Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Minggu
4
Jun '06

Tapak Jejak Pelukis Besar Raden Saleh


Berbicara mengenai Kota Bogor dan sejarahnya, akan terasa kurang lengkap, apabila tidak membicarakan tentang Raden Saleh, seorang pelukis besar Indonesia, Sebab, di Kota ini awal karirnya, berangkat dan disini pula tempat peristirahatan yang terakhir.

Bila kita berjalan menyusuri jalan Pahlawan, tepatnya di Bondongan yang jaraknya sekitar 2 km dari pusat Kota Bogor, 50 meter dari tepi jalan raya, akan kita temui sebuah makam sederhana Itulah makam Raden Saleh pelukis terkenal Indonesia.

Raden Saleh lahir tahun 1807 di Terboyo, dekat Semarang dari keturunan Keluarga Bupati terkenal dan salah seorang nenek moyangnya mungkin berasal dari Arab seperti ditunjukkan oleh gelar Syarief yang tertera dalam nama lengkapnya : Raden Saleh Syarief Bustaman. Sebagian besar masa anak–anaknya di bawah asuhan pamannya, Raden Adipati Sosrohadimenggolo, Bupati Terboyo, Semarang. Ayahnya ialah Sayid Husen Bin Alwi Bin Awal dan Ibunya Raden Ayu Sarif Husen Bin Alwi Bin Awal.

Tahun 1807 ketika ia berusia 7 tahun, Saleh mulai dididik menjadi calon pegawai Belanda di Cianjur, di rumah R. Baron der Capellen salah seorang dari pelukis–pelukis Badan Penyidik Pengetahuan dan Kesenian, A.A.J. Payen sangat tertarik kepada bakat Raden Saleh menggambar.

Payen adalah pelukis Belgia yang ditugaskan melukis alam dan pemandangan di Hindia Belanda.Ia juga adalah guru Raden Saleh yang pertama dalam menggambar dan melukis. Pada tahun 1826, mulailah ia mendapat pelajaran menggambar. Ia diperkenankan mengikuti perjalanan Payen bersama Prof Casper Reinwardt. Dalam perjalanan penelitian ke pelosok – pelosok di Jawa, Saleh melihat bagaimana Payen menggambar bermacam – macam tumbuhan tropis dan pemandangan alam, untuk kepentingan penelitian dan hiasan Kantor Pemerintah Belanda. Dari Payen lah untuk pertama kali Saleh melukis cara Barat dalam bentuk easel–painting. Selain itu Payen pulalah yang membawanya dalam perjalanan melukis di Pulau Jawa.

Memerhatikan kemajuan yang dicapai Raden Saleh, Payen menganjurkan agar ia diberi kesempatan memperoleh beasiswa untuk belajar di Eropa , suatu hal yang sangat luar biasa pada saat itu. Kesempatan untuk itu tiba , ketika Inspektur Keuangan Belanda de Lirge harus berangkat ke Negeri Belanda dan memerlukan seorang pengiring, yang sanggup mengajar Bahasa Melayu, Jawa dan Pengetahuan lain tentang Kebudayaan Jawa.

Tahun 1829, Raden Saleh berangkat bersama de Lirge ke Negeri Belanda. Tugas yang semula di perhitungkan akan memakan waktu yang singkat, tidak dikira berahir dengan permukiman Raden Saleh selama 20 tahun mengembara di Belanda dan beberapa Negara lain di Eropa.

Masa – masa Raden Saleh di Eropa

Setelah menjalankan tugas, de Lange kembali ke Hindia Belanda tanpa keikut sertaan Raden Saleh. Melalui perantara Payen pula, dan atas permohonannya kepada Pemerintah Belanda, Raden Saleh tinggal beberapa waktu di negeri itu, ia diperkenankan belajar selama 2 tahun, seluruh biaya hidup ditanggung oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Kesempatan memperoleh beasiswa tersebut digunakan untuk belajar melukis pada pelukis Potret Cornelius Kruseman di Den Haag dan pada Andreas Schelfhout seorang pelukis pemandangan.Ketika jangka waktu belajarnya berakhir, ia menolak kembali ke Hindia Belanda untuk dipekerjakan pada Sekretariat Negara di Bogor. Akhirnya ia memutuskan untuk melakukan perjalanan dengan tujuan menambah pengetahuan, dan ia hidup dari tunjangan para maesenas yang tertarik kepada lukisannya. Dengan cara demikian , ia pergi ke Jerman dan menetap kurang lebih 4 tahun di Dresden. Di Dresden ia hidup dengan segala kemewahan Sachsen – Coburg dan Coburg Gotha.

Selama di Dresden, ia banyak melukis antara lain: melukis potret Hertog dari Kent dan istrinya, ialah Ibu dari Ratu Victoria. Tahun 1845, Raden Saleh meninggalkan Dresden, menuju Negeri Belanda dan dari sini lewat Antwerpen, Brussel menuju ke Paris, Perancis.

Di Paris, Ibukota Perancis yang dikenal sebagai pusat budaya Eropa, Raden Saleh berkenalan dengan para seniman ternama pada masa itu. Antara lain ia berkenalan dengan Horace Vernet, seorang pelukis peristiwa-peristiwa bersejarah dan potret-potret Jenderal terkemuka. Namun, Raden Saleh lebih tertarik melukis kehidupan binatang-bintang buas, kuda dan hewan-hewan lain dengan penuh drama dan aksi.

Meskipun Raden Saleh banyak bergaul dengan Vernet (1759–1857), ia lebih cenderung mempelajari lukisan-lukisan pelukis aliran romantis. Sesudah mengembara sekitar 20 tahun di Eropa, tahun 1851, Raden Saleh kembali ke tanah air. Ia menetap di Batavia di sebuah rumah bergaya gothic, di tepi kali Ciliwung, sekitar daerah Cikini. Rumah yang indah dengan gaya barat tersebut dirancang oleh Raden Saleh sendiri.

Antara tahun 1875 – 1879, ditemani oleh istri keduanya, seorang bangsawan Keraton, Raden Ayu Danudirejo, ia pergi ke Amsterdam, Sachen, Firenze, Napoli, Genova, Bent, Baden- Baden Coburg dan akhirnya ke Paris.

Raden Saleh kembali ke tanah air tahun 1879 dan wafat setahun kemudian (1880), tepatnya pada tanggal 23 April 1880,di Buitenzorg, di sebuah desa di belakang Hotel Bellevue. Pada nisannya yang sederhana, terdapat tulisannya berbunyi
Raden Saleh
Djoeroe gambar dari Sri Padoeka Kanjeng Raja Walanda, Ridder der Ode
vande Eikenroon, Comendeur met de ster der Franz Joseph Orde, Ridder
der kroon Orde Van Prulsen, Ridder van de Witten Valko
Meninggal di Bogor, 23 April 1880.

Tempat bersemayam terakhir Raden Saleh Syarief Bustaman adalah sebuah pemakaman di tengah pemukiman penduduk biasa, di tepi rel kereta api Bogor – Sukabumi. Makam itu pada tahun 1957 di renovasi oleh arsitek Bogor kelahiran, Bonandolok, Tapanuli, Friedrich Silaban atas prakarsa Presiden Republik Indonesia pertama: Ir. Soekarno.

Catatan terakhir tentang Raden Saleh.

Raden Saleh adalah salah satu bukti pertama yang menarik mengenai pesona barat. Ia adalah pelukis pertama Indonesia yang memiliki pendidikan, pengalaman dan nama yang oleh pemerintah Belanda benar-benar diakui. Dari beberapa raja-raja yang berkuasa di Eropa, ia mendapat anugerah bintang-bintang kehormatan.

Ia diminta untuk memegang jabatan pada kumpulan koleksi benda-benda seni. Sebagai konservator dan karena ketika itu di Hindia Belanda tidak ada seorang pun pelukis yang memiliki pendidikan senilukis yang teratur, seperti Raden Saleh. Ia pun diminta untuk mengadakan perbaikan-perbaikan pada potret-potret para Gubernur Jendral yang pernah memerintah di Hindia Belanda. Yang ketika itu termasuk koleksi benda-benda seni pemerintah Belanda.

Walaupun mendapat berbagai anugerah dan menyatu dalam masyarakat Eropa di Hindia Belanda yang melihatnya sebagai contoh Akulturasi yang betul-betul berhasil. Ia adalah anggota kehormatan masyarakat ilmiah Batavia dan anggota Racing Club Buitenzorg.

Tahun 1969 pemerintah, melalui menteri Departemen Pendidikan dan Kebudayaan memberikan piagam Anugerah Seni kepada Raden Saleh, yang dititipkan kepada Ir. Achmad Priyono sebagai salah seorang anggota keturunan Raden Saleh. Bagaimanapun, kini beliau dikenal sebagai Bapak seni lukis di Indonesia modern dan pada Pameran Besar Agustus 1976, ketika di Jakarta untuk pertama kali di pamerkan sebagian koleksi lukisan mantan Presiden Soekarno, lukisannya yang berjudul “Perkelahian dengan Singa “ menduduki tempat kehormatan. Lukisan tersebut berformat besar (3,09 X 2,31) dibuat pada tahun 1870, kini menjadi koleksi istana Presiden, reproduksi lukisan ini pernah dijadikan sampul katalog pameran se-abad seni rupa Indonesia, 1876 – 1976, Balai Seni Rupa, Jakarta.

Sumber : (Iyan - Rachmat Iskandar/Gentra Madani)  via Sipatahunan


Baru ada 1 tanggapan untuk artikel “Tapak Jejak Pelukis Besar Raden Saleh”

  1. Tanggapan Amos A. Garang:

    Seandainya, semua hasil karya lukisan Raden Saleh dipamerkan, mungkin secara wawasan karya seni kita bisa lebih kaya lagi.

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.