nabalging-balging tersebut” sangat benar, Patik, Pesan atau Perintah dari si Mulajadinabolon, biar manusia meneyembahnya berikut taat kepadanya. Sangat licik si Mulajadinabolon dengan Debata yang tiga dibuat perwakilan hula-hula menerima juhut Nabalging-balging tersebut. Terus-menerus bahwa si Mulajadinabolon membodohi manusia agar selalu melawan dengan kehendak dari Firman Tuhan Yesus. Dipakai Iblis manusia membuat Pelean/Sajen serta mengikuti perintahnya supaya jangan Menyembah Tuhan Yesus. Padahal Agama Kristen Yang dianut manusia tersebut akan tetapi masih dapat terjadi pembodohan dari si Iblis, yang paling celaka manusia tersebut melakukan Perjamuan Kudus (1 Korint 11:23-26). Akan tetapi Tuhan Yesus mengatakan tidak bisa meminum dari cawannya Tuhan Yesus beserta dari cawannya Iblis. Tidaklah mampu kalian meminum Darah Yesus berikut makan DagingNya serta kalian turut mempersembahkan sajian kepada si Mulajadinabolon si Bataraguru itu melalui Pelean juhut Nabalging-balging tersebut. Langgatan ni Tuhan Yesus Kristus ima habadiaonNa. Jadi tidak mungkin ada sama kalian Habadiaon dari Tuhan Yesus, kalau masih dijama yang Naramun juhut Nabalging-balging tersebut. Janganlah kita manoisi Tuhan kita Amang berikut Inang. Karena Tuhan kita sangat Perkasa ! (1 Korint 10:22).
    Diwaktu saat memegang tepi sambong Amang, Inang tahukah bahwa sekumpulan manusia telah melakukan kesepakatan, mardos roha degan nama Iblis kalian memohon Kekayaan, Kesohoran, Berketurunan di dalam nama dari si Mulajadinabolon ? Ketahuilah inilah yang di katakan Menyembah, menuruti Iblis, menyembah/memberhalakan Debata dari sileban (allah asing), Debata dari ompunta sijolo-jolo tubu si Mulajadinabolon. Mari kita coba mengingat Amang, Inang pada saat memegang tepi Talam, dengan jujurlah dulu kita, bahwa yang bersepakat memohon berkat Kekayaan, Kesohoran dan Berketurunan dengan ulos, dengke yang harus ganjil hitungannya berikut boras sipir ni Tondi? Seperti ini dikatakan dari pihak Parboru memberi berkat kepada Menantu beserta Borunya:
    ”Dangka ni arirang ma na peak di tonga ni onan, badan muna ma na so ra sirang, tondi muna ma marsigonggoman”. ”Tangki ma jala ualang, galinggang jala garege, sai tubu ma di hamu angka anak partahi, jala ulu balang dohot angka boru par mas jala pareme”. ”Eme sitamba tua parlinggoman ni siborok, ompunta debata do silehon tua, sai horas ma hamu di parorot”. ”Sahat-sahat ni solu sahat ma tu Tigaras, sahat ma hamu leleng mangolu, sahat gabe jala horas”. Inilah kata-kata pemberkatan karena menyembah kepada ompu debata Mulajadinabolon ! Harus bagaimana yang dikatakan Menyembah berikut menuruti Iblis ? Sangat jelas kita ketahui bahwa bukan meminta/memohon kepada Yesus Kristus seperti ini, sangat berlawanan kepada Ajaran Yesus Kristus berikut yang tertulis di dalam Bible. Kepada si Mulajadinabolon itu permintaan maupun permohonan itulah debata yang mirip Siborok. Harus bagaimana lagi supaya di katakan Menyembah kepada Debata sileban, Amang, Inang ? Harus bagaimana lagi ? Inilah yang menuruti Perintah dari si Mulajadinabolon. Inilah Menyembah kepada hula-hula ! Inilah Menyembah kepada si Bataraguru yang mewakilkan dari raja dari hula-hula ! Hula-hula debata yang kelihatan, hula-hula sumber dari segala Berkat. Inilah Yesus Kristus Tuhan Abarham Isak dan Yakub jangan lagi marjogal roha hamu ai Barita Halalasniroha Godang do hupatolhas tu hamu di bagasan tingki on Amang, Inang jala tung gomos tiop hamu tumpal muna asa unang di diharat babi, jadi di dalam hal mengikut Yesus Kristus tidak bisa main-main harus serius, harus sungguh-sungguh, harus memikul salib yang berarti harus menyangkal diri membuang kehendak kedagingan inilah yang dimaksud penyerahan secara totalitas.

    Ir. Saut Simanjuntak.

    Masih bersambung,

  12. Tanggapan Ir. Saut Simanjuntak:

    SOTUNG DIAGO DEBA HAMU

    JANGAN TERBELENGGU OLEH AJARAN SESAT

    Ajaran Palsu,
    Kita lihatlah di Acara Adat orang Batak yang beragama Kristen: Bersepakat mereka memegang tepi Sambung tempat dari Ihur-ihur, Soit, Osang, Ulu, Panamboli, Aliang-aliang dari pinahan tersebut.
    Martonggo/Martangiang/Berdoa meminta asa Manumpak Sahala berikut Manuai Tondi dari Hula-hulanya yaitu wakil dari Debata Bataraguru, di Pasu-pasu/di Berkati oleh ”Oppuna Debata”. Berdoa berikut meminta berkat di dalam ”Goar-Goar” dari juhut babi. Menuruti Patik, Ajaran, Perintah, Pesan dari siapakah ini ?. Kenapa harus di adop-adop dan di pegang juhut babi untuk meminta sesuatu ? Kenapa harus tonggo-tonggo atau berdoa dari Ompunta naparjolo yang di Ajarkan oleh Datu dan Malim di katakan untuk Mamelehon/Mempersembahkan juhut Nabalging-balging ? Bisakah kita yang sudah mengikuti Ajaran Alkitab sepenuh hati, sungguh-sungguh melakukan hal yang seperti ini ? Sangat jelas Ajaran dari Bapa kita Yesus Kristus Tuhan, Acara seperti ini sangat Menyembah dan Mempersembahkan berikut menuruti Debata Sileban. ”Ndang jadi marangkup Ahu adong Debatam”, itu Firman dari Tuhan Yesus Kristus kita ! Kita yang memiliki Ajaran Nabadia, Berdoa meminta hanya kepada namargoar Yesus Kristus Tuhan, tidak ada yang lain namargor. Biarpun kata-kata di ganti-ganti: ”ompunta debata” atau ”Tuhanta parasi rohai”, tidak di dalam kebenaran seperti itu. Kalau ada sama kalian, Tondi dari Tuhan Yesus Kristus (Nabadia), kalian pasti tahu yang mana Ajaran Iblis Simulajadinabolon dan yang mana Ajaran Nabadia. Sudah barang tentu semuanya kata-kata si Iblis yang telah Menghujad Nabadia. Walaupun berumur ho Amang, Inang, ompung 70 Tahun margelar Doktor dohot Professor ho molo so adong do di ho Tondi Porbadia marisuang do sude ngolum di portibion. Karena itu Barita nauli mengingatkan kita dari Firman: “Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus” (Kolose 2:8). Jadi sangat jelas Mempersembahkan juhut nabalging-balging tersebut tidak mengikuti Ajaran dari Kristus, karena itulah pesan-pesan dari ompunta yang terdahulu, yang percaya kepada Ajaran si Mulajadinabolon. Karena pikiran pengikutnya sudah di tawan Iblis, sudah terjadi pembodohan melalui filsafat yang bagus supaya terlena, sesat, dan tidak lagi menghiraukan panggilan dari Kristus yang sebenarnya pada umumnya cendrung mendua. Jadi kalau Berdoa, bermohon kepada Kristus tidak perlu juhut Nabalging-balging (babi), perlakuan ini melukai hati Kristus yang sangat dalam karena Dia Nabadia.
    Oleh karena itu kita di ingatkan supaya:
    1. Selalu berjaga-jaga ! Pegang kata-kata Firman, kebenaran Nabadia.
    2. Jangan sampai di tawan Iblis ! jangan sampai dipengaruhi oleh Ajaran Sesat.
    3. Melalui bujuk rayu yang enak didengar kuping ! kata-kata-kata Palsu dari pendusta.
    4. Melalui pesan-pesan dari Manusia, lesem nasomarimpola ! ini Adat, Patik, Hata, Parenta, Pesan dari si Mulajadinabolon yang selalu membodohi !
    5. Mengikutkan kesia-siaan dari dari dunia ini ! Mengikuti Tondi Nahodar di dunia yang nantinya berlalu ini !
    6. Tidak mengikuti Kristus ! Tidak mengikuti Firman Nabadia !
    Sangat jelas kita mengetahui bahwa juhut Nabalging-balging itu tidak pernah di Ajarkan oleh Bible, sangatlah bertolak belakang dengan Ajaran Kristus, akan tetapi karena sudah di tawan Iblis yang mengikuti Adat tersebut yaitu melalui bujuk rayu yang manis-manis yang sungguh menjanjikan atau dengan kata-kata lesem dari si Iblis Mulajadinabolon karena sangat dirawat/di lestarikan pesan-pesan Adat tersebut. Sampai-sampai Pendeta saya mengatakan bahwa saya keliru karena tidak mengindahkan Ajaran si Mulajadinabolon di dalam hal ini saya kekeh karena ini suatu janji terhadap Kristus. Jadi disini terlebih-lebih kepada suku Batak jangan seperti Orang Israel di Juluki Sijogal Rohai ini berlaku seperti yang di tulis di Surat Apostel Paulus ke Jemaat Korintus Mengatakan:
    20. Bukan ! Apa yang kumaksudkan ialah, bahwa persembahan mereka adalah persembahan kepada roh-roh jahat, bukan kepada Allah. Dan aku tidak mau, bahwa kamu bersekutu dengan roh-roh jahat.
    21. Kamu tidak dapat minum dari cawan Tuhan dan juga dari cawan roh-roh jahat. Kamu tidak dapat mendapat bagian dalam perjamuan Tuhan dan juga dalam perjamuan roh-roh jahat. (1 Korint 10:20-21).
    Sudah sangat jelas kita mengerti Amang, Inang bahwa ”Juhut Nabalging-balging tersebut” sangat benar, Patik, Pesan atau Perintah dari si Mulajadinabolon, biar manusia meneyembahnya berikut taat kepadanya. Sangat licik si Mulajadinabolon dengan Debata yang tiga dibuat perwakilan hula-hula menerima juhut Nabalging-balging tersebut. Terus-menerus bahwa si Mulajadinabolon membodohi manusia agar selalu melawan dengan kehendak dari Firman Tuhan Yesus. Dipakai Iblis manusia membuat Pelean/Sajen serta mengikuti perintahnya supaya jangan Menyembah Tuhan Yesus. Padahal Agama Kristen Yang dianut manusia tersebut akan tetapi masih dapat terjadi pembodohan dari si Iblis, yang paling celaka manusia tersebut melakukan Perjamuan Kudus (1 Korint 11:23-26). Akan tetapi Tuhan Yesus mengatakan tidak bisa meminum dari cawannya Tuhan Yesus beserta dari cawannya Iblis. Tidaklah mampu kalian meminum Darah Yesus berikut makan DagingNya serta kalian turut mempersembahkan sajian kepada si Mulajadinabolon si Bataraguru itu melalui Pelean juhut Nabalging-balging tersebut. Langgatan ni Tuhan Yesus Kristus ima habadiaonNa. Jadi tidak mungkin ada sama kalian Habadiaon dari Tuhan Yesus, kalau masih dijama yang Naramun juhut Nabalging-balging tersebut. Janganlah kita manoisi Tuhan kita Amang berikut Inang. Karena Tuhan kita sangat Perkasa ! (1 Korint 10:22).
    Diwaktu saat memegang tepi sambong Amang, Inang tahukah bahwa sekumpulan manusia telah melakukan kesepakatan, mardos roha degan nama Iblis kalian memohon Kekayaan, Kesohoran, Berketurunan di dalam nama dari si Mulajadinabolon ? Ketahuilah inilah yang di katakan Menyembah, menuruti Iblis, menyembah/memberhalakan Debata dari sileban (allah asing), Debata dari ompunta sijolo-jolo tubu si Mulajadinabolon. Mari kita coba mengingat Amang, Inang pada saat memegang tepi Talam, dengan jujurlah dulu kita, bahwa yang bersepakat memohon berkat Kekayaan, Kesohoran dan Berketurunan dengan ulos, dengke yang harus ganjil hitungannya berikut boras sipir ni Tondi? Seperti ini dikatakan dari pihak Parboru memberi berkat kepada Menantu beserta Borunya:
    ”Dangka ni arirang ma na peak di tonga ni onan, badan muna ma na so ra sirang, tondi muna ma marsigonggoman”. ”Tangki ma jala ualang, galinggang jala garege, sai tubu ma di hamu angka anak partahi, jala ulu balang dohot angka boru par mas jala pareme”. ”Eme sitamba tua parlinggoman ni siborok, ompunta debata do silehon tua, sai horas ma hamu di parorot”. ”Sahat-sahat ni solu sahat ma tu Tigaras, sahat ma hamu leleng mangolu, sahat gabe jala horas”. Inilah kata-kata pemberkatan karena menyembah kepada ompu debata Mulajadinabolon ! Harus bagaimana yang dikatakan Menyembah berikut menuruti Iblis ? Sangat jelas kita ketahui bahwa bukan meminta/memohon kepada Yesus Kristus seperti ini, sangat berlawanan kepada Ajaran Yesus Kristus berikut yang tertulis di dalam Bible. Kepada si Mulajadinabolon itu permintaan maupun permohonan itulah debata yang mirip Siborok. Harus bagaimana lagi supaya di katakan Menyembah kepada Debata sileban, Amang, Inang ? Harus bagaimana lagi ? Inilah yang menuruti Perintah dari si Mulajadinabolon. Inilah Menyembah kepada hula-hula ! Inilah Menyembah kepada si Bataraguru yang mewakilkan dari raja dari hula-hula ! Hula-hula debata yang kelihatan, hula-hula sumber dari segala Berkat. Inilah Yesus Kristus Tuhan Abarham Isak dan Yakub jangan lagi marjogal roha hamu ai Barita Halalasniroha Godang do hupatolhas tu hamu di bagasan tingki on Amang, Inang jala tung gomos tiop hamu tumpal muna asa unang di diharat babi, jadi di dalam hal mengikut Yesus Kristus tidak bisa main-main harus serius, harus sungguh-sungguh, harus memikul salib yang berarti harus menyangkal diri membuang kehendak kedagingan inilah yang dimaksud penyerahan secara totalitas.

    Ir. Saut Simanjuntak.

    Masih bersambung,

  13. Tanggapan Rianto Silitonga:

    Kepada Yth
    seluruh pembaca yg budiman

    Menanggapi pernyataan atau tulisa dari saudara Ir Saut Simanjuntak.
    Anda sebaiknya jangan menilai suatu pokok permasalahan dari satu sudut pandang dan menggunakan dasar penilaian yg emosional, karena jika anda melakukan hal tsb maka saya ragu akan implementasi anda tentang alkitab, karena kemungkinan besar anda juga mempelajari alkitab hanya dari satu sudut pandang saja, sedangkan didalam mempelajari alkitab, kita harus punya pola pikir ya itu: Horizontal dan Vertikal, tentu tanpa saya jelaskan anda pasti mengerti apa maksud saya di dalam perktaan Horizontal dan Vertikal.
    Sebaiknya anda jangan pernah mengatakan kalau adat Batak sangat bertentangan dengan Alkitab, tetapi kalau anda bilang ada beberapa hal didalam adat Batak yg bertentangan dengan alkitab ada benarnnya, sebagai contoh manaikhon saring2 atau pembuatan tugu karena inti dari kita mengenal Tuhan dengan mempelajari alkitab adalah KASIH. Jadi apapun yang kita lakukan didalam meng implementasikan ajaran alkitab adalah bermuara pada kasih.
    Nah didalam kehidupan orang Batak pun dalam hal ini kegiatan adat itu sangat tidak bertentangan apa Bila itu semua didasari dengan kasih yg kita pelajari dari alkitab.
    Oleh sebab itu marilah kita melakukan kegiatan adat Batak dengan berlandaskan Kasih dan tidak berlandaskan azas manfaat dan pamor serta title, kalaupun ada orang melamar salah satu boru Batak lalu ditolak dengan alasan tuhor ni Boru yg kurang itu bukan adat nya yg salah melainkan individu, jadi tolong siapapun pembaca yg ikiut dalam forum ini untuk menilai sesutu berdasarkan kasih sebagai anda orang yg terpelajar didalam alkitab tentu dengan tidak menghakimi KARENA UKURAN YA ANDA PAKAI DIDALAM MENGHAKIMI AKAN DIPAKAI OLEH TUHAN UNTUK MENGUKUR DIRI ANDA SENDIRI.

    HORAS

  14. Tanggapan amin:

    tanggapan rianto silitonga aku setuju.
    kepada saudara yang pembaca
    menanggapi bahasan saudara Ir.simajuntak.kalau saudara lihat yang di pulau jawa sana.yang bernama MAHRIJAN yang menghentikan gunung merapi biar tidak meletus.yang mengadakan sesajen dibawah gunung merapi tersebut,apakah itu salah atau mahrijan yang salah mengikuti agamanya,tapi menurut pembahasan anda yang diatas mengadakan sesajen atau mengadakan tradisi itu salah.jadi kalau itu salah kenapa permintaanya dikabulkan TUHANnya.apakah itu diminta melalui Yesus kristus malahan dia berdoa dengan bahasa Arab dan bahasa jawa kuno. bahkan salut seluruh indonesia melihat dia.tapi percayalah diseluruh dunia ini beranekaragam Agama dan kepercayaan terhadap TUHAN.sesat atau tidak sesat agama dan kepercayaan yang dianut manusia di dunia ini, itu bukan urusan anda (Ir.simanjutak) tapi itu urusannya masing-masing terhadap TUHANnya.binalah diri anda menurut agama anda sendiri.

    HORAS

  15. Tanggapan Maridup Hutauruk:

    Terimakasih kepada Silaban Brotherhood cq. Saudara Charly Silaban bahwa forum yang dibina semakin banyak pengunjungnya dan tentu saja diharapkan sangat berguna bagi masyarakat Bangsa Batak. I should say SALUTE to you, brother!

    Mohon diberi saya sedikit ruang yang agak leluasa untuk menanggapi beberapa pemikiran kawan-kawan yang tentu saja ada memberi perhatian terhadap isi dari situs ini, terlepas apakah itu positif atau negative terhadap keberadaan Bangsa Batak ditinjau dari berbagai aspek kehidupan sebagai manusia yang beradab.

    Saya terlahir asli dari keluarga Batak yang sangat sederhana, terlahirkan diluar kawasan tanah leluhur Bangsa Batak, namun dibesarkan dalam suasana keluarga Batak diluar Bonapasogit, dengan disiplin norma sosial ketat dalam nuansa kehidupan Batak walaupun tidak berbahasa pengantar ‘Hata Batak’. Suasana rumah yang banyak penghuni banyak anak dan berdampingan dengan gereja, membuat semasa kecil terdidik dalam pusaran keagamaan yang kental dengan norma-norma Kristen yang super ketat, selain orang tua sebagai sintua dan sampai menjadi guru jemaat yang secara terus menerus harus mencerminkan suasana surga yang dijanjikan disekolah minggu. Pengenalan akan Tuhan sejak usia pra-sekolah dengan wujud cerita surga dan indoktrinasi wajah Yesus brewokan yang terpampang di kalender selalu membawa kesejukan sepanjang pergulatan kehidupan selanjutnya. Kehidupan selanjutnya yang mandiri dalam segala hal, dalam ikatan tatanan bermasyarakat yang terikat dengan norma pergaulan, norma pendidikan, norma kekeluargaan, norma masyarakat majemuk, norma budaya majemuk, norma-norma berbagai bidang keilmuan, norma-norma kemasyarakatan antar bangsa, sampai ke norma keagamaan, membawa diri menelusuri jati-diri mencari identitas sebagai suatu noktah di alam raya semesta. INTI PERJALANAN PANJANG INI ADALAH BATAK SEBAGAI BANGSA YANG UNGGUL DALAM BANYAK HAL.

    Kembali ke forum SB bahwa saya memberi apresiasi kepada saudara Drs.Brisman Silaban MSi yang tentu menambah wawasan pengunjung mengenai satu sisi kehidupan masyarakat Bangsa Batak. Para penanggap banyak juga yang berpola pikir positip untuk membangun kembali tatanan kemasyarakatan Bangsa Batak, namun beberapa diantaranya membuat asumsi pemikiran yang kontradiktif dengan makna ‘Habatakon’ yang terkesan menyemburkan nafas agama yang berbusa-busa dan meniti buih menyeberangi lautan untuk mengumandangkan sesuatu yang mujizat, tanpa menyadari bahwa hal-hal mujizat tersebut selalu mengabaikan faktor waktu ada bekerja didalamnya. Ibarat seorang insinyur yang menghidupkan api dengan sebuah mancis ditengah-tengah suku pedalaman di Irian Jaya yang berbudaya zaman batu tentu saja si insinyur melakukan suatu mujuzat oleh karena suku tersebut sangat bersusah payah menyalakan api dari gesekan kayu atau batu, tetapi mereka tidak akan memahami perjalanan panjang proses terciptanya mancis tersebut. Demikianlah yang akan saya sebutkan kepada sahabat saya (kalau bersedia saya sebut sahabat) penanggap bernama Ir.Saut Simanjuntak, Sijurnal, BD.Tambunan. Saya pribadi masih beri salute kepada cirri-ciri nama seperti Saut Simanjuntak dan BD Tambunan yang berani memakai cirri-ciri tersebut, sementara Sijurnal tentu masih disangsikan apakah tanggapannya hasil buah pikiran yang berjudul ‘Kurang Ajar-1 dan Kurang Ajar-2’.

    Saya mau memulai dari buah pikir Ir. Saut Simanjuntak dalam doa-nya yang sudah tentu menurut dia sudah didengar oleh Tuhan-nya. Secara kontekstual Tuhan Yesus bukanlah Tuhannya si Abraham atau si Isak atau si Yakub. Sebutan ‘Amang’ atau ‘Amang Pardenggan Basa’ sebutan untuk Tuhan bukanlah sebutan untuk ajaran yang dibawakan oleh Nomensen, yang lazim adalah sebutan ‘Amanta Debata, atau Debata Ama’. Mengapa harus dicela sebutan Ompu atau Ompung Mulajadi Nabolon? Kalau anda mau mengatakan sesukanya maka Yesus akan anda katakan Alpha & Omega, tetapi sejarah alkitab Perjanjian Lama tidak menulis demikian walaupun Perjanjian Baru mengasumsikan itu. Anda menyebut-nyebut namargoar sebagai suatu kenajisan yang menistakan tatanan adat-istiadat ‘Habatakon’, maka coba anda cermat dengan seksama di Alkitab yang anda punya. Namargoar ada dalam Alkitab yang anda pegang dan perhatikanlah pada Keluaran.29. Secara umum istilah pasahathon ‘Sipanganon / Tudu-tudu Sipanganon’ adalah ritual adat istiadat Habatakon yang juga berlaku di catatan agama anda. Dalam hal ‘Ikan mas’ memang bukan habitatnya di daerah dimana Alkitab bercerita, demikian pula sebaliknya bahwa tepung, gandum, roti tak beragi kan tak ada itu di Bonapasogit sana. Pinahan lobu adalah binatang ternak Bangsa Batak dan tak ada dikenal yang namanya biru-biru dijaman dahulu. Untuk jelasnya mengenai ‘namargoar’ baca saja (Imamat pasal-1 s/d pasal-7), Kej.8:20, Kej.15:9-11, Kej.18:1-8, dan banyak lagi. Kalau anda masih berdalih maka bacalah yang langsung keluar dari perkataan Yesus sendiri (Mat.5:17-20). Kata-kata yang mencerminkan ajaran agama anda itu sudah melukai hati nurani yang dalam (empati) dari budaya Bangsa Batak, dengan perkataan yang menyebut Sang Pencipta Alam Semesta sebagai ‘pencuri ulung dan pemusnah’, untaian kata-kata indah dalam prosesi adat anda sebut sebagai ‘jampi-jampi’ sementara doamu tampa sadar sudah memperbudak Tuhanmu yang meminta semuanya seolah Dia babumu yang harus memenuhi keinginanmu, padahal kamu hanyalah satu diantara 7 miliar manusia. Coba dihitung probability doa anda itu ? Untuk tanggapan tuan Ir. Saut Simanjuntak yang kedua tentu lebih berbusabusa dan buih-buih titiannya.

    Mohon maaf kepada pengunjung, ruang anda saya pakai sedikit lagi tetapi untungnya saya memahami gejolak roh dari tuan Ir. Saut Simanjuntak bersumber dari buku suci yang dijimatkan sehingga saya harus meminjam bahasa Yohanes.21:25.

    Saya mau memulai lagi dari buah pikiran Sijurnal sipengarang Kurang Ajar.1 dan Kurang Ajar.2. Melihat namanya sekilas dia ini bukan bercirikan Batak, tetapi dari kata-katanya dalam Kurang Ajar.2 beruntai dalam kata-kata bahasa Batak, tentu dia ini salah satu dari manusia Bangsa Batak. Sijurnal: Kurang Ajar.1 bercerita meminang seorang boru Batak calon pendeta tentu dia seorang yang taat pada agamanya, dan tentu dia juga seorang Kristen yang mempunyai kitab suci bernama Alkitab. Usianya pun sekarang lebih kurang 40 tahun. Dia membawa satu kisahnya yang dilematis untuk meniadakan ‘Habatakon’, artinya ego-pribadinya berupaya untuk menghapuskan satu budaya bangsa bangsa Batak, padahal kisahnya ini ada di Kej.29 s/d Kej.31, tentu ini akan mencerahkan Sijurnal: Kurang Ajar.1 dan Kurang Ajar.2

    Saya mau memulai lagi dari buah pikiran BD Tambunan. Merunut uraian yang panjang itu terlintas cakupan wawasan yang luas dari berbagai bidang keilmuan dan kejanggalan muncul disana sini bahwa tanggapannya adalah cuplikan-cuplikan utuh dari orang lain, bahkan sampai ngelantur ke bukan topic yang harus ditanggapi, melainkan nyelonong ke mana-mana diluar topik ‘Pergeseran Adat Batak Toba’, maka ketahuanlah bahwa tuan BD Tambunan bukanlah menanggapi konteks tulisan secara keseluruhan melainkan bagaikan oknum polisi dikejauhan balik lampu merah yang mengintip kesalahan orang lain berdasarkan aturannya sendiri.

    Sekali lagi mohon maaf atas pemakaian ruang yang besar ini, akan tetapi forum ini semakin bermanfaat melihat kerapuhan & keutuhan di masyarakat Bangsa Batak untuk bahan kajian berbagai keilmuan. Kesimpulannya: Bahwa Ir. Saut Simanjuntak dan BD Tambunan mungkin satu aliran membawa pesan tentang Lucifer yang terlahir di tengah masyarakat Bangsa Batak yang hanya dikenal pada episode akhir dari pengenalannya yang secara ajaib dan penuh mujizat menggugat berdasarkan kebenaran semu. Bahwa Sijurnal: Kurang Ajar.1 dan Kurang Ajar.2 berontak akibat ketidak berdayaannya yang keluar dari habitat dan berusaha menganulir kenyataan atau realita hidup. Bahwa manusia Bangsa Batak sudah sempat jauh terputus dari rantai tatanan budaya sehingga banyak yang tak mampu lagi mencari jati-diri, akibat buku ‘Fairy Tale’ secara mujizat diganti dengan ‘Text Book’. Siapa yang salah? Agama yang dibawa Paderi? Agama yang dibawa Nomensen? Penjajahan Belanda & Jepang? Kemerdekaan sepihak? Fulus? Jawabnya perjalanan waktu akan menentukan, dan bukan mujizat.

  16. Tanggapan Charly Silaban:

    Wah makin menghangat aja diskusi seputar pergeseran adat batak ini (apalagi topik agama sudah dimainkan juga disini). Terimakasih atas tanggapan-tanggapan yang masuk khususnya untuk Ir. Saut Simanjuntak atas polemiknya dan Rianto Silitonga, Amin, Maridup Hutauruk yang memberi sanggahan yang sungguh mencerahkan.

    Silahkan pembaca lain memberikan tanggapan :)

  17. Tanggapan lenny manalu:

    horas…
    pengalaman pribadi, dulu pernah ga jadi menikah karena terjebak dalam sandiwara - sandiwara adat ( plis… i don’t wanna tell, what exactly the problem )
    So,,, sebegitu pentingkah lagi sandiwara adat dimaksud??
    bukan tidak mau meninggalkan adat, adat batak adalah identitas kita bagi orang batak.
    TETAPI,, jgn lah karena adat kita jadi terjebak untuk bersikap.
    Takut dikatakan tidak beradat???
    Harusnya kita lebih takut, dikatakan tidak beragama.
    Mauliate

  18. Tanggapan Eddy Silaban:

    Menurut saya (tolong dikoreksi kalau salah), adalah apa yang dikatakan semuanya (Ir. Saut, Rianto,Amin,Maridup serta lenny) adalah benar. Jadi kita harus menyikapi kalau adat memang menyimpang dari firman Tuhan harus benar-benar dihilangkan seperti misalnya membuat tugu, berbicara dengan arwah orang meninggal,dll karena itu semua mendukakan Tuhan.Karena kita dibenarkan bukan karena kita melakukan adat (pada saat penghakiman)namun apakah hidup kita sudah sesuai dengan kehendak Bapa di surga atau tidak.Namun disatu sisi ada adat yang bisa terus dipertahankan misalnya saja pengiburan (mangapuli) kalau ada keluarga yang meninggal sebagai bentuk perhatian kita sesuai dengan salah satu wujud kasih.

  19. Tanggapan Riris Panggabean:

    Ikutan ya..: Mebaca tulisan Ir.Saut dan tanggapan yang ada, saya cuma mau bilang semua itu bagus, punya dasar pemikiran sendiri2 dan itu semua proses pembelajaran dalam hidup. Saya sendiri sebagai boru keturunan Batak yang lahir dan besar dirantau berpegang teguh untuk tidak menduakan Tuhan karena saya kristen (prinsip hubungan vertikal antara saya dan Tuhan saya), namun saya juga mengikuti adat istiadat Batak dalam menjaga keselarasan hubungan keluarga (prinsip hubungan horizontal dalam kekerabatan)sebagai mahluk sosial. Baca juga Matius 22:15-22. Horas ma dihita sude

  20. Tanggapan JERRYS R SILITONGA:

    Menurut hemat saya generasi muda batak sekarang hanya tau mengkritisi adat batak tanpa pernah mau menjadi pelaku adat batak itu sendiri. Saya rasa bagi lae-lae dan ito-ito jadilah pelaku adat dulu baru kasih masukan atau kritik. Jangan jadi orang yang sedikit tau tapi banyak komentar. Kita harus jujur bahwa Etnis Batak itu besar justru karena kita mau melestarikan adat. Kalau anda mau ikut silahkan tidak juga nauli. Hidup iut adalah pilihan.
    Songoni ma jo sin ahu.

  21. Tanggapan chandra christian samosir:

    sangat bagus sekali artikel ini tapi saya ingin mau tanya tarombo marga ku samosir tapi aku cari-cari di mana2 nak ada neeh tolong dong di tampilkan dan dikirim ke email aku. tolong ya terima kasih dan HORAS TUHAN YESUS MEMBERKATI KITA dan doa BUNDA MARIA SELALU MENYERTAI KITA

  22. Tanggapan chandra christian samosir:

    HIDUP ORANG2 BATAK
    aku sebagai generasi muda orang batak sangat menjunjung tinggi adat batak yang ada tapi di zaman sekarang banyak sekali orang2 yANG KURAang mengerti partuturonnya baik itu orang yang sudah tua sekalipun oleh karena itu aku mohon agar orang batak harus menjunjung tinggi. dan satu lagi kita sebagai orang batak jangan selalu sombong dong. kita buktikan kepada dunia kalau orang batak tidak hanya kental dalam adatnya tapi didalam tingkah lakunya sehari-hari. Dan HARUS MENGERTI PARTUTURON
    aku bisrpun massih berumur 17 tahun. aku sekarang masih duduk di SMA SANTO YOSEF PANGKALPINANG tapi aku kecewa melihat orang2 batak sekarang ini kurang mengerti partuturon.
    terimakasih tuhan memberkati

  23. Tanggapan MONANG TOBING:

    amang oi amang… hancit nai dihilala angka natua-tuanta naparjolo, nunga loja halak i mambahen aturan dohot partuturan asa renta jala uli idaon hangoluan ni halak batak i. alai gabe ta parsoada mai nuaeng..:(

    Boti do angka amang dohot hamu inang, disada-sada tingki porlu do hita mangarunuti sejarah sebelum mambahen kesimpulan hita. siala naso ditanda halak batak do pe kristen, adong do kepercayaan nasida ttg pencipta, ima debata mula jadi nabolon i. ai molo pe asing i sian debata, ala na so adong do paboahon i tu nasida. jadi ise do nasala disi? TUHAN ALLAH & YESUS KRISTUS KAH???

    alai dung ro ma oppu i Nommensen, dipatikkos ma “persepsi” debata mula jadi nabolon i gabe TUHAN ALLAH PENCIPTA LANGIT & BUMI. udut tu si muse, pele-pelean di acara adat batak i nga gabe pele-pelean tu DEBATA JAHOWA be, dang be tu debata mula jadi nabolon!

    jadi sonari di hamu amang dohot inang, nunga malo-malo be hamu, nunga sarjana, “tukang insinyur”, master dohot naasing nai, hamu ma antong nalao patigorhon dohot patikkoshon acara-acara adat i, dang gabe manadingkon! ai dang ture dibereng hamu, adong angka dakdanak na malo martutur? kan sian adat do haroro ni i? APALAH ARTINYA SEKARUNG GARAM KAMU TUMPAHKAN DI LAUT SANA? TIDAK AKAN MENGUBAH RASA AIR LAUT ITU KAN?

    molo mengincahi (mengejek) do cara muna laho paturehon, hamu pe dang tikkos. songon na disogohon roha ni Tuhan i do tong hape hamu, holan na MENGHAKIMI do diboto hamu.

    HORAS, HORAS, HORAS . . .

  24. Tanggapan Ir.Royanto Purba:

    Begini sajalah amang Simanjuntak. Kelihatan anda orang rohaniawan. Sebagaimana Johannes 14:14, dengan kerendahan hati saya mohon amang berdoa kepada Bapa Roh Kudus, tanyakan pada Bapa kita “Siapa Royanto Purba dan Manogar Siagian” dan jangan bernah berbohong mengenai jawaban Bapa Roh Kudus di hati anda, bisa saja DIA menjawab dengan mimpi atau penglihatan.
    Setelah amang diberi jawaban barulah saya mohon kepada Bapa Kita itu agar diberi waktu bertemu dengan anda, saya bukan menghakimi, anda termasuk salah satu domba yang tersesat. Kiranya Bapa Roh Kudus, Tuhan atas segalaTuan, Raja segala Raja, yang orang menyebutnya Yesus melimpahkan hikmatnya pada anda saudaraku, dalam nama Yesus dan oleh kehendak Bapa Roh Kudus, Halleluya Amin

  25. Tanggapan stewerd:

    salam, saya mau tanya apa bisa teman saya (non batak )yang kristen menikah dengan wanita yang kristen (batak) tanpa menggunakan acara adat?.thx

  26. Tanggapan Charly Silaban:

    @stewerd
    Apa yang bikin ngga bisa ? Ya bisalah..
    Lakukan saja pernikahan secara gerejawi seperti biasa.
    Hanya saja, teman Anda yang Batak, mempunyai utang Adat dengan para kerabat / saudara-nya yang lain. Yang mana jika adat ini tidak dilakukan (pemberkatan pernikahan secara adat) maka akan terjadi kerenggangan dalam hubungan kekeluargaan dan akan terus berlanjut sampai dengan keturunannya karena dianggap tidak mampu memenuhi kewajibannya sebagai orang batak pada umumnya (dang maradat).

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.






Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel sebelumnya :
   » » Pusat Pasar Terbakar, 30 Kios Dan 2 Balairung Musnah

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel selanjutnya :
   » » Danrem 023-KS Lepas 285 Siswa SMA Negeri I Matauli Angkatan X