Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Jumat
12
Mei '06

Hari ini, Ratusan Punguan Marga dan Raja Adat Berdiskusi Soal Adat Batak di P Sidimpuan


Diperkirakan 500- an punguan marga, raja adat, pimpinan atau utusan masing-masing gereja berdiskusi mengenai “Penyederhanaan Adat Batak” di kota salak Padangsidimpuan. Acara diskusi akan dibuka Walikota Padangsidimpuan Drs H Zulkarnain Nasution MM diadakan di kompleks HKBP Habinsaran Padangsidimpuan, Sabtu (13/5).

Ketua Panitia Sintua Drs L Situmorang didampingi Sekretaris Sintua S Silaban dan bendahara Sintua B Sipahutar kepada SIB, Jumat (12/5) mengatakan, acara tersebut bakal seru dan menarik mengingat yang berdiskusi adalah raja-raja adat dan ketua punguan marga-marga. “Acara seperti ini baru kali pertama diadakan di kota salak ini,” ujar Situmorang.

Adapun yang memprakarsai kegiatan tersebut adalah Panitia Pesta Parheheon Ama HKBP Resort Habinsaran Padangsidimpuan. Seperti diakui Situmorang bahwa panitia cuma sekadar fasilitator, mengingat selama ini acara adat batak tersebut sudah harus disederhanakan agar tidak bertele-tele dan bisa dipersingkat waktu dalam pelaksanaan adat dimaksud.

Diakuinya, dalam rangkaian pelaksanaan diskusi tersebut banyak pendapat yang simpang siur karena yang menjadi panitia pelaksana adalah HKBP Habinsaran. “Padahal kita cuma menghantar atau fasilitator dan yang membahas dan membuat kesimpulan tentang penyederhanaan adat batak tersebut adalah para punguan marga dan raja adat yang menjadi peserta diskusi tersebut,” katanya.

Acara diskusi itu sendiri mendapat perhatian serius dari walikota yang dibuktikan dengan memberikan dukungan dana. “Jadi, soal dana untuk acara diskusi tersebut relatif sudah tercukupi dan hasil yang diperoleh diharapkan bisa memuaskan dengan menampung semua aspirasi yang berkembang dalam diskusi,” ujar Sipahutar seraya mengatakan bahwa acara tersebut bakal seru dan menarik diikuti.

Sumber : (G9/y) Harian SIB


Ada 2 tanggapan untuk artikel “Hari ini, Ratusan Punguan Marga dan Raja Adat Berdiskusi Soal Adat Batak di P Sidimpuan”

  1. Tanggapan Togar Silaban:

    Kira-kira seperti apa ya hasilnya. Agak sulit membayangkan sekian banyak orang membahas masalah yang amat pelik. Adat Batak. Mungkin akhirnya bisa disepakati bahwa pelaksanaan “tata cara adat” akan bervariasi dari satu tempat ke tempat lainnya, meski prinsip utama adat Bataknya tetap. Mengingat ADAT itu sendiri adalah bagian dari kehidupan masyarakat Batak yang terus berkembang. Selayaknya tidak ada aturan yang kaku, adat harus fleksibel, karena adat adalah kesepakatan bersama bukan kehendak satu pihak.
    Maka diskusi adat selayaknya menemukan inovasi-inovasi baru yang layak dan dapat dipertanggungjawabkan secara moral dan etis. Diskusi adat bukan untuk menetapkan standar-standar kaku, tapi untuk mengakomodasi perkembangan baru dalam masyarakat.

  2. Tanggapan sabar tambunan:

    Horas Lae Togar,

    Betul sekali, sangat tidak perlu membakukan tata-cara adat. Jadikan saja forum itu dilakukan secara berkala, sebagai ajang silaturahmi dan saling berbagi dan bertukar informasi.

    Hanya satu yang mutlak disepakati, ‘Menjadi Orang Batak’ adalah melakukan 2 hal sekaligus, yaitu bermarga dan terikat konsep dalilhan natolu.

    Biarkanlah adat itu bergerak sendiri seperti air mengalir… Yang jadi soal adalah induknya, yaitu budaya batak itu sendiri. Gugatan kritis ‘Apa manfaatnya menjadi Batak??’

    Sepertinya budaya batak hanya menghasilkan kewajiban2 saja, berupa pelaksanaan adat terutama perkawinan dan kematian, bahkan saat ini ditambah membangun tugu/tambak. Bagi kalangan orang Batak yang masih miskin ini jadinya malah beban ekonomi. Bagi kalangan generasi muda, kurang menarik..

    Memang, inovasi-inovasi budaya batak yang bersandar pada sistem marga dan dalihan natolu harus dikembangkan dan dihasilkan. Sebagai sebuah kekuatan modal sosial agar mampu membantu memecahkan problem2 kongkrit di kehidupan jaman ini terutama sebagai masyarakat urban, harus segera dimulai.

    Kalau terlambat, budaya batak akan ditinggalkan, ataupun berfungsi sebatas sebagai indentitas diri atau kelompok.

    Muliate

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Kasus Dugaan Kurupsi DPRD Depok Mulai Digelar
Artikel selanjutnya :
   » » Berdialoglah secara Bipartit