Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Selasa
23
Mei '06

Fungsi dan Makna Umpasa dalam Tutur Bahasa Masyarakat Batak


Oleh: OP Sihombing (Alm) / Kedai Taruli Tarutung

Tangan do botohon ujungna jari-jari, laho manggurithon sidohonku, jumolo ma ahu marsantabi !. Demikian sebuah umpasa mengawali tulisan ini, yang disusul satu umpasa lainnya berbunyi : Ramba na poso naso tubuan lata, halak na poso dope ahu naso umboto hata. (Umpasa ini umumnya dinyatakan sebagai sikap merendah diri bagi seseorang berusia muda dalam suatu pembicaraan adat). Kedua umpasa sebagai bagian dari tutur bahasa ini mengisyaratkan, bahwa dalam percakapan yang beretika Batak hendaknya didahului dengan ucapan “maaf” atas kesilapan/kesalahan yang mungkin timbul dalam suatu pertemuan/percakapan adat, yang juga bertujuan sebagai suatu kebijaksanaan mengantisipasi terjadinya salah pengertian.

Terhadap orang yang sembrono, yang tidak memikirkan atau menimbang lebih dahulu apa yang hendak dikatakannya, atau mungkin salah ucap (kurang sopan),ada umpasa bernada teguran dari pihak pendengar, sbb:
1. Jolo ni dilat bibir, asa nidok hata (lebih dulu bibir dijilat, sebelum mengeluarkan perkataan).
2. Unang sai makkatai na so marhihihir. (jangan berbicara, yang giginya belum dikikir).
Tentang hal ini perlu dicatat: Dulunya orang yang belum dewasa, di anjurkan untuk mengikir giginya agar kelihatan rapi/bagus, dan hal seperti itu sepanjang pengetahuan masih terdapat di daerah Hurlang dan sekitar Pangaribuan.
Dalam kaitan tutur kata di masyarakat Batak, ada beberapa umpasa sebagai suatu cara untuk mendekatkan diri kepada sesama teman atau kepada “loloan” (kumpulan orang banyak), maupun perseorangan:
- Naribur ni rungguan di tonga-tongan ni onan, asa boi marsisukkunan ingkon masipandohan (untuk saling mengenal diri, harus terlebih dulu ada pendekatan melalui tegur sapa).
- Marhosa-hosa sunting, marsiusungan dompak dolok, ala ni lambok ni pakkuling na holang i gabe jonok (dengan tutur bahasa yang sopan dan teratur,suatu perkenalan/pertemuan terasa dekat/akrab).

Untuk mengawali sesuatu pembicaraan atau mengutarakan pendapat, orang Batak seharusnya memulai dengan tutur kata “Santabi”. Perkataan sedikit ini sangat besar pengaruhnya dalam suatu momen percakapan bukan saja dalam acara adat, bahkan juga dalam hidup sehari-hari. Misalnya disaat kita melintasi seseorang untuk mendahului di suatu tempat pertemuan, atau kalau kita berjalan di hadapan seseorang, wajar kita mengucapkan kata “santabi”. Bahkan pada suatu tempat dimana tempat itu dianggap keramat, sering terdengar ucapan: “santabi da oppung”. Dengan ucapan itu ada keyakinan roh yang menghuni tempat tersebut tidak merasa tersinggung, sehingga tidak mengganggu kita.

Norma-norma seperti itulah yang kini sudah hampir hilang dalam pergaulan masyarakat Batak, terutama di kalangan remaja. Namun kita tidak dapat menyalahkan kaum remaja saja.
Dalam perkembangan fisik seseorang, remaja berpola pikir bahwa mereka cukup pintar dan mampu mengarungi kehidupan ini. Maka sifat dan pola pikir demikian, tercermin dalam umpasa: “Tano so maganggang, langit so matombuk” (tanah tidak retak, langit tidak akan bocor). Makanya mereka tidak menganggap ada rintangan baginya dalam melakukan sesuatu. Tapi sebenarnya segala perilaku yang buruk dalam diri orang muda, tidaklah dibawa lahir. Peranan atau pengaruh orang tua sangat penting dalam pertumbuhan seorang anak, seraya mempelajari dari berbagai kasus yang pernah terjadi.

Sementara itu, ada ungkapan lainnya berbunyi: “Ndang dao tubis sian bonana, molo dao disarut-sarut babi” (tidak jauh rebung dari pangkalnya, bila jauh akan diserobot babi). Ungkapan ini mengisyaratkan, perilaku seorang bapak sangat berpengaruh pada si anak. Kalau seorang bapak suka main judi misalnya, perilaku tersebut bisa turun kepada si anak.

Tapi apabila seorang bapak orang baik, sedang anaknya berperilaku sebaliknya, dicerminkan dalam ungkapan “Mamukka tanduk”. Atau ada ungkapan mengatakan “Situnggik ninna dakdanak, sitokka nina na tua-tua”. Situnggik adalah pengertian untuk segala perbuatan dan perkataan yang tercela atau tingkah laku yang tidak baik.

Sangat disayangkan, bahwa akhir-akhir ini sudah makin jarang kaum orang tua yang mau menegor atau melarang orang muda yang berperilaku tidak becus, apalagi bila si orang muda tidak ada hubungan keluarga dengan si orang tua. Sehingga citra peradaan kita seolah-olah sudah sirna. Untuk itu peranan orang tua di zaman yang serba maju sekarang sangat penting untuk meluruskan langkah anak muda yang lari dari jalan yang benar.

(Catatan: Penulis O.P. Sihombing adalah seorang tokoh adat semasa hidupnya, beliau menulis catatan diatas tahun 1984, dan naskahnya diberikan anaknya Donal Sihombing kepada redaksi LBP./Olah bahasa: Leonardo TS)

Sumber : O.P. Sihombing, Bona Pasogit


Baru ada 1 tanggapan untuk artikel “Fungsi dan Makna Umpasa dalam Tutur Bahasa Masyarakat Batak”

  1. Tanggapan handoyo:

    teman saya panjaitan ulang tahun hari ini
    saya mau kirim email ngucapin selamat dalam kata kata bahasa batak,
    tolong saya diberitahu kata kata yg baik itu.

    makasih
    handoyo

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Saotik Taringot Tu Umpama Dohot Umpasa

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel selanjutnya :
   » » Dalihan Natolu Sumber Hukum Adat Batak