Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Selasa
23
Mei '06

Dalihan Natolu Sumber Hukum Adat Batak


Pengertian Dalihan Natolu secara letterlijk adalah satuan tungku tempat memasak yang terdiri dari tiga batu. Pada zamannya, kebiasaan masyarakat Batak memasak di atas tiga tumpukan batu, dengan bahan bakar kayu. Tiga tungku itu, dalam bahasa Batak disebut dalihan. Falsafah dalihan natolu paopat sihal-sihal dimaknakan sebagai kebersamaan yang cukup adil dalam kehidupan masyarakat Batak.

Tungku merupakan bagian peralatan rumah yang sangat vital. Karena menyangkut kebutuhan hidup anggota keluarga, digunakan untuk memasak makanan dan minuman yang terkait dengan kebutuhan untuk hidup. Dalam prakteknya, kalau memasak di atas dalihan natolu, kadang-kadang ada ketimpangan karena bentuk batu ataupun bentuk periuk. Untuk mensejajarkannya, digunakan benda lain untuk mengganjal. Dalam bahasa Batak, benda itu disebut Sihal-sihal. Apabila sudah pas letaknya, maka siap untuk memasak.
Ompunta naparjolo martungkot salagunde. Adat napinungka ni naparjolo sipaihut-ihut on ni na parpudi. Umpasa itu sangat relevan dengan falsafah dalihan natolu paopat sihal-sihal sebagai sumber hukum adat Batak.

Apakah yang disebut dengan dalihan natolu paopat sihal-sihal itu ? dari umpasa di atas, dapat disebutkan bahwa dalihan natolu itu diuraikan sebagai berikut :
Somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru.
Angka na so somba marhula-hula siraraonma gadongna, molo so Manat mardongan tubu, natajom ma adopanna, jala molo so elek marboru, andurabionma tarusanna.
Itulah tiga falsafah hukum adat Batak yang cukup adil yang akan menjadi pedoman dalam kehidupan sosial yang hidup dalam tatanan adat sejak lahir sampai meninggal dunia.

Somba marhula-hula
Hula-hula dalam adat Batak adalah keluarga laki-laki dari pihak istri atau ibu, yang lazim disebut tunggane oleh suami dan tulang oleh anak.
Dalam adat Batak yang paternalistik, yang melakukan peminangan adalah pihak lelaki. Sehingga apabila perempuan sering datang ke rumah laki-laki yang bukan saudaranya, disebut bagot tumandangi sige. (artinya, dalam budaya Batak tuak merupakan minuman khas. Tuak diambil dari pohon Bagot (enau). Sumber tuak di pohon Bagot berada pada mayang muda yang di agat. Untuk sampai di mayang diperlukan tangga bambu yang disebut Sige. Sige dibawa oleh orang yang mau mengambil tuak (maragat). Itulah sebabnya, Bagot tidak bisa bergerak, yang datang adalah sige. Sehingga, perempuan yang mendatangi rumah laki-laki dianggap menyalahi adat.

Pihak perempuan pantas dihormati, karena mau memberikan putrinya sebagai istri yang memberi keturunan kepada satu-satu marga. Penghormatan itu tidak hanya diberikan pada tingkat ibu, tetapi sampai kepada tingkat ompung dan seterusnya.
Hula-hula dalam adat Batak akan lebih kelihatan dalam upacara Saurmatua (meninggal setelah semua anak berkeluarga dan mempunyai cucu). Biasanya akan dipanggil satu-persatu, antara lain :
Bonaniari, Bonatulang, Tulangrorobot, Tulang, Tunggane, dengan sebutan hula-hula.
Disebutkan, Naso somba marhula-hula, siraraon ma gadong na. Gadong dalam masyarakat Batak dianggap salah satu makanan pokok pengganti nasi, khususnya sebagai sarapan pagi atau bekal/makan selingan waktu kerja (tugo).

Siraraon adalah kondisi ubi jalar (gadong) yang rasanya hambar. Seakan-akan busuk dan isisnya berair. Pernyataan itu mengandung makna, pihak yang tidak menghormati hula-hula akan menemui kesulitan mencari nafkah.

Dalam adat Batak, pihak borulah yang menghormati hula-hula. Di dalam satu wilayah yang dikuasai hula-hula, tanah adat selalu dikuasai oleh hula-hula. Sehingga boru yang tinggal di kampung hula-hulanya akan kesulitan mencari nafkah apabila tidak menghormati hula-hulanya. Misalnya, tanah adat tidak akan diberikan untuk diolah boru yang tidak menghormati hula-hula (baca elek marboru)

Dalam budaya Batak, ada umpasa Litok aek ditoruan, tujulu ni jalanan. Hal ini terjadi apabila dalam suatu keluarga terdapat penderitaan atau kesusahan hidup. Ada pemikiran, semasa hidup pendahulu dari generasi yang sengsara atau menderita itu ada sikap-sikap yang tidak menghormati hula-hula, sehingga pernyataan siraraon do gadongna dianggap menjadi bala dalam kehidupannya. Untuk menghilangkan bala itu, diadakanlah upacara adat mamboan sipanganon untuk memohon ampun apabila ada kesalahan-kesalahan generasi terdahulu kepada pihak hula-hula. Upacara mamboan sipanganon disampaikan kepada keturunan pihak hula-hula setaraf generasi terdahulu atau tingkat yang dianggap pernah terjadi kesalahan itu.

Dalam berbagai agama, ibu sangat diagungkan. Bahkan ada ungkapan sorga ada ditelapak kaki ibu. Dalam agama Kristen, hukum Taurat ke V menyebutkan, hormatilah ibu-bapamu agar lanjut usiamu, dst. Tidaklah bertentangan bila falsafah dalihan na tolu somba marhula-hula diterapkan. Karena kita menghormati keluarga ibu yang kita cintai itu. Dalam agama Kristen disebutkan, kalau menghormati orang tua, akan mendapat berkat dan lanjut usia.

Manat Mardongan Tubu
Dongan tubu dalam adat Batak adalah kelompok masyarakat dalam satu rumpun marga. Rumpun marga suku Batak mencapai ratusan marga induk. Silsilah marga-marga Batak hanya diisi oleh satu marga. Namun dalam perkembangannya, marga bisa memecah diri menurut peringkat yang dianggap perlu, walaupun dalam kegiatan adat menyatukan diri. Misalnya Si Raja GURU MANGALOKSA menjadi Hutabarat, Hutagalung, Panggabean, dan Hutatoruan (Tobing dan Hutapea). Atau Toga Sihombing yakni Lumbantoruan, Silaban, Nababan dan Hutasoit. Dongan Tubu dalam adat Batak selalu dimulai dari tingkat pelaksanaan adat bagi tuan rumah atau yang disebut Suhut. Kalau marga A mempunyai upacara adat, yang menjadi pelaksana dalam adat adalah seluruh marga A yang kalau ditarik silsilah ke bawah, belum saling kawin. Gambaran dongan tubu adalah sosok abang dan adik. Secara psikologis dalam kehidupan sehari-hari hubungan antara abang dan adik sangat erat. Namun satu saat hubungan itu akan renggang, bahkan dapat menimbulkan pertumpahan darah.

Angka naso manta mardongan tubu, na tajom ma adopanna. Ungkapan itu mengingatkan, na mardongan tubu (yang semarga) potensil pada suatu pertikaian. Pertikaian yang sering berakhir dengan adu fisik .
Dalam adat Batak, ada istilah panombol atau parhata yang menetapkan perwakilan suhut (tuan rumah) dalam adat yang dilaksanakan. Itulah sebabnya, untuk merencanakan suatu adat (pesta kawin atau kematian) namardongan tubu selalu membicarakannya terlebih dahulu. Hal itu berguna untuk menghindarkan kesalahan-kesalahan dalam pelaksanaan adat. Umumnya, Panombol atau parhata diambil setingkat di bawah dan/atau setingkat di atas marga yang bersangkutan.

Apabila dalam suatu adat Batak terdapat pelecehan atau sikap meremehkan teman semarganya, biasanya akan berakhir dengan perdebatan sengit bahkan pada perkelahian. Hal itu dapat dipahami, karena suatu keluarga yang bersaudara antara abang dan adik tidak terdapat batas-batas. Bahkan karena diikat oleh kasih sayang, dalam adat Batak , namardongan tubu dapat selalu memanggil nama, khususnya kepada tingkat di bawahnya. Misalnya panggilan “ho”, “langkam”, “amani aha”, dll panggilan yang sangat akrab.
Namun harus diingat, dalam keakraban itulah terdapat peluang-peluang sakit hati yang menimbulkan pertikaian atau perkelahian. Hal ini dapat terjadi pada tonggo raja (perencanaan acara puncak adat) yang tidak menempatkan posisi dongan tubu sesuai dengan kepentingan adat.

Dalam kasus lain, manta mardongan tubu sangat perlu diingat dalam masalah harta warisan atau masalah kepemilikan. Karena dalam kenyataannya, masalah warisanlah penyebab terbesar pertikaian di kalangan namardongan tubu. Hal itu terbukti pula dalam persidangan-persidangan pengadilan negeri di Bona Pasogit yang bertikai akibat harta warisan (terutama tanah) sering membawa korban jiwa.
Pertikaian akibat harta warisan antara boru ke hula-hula sangat jarang sekali. Dalam ungkapan (umpasa) batak ada istilah jolo diseat hata asa di seat raut. Artinya, sebaiknya segala sesuatu itu dimusyawarahkan dulu sebaik-baiknya, barulah dilaksanakan. Umunya umpasa itu disampaikan dalam rangka pembagian jambar, yang diatur oleh pihak-pihak namardongan tubu. Itulah sebabnya ada ungkapan marpanungkun (konsultasi).

Patutak Pande Bosi, soban bulu panggorgorina. Marpukpak angka na marhahamaranggi (na mardongan tubu) angka boru ma pangolanina. Pandai Besi (pande bosi) biasanya dalam membentuk tempahannya sangat riuh bunyi peralayannya. Namun untuk menjadikan tempahan itu, harus ada kayu atau arang yang membakarnya supaya jadi baik. Demikian diumpamakan, kalau pihak hula-hula namardongan tubu bertikai karena sesuatu hal, agar tercapai kebaikan, pihak boru berperan sebagai penengah, bukan terlihat dalam pertikaian itu.

(bersambung)

Disarikan oleh Bunggis Mangerna dari percakapan dengan S. Simanjuntak Tarutung

Sumber : (S. Simanjuntak/Bunggis Mangerna) Bona Pasogit


Ada 5 tanggapan untuk artikel “Dalihan Natolu Sumber Hukum Adat Batak”

  1. Tanggapan ND Hutabarat:

    NDH:
    MASYARAKAT DALIHAN NA TOLU BATAK
    ———————————————————–
    PemPublikan Filsafat Ilmiahteknologi Etika Inmplementasi Kuklturbudayaadatperadaban Batak:
    .
    1. Saya baca dari dahulu juga dalam bahan di SB ini masih tersedia pemunculan lestari awal.
    .
    2. Saya membaca banyak termasuk di Kuklturbudayaperadaban Dunia I II III di Indonesia/Asia - Eropa - USA, lalu terutama 10 tahun terahir ini cq tegasnya Peb 1984 di Jubileum HUT-150 IL Nommensen di Nordstrand, yang sengaja dimohon DR Sihite disampaikan DR JR Hutauruk dari STT Siantar, saya menyimpulkan terdapat pad Inti Pikir Bataktua-Batakbaru Kopnsep Pikir Hidup Unitarial Penyembah Tuhan Allah Ajaran Ayahanda Manusia cq Batak Bataraguru dan Putrinya Si Deang Br Parujuar serta mesti menjabarkan Masyarakat Batak dalam 3 Kelompok DNT, bukan Raja Monarki Sekular Kasta (misal Hindu/Jawa dll) tapi Kelakuan Tiruan, Raja, Anak ni Raja, Boru ni Raja.
    .
    Bataktua masuk Batakbaru memakai nama terminologi kriteria komoditi Bibel Barat Mulájadinabolon itu juga Debata Jahowa (Jahve). Batak sanggup memperfeksi, metode dynamis kritis, malah memperbaharui ketidaklengkapan Kulturbudayaperadaban Jahudi yang menyalipkan Jesus karena hanya Juruselamat Surgawi, tidak jadi Raja Jahudi mengusir Penjajah Romawi.
    ,
    Pakar Religi, Masyarakat, yg Ilmiahteknologi Sekular Sakral, tentu akan muncul memasuki Milis SB ini.
    .
    Salam ! Horas !
    NDH

  2. Tanggapan Advendes Pasaribu:

    horas

    - saya sebagai anak batak kurang mengerti bagaimana asal-usul dari adat batak itu sendiri, saya hanya mengetahui bahwa adat batak telah ada sejak dahulu kala. pada zaman saya (umur 40 saat ini) tidak pernah memperoleh/mendengar suatu penjelasan baik secara lisan atau tulisan bagaimana tebentuknya adat batak tersebut pada zaman dulu.
    - suatu pertanyaan besar bagi saya adalah apakah adat batak tersebut masih relevan sampai pada saat ini? kita sebagai orang batak di indonesia telah diidentikkan dengan kekristenan. dengan kata lain bahwa orang batak adalah kristen.
    - mohon penjelasan, (kalau ada buku sebagai referensi) apa dan bagaimana asal usul adat batak tersebut. kita ketahui bahwa agama kristen sampai ke tanah batak tidak lebih dari 200 tahun yang lalu, sementara adat batak telah ada jauh sebelumnya.
    - bagaimana sebenarnya keberadaan, kedudukan dan hukum dalam dalihan na tolu tersebut.

    mauliate
    horas

  3. Tanggapan Charly Silaban:

    @ Advendes Pasaribu
    Horas amang Pasaribu…

    - saya sebagai anak batak kurang mengerti bagaimana asal-usul dari adat batak itu sendiri, saya hanya mengetahui bahwa adat batak telah ada sejak dahulu kala. pada zaman saya (umur 40 saat ini) tidak pernah memperoleh/mendengar suatu penjelasan baik secara lisan atau tulisan bagaimana tebentuknya adat batak tersebut pada zaman dulu.

    Kita memang sangat kekurangan literatur mengenai “asal usul adat batak” itu sendiri hal ini tak bisa dipungkiri bahwa budaya menulis dahulu kala pada masyarakat batak hanyalah dimiliki oleh segelintir orang seperti kalangan parmalim dan datu. Kita mengenal karya mereka saat ini sebagai pustaha laklak.. Selain itu, hampir tak ada…
    Adapun prasasti2 yang ditemukan bukan produk dari leluhur batak namun karya pendatang yang memang pada saat itu membuka trayek dagang dengan bangsa batak..
    Itu untuk “sejarahnya”…
    Kalau tentang “adat”nya sendiri.. sekarang ini cukup banyak buku-buku atau naskah mengenai adat batak..
    Coba amang gali tulisan Kitab Siraja Batak

    - suatu pertanyaan besar bagi saya adalah apakah adat batak tersebut masih relevan sampai pada saat ini? kita sebagai orang batak di indonesia telah diidentikkan dengan kekristenan. dengan kata lain bahwa orang batak adalah kristen.

    Wah ini generalisasi yang salah amang… Batak is Batak.. sebuah suku / ras.. Kristen is Kristen.. sebuah agama / keyakinan..
    Kalau masalah relevansi adat dengan masa, tentunya masih !
    Kalau tidak.. berarti masyarakat batak bisa dikatakan Punah..!
    Namun tentunya adat batak itu sendiri mengalami perubahan sesuai dengan kondisi dan lingkungan saat ini.. Coba amang gali tulisan Pergeseran Adat Batak dan sanggahannya “Bukan Pergeseran tapi Inovasi”

    - mohon penjelasan, (kalau ada buku sebagai referensi) apa dan bagaimana asal usul adat batak tersebut. kita ketahui bahwa agama kristen sampai ke tanah batak tidak lebih dari 200 tahun yang lalu, sementara adat batak telah ada jauh sebelumnya.
    - bagaimana sebenarnya keberadaan, kedudukan dan hukum dalam dalihan na tolu tersebut.

    Coba amang cari bukunya “J.C. Vergouven” bertajuk “Masyarakat dan Hukum Adat Batak Toba”

  4. Tanggapan NATALIA SILITONGA:

    SALAM..HORAS TO HAMU SUDENA..
    saya sebagai anak batak juga kurang memahami yang nama-nya adat batak..apalagi saat ini yang nama-nya bahasa itu sudah mulai punah.. banyak anak batak malu dengan bahasa daerahnya sendiri..karena orang batak itu terkenal dengan kekerasa-nya.. apalagi ortu yang tinggal dikota pada umum-nya jarang mengajari anak-nya tentang budaya maupun bahasa..
    paling tidak kita sebagai warga batak mengerti tentang arti DALIHAN NA TOLU..hanya itu kunci yg terpenting untuk tetap menjaga serta melestarikan budaya batak sendiri.. saya bangga pada ibu saya wlopun sibuk tp dia masih tetap mengajari yg nama-nya DALIHAN NATOLU..meskipun kita tinggal dikota..khusus-nya boet ibu2 rumah tangga ada baik untuk saling berbagi kepada anak-nya tentang budaya sendiri dan anak-nya kelak bisa menceritakan kembalia pada generasi selanjutnya.. god bless you

    horas

  5. Tanggapan bony Silitonga:

    HORAS

    Selama penelitian saya tentang perantau Batak Toba di salah satu daerah di Jawa Tengah,saya menemukan ada beberapa informan yang telah menikah sedikit pemahamannya tentang DNT. Dan mereka baru sedikit tahu tentang DNT setelah mereka menikah. Yang saya hendak tanyakan mengapa hal itu bisa terjadi?

    hal kedua yang hendak saya tanyakan,,apakah ada kemungkinan untuk membedah sejarah pembentukan struktur sosial masyarakat Batak (DNT) melalui kacamata sejarah perkembangan kehidupan manusia? karena berdasarkan beberapa bacaan saya sedikit mengetahui bahwa masyarakat Batak Kuno merupakan tipe masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada pertanian. dan DNT memiliki peran penting dalam kehidupan saat itu, contohnya dapat dilihat dalam perkawinan di luar kelompok, khususnya perkawinan dengan pariban.

    MAULIATE

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.