Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Selasa
23
Mei '06

Saotik Taringot Tu Umpama Dohot Umpasa


Oleh: Waldemar Simamora

Dalam upacara-upacara adat Batak, baik yang digelar di Bona Pasogit maupun di daerah perantauan (parserahan) umpama dan umpasa memegang peranan penting dalam komunikasi dua arah secara langsung yang oleh komunikan terutama raja parhata adalah sebagai alat bertutur kata yang merupakan pemegang kendali pembicaraan, bukti yang paling transparan dapat disimak pada waktu “marhata sinamot” (pembicaraan mengenai mahar) sebagai contoh.

Defenisi Umpama dan Umpasa
Sebelum kita uraikan defenisi umpama dan umpasa, mari kita ikuti dulu sejenak cara membaca kedua istilah ini. Umpama (baca:uppama) dan umpasa (baca:uppasa) sering kita temui cara menulis dan mengucapkan kata dalam bahasa Batak mengalami perbedaan pada huruf tertentu, maka sejumlah perbedaan itu dalam tulisan ini akan kita lengkapi dengan cara membacanya.


Kini kita bertolak terhadap defenisi umpama dan umpasa. T.M. Sihombing (Ompu Marhulalan) dalam bukunya berjudul: “Jambar Hata: Dongan Tu Ulaon Adat”, membuat defenisi: umpama dalam bahasa Indonesia disebut “pepatah”, sedangkan umpasa adalah “pantun”. Drs. Nalom Siahaan dalam buku karangannya yang diberi judul: “Adat Dalihan Natolu” Prinsip dan pelaksanaannya menguraikan pembagian umpama dalam bentuk yang pendek dan panjang. Contoh umpama yang pendek:
“Sisoli-soli do adat, siadapari gogo”.

Umpama yang panjang dibagi dua:
Pertama, bentuk “tudosan” (sampiran dalam bahasa Indonesia.)
Kedua, mengenai isi.

Contoh:
“Andor halumpang ma patogu-togu lombu,
sai nangnang ma i sarimatua sahat ro di na pairing-iring pahompu”.

Andor (baca:addor), halumpang (baca: haluppang), lombu (baca:lobbu) dan pahompu (baca: pahoppu.) Andor halumpang ma togu-togu lombu merupakan tudosan (sampiran), kalimat berikutnya adalah sai nangnang ma i sarimatua sahat ro di na pairing-iring pahompu merupakan isi umpama yang sesungguhnya. Uraian tentang umpasa tidak disinggung Nalom Siahaan dalam bukunya yang tergolong suatu karya ilmiah yang diuraikan secara populer.

Untuk melengkapi uraian kedua pakar yang disebut di atas, penulis mencoba membuat ulasan sebagai tambahan, kiranya dapat menjadi masukan terhadap pembaca terutama generasi muda.
-umpama dan umpasa sering mempunyai sampiran
-umpama dan umpasa dapat dibedakan berdasarkan isi
-umpama dapat dikatakan bersifat “statis”, sedangkan umpasa bersifat “dinamis”
-umpama merupakan kiasan (dari berbagai umpama sebagai besar menggunakan kata songon, artinya: seperti, ibarat, dan istilah lain yang sejenis.
-diantara sebagian umpasa berisi puisi yang memiliki makna yang dalam.

Kita simak beberapa umpama yang lazim dipergunakan dalam upacara-upacara adat. “Masiamin-aminan songon lampak ni gaol, masitungkol-tungkolan songon suhat di robean”. Lampak (baca:lappak), masitungkol-tungkolan (baca: masitukkol-tukkolan)

Arti aslinya ialah berlapis-lapis seperti kulit pisang, saling topang-menopang bagaikan keladi di lembah yang curam. Sikap kegotongroyongan yang ditunjukkan masyarakat suku Batak sejak tempo dulu hingga sekarang merupakan wujud nyata dari solidaritas. Hal ini berlaku prinsip “SI SOLI-SOLI DO ADAT, SIADAPARI GOGO”. Si soli-soli do adat memiliki arti setiap orang yang tergabung dalam satu unit gotong royong haruslah rajin berpartisipasi dalam upacara-upacara adat. Orang yang rajin berpartisipasi akan dibalas demikian jika pada suatu waktu mengadakan pesta adat di halaman kampung. Siadapari gogo (saling menyumbangkan tenaga) artinya jumlah hari bekerja misalnya di sawah atau ladang si A, si B dab si C adalah sama, maka masing-masing anggota pada gilirannya juga mempunyai hak yang sama menagih partisipasi sebagai peserta.

Siadapari pada masyarakat suku Batak yang penduduknya mayoritas bertempat tinggal di dua Kabupaten yaitu Tapanuli Utara dan Toba Samosir secara berangsur-angsur berkurang bahkan dewasa ini sudah jarang kedengaran atau mungkin sudah hilang sama sekali bagaikan debu yang diterpa hujan lebat dan sirna di pelbagai tempat di Tano Batak (ucapan populer di kalangan masyarakatnya untuk sebutan kabupaten yang disebut di atas) alasannya ialah sudah tersedia tenaga upahan atau dalam bahasa sastra lisan dikenal istilah “manggadis gogo”.

Makna lain yang dapat dipetik dari umpama yang dipaparkan bersama dalam arti yang luas, menaruh simpati dan memberi kemudahan-kemudahan. Intinya adalah jika terjadi kemalangan (duka), karena desa merupakan unit gotongroyong, maka para warga di halaman kampung dituntut untuk menunjukkan solidaritas, tidak menjadi soal apakah orang yang meninggal itu anak-anak atau sudah tergolong sarimatua. Sesungguhnya aktualisasi dari budaya Batak adalah sikap kegotongroyongan yang telah ditunjukkan oleh masyarakat Batak sejak tempo dulu hingga sekarang, meski dalam bentuk “marsiadapari” sudah jarang dilakukan, namun urgensi dari sikap dan perilaku gotong royong yang diperankan masyarakat Batak, sesungguhnya bukan hanya sekedar bentuk kegiatan yang berdimensi fisik semata, melainkan sikap dan perilaku yang tulus yang merupakan ungkapan atas kebersamaan untuk mewujudkan kehidupan ke taraf yang lebih baik.

INGKON SADA SONGON DAION AEK, UNANG MARDUA SONGON DAION TUAK. Makna dari umpama ini menuntut perlunya persatuan dan kesatuan dalam wujud nyata senasib dan sepenanggungan. Falsafah Batak yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari umpama yang disajikan di atas berbunyi: “Aek godang tu aek laut, dos ni roha sibahen na saut.” Pengambilan keputusan (decision making) dalam masyarakat adat Batak yang berkaitan dengan demokrasi (baca: budaya) dikenal dengan berbagai isitilah seperti: marria raja/tonggo raja dan istilah lain yang sejenis masih tetap dipelihara oleh suku Bangsa itu. “…….demokrasi asli Indonesia masih ditemui di marga-marga di Tapanuli, di mana musyawarah dan mufakat masih dilaksanakan dalam pengambilan keputusan sehari-hari rakyat desa.

Mereka masih membanggakan kerukunan masyarakat desa, dimana mereka masih mendahulukan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi dan sebagainya. (Kompas, 4/2/2000). Dalam kaitan dengan ini, masih banyak hal yang perlu disimak dalam pengambilan keputusan sehubungan dengan prinsip aek godang tu aek laut dos ni roha sibahen na saut, di antaranya: -hata mamunjung hata lalaen, hata torop sabungan ni hata. -sai jolo diseat hata, asa diseat raut.

Sumber : Waldemar Simamora, Bona Pasogit


Baru ada 1 tanggapan untuk artikel “Saotik Taringot Tu Umpama Dohot Umpasa”

  1. Tanggapan Frans Purba:

    Umpama ataupun umpasa- pepatah atau pantun -syair atau gurindam dsbnya yg menjadi kekayaan bangsa, karena pd umumnya semua suku -etnis di Indonesia memilikinya.Chususnya pd budaya -seni -bahasa Batak sebenarnya mengandung pendidikan budi pekerti yg sangat tinggi, yg dapat membentuk manusia yg berachlak tinggi.sudah sejak lama pendidikan budi pekerti yg seperti itu itu hilang dlm kurikulum sekolah - sehingga kita lihat kwalitas manusia sekarang tambah merosot. terbukti dari krisis bangsa yg berkepanjangan.Sudah waktunya pelajaran umum bahasa daerah( batak ) ( sesuai daerahnya)dikembalikan dimuat dlm kurikulum SD/SMP/- seperti di tahun2 50 an.

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Tjong A Fie dan Medan
Artikel selanjutnya :
   » » Fungsi dan Makna Umpasa dalam Tutur Bahasa Masyarakat Batak