Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Kamis
4
Mei '06

Kitab SIRAJA BATAK


Dalam Kitab Siraja Batak bahwa asal mula manusia adalah bermula dari Ayam Kulambu Jati yang bertelur 3 menetas dan lahir manusia laki-laki dan ayam tersebut bertelur lagi yang telurnya 3 buah ruas bambu, dieram selama 1 tahun dan menetas, lahirlah 3 orang wanita merupakan awal mulanya wanita. Kejadian ini ketika bumi ini belum ada, yang ada hanyalah benua atas.

Inilah awal terjadinya manusia menurut Suku Batak Indonesia. Agama dan kehidupan orang Batak berpatokan pada kitab ini. Hampir seluruh kehidupan orang Batak sehari-hari selalu berprinsip pada adat, budaya dan agama. Selalu menyatu seiring sejalan pada jaman dahulu kala.

Siraja Batak merupakan salah satu Suku Bangsa yang sangat besar di dunia karena memiliki seluruhnya ciri khas antara lain :

Aksara, bahasa, budaya, adat, suku bangsa, rumah, musik, hari, bulan, beladiri, hukum, undang-undang, pengobatan, filsafat, agama, dll.

Namun misteri Siraja Batak ini telah hampir punah semenjak meletusnya Gunung Pusuk Buhit I 73.000 tahun yang lalu dan meletusnya Gunung Pusuk Buhit II 2.000 tahun yang lalu, namun dengan ilham yang saya terima saya akan mencoba mengakses kepada dunia sedikit mengenai Batak apa dan siapa itu Batak pada jaman dahulu kala. Melalui situs ini. Namun belum lengkap sebab situs ini hanyalah sekedar melengkapi bahan untuk mengikuti kongres Paranormal Sedunia pada bulan Mei - Juni 2006 di Austria. Namun demikian sedikit banyaknya bagi orang yang membaca buku ini akan lebih mengerti siapa itu Siraja Batak pada jaman dahulu kala.

Dalam kehidupan Siraja Batak Tua telah mempunyai penuntun dan petunjuk hidup yang turun kebumi bersama Siraja Odap-odap dan Siboru Deak Parujar. Dari seluruh tatanan kehidupan Siraja Batak yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, Siraja Batak mempunyai 9 kitab antara lain :

Artikel ini ditulis oleh Prof.M.Sorimangaraja Sitanggang dan dipublish sebagai bahan untuk kongres paranormal sedunia di Jerman dan Austria (Shamanism and Healing Association)


*update 28 Juni 2006:

1.
Artikel Kitab Siraja Batak tulisan Prof.M.Sorimangaraja Sitanggang yang kami rujuk ini sempat hilang dari peredaran akibat tidak dapat diaksesnya situs tersebut.
Akhirnya kami menuangkan seluruh tulisan tersebut di halaman ini dari back-up data kami.

2.
Prof.M.Sorimangaraja Sitanggang kini telah kembali menuliskan Artikel Kitab Siraja Batak dengan kerangka yang baru dan lebih baik. Untuk lebih jelasnya mengenai pembahasan kitab-kitab tersebut mari simak tulisannya disini.

Sumber : Yayasan Pusuk Buhit Sakti


Ada 25 tanggapan untuk artikel “Kitab SIRAJA BATAK”

  1. Tanggapan Charly Silaban:

    Artikel ini kurang terstruktur dengan rapi..
    Susah dimengerti… :(

  2. Tanggapan Tulus Harapan Hutauruk:

    Tolong penyusunan Artikelnya lebih rapi dan kalo bisa tolong dibuatkan geanologi atau silsilah dari siraja batak pada cerita ini.
    Terimakasih.

  3. Tanggapan Prof.M.Sorimangaraja:

    Bukan tanggapan tetapi jawaban
    Situs ini tdk struktural karena situs ini belum selesai.
    Mengenai silsilah siraja batak nanti saya akan buat saya baru pulang dari jerman dan austria mengikuti
    kongresa paranormal seduia mewakili indonesia mungkin situs ini ada perobahan yang dulunnya
    my.opera.com/raja_batak berobah menjadi my.opera.com/raja batak.
    Lae silaban jika ada tanggapan tolong beritahu kepada saya.

    Prof.M.Sorimangaraja Sitanggang.

    www.schamanismus-und-heilen.de

  4. Tanggapan Prof.M.Sorimangaraja:

    Dan saya melihat nama saya tdk kau buat lagi dalam artikelmu apa maksudmu

  5. Tanggapan Prof.M. Sorimangaraja Sitanggang:

    toltip “Yayasan Pusuk Buhit Sakti” yang ada itu salah, dan sebelumnya mohon maaf yaa! itu bukan my.opera.com/raja_batak tetapi my.opera.com/raja batak. Itu tidak pakai ( _ ) garis bawah atau lebih bagus kirim saran anda mengenai isi kitab, karena raja_batak sudah di banned menjadi Raja Batak.Jadi tolong di gantikan, supaya orang dapat melihat artikel yang sebenarnya, Sebab artikel yang sebenarnya sudah diperbaharui makanya toltipnya diganti Horas,

    Prof.M. Sorimangaraja Sitanggang.

  6. Tanggapan Charly Silaban:

    Tanggapan #4 sudah saya tanggapi di :
    http://my.opera.com/raja%20batak/blog/show.dml/258995?cid=1792396
    (pada bagian komentar)

    Quote All :
    Horas amang..
    kami sangat terkejut juga ini membaca komentar amang,
    Quote :
    “Dan saya melihat nama saya tdk kau buat lagi dalam artikelmu apa maksudmu ?”
    Ah.. palias itu amang…
    Kami sangat menghargai karya cipta dan hak atas kekayaan intelektual..
    Sebelum kami meng-update artikel tersebut untuk merujuk ke alamat situs amang yang baru, tolong diperhatikan pada bagian bawah artikel :
    http://www.silaban.net/2006/05/04/kitab-siraja-batak/


    Kitab ini lahir dari Raja Uhum manusia yang biasanya digunakan untuk menghukum orang salah. Kitab ini dipegang oleh Panglima Mulajadi Nabolon (Tuhan Yang Maha Esa) untuk menghukum orang bersalah dan yang melanggar perintahnya dan apa yang diperbuat oleh manusia akan dia terima imbalannya sesuai dengan perbuatannya kepada manusia. Maka dalam hal ini saya hanya sekedar memberitahukan bahwa kitab Siraja Batak ada 9 dan dalam buku ini tidak dijabarkan mengenai isi kitab.

    Artikel ini ditulis oleh Prof. M. Sorimangaraja Sitanggang dan dipublish sebagai bahan untuk kongres paranormal sedunia di Jerman dan Austria (Shamanism and Healing Association) (*link ke Shamanism..)

    Sumber : Yayasan Pusuk Buhit Sakti(*Link ke situs lama)

    Sangat jelas Amang kami cantumkan nama Amang disana..

    Adapun kami tadinya hanya mengutip 7 paragraf pertama, selanjutnya kami merujuk ke situs lama..
    Tapi berhubung situs tersebut di banned dan kami tak memperoleh konfirmasi dari Amang, maka kami menampilkan seluruh tulisan (lengkap) seperti sekarang ini.
    Hingga pada akhirnya kami menemukan situs Amang yang baru ini kami sangatlah senang.. Makanya kami komentar disini untuk kembali menjalin komunikasi dengan Amang..
    Begitu kira2 amang..
    Kami akan meng-update artikel tersebut utk merujuk ke alamat ini 2 hari mendatang, agar Amang sempat melihat fakta sanggahan kami.
    Mauliate Amang..
    Horas jala Gabe..
    a.n Charly Silaban

  7. Tanggapan Prof.M.Sorimangaraja:

    Ya sudah kalau begitu sori ya….

  8. Tanggapan Prof.M.Sorimangaraja:

    Sori ya…. saya hanya mau pastikan pendapatmu dan masih banyak lagi misteri siraja batak
    yang akan saya keluarkan sayangnya waktu sangat sulit bagi saya:
    Saya mau publikasikan hasil kongres paranormal sedunia al:
    1.95% keberhasilan ekononi,politik,pemeritahan dan kehidupan manusia harus didukung
    oleh supranatural.
    2.Sekarang jaman sudah berumah yang mampu mengatasi kejadian musibah alam adalah
    kekuatan spritual leluhur jaman dahulu

  9. Tanggapan Parhobas:

    *update 28 Juni 2006:
    1.
    Artikel Kitab Siraja Batak tulisan Prof.M.Sorimangaraja Sitanggang yang kami rujuk ini sempat hilang dari peredaran akibat tidak dapat diaksesnya situs tersebut.
    Akhirnya kami menuangkan seluruh tulisan tersebut di halaman ini dari back-up data kami.

    2.
    Prof.M.Sorimangaraja Sitanggang kini telah kembali menuliskan Artikel Kitab Siraja Batak dengan kerangka yang baru dan lebih baik. Untuk lebih jelasnya mengenai pembahasan kitab-kitab tersebut mari simak tulisannya di sini.

  10. Tanggapan Hendrico:

    Saya ingin menyampaikan beberapa hal:
    - Dapatkan kiranya ditampilkan gambar piso (benda pusaka) yang terdapat dalam topik kitab siraja batak untuk dapat lebih mengetahui karya seni batak yang begitu bagus.
    - Bagaimanakah bentuk embun yang disebutkan dalam tulisan mengenai darah tuhan, apakah berbentuk seperti butiran air yang menetes ?
    - Mengenai agama parmalin disebutkan harus menyediakan beberapa sesajen, bagaimanakah bila seandainya hewan kurban tersebut tidak ada mengingat saat ini hewan tersebut sangat langka seperti ayam putih, kambing putih dan sejenisnya.
    - Apa akibat bila seorang penganut Agama Parmalin memakan darah, daging babi, daging anjing. apakah pantangan ini sama hal nya atau ada kemiripan dengan agama Islam yang mengharamkan hewan tersebut dan darah untuk dimakan ?

    Tolong nanti penjelasannya langsung dikirim ke alamat e-mail saya. Atas waktunya saya ucapkan terima kasih.

  11. Tanggapan Prof.M.Sorimangaraja Sitanggang:

    Tolong dulu kepada Lae charlie, minta kalau ada tanggapan kirim ke email saya karena saya sibuk sekali.

  12. Tanggapan ND Hutabarat:

    DARI : ND HUTABARAT
    UTK : WS SILABAN
    DAN : DIBACA REKAN MDIII (MAYARAKAT DISKUSAN INTERGENERASI
    LEMBAGA MEDIAPUBLIK SAHABAT INDONESIA)
    ————————————————————
    PERIHAL
    BUKU SIRAJA BATAK
    PENCIPTAAN DAN PEMELIHARAAN ALAM SEMESTA

    ——————————————————————————–

    terinakasih WS Silaban ini menampilkan Tuklisan-Catatan-Komentar tentang KBP Kulturbudayaperadaban Batak.Perlengkapan termasuk terus dijejaki Batak dalam Sejarah Dunia-Asia-Pasifik, terurtama di Asdia Mayor Daerah Jepang-Formosa.Filippina- dan Indonesia Minor Kepulauahn Nusantara yang sugdah hubungan dg kecuali Asia juga Afrika dan Madagaskar serta Eropa, sebelum Masehi dan Era Globalisasi Dunia Moderen (Kolonialisme-Jajahan-Negara Baru- Kemerdekaan, sehíngga terbentuknya Duni I II III serta Orref Indonesia dan Dunia terutama mulai 2004/2005, humanistis global).
    .
    Termasuk di dalamnya bahan diberi oleh SM Prof Sitanggang, dari Lembaga Ps Buhit, yang saya ikuti sekedar informasinya telah memperoleh insentip rohaniah dari Pemula Si Raja Batak.
    .
    Saya telah memasuki hidup pengalaman empiris berikut:
    .
    3.1. Masa Pendidikan Dasar dan Pendidikan Tinggi serta Terjun Berkarya di Indonesia (Lokal-Regional-Nasional-Internasiomal, juga Pimpinan), berfokus dasar Pembinaan Generasimudasegarpenerus - Masyarakat - dan KBP Kultur-budayaperadaban.
    .
    3.2. Saya melakukan Tekad 1969 di Jakarta, akan meninggalkan Indonesia bermukim integrasi di Dunia I Maju, serta direalisir Januari 1971, masuki hidup dan studilanjut lagi lengkapi Orientasi KBP Kultubudaya-peradaban DUNI I II III, Tema Survival Hidup Manusia di Planet Bumi, Sejarah Bangsa-Bangsa Subtropis dan Tropis, Utara dan Selatan, Globalisasi 1 2 3 mulai 1492 / 1800 / 2001 dst sampai Humanisme Global Sekarang..
    .
    3.3. Dalanya itulah saya masukkan Model Batak Sumatra, Informasi KBP Pusukbuhit Sianjurmulamula, yang dirangkai bersama Silsilah Batak dalam Literatur-Literatur banyak Penulis pendahulu, termasuk Silisillah Bagan Sihite 1941, dan tentu masanya dan Sebelumnya: Hutagaölung, Cunningham, Vergowen, Raja Sangti Simanjuntak, dll penjabarnya, serta terahir banyak diterbitkan Susunan Drs Richard Sinaga, dilengkapi masing kumpulan Marga Batak.
    .
    3.4. Saya menutur Sistimatika, terdapat pada Bataktua sampai Batakbaru (Mulasi 7.10.1863 pd Kristen)
    pada KBP Batak telah ditemui Konsep Pikir Unitarial Penyembah Tuhan Allah Mulajadinabolon, (Bataktua) Ajaran Bataraguru Ayahanda Batak dan Lain, diteruskan kepada Putrinya Si Deak Boru Parujar Ibu Batak, dengan Jabaran Masyarakat Batak memakai Marga-Marga terdiri dari 3 Kelompok DNT Dalihan Na Tolu, makna utama janga terjadi Kawin Incest Internal tetapi Eksternal Keluarga (Dengan Marga Luar, Campuran = Exogamous Marriage) dan fungsi interaksi sosial Batak semua sektoral hidup. Dan jabaran Hidup Masyarakat bersama Konsep Pikir Unitarial, Tatanan Jabaran Adat, sebagai Nyata dalam Eksistensi Natural, juga dalam Eksistensi Kultural, yang dijabarkan Manusia di alam keseluruhan sampai terkecil konsekuensi terahir. Demikianlah Batakbaru disepakati Tuhan Allah Mulajadina-bolon juga bernama Debata Jahowa (Jahve) dalam Bibel yang diterima Batak bersama Kategori Terminologi Kriteria Typologi Konsep Visi Missi Aplikasi Implementasi IT SS Ilmiahteknologi Sekular Sakral. Sehingga Batak yang melakukan Adat ini dalam Konsep Konsep Filsafat Intrinsink Sakral dan Uhum dan Padan Implementasi Materil yang diadatkan Sekular.
    .
    3.5. Dalam Garis TBB (Tepat Baik Benar) Bataktua ke Batakbaru, bisa dilakukan modernisasi di Batak berjalan lancar, lestari materil museum dan skenario futural dalam transformasi relevan transparan.
    .
    Demikian sekedar bahan saya menghargai Usaha WS Silaban dan kontributornya.
    .
    Hormat !
    ND Hutabarat, Hamburg
    Involvir Informan Voluntir Pejuang RI45
    Turut Pencerah Orla Orba Orref NKRI
    Alumni Indonesia/Asia/Eropa/Interkontinental, dalam IASI / MDIII Interkontinental
    .

  13. Tanggapan ROCKY SIMATUPANG:

    hORAS LAE

  14. Tanggapan ROCKY SIMATUPANG:

    ini terutama yang terjadi di Indonesia begitu juga yang telah melanda seluruh dunia, namun tidak ada kekuatan manapun yang mampu menghentikannya, sebab apa yang tertulis di Alkitab akan terjadi, dan ini merupakan untuk menyadarkan manusia untuk berserah kepada TUHAN yaitu DIA yang telah rela berkorban bagi manusia untuk menebus dosa-dosa manusia yaitu YESUS KRISTUS, di dalamNYA kita pasti dapat merasakan damai sejahtera di tengah-tengah dunia yang fana ini, sesuai yang tertulis di Alkitab “AKU MENYERTAI ENGKAU SENANTIASA KEPADA AKHIR ZAMAN”.

  15. Tanggapan Pandaraman. Lumbantoruan:

    bagaimana dengan pengaturan hukum pidana adat batak dalam kehidupan kita sehari-hari, karena bagaimanpun juga kita hidup dalam dunia teknologi yang berkembang dari hari- kehari, dan dunia hukum yang semakin berkembang. apa memang hukum adat ini terutama yang berkaitan dengan aspek pidananya masihkah berlaku????????????

  16. Tanggapan frenky sibuea:

    horas ……
    horas …..
    gabe jala horas

  17. Tanggapan Maridup Hutauruk:

    Silang pendapat itu baik. Saya hanya membayangkan, bgmn bila kitab-kitab Batak itu yg lebih dulu dikenal orang pintar ya! Mungki Mulajadi Nabolon, Debata Asiasi, Debata Natolu mungkin akan menjadi panutan agama? sayang papyrus junani, Cuneform - Nineve, dan Hierogliph-Mesir yang jadi referensi. Sbg info. Mr. Leo si org Italia yg bikin Kamus Batak itu bilang, ada ribuan transkrip Batak di luar negeri. Ada juga sekita 200 transkrip di PNRI apa ada budayawan Batak yg kupas ini ya? Kebetulan bos yg jaga transkrip ini katanya boru Batak lho….. Horas ma

  18. Tanggapan Badia Tambunan.SE:

    TANGGAPAN BAGIAN PERTAMA
    Sebelum para pembaca lebih jauh mendalami makna tanggapan ini maka sangat tepat jika kita menambah khasanah berpikir tentang terminologi dan sejarah Batak. Kurang lebih jika tidak tepat mohon kami dikoreksi dan saya tidak sekalipun menghakimi siapapun dalam konteks tanggapan ini.
    Batak adalah sebuah istilah kolektif yang digunakan sebagai identitas sekelompok etnik yang terdapat di kawasan dataran tinggi di sumatera utara atau tepatnya disekitar danau toba. Sedangkan bahasa Batak berasal dari bahasa Austronesia dengan kebiasaan bertutur berbalas-balasan dalam rapat.
    Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu “buddhayah” yang merupakan bentuk jamak dari “buddhi” yang berarti hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere dan dalam bahasa Indoensia diterjemahkan “kultur”.
    Menurut Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski bahwa kebudayaan Batak merupakan bagian tidak terpisahkan dari etnik Batak sehingga segala sesuatu yang terdapat dalam kelompok etnik Batak ditentukan oleh kebudayaan yang dimilikinya dan sifatnya turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya dan hal ini disebut superorganic. Kebudayaan Batak merupakan sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran etnik Batak pada zaman dahulu kala, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan Batak adalah benda-benda yang diciptakan oleh etnik Batak sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu etnik Batak dalam melangsungkan kehidupan etnik.

    Adat adalah gagasan kebudayaan yang melembaga menjadi kebiasaan yang lazim dilakukan di suatu kelompok etnik. Apabila adat tidak dilaksanakan akan terjadi keresahan sehingga kelompok etnik tersebut perlu menjatuhkan sanksi terhadap pelaku yang menyimpang namun sanksi ini tidak menjadi pranata hukum sehingga tidak bersifat bilateral atau universal. Kata adat sendiri berasal dari bahasa Arab yaitu Adah yang berarti “kebiasaan-kebiasaan dari masyarakat”.
    Manusia memiliki keterbatasan pikiran dan daya tahan fisik untuk memahami serta mengungungkap rahasia-rahasia alam sehingga muncul keyakinan akan adanya penguasa tertinggi dari sistem jagad raya ini, yang juga mengendalikan manusia sebagai salah satu bagian jagad raya. Sehubungan dengan itu, baik secara individual maupun hidup bermasyarakat, manusia berkeyakinan bahwa ada penguasa alam semesta yang dapat memberi kebahagiaan sejati. Kepercayaan ini terkristalisasi menjadi agama.
    Agama menjadi sebuah institusi dimana keberadaannya diakui sehingga anggotanya dapat berkumpul bersama untuk beribadah menerima paket doktrin yang menawarkan hal yang terkait dengan sikap dan perbuatan yang harus diambil oleh masing-masing individu sehingga mereka memiliki keseimbangan dalam menjadi hidup.
    Agama biasanya memiliki suatu prinsip, seperti “10 Firman” dalam agama Kristen atau “5 rukun Islam” dalam agama Islam. Yahudi adalah agama tertua dan merupakan agama monotheistik yang masih ada sampai sekarang, sedangkan seharah umat Yahudi adalah bagian utama dari agama Ibrahim lainnya, seperti Kristen dan Islam.
    Agama dan sistem kepercayaan lainnya seringkali terintegrasi dengan unsur kebudayaan yang penting dalam sejarah umat manusia. Kristen adalah salah satu agama penting yang berhasil mengubah wajah kebudayaan Eropa pada akhir abad 17. Pemikiran para filosopis modern pun banyak terpengaruh oleh para filosopis Kristen semacam St. Thomas Aquinas dan Eramus. Sementara itu, nilai dan norma agama Islam banyak mempengaruhi kebudayaan Timur Tengah dan Afrika Utara, dan juga sebagian wilayah Asia Tenggara.
    Agama kristen sendiri masuk ke Batak pada abad 19 oleh beberapa missionaris dan salah seorang yang terkenal ialah Ludwig Ingwer Nommensen oleh sebab itu HKBP memiliki faham Lutheran. Kisah awal masuknya para missionaris ke tanah Batak adalah memakai strategi membaur dengan keyakinan bahwa agama akan dapat dikenal melalui budaya etnik Batak. Walaupun demikian bahwa perlawanan dari etnik Batak dengan eksistensi budaya dan adat istiadatnya tetap tidak dapat dihindarkan dan hal ini terbukti pada tahun 1934 Pdt. Samuel Munson dan Pdt. Hendry Lyman yang diutus Bandan Zending Boston Amerika Serikat mati martir di Lobu Pining Tapanuli Utara.
    Pola pembauran ajaran Kristiani kedalam budaya etnik Batak yang dimulai oleh Van der Tuuk pada tahun 1849 dengan menterjemahkan sebagian dari Alkitab ke dalam aksara batak membawa kerancuan sampai sekarang. Kurun waktu 158 tahun ternyata belum cukup untuk memisahkan ajaran agama dengan adat budaya etnik batak.
    Pada tahun1825 -1829 tuanku Rao dari Padang menyerang tanah Batak dan diperkirakan pada saat itu muncul kepercayaan Parmalim. Kepercayaan Parmalim juga menerapkan pola pembauran namun beberapa hal prinsip adat istiadat Batak di hilangkan secara total yaitu tidak boleh memakan darah, babi, anjing dan monyet.
    Mengingat bahwa dalam aliran kepercayaan parmalim tidak diperbolehkan makan darah, babi, anjing dan monyet maka aliran ini tidak dapat diterima secara utuh sebab beberapa media penyembahan dalam budaya batak telah dipantangkan. Sementara para missionaris pada awal mula masuknya agama nasrani ke etnik Batak tidak menyentuh hal tersebut. Pola pembauran yang dilakukan oleh para missionaris telah membuat manipulasi ajaran alkitab dan hal ini terpatri hingga sekarang. Perkeliruan prinsip yang dilakukan adalah : Berdasarkan tulisan Drs. Brisman Silaban Msi. bahwa adat inti mencakup seluruh kehidupan yang terjadi pada penciptaan dunia oleh Debata Mulajadi Nabolon. Adat inti diberikan bersamaan dengan penciptaan. Sesudah Mulajadi Nabolon menciptakan dewa tiga serangkai yaitu Batara Guru, Bala Sori dan Bala Bulan, maka dengan segera dimamahkanlah kepada mereka undang-undang dan hukum untuk mengetahui yang baik dan yang buruk. Tatkala pada awal mula manusia pertama dicipta (ada) di dunia ini maka Mula Jadi Nabolon memeteraikan “adat” dalam diri manusia tersebut serta memeteraikan undang-undang dan hukum ke dalam hati mereka tentang yang boleh dan terlarang, yakni “terlarang” (tongka), “jangan” (unang) dan tak patut (naso jadi). Dalam konteks ini bahwa Debata Mulajadi Na Bolan adalah dewata pencipta dewa. Para missionaris merekayasa bahwa pada hakekatnya Tuhan adalah Debata yang menciptakan langit bumi dan segenap isinya. Para missionaris untuk tidak menghilangkan perkataan dari dewata yang diyakini oleh etnik Batak sebagai pencipta segala sesuatu yang ada dan merupakan penguasa jagad raya yang menguasai banua ginjang, banua tonga dan banua toru.
    2. Dalihan na tolu, yaitu Hula-hula, Dongan Tubu and Boru. Sementara dalam aplikasi kehidupan sehari-hari satu sama lain menjalankan peran sesuai dengan status masing-masing, yaitu : “Somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru”. Jika hak dan kewajiban yang terkandung didalamnya tidak dilaksanakan maka akan mendapat sanksi magis yaitu : “Angka na so somba marhula-hula siraraonma gadongna, molo so Manat mardongan tubu, natajom ma adopanna, jala molo so elek marboru, andurabionma tarusanna”.
    Mengutip dari tulisan Drs. Brisman Silaban Msi. yang disadur dari pendapat RP Tampubolan bahwa melanggar adat inti sebagai undang-undang (patik) dan hukum (uhum) adalah soal hidup atau mati, melanggar dan mengobahnya adalah dosa berat yang mengakibatkan kebinasaan. Untuk meyakinkan doktrin ini maka si raja Batak umpasa yang harus dipatuhi yaitu “Ompunta naparjolo martungkot salagunde. Adat napinungka ni naparjolo sipaihut-ihut on ni na parpudi”. Itulah tiga falsafah hukum adat Batak yang menjadi pedoman dalam kehidupan sosial yang hidup dalam tatanan adat sejak lahir sampai meninggal dunia.
    TANGGAPAN BAGIAN KEDUA Tanggapan Bagian Kedua
    Perbandingan : (Yang bercetak miring adalah kutipan tulisan Silaban) dan yang bercetak tebal adalah kutipan dati Alkitab : Masa Mula Dunia Diciptakan Allah (Alkitab, buku kejadian)
    1:1. Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.
    1:2 Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Rekayasa para missionaris pertama pada orang Batak. Ia di mula ni mulana ditompa Debata ma langit dohot tano, dungi hira na ginargaran do tano i jala songon halungonan jala holom do, rodi banua toru. Dungi manareap-reap ma hosa ni Debata di ginjang ni aek i. Terjemahan diatas diambil dari Alkitab pertama untuk etnis batak (aksara Batak). Missionaris menterjemahkan Allah menjadi Debata karena ada kesamaan dengan kepercayaan etnis batak yaitu Debata Mula Jadi Na Bolon. Missionaris juga menambahkan kata banua toru dengan maksud agar terkesan ada kesamaan dengan kepercayaan animisme orang batak tentang penciptaan Debata Mula Jadi Na Bolon, yaitu Banua Ginjang, Banua Tongan dan Banua Toru. Rekayasa ini juga diperkuat pada Tangiang Ale Amanami yaitu Tangiang Na Pinodahon ni Tuhan Jesus tu Angka Sisean Na dimana Hata Pamungkaan adalah Ale Amanami na di banuaginjang. Rekayasa Lucifer tentang penciptaan yang diyakini oleh etnis batak yang masih loyal melaksanakan ritual adat batak sampai sekarang, seperti tertera dibawah ini.1. ADAT INTI Adat inti mencakup seluruh kehidupan yang terjadi pada penciptaan dunia oleh Debata Mulajadi Nabolon. Adat inti diberikan bersamaan dengan penciptaan. Sesudah Mulajadi Nabolon menciptakan dewa tiga serangkai yaitu Batara Guru, Bala Sori dan Bala Bulan, maka dengan segera dimamahkanlah kepada mereka undang-undang dan hukum untuk mengetahui yang baik dan yang buruk. Tatkala pada awal mula manusia pertama dicipta (ada) di dunia ini maka Mula Jadi Nabolon memeteraikan “adat” dalam diri manusia tersebut serta memeteraikan undang-undang dan hukum ke dalam hati mereka tentang yang boleh dan terlarang, yakni “terlarang” (tongka), “jangan” (unang) dan tak patut (naso jadi). Dengan demikian, Adat Inti mutlak harus dituruti dan dilaksanakan sebagai undang-undang, adat dan hukum dalam kehidupan, seperti yang ditegaskan dalam ungkapan berikut :
    Adat do ugari
    Sinihathon ni Mulajadi
    Siradotan manipat ari
    Siulahonon di siulu balang ari
    artinya :
    Adat adalah aturan yang ditetapkan oleh Tuhan Pencipta, yang harus dituruti sepanjang hari dan tampak dalam kehidupan (Simanjuntak, 1966)
    Pelaksanaan Adat Inti tidak boleh dimufakati untuk mengobahnya dalam upacara adat karena terikat dengan norma dan aturan yang diturunkan oleh Mula Jadi Nabolon (sebelum agama mempengaruhi sikap etnis Batak Toba terhadap upacara adat). Kalau Mula Jadi Nabolon memang adalah Tuhan Pencipta berarti adat inti mutlak adanya dan kekal maknanya sehinga tidak ada satu kekuatan agama manapun yang mampu mempengaruhi etnis Batak. Pemahaman kami terhadap pendapatan diatas adalah kontradiktif. Dengan uraian tentang Adat Inti di atas maka kita pada saat sekarang yang masih setia melaksanakan upacara adat, kita tidak mungkin lagi (tidak mampu) melaksanakannya sesuai dengan iman berdasarkan agama yang kita anut dan inilah merupakan pergeseran pelaksanaan adat yang kita laksanakan. Pemahaman kami pada tulisan diatas bahwa rekayasa dan manipulasi penulis terhadap pengerian Adat dimeteraikan oleh Mula Jadi Na Bolon ke dalam diri manusia, tidak konsisten dengan kita tidak mungkin lagi (tidak mampu) melaksanakannya sesuai dengan iman berdasarkan agama yang kita anut . Tuat ma na di dolok martungkot siala gundi Napinungka ni ompunta na parjolo Tapa uli-uli (bukan tai huthon) sian pudi
    Mencermati akan pengertian umpasa diatas maka sangat jelas bahwa konsistensi terhadap rekayasa tersebut tidak dapat dipertahankan penulis Artinya adat istiadat yang sudah diciptakan dan diturunkan nenek moyang kita terdahulu kita ikuti sambil diperbaiki (disesuaikan) dari belakang. Siapa sebenarnya yang menciptakan adat tersebut ?. Apakah Debata Mula Jadi Na Bolan yang diyakini oleh penulis sebagai Tuhan Pencipta adalah juga sama menjadi ompunta na parjolo. Kalau memang adat dimeteraikan bersamaan dengan penciptaan manusia dan menjadi bagian dari hidup manusia itu sendiri, mengapa adat itu tidak bersifat universal ?. Berikut ini adalah Tulisan Tonggo Simangunsong.
    Dalam kepasrahan ini tentu saja masih ada harapan. Tapi, harapan itu bukanlah berasal dari dunia, melainkan dari Oppu Mula Jadi Nabolon. Dalam harapan itu, ada pula ketaatan untuk selalu mempertahankan hidup suci. “Kami tidak diakui bukan karena kami telah melakukan kejahatan, melainkan hanya pransangka buruk tentang kami,” katanya. Selanjutnya ia mengucapkan kalimat dalam bahasa Batak, ”Berilah kepada kami penghiburan kepada kami yang menangis ini, bawalah kami dari kegelapan dunia ini dan berilah kejernihan dalam pikiran kami.” Mereka yakin Debata hanya akan memberkati orang yang menangis. Nah, dalam kepasrahan yang berpengharapan inilah mereka hidup. Dalam keterasingan itu juga mereka menyerahkan hidupnya pada “kemaliman” (kesucian). “Parmalim adalah mereka yang menangis dan meratap,” katanya.
    Dalam ritual Ugamo Parmalim sendiri, terdapat beberapa aturan dan larangan. Selain mengikuti 5 butir Patik ni Ugamo Malim (5 Titah Ugamo Malim), juga terdapat berbagai kewajiban lainnya seperti, Marari Sabtu atau ibadah rutin yang diadakan setiap Sabtu. Kewajiban lain di antaranya adalah Martutu Aek, yakni pemandian bayi yang diadakan sebulan setelah kelahiran, Pasahat Tondi yaitu ritual sebulan setelah kematian, Pardebataan, Mangan na Paet dan Pangkaroan Hatutubu ni Tuhan. Ada pun larangan yang hingga kini masih tetap dipertahankan di antaranya adalah. larangan untuk memakan daging babi dan darah hewan seperti yang lazim bagi umat Kristen. Memakan daging babi atau darah dianggap tidak malim (suci) di hadapan Debata. Padahal dalam ajaran Parmalim sendiri dikatakan, jika ingin mengaturkan pujian kepada Debata, manusia terlebih dahulu harus suci. Ketika menghaturkan pelean (persembahan) kesucian juga dituntut agar Debata dan manusia dapat bersatu. Selain itu, Parmalim juga tidak diperbolehkan secara sembarangan menebang pohon. Larangan ini diyakini akan mendatangkan bala apabila tidak diacuhkan. Pasalnya, hutan sebagai bagian dari alam yang sekaligus merupakan ciptaan Tuhan harus dilestarikan. Secara tradisi, apabila seseorang ingin menebang pohon di hutan, haruslah menanam kembali gantinya. Konon, ajaran Parmalim meyakini bahwa terdapat seorang raja yang berkuasa di hutan (harangan) yang lalu dikenal dengan Boru Tindolok (raja harangan). Jika melihat fisik bangunan rumah ibadah Parmalim, maka pada atap bangunan terdapat lambang tiga ekor ayam. Lambang ini, menurut Marnangkok, merupakan lambang ”partondion” (keimanan). Konon, menurut ajaran Parmalim, ada tiga partondian yang pertama kali diturunkan Debata ke Tanah Batak, yaitu Batara Guru, Debata Sori dan Bala Bulan. Sementara ayam merupakan salah satu hewan persembahan (kurban) kepada Debata. Ketiga ekor ayam itu berbeda warna. Yang pertama, berwarna hitam (manuk jarum bosi) merujuk kepada Batara Guru, putih untuk Debata Sori dan merah untuk Bala Bulan. Sedang masing-masing warna juga memiliki arti tersendiri. Hitam melambangkan kebenaran, putih melambangkan kesucian dan merah adalah kekuatan atau kekuasaan (hagogoon). Kekuatan adalah berkah yang diberikan kepada manusia melalui Bala Bulan yang tujuannya untuk mendirikan “panurirang” (ajaran dan larangan).
    Hanya saja, diyakini bahwa Raja Sisingamangaraja adalah utusan Debata yang lahir melalui perantaraan roh Debata kepada Boru Pasaribu. Diyakini pula, pada waktu di Harangan Sulu-sulu sebuah cahaya, yang kemudian diyakini sebagai roh Debata datang kepadanya dan mengatakan, “baen pe naung salpu i roma na tonggi, tarilu-ilu ho sonari, roma silas ni roha.” yang menyatakan bahwa: “Walaupun hari ini engkau menangis namun engkau juga akan merasakan kebahagiaan kelak.”
    Boru Pasaribu kemudian mengandung dan dianggap berselingkuh dengan marga asing tetapi kemudian disangkal, sebab pada saat roh Debata hadir dan mengucapkan hal itu kepadanya, ia tak sendirian melainkan turut disaksikan putrinya. Maka kemudian, putra yang terlahir itu (yang kemudian dikenal dengan Raja Sisingamangaraja I), diakui sebagai utusan Debata.
    Selanjutnya, Raja Sisingamangaraja memiliki keturunan hingga 12 keturunan. Itu pun secara roh. Hanya saja, hingga kini banyak yang tidak mengakui Raja Sisingamangaraja sebagai nabi bagi Ugamo Malim, melainkan hanya sebagai manusia biasa. Raja Sisingamangaja XII sendiri dikenal sebagai pahlawan Nasional. “Itulah yang menjadi anggapan ganjil terhadap Ugamo Parmalim selama ini,” kata Marnangkok. Namun meski demikian, juga diyakini bahwa Sisingamangaraja masih hidup hingga kini, tentu saja secara roh.
    Hingga akhir hayat Raja Sisingamaraja XII, keyakinan Ugamo Malim kemudian diturunkan melalui Raja Mulia Naipospos, yang merupakan kakek kandung Marnangkok Naipospos sendiri. Inilah yang kemudian menjadi acuan pada acara atau ritual-ritual besar Ugamo Parmalim yang diadakan rutin setiap Sabtu dan setiap tahunnya. Ritual-ritual besar Parmalim itu seperti Parningotan Hatutubu ni Tuhan (Sipaha Sada) dan Pameleon Bolon (Sipaha Lima), yang diadakan pertama pada bulan Maret dan yang kedua bulan Juli. Yang kedua diadakan secara besar-besar karena pada acara ini para Parmalim menyembelih kurban kerbau atau lembu. “Ini merupakan tanda syukur kami kepada Debata yang telah memberikan kehidupan,” kata Marnagkok. Begitulah Ugamo Malim dalam ritual dan eksistensinya. Persoalan marginalisasi, kesucian, kontradiksi opini publik hingga harapan mereka, barangkali masih menunjukkan banyak pertanyaan. Namun, sidaknya dalam kepasrahan mereka dapat menikmati sedikit kebebasan di desa mereka sendiri, Hutatinggi. Tapi, Hanya sedikit. Dari apa yang ditulis diatas maka semakin jelas bahwa Adat Batak dan Kepercayaan Parmalim yang notabine mempunyai basic dari adat batak adalah merupakan imajinasi manusia yang dipengaruhi oleh Lucifer dengan hanya merekayasa satu dua perkataan sehingga mampu menghipnotis akal sehat etnis batak yang masih konsisten dan loyal terhadap ritual adat Batak. Satu fakta lagi dari tulisan N. Siahaan pada tahun 1964 menjadi wacana berharga untuk membuka matahati rohani kita.
    Siahaan mengatakan bahwa Sastra tulis telah lama ada, diduga sejak abad ke-13, yaitu dengan adanya “aksara Batak yang berasal dari aksara Jawa Kuna melalui aksara Sumatera Kuna”, sesudah Singosari mengirimkan tentaranya ke Jambi di Sumatera Tengah.
    Sastra tulis itu adalah berupa ilmu perbintangan atau astronomi, tarombo atau silsilah, ramuan pengobatan tradisionil, turi-turian yang bersifat mythe atau dongeng. Cerita-cerita itu ditulis dengan aksara Batak Toba pada kulit kayu yang lebarnya dapat dilipat. Tulisan pada kulit kayu itu disebut pustaha ‘pustaka’ yang sekarang ini sulit ditemukan. “Seperti diterangkan di atas bahwa tidak ada seorang ahli yang dapat mengetahui dari mana asal muasal aksara Batak.” Namun, manusia hanya dapat mengira-ngira atau menghubung-hubungkan sejarah terjadinya aksara di muka bumi ini. Tetapi secara linguistik dapat dikaji bahwa aksara itu bermula dari “aksara Hieroglif Mesir”, dan turun temurun sesuai dengan perkembangan zaman pada masa itu (lihat bagan di atas).
    Permulaan Aksara Batak Menurut Versi Batak Ompunta Mulajadi Nabolon Nasa bangso na di liat portibi on, na marhatopothon adong do Debata, diparhatutu nasida do i, na tarpatupa Debata do na sa na boi dodoan ni roha ni jolma. Bangso Batak pe masuk do tuhorong na marhatopothon, adong Debata, i ma: Debata Mulajadi Nabolon. Parbinotoan i hibul jala Polim do di Jolma na parjoloi.
    Alai tutu molo lam tamba panarihon ni roha ni jolma di atas tano on, lam moru ma parbinotoan i, gabe holan pasi-pasina nama na tading. Ala ni i, massa i maol nama patorangon angka na masa sian narobi ni narobi, ala so diida mata jala so dibege pinggol. Dung i laos ditongos muse ma Debata Natolu. Ia dung songon i, ditongos Mulajadi Nabolon ma dua balunbalunan Surat Batak. Dibalunan na parjolo, i ma na margoar “Surat Agong “, i ma di lehon (bagian) ni Guru Tateabulan, jala disi tarsurat ma hadatuon (ilmu kedukunan), habeguon (ilmu tentang hantu), parmonsahon (ilmu silat) dohot pangaliluon (ilmu menghilangkan diri/ilmu gaib). Di balunan na paduahon, i ma na margoar “Surat Tombaga Holing” i ma bagian ni Raja Isumbaon, di si tarsurat taringot tu harajaon (kerajaan), paruhuman (ilmu Hukum), parumaon (Ilmu pertanian/persawahan), partigatigaon (Ilmu perdagangan) dohot paningaon (WM. Hutagalung, 1991:1 dan 33). Ompunta Si Raja Batak Ianggo anak ni Ompunta Raja Batak dua do, na parjolo na margoar Raja Ilontungon gelar Guru Tateabulan, na paduahon i ma na margoar Raja Isumbaon (WM. Hutagalung, 1991:32). Jadi Surat Agong dan surat Tumbaga Holing diterima Si Raja Batak dari Ompung Mulajadi Nabolon. Kemudian Surat Agong diraksahon (diterjemahkan) oleh Martuaraja doli, dan surat Tombaga Holing ditorsahon Tuan Sorimangaraja. Dari merekalah turun temurun surat Batak itu sampai sekarang ini. Dengan demikian Martuaraja doli dan Tuan Sorimangaraja lah yang pertama sekali membaca surat Batak yang diterima Si Raja Batak itu dari Ompunta Mulajadi Nabolon berupa Pustaha yang dituliskan di kulit kayu (laklak).
    Badia Tambunan,SE

  19. Tanggapan Viktor Siregar:

    Dari Artikel Kitab Siraja Batak tulisan Prof.M.Sorimangaraja Sitanggang.

    Saya Bertanya:

    Siapakah Siraja Batak?
    Kalau anda percaya bahwa Alkitab adalah Firman Allah dan Percaya bahwa Yesus Kristus adalah anak Allah dan sebagai Juru Selamat Manusia. Dimankah kedudukan Siraja Batak dalam Kontek diatas?.
    Berhadiah !!! Buruan, siapa cepat dia yang mendapat.
    Horas !.

  20. Tanggapan Humisar Sibarani:

    Saya sekarang lagi menyelidiki asal usul si Raja Batak. Saya tidak membaca sepenuhnya apa yang dituliskan diatas. Dari Buku yang ada si Perpusatakaan Belanda, bahwa si Raja Batak itu adalah Keturunan dari Zulkarnain, anak Raja Salomo hasil perkawinannya dengan Putri Bulkis (Ratu Mongolia)ketika Raja Salomo menaklukkan Mongolia. Apakah ini benar???? Itulah sekarang saya selidiki.
    Hasil Penyelidikan DNA oleh Kosasih, bahwa kita adalah orang kuno Yahudi Tua), yang sama dengan Ancient Greek. apakah ini benar???
    Hasil Penelitian oleh New South Wales University, mengenai keterbelakangan mental yang disebabkan gen, menyatakan, bahwa Gen Orang Batak, perlu ditelusuri lebih lanjut, karena mereka tidak bisa meneliti keterbelakangan mental pada orang batak.
    Saya berkeyakinan, kalau asal usul si Raja Batak kita tahu, kita sudah bisa memposisikan diri kita di dunia ini.

    Horas.

    Humisar Sibarani.

  21. Tanggapan Bonar Siahaan:

    @ Badia Tambunan,SE
    -
    Hujaha do surat na sarupa tu komentar muna, sian Ir Hasautan Simanjuntak pinasahat ni moderator Partungkoan tu ahu. Nungga leleng nian surat i jinalo jala dietong roha dang porlu alusan. Alai tubu ma muse turoha mangalusi dung binoto naung mangararat do hape surat i jala paasing asing goar namambahen. Longang do roha, namargabus do panurat i manang na paasing halak do manurat alai tung apala sarupa isina.
    -
    Manang na ise pe hamu, sintong manang gabus, alai ala sian Ir Hasautan Simanjuntak do hujalo surat, jala sai dijaha ibana ma alushon.
    -
    Di taon 1980 hea do rampak ahu dohot dongan di Jakarta – Bandung manangihon jamita ni Yusuf Rony, jala tung hona do tubagasan roha angka jamitana i. Ala malo nasida marjamita,mansai godang do naro manangihon jamitana ai bolas dipatorang natarsurat di Alkitap ndang pola sungkot-sungkot. Disada tingki dijamitahon nasida ma taringot tu pemuda kaya jala tangkas antong dipatorang naso boi bongot tu surgo hasonangan i saleleng dipeop artana i, dibaen do judul ni jamita i “PEMUDA KAYA“
    Tung gomos do di jamita on diondolhon “juallah hartamu bagi bagikanlah pada orang miskin”.
    -
    Dung adong sampulu taon nari (1990) mansai torop ma huida angka parjamita di hotel berbintang songon naung godang taida nuaeng on. Dimulana mansai denggan do tutu, alai dung lam leleng gabe godang do ondolan ni hata ni parjamita manariashon parpuluan songon namasa di Bangso Israel tingki narobi.
    Sungkun-sungkun ni roha; Boasa ma dang tu pulau-pulau Riau manang tu pedalaman ni Papua dohot tu Kalimantan angka parbarita halalas ni roha godang laho manjamitai ?
    -
    Disietehonhu hea do huboto sada dakdanak mangaluhon natotorasna tu amanta Pandita jala sungkun-sungkun di didok tui Pandita i songon on; “Dia do tumagon oloan PATIK PAOPATHON sian PATIK PALIMAHON?”. Longang amanta Pandita i umbege sungkun-sungkun ni dakdanak i jala didok ma songon on, “Ingkon rap ulahonon do i”. Alai didok dakdanak i ma ndang boi rap oloan ai molo nioloan patik paopathon maralo do tupatik palimahon.
    -
    Didok Pandita i ma, manghatai ma jolo ahu dohot amanta (tongon nartoras ni dakdanak i guru huria). Hape tarboto ma na disuru Guru Huria i do anakna i mamuro hauma tongon di ari Minggu.
    Sungkun-sungkun ni roha, sotung holan manghatahon do parjamita hape ndang pola dohot mangulahon ?
    -
    Molo taringotanta Alkitap, Bibel manang Bible jolo taguruhon ma hata Heber, Ibrani dohot Yunani kuno ai adong do saotik parasingan ni Alkitap, Bibel dohot Bible.
    -
    Didok anggi doli (Ir Hasautan Simanjuntak); “Asi ni roha i tu halak Batak naung timbo parbinotoanna jala mangolu di hamajuon ni “teknologi” alai tongtong manghaporseai jala mangula ditondi ni adat.
    -
    Siondolhonnonhu tu anggi doli, huida dijolo ni gormu Ir, Insiniur do ra napinataridahon ni anggi doli, jadi pauli ma jolo nasohea dipauli dongan asa tanda halak batak naung marparbinotoan natimbo.
    -
    Aut sura ndang Kristen namarbudaya Batak di Toba ndang boi marsaor angka namarugamo na asing di Toba, alana molo marhorja (marpesta) Kristen di argai do donganna nang pe asing ugamona.
    Alai molo Kristen naso marbudaya Batak ndang olo marsaor tu naso saparpunguan dohot nasida, jala sijagaon do on nagabe boi muse sibonsiri songon namasa di Poso dohot Ambon. Aha dosa dibahen ulos dohot tandok ? Tumagon do “uang” boi mambahen dosa.
    -
    Natangkas huguruhon ;
    Niajahon ni Agama, jamita (poda) gabe parange.
    Niajarhon niadat, parange (pambahenan) gabe poda.
    Agama sada punguan marsaor tu Tuhanna.
    Adat sada punguan marsaor tu donganna jolma.
    Boi do marsaor tu Tuhan i naso olo marsaor tu dongan jolma ?
    -
    Horas
    -
    -
    Sian ahu anak ni nahea Guru Huria dohot Pandita

    -
    Patuan Raja Bonar Siahaan. (Op. Tumintang)

  22. Tanggapan Bilson Simamora:

    Tanggapan untuk Badia Tambunan, SE

    Tulisan anda berusaha memberikan fakta-fakta objektif tentang adat batak, agama Parmalim, dan penyebaran agama Kristen mula-mula di tanah Batak. Namun, anda juga memasukkan pendapat pribadi atau pendapat berlatarbelakang kepercayaan anda (tentu tidak objektif) dalam tulisan anda. Ini yang saya tidak setuju. Anda katakan bahwa terjemahan Alkitab mula-mula yang hasilnya dipakai sampai saat ini penuh rekayasa (menurut kepercayaan anda) oleh para misionaris. Lalu, agama Parmalim adalah hasil imajinasi manusia. Kemudian yang paling sensitif anda katakan bahwa rekayasa misionaris dan pembentukan agama parmalim ditunggangi oleh Lucifer (raja iblis). Pendapat terakhir ini tentu lahir dari opini atau kepercayaan anda. Kalau anda sampaikan itu pada komunitas sekepercayaan anda, boleh-boleh saja. Namun, menyampaikan isu sensitif pada forum umum seperti ini sungguh tidak layak. Dari semangat yang anda tunjukkan, saya yakin kita memiliki kepercayaan sama. Namun, memperkenalkan kepercayaan (iman) dengan cara santun adalah cara paling beradab, menurut saya, karena kita hidup di bumi yang sama. Horas.

  23. Tanggapan Julhan Hutabarat:

    BATAK, KELOMPOK ISRAEL YANG HILANG ???

    Bangsa Israel kuno terdiri dari 12 suku. Setelah raja Salomo wafat, negara Israel pecah menjadi dua bagian. Bagian Selatan terdiri dari dua suku yaitu Yehuda dan Benjamin yang kemudian dikenal dengan nama Yahudi. Kerajaan ini disebut Juda, ibukotanya Yerusalem, dan daerahnya dinamai Yudea.

    Bagian Utara terdiri dari 10 suku, disebut sebagai orang Samaria. Dalam perjalanan sejarah, kedua belas suku tsb kehilangan identitas kesukuan mereka.

    Kerajaan Samaria tidak lama bertahan sebagai sebuah negara dan hilang dari sejarah. Konon ketika penaklukan bangsa Assyria, banyak orang Samaria yang ditawan dan dibawa ke sebelah selatan laut Hitam sebagai budak. Sebahagian lari meninggalkan negaranya untuk menghindari perbudakan.

    Sementara itu Kerajaan Juda tetap exist hingga kedatangan bangsa Romawi.

    Setelah pemusnahan Yerusalem pada tahun 0070 oleh bala tentara Romawi yang dipimpin oleh jenderal Titus, orang-orang Juda pun banyak yang meninggalkan negerinya dan menetap di negara lain, terserak diseluruh dunia.

    Jauh sebelum itu, ketika masa pembuangan ke Babilon berakhir dan orang2 Israel diijinkan kembali ke negerinya, ada kelompok-kelompok kecil yang memilih tidak pulang tetapi meneruskan petualangan kearah Timur.

    Demikian juga dengan mereka yang diperbudak di selatan laut Hitam, setelah masa pebudakan selesai, tidak diketahui kemana mereka pergi melanjutkan hidup.

    Dengan demikian banyak diantara bangsa Israel kuno kemudian kehilangan identitas mereka sebagai orang Yahudi.

    Ada sekelompok penduduk di daerah Tiongkok barat, diterima sebagai puak Cina, tetapi secara umum profil wajah mereka agak berbeda dengan penduduk Cina pada umumnya. Perawakan mereka lebih besar, hidung agak mancung, namun berkulit kuning dan bermata sipit. Mereka menyembah Allah yang bernama Yahwe. Sangat mungkin mereka adalah keturunan Yahudi yang sudah kawin mawin dengan penduduk lokal sehingga kulit dan mata menjadi seperti penduduk asli.

    Saya percaya banyak diantara para pembaca yang mengetahui bahwa di negeri Israel ada sekelompok kecil orang Israel yang berkulit hitam. Mereka adalah suku Falasha, yang sebelum berimigrasi ke Israel hidup di Etiopia selama ratusan generasi. Fisik mereka persis seperti Negro dengan segala spesifikasinya yaitu kulit hitam legam, bibir tebal, rambut keriting habis, dll.

    Mereka mengklaim diri mereka sebagai keturunan Yahudi, dan dengan bukti-bukti yang dimiliki, mereka mampu memenuhi seluruh kriteria yang dituntut oleh Pemerintah Israel yang merupakan syarat mutlak supaya diakui sebagai Yahudi perantauan. Setelah memperoleh pengakuan sebagai keturunan Yahudi, sebahagian dari mereka kembali ke Tanah Perjanjian sekitar 15 tahun lalu dengan transportasi yang disediakan oleh Pemerintah Israel. Itulah sebabnya mengapa ada Israel hitam.

    Mereka menjadi seperti orang Negro karena intermarriage dengan perempuan-perempuan lokal sejak kakek moyang mereka pergi ke Ethiopia.

    Kita tahu bahwa bahwa Ethiopia adalah salah satu negara yang penduduknya mayoritas Kristen yang paling tua didunia. Ingat sida-sida yang dibaptis oleh Filipus dalam Kisah 8:26-40. Bahkan sebelum era Kekristenan pun sudah ada penganut Yudaisme disana.

    Walaupun banyak yang kembali, sebahagian lagi tetap memilih menetap di negeri itu, dan merekalah yang menjaga dan memelihara Tabut Perjanjian yang konon ada disana.

    Apakah ada diantara para pembaca yang pernah mendengar selentingan bahwa etnik Batak, adalah juga keturunan bangsa Israel kuno? Mungkin saja tidak, karena orang-orang Batak sendiri banyak yang tidak mengetahuinya, kecuali segelintir yang memberikan perhatian terhadap hal ini.

    Seperti yang diungkapkan oleh seorang anthropolog dan juga pendeta dari Belanda, profesor Van Berben, dan diperkuat oleh prof Ihromi, guru besar di UI (Universitas Indonesia), bahwa tradisi etnik Tapanuli (Toba) yang menjadi cikal bakal dari 4 sub etnik Batak (Karo, Simalungun, Pakpak, Mandailing) sangat mirip dengan tradisi bangsa Israel kuno.

    Pendapat itu didasarkan atas alasan yang kuat setelah membandingkan tradisi orang Tapanuli dengan catatan-catatan tradisi Israel dalam Alkitab yang terdapat pada sebahagian besar kitab Perjanjian Lama, dan juga dengan catatan-catatan sejarah budaya lainnya diluar Alkitab.

    Beberapa peneliti dari etnis Tapanuli juga yakin bahwa Batak adalah keturunan Israel yang sudah lama terpisah dari induk bangsanya, tapi karena intermarriage dengan penduduk lokal ditempat mana mereka bermukim membuat orang Batak secara fisik menjadi seperti orang Melayu.

    Seorang Batak Tapanuli, yang sudah lebih dari 20 tahun tinggal di Israel dan menjadi warga negara, berusaha mengumpulkan data-data untuk pembuktian. Setelah merasa sudah cukup, dia mengajukannya ke pemerintah Israel yang waktu itu masih dipimpin oleh PM Yitzak Rabin (?).

    Tetapi tenyata data tsb belum bisa memenuhi seluruh kriteria. Pemerintah Israel kemudian meminta agar kekurangannya dicari hingga dapat mencapai 100 persen supaya pengakuan atas etnis Batak sebagai orang Israel diperantauan dapat diberi.

    Konon kekurangan itu terutama terletak pada silsilah yang banyak missing links-nya, dan menelusuri silsilah itu agar sempurna sama sulitnya dengan menyelam ke perut bumi.

    Jika saudara pergi Taman Mini Indonesia di Jakarta dan singgah di rumah tradisi Toba (Tapanuli), disana akan ditemukan silsilah tsb.

    Peneliti berharap suatu waktu pada masa depan, Pemerintah Israel bisa saja mengubah kriterianya dengan menjadi lebih lunak dan etnik Batak diterima sebagai bahagian yang terpisah dari mereka.

    Setelah mendengar selentingan itu, saya benar-benar menaruh minat untuk menyelidiki sejauh mana budaya suku Batak dapat memberi bukti similaritasnya dengan tradisi Israel kuno. Alkitab adalah buku yang prominent dan sangat layak serta absah sebagai kitab pedoman untuk mencari data budaya Israel kuno yang menyatu dengan unsur sejarah dan spiritual.

    Beberapa diantara kesamaan tradisi Batak (Toba) dengan tradisi Israel kuno adalah sbb.

    1). Pemeliharaan silsilah.

    Semua orang Tapanuli, terutama laki-laki, dituntut harus mengetahui garis silsilahnya. Demikian pentingnya silsilah, sehingga siapa yang tidak mengetahui garis keturunan kakek moyangnya hingga pada dirinya dianggap na lilu - tidak tahu asal-usul - yang merupakan cacat kepribadian yang besar.

    Bangsa Israel kuno juga memandang silsilah sebagai sesuatu yang sangat penting. Alkitab, sejak Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru sangat banyak memuat silsilah, terutama silsilah dari mereka yang menjadi figur penting, termasuk silsilah Yesus Kristus yang ditelusuri dari pihak ibuNya (Maria) dan pihak bapak angkatNya (Yusuf).

    2). Perkawinan yang ber-pariban.

    Ada perkawinan antar sepupu yang diijinkan oleh masyarakat Batak, tapi tidak sembarang hubungan sepupu. Hubungan sepupu yang diijinkan untuk suami-istri hanya satu bentuk, disebut marpariban. Cukup report menerangkan hal ini dalam bahasa Indonesia karena bahasa ini tidak cukup kaya mengakomodasi sebutan hubungan perkerabatan dalam bahasa Batak.

    Yang menjadi pariban bagi laki-laki ialah boru ni tulang atau anak perempuan dari saudara laki-laki ibu. Sedangkan yang menjadi pariban bagi seorang gadis ialah anak ni namboru atau anak laki-laki dari saudara perempuan bapa.

    Hanya hubungan sepupu yang seperti itu yang boleh menjadi suami-isteri. Karena suku Batak penganut patriarch yang murni, ini adalah perkawinan ulang dari kedua belah pihak yang sebelumnya sudah terjalin dengan perkawinan.

    Mari kita bandingkan dengan Alkitab. Pada kitab Kejadian, Yakub menikah dengan paribannya, anak perempuan Laban yaitu Lea dan Rahel. Laban adalah tulang dari Yakub. (Saudara laki-laki dari Ribka, ibu dari Yakub). Didunia ini sepanjang yang diketahui hanya orang Israel kuno dan orang Batak yang sekarang memegang tradisi hubungan perkawinan seperti itu.

    3). Pola alam semesta.

    Orang Batak membagi tiga besar pola alam semesta, yaitu banua ginjang (alam sorgawi), banua tonga (alam dimensi kita), dan banua toru (alam maut).

    Bangsa Israel kuno juga membagi alam dengan pola yang sama.

    4). Kredibilitas.

    Sebelum terkontaminasi dengan racun-racun pikiran jaman modern, setiap orang Batak, terutama orang tua, cukup menitipkan sebuah tempat sirih (salapa atau gajut), ataupun sehelai ulos, sebatang tongkat, atau apa yang ada pada dirinya sebagai surat jaminan hutang pada pihak yang mempiutangkan, ataupun jaminan janji pada orang yang diberi janji.

    Walaupun nilai ekonomis barang jaminan bisa saja sangat rendah tetapi barang tsb adalah manifestasi dari martabat penitip, dan harus menebusnya suatu hari dengan merelealisasikan pembayaran hutang ataupun janjinya.

    Budaya Israel kuno juga demikian. Lihat saja Yehuda yang menitipkan tongkat kepada Tamar sebagai jaminan janji (Kej. 38).

    5). Hierarki dalam pertalian semarga.

    Dalam budaya Batak, jika seorang perempuan menjadi janda, maka laki-laki yang paling pantas untuk menikahinya ialah dari garis keturunan terdekat dari mendiang suaminya. Ini dimaksudkan agar keturunan perempuan tsb dari suami yang pertama tetap linear dengan garis keturunan dari suami yang kedua.

    Misalnya, seorang janda dari Simanjuntak sepatutnya menikah lagi adik laki-laki mendiang (bandingkan dengan Rut 1:11).

    Jika tidak ada adik laki-laki kandung, sebaiknya menikah dengan saudara sepupu pertama dari mendiang yang dalam garis silsilah tergolong adik. Jika tidak ada sepupu pertama, dicari lagi sepupu kedua. Demikian seterusnya urut-urutannya.

    Hal semacam ini diringkaskan dalam ungkapan orang Batak :

    “Mardakka do salohot, marnata do na sumolhot. Marbona do sakkalan, marnampuna do ugasan”.

    Dalam tradisi Israel kuno, kita dapat membaca kisah janda Rut dan Boas. Boas masih satu marga dengan mendiang suami Rut, Kilyon. Boas ingin menikahi Rut, tapi ditinjau dari kedekatannya menurut garis silsilah, Boas bukan pihak yang paling berhak. Oleh sebab itu dia mengumpulkan semua kerabat yang paling dekat dari mendiang suami Rut, dan mengutarakan maksudnya. Dia akan mengurungkan niatnya jika ada salah satu diantara mereka yang mau menggunakan hak adat-nya, mulai dari pihak yang paling dekat hubungan keluarganya hingga yang paling jauh sebelum tiba pada urutan Boas sendiri.

    Ya, mardakka do salohot, marnata do na sumolhot. (Baca kitab Rut).

    6). Vulgarisme.

    Setiap orang dapat marah. Tetapi caci maki dalam kemarahan berbeda-beda pada tiap-tiap etnik. Orang Amerika terkenal dengan serapah: son of a bitch, bastard, idiot, dll yang tidak patut disebut disini. Suku-suku di Indonesia ini umumnya mengeluarkan makian dengan serapah : anjing, babi, sapi, kurang ajar, dll.

    Pada suku Batak makian seperti itu juga ada, tetapi ada satu yang spesifik. Dalam sumpah serapahnya seorang Batak tak jarang memungut sehelai daun, atau ranting kecil, atau apa saja yang dapat diremuk dengan mudah. Maka sambil merobek daun atau mematahkan ranting yang dipungut/dicabik dari pohon dia mengeluarkan sumpah serapahnya:,,Sai diripashon Debata ma au songon on molo so hudege, hubasbas, huripashon ho annon !!!”. Terjemahannya kira-kira begini:,,Beginilah kiranya Tuhan menghukum aku kalau kamu tidak kuinjak, kulibas, kuhabisi !!!”.

    Robeknya daun atau patahnya ranting dimaksudkan sebagai simbol kehancuran seterunya.

    Orang-orang Israel kuno juga sangat terbiasa dengan sumpah serapah yang melibatkan Tuhan didalamnya. Vulgarisme seperti ini terdapat banyak dalam kitab Perjanjian Lama, diantaranya serapah Daud pada Nabal. (1 Sam. 25, perhatikan ayat 22 yang persis sama dengan sumpah serapah orang Batak).

    7). Nuh dan bukit Ararat.

    Ada beberapa etnik didunia ini yang mempunyai kisah banjir besar yang mirip dengan air bah dijaman Nuh. Tiap etnik berbeda alur ceritanya tetapi polanya serupa. Etnik Tapanuli juga punya kisah tentang air bah, tentu saja formatnya berbeda dengan kisah Alkitab. Apabila orang-orang yang sudah uzur ditanya tentang asal-usul suku Batak, mereka akan menceritakan mitos turun temurun yang mengisahkan kakek moyang orang Batak diyakini mapultak sian bulu di puncak bukit Pusuk Buhit.

    Pusuk Buhit adalah sebuah gunung tunggal yang tertinggi di Tapanuli Utara, dipinggiran danau Toba. Pusuk Buhit sendiri artinya adalah puncak gunung.

    Pusuk Buhit tidak ditumbuhi pohon, jelasnya tidak ada bambu disana. Yang ada hanya tumbuhan perdu, ilalang, dan rumput gunung. Bambu – dari mana kakek moyang keluar – menurut nalar mendarat di puncak gunung itu dan mereka keluar dari dalamnya setelah bambunya meledak hancur.

    Mengapa ada bambu pada puncak Pusuk Buhit yang tandus dan terjal? Tentu saja karena genangan air yang mengapungkannya, yang tak lain adalah banjir besar.

    Dapat dipahami mengapa jalan cerita menjadi seperti itu, karena setelah ribuan tahun terpisah dari induk bangsanya, narasi jadi berbeda. Bahtera Nuh berubah menjadi sebentuk perahu bambu berbentuk pipa yang kedua ujungnya ditutup, dan Bukit Ararat berubah menjadi Pusuk Buhit.

    8). Eksumasi (Pemindahan tulang belulang).

    Jika Pemerintah mengubah fungsi lahan pekuburan, wajar jika tulang-belulang para almarhum/ah dipindahkan oleh pihak keluarga yang terkait. Alasan ini sangat praktis.

    Bagi orang Tapanuli, penggalian tulang belulang (eksumasi) dari kerabat yang masih satu dalam garis silsilah dan dikuburkan didaerah lain adalah praktek yang sangat umum hingga sekarang. Sering alasannya hanya untuk kepuasan batin belaka walaupun biayanya sangat mahal karena termasuk dalam kategori perhelatan besar.

    Pada bangsa Israel kuno hal semacam adalah kebiasaan umum. Sejarah sekuler menuturkan bahwa tulang belulang Yusuf dibawa dari Mesir ketika bangsa ini keluar dari sana. Juga dalam kitab lain dalam Perjanjian Lama, sekelompok masyarakat berniat memindahkan tulang belulang dari satu pekuburan (walaupun kemudian dihalangi oleh seorang nabi).

    9). Peratap.

    Adalah wajar bagi jika satu keluarga menangis disekeliling anggota keluarga / kerabat yang meninggal dan terbujur kaku. Mereka menangisi si mati, dan seseorang meratapinya. Meratap berbeda dengan menangis. Meratap dalam bahasa Tapanuli disebut mangandung. Mangandung ialah menangis sambil melantunkan bait-bait syair kematian dan syair kesedihan hati.

    Karena sepenuhnya terikat dengan komponen syair-sayir maka mangandung adalah satu bentuk seni yang menuntut keahlian. Untuk memperoleh kepiawaian harus belajar. Bahasa yang digunakan sangat klasik, bukan bahasa sehari-hari.

    Setiap orang-tua yang pintar mangandung akan mendapat pujian dan sering diharapkan kehadirannya pada setiap ada kematian.

    Di desa-desa, terutama di daerah leluhur - Tapanuli - tidak mengherankan kalau seseorang orang yang tidak ada hubungan keluarga dengan orang yang meninggal, bahkan tidak dikenal oleh masyarakat setempat, namun turut mangandung disisi mayat. Masyarakat mendukung hal seperti itu. Kata-kata yang dilantukan dalam irama tangisan sangat menyentuh kalbu.

    Tak jarang pihak keluarga dari si mati memberi pasinapuran (ang pao) kalau si peratap tersebut pintar, sekedar menunjukkan rasa terima kasih.

    Peratap-peratap dari luar ini sebenarnya tidak menangisi kepergian si mati yang tidak dikenalnya itu. Alasannya untuk turut meratap adalah semata-mata mengeluarkan kesedihan akibat kematian keluarga dekatnya sendiri pada waktu yang lalu, dan juga yang lebih spesifik yaitu mengekspresikan seni mangandung itu.

    Ini sangat jelas dari ungkapan pertama sebelum melanjutkan andung-andungnya :,,Da disungguli ho ma sidangolonhi tu sibokka nahinan” Sibokka nahinan adalah anggota keluarga sipangandung yang sudah meninggal sebelumnya. Selanjutnya dia akan lebih banyak berkisah tentang mendiang familinya itu.

    Bagamana dengan bangsa Israel?

    Dari sejarah diketahui bahwa ketika Yusuf (perdana menteri Mesir) meninggal, sanak keluarganya membayar para peratap untuk mangandung. Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru berkali-kali mencatat kata-kata ratapan, meratap, peratap.

    Kitab Ratapan yang ditulis oleh raja Salomo, dalam praktek Israel kuno adalah syair-syair yang dilantunkan sambil mangandung, kendati bukan pada acara kematian.

    10). Hierarki pada tubuh.

    Dalam budaya Batak, kepala adalah anggota tubuh yang paling tinggi martabatnya. Menyentuh kepala seseorang dengan tidak disertai permintaan maaf yang sungguh-sungguh, bisa berakibat parah. Sebaliknya anggota tubuh yang paling rendah derajatnya ialah telapak kaki. Adalah penghinaan besar jika seseorang berkata kepada seseorang lain:,,Ditoru ni palak ni pathon do ho = Kau ada dibawah telapak kakiku ini”, sambil mengangkat kaki memperlihatkan telapak kakinya pada seteru. Penghinaan seperti ini hanya dilontarkan oleh seseorang yang amarahnya sudah memuncak dan sudah siap berkelahi.

    Pada zaman dulu, dalam setiap pertemuan, telapak kaki selalu diusahakan tidak nampak ketika duduk bersila.

    Pada bangsa2 Semitik tertentu di Timur Tengah, tradisi semacam ini masih tetap dijaga hingga sekarang karena memperlihatkan telapak kaki pada orang lain adalah pelanggaran etika yang berat, karena telapak kaki tetap dianggap anggota tubuh yang paling hina derajatnya.

    11). Tangan kanan dan sisi kanan.

    Dalam budaya Tapanuli, sisi kanan dan tangan kanan berbeda tingkat kehormatannya dengan sisi kiri dan tangan kiri.

    Jangan sekali-kali berinteraksi dengan orang lain melalui tangan kiri jika tidak karena terpaksa. Itupun harus disertai ucapan maaf. Dalam Alkitab banyak tercatat aktivitas sisi ‘kanan’ yang melambangkan penghormatan atau kehormatan.

    Yusuf sang perdana menteri Mesir memprotes ayahnya Yakub yang menyilangkan tangannya ketika memberkati Manasye dan Efraim (baca Kejadian 48).

    Rasul Paulus dalam salah satu suratnya menyiratkan hierarki anggota tubuh ini.

    Juga baca Pengkhotbah 10:2, Mzm 16:8, Mat 25:33, 26:64 Mrk 14:62, Kis 7:55-56, 1Pet 3:22, dll.

    12). Anak sulung.

    Dalam hierarki keluarga, posisi tertinggi diantara seluruh keturunan bapak/ibu ialah anak sulung. Ia selalu dikedepankan dalam memecahkan berbagai masalah, juga sebagai panutan bagi semua adik-adiknya. Jika ayah (sudah) meninggal, maka anak sulung yang sudah dewasa akan mengganti posisi sang ayah dalam hal tanggung jawab terhadap seluruh anggota keluarga seperti yang diungkapkan dalam umpasa : Pitu batu martindi-tindi, alai sada do sitaon na dokdok. Sitaon na dokdok itu adalah si anak sulung.

    Tanggung jawab itulah yang membuat dia besar, memberi karisma dan wibawa.

    Karisma dan wibawa, itulah profil yang melekat pada anak sulung.

    Alkitab ditulis dengan bahasa manusia, bangsa Israel kuno. Deskripsi tentang anak sulung pada bangsa ini sama seperti yang ada pada suku Batak yang sekarang, sehingga the term of the firstborn (istilah anak sulung) banyak terdapat dalam kitab tersebut. (baca Kel 4:22, 34:20, 13:12 dan 15, Im 27:26, Bil 3:13, 8:17, Mzm 89:28, Yer 31:9, Hos 9:20, Rom 8:23, Luk 2:27, 11:16, 1Kor 15:20 dan 23, Kol 1:15 dan 18, Ibr 1:6, Yak 1:18, dll)

    13). Gender.

    Hingga sekarang posisi perempuan dalam hubungan dengan pencatatan silsilah selamanya tidak disertakan karena perempuan dianggap milik orang lain, menjadi paniaran ni marga yang berbeda. Hal yang sama terjadi pada bangsa Israel kuno ; bangsa ini tidak memasukkan anak perempuan dalam silsilah keluarga. Ada banyak silsilah dalam Alkitab, tetapi nama perempuan tidak terdapat didalamnya kecuali jika muncul sebagai yang sangat penting seperti Rut dan Maria (ibu Yesus).

    Kalaupun nama Dina disebut juga dalam Alkitab, itu bukan karena posisinya yang penting tetapi hanya sebagai pelengkap nama-nama keturunan Yakub yang kemudian menurunkan seluruh bangsa Israel.

    14). Pola monoteisme.

    Dalam hampir seluruh kepercayaan animisme didunia ini, tuhan selalu jamak, bahkan bisa berjumlah puluhan, dan masing-masing sama besar kekuasaannya walaupun berbeda wilayah (bidang). Misalnya dewa air, dewa tanah, dewa api, dewa angin, dewa gunung, dewi kesuburan, dewi kecantikan, dewi keberuntungan, dll. Masing-masing juga punya isteri atau suami.

    Adalah satu hal yang patut dengan perbedaan animisme Tapanuli yang disebut Parmalim, walaupun mereka memuja roh-roh para leluhur dan hantu-hantu, tetapi faham ketuhanan mereka hanya mengenal monoteisme, yang mereka sebut Mulajadi Na Bolon, artinya Pencipta Yang Maha Besar. Seluruh penyembahan keagamaan mereka hanya berpusat kepada Mulajadi Na Bolon yang tunggal dan tidak beristeri.

    Ini hal yang luar biasa uniknya. Tidak ada analisis yang dapat menerangkan itu jika tidak menghubungkannya dengan faham monoteisme Yudaisme bangsa Israel kuno yang terbawa melekat hingga sekarang, tidak lekang oleh kikisan kurun waktu ribuan tahun.

    Pada suku Toraja yang juga satu garis keturunan dengan orang Batak, mereka yang masih animis juga menganut animisme yang monoteistik, dengan sesembahan tunggal Puang Matua. (Predikat “puang” diberikan pada sosok yang patut dihormati. “Matua” artinya yang terhormat. Puang Matua dapat diartikan sebagai Dia yang mulia).

    Pada suku Batak kuno, kata “puang” sama maknanya dengan “puang” pada suku Toraja sekarang. Tetapi dalam perjalanan waktu panjang, sekarang ini kata tsb telah berubah makna yaitu lebih menyiratkan keakraban).

    Tambahan.

    Adalah satu tradisi pada bangsa Israel kuno tidak menguburkan mayat anggota keluarga yang meninggal, melainkan meletakkannya dalam sebuat tombe yang berupa liang batu yang dibuat melalui pahatan. Lihatlah kesamaannya dengan mayat Yesus Kristus yang diletakkan dalam tombe milik Yusuf dari Arimatea. Budaya ini tidak terdapat pada suku Batak. Mungkin karena di Tapanuli tidak terdapat lime stone atau sejenisnya yaitu batu lunak yang mudah dilubangi seperti batu cadas.

    Namun suku Toraja masih melekat teguh pada tradisi seperti ini hingga sekarang. Hal ini berguna untuk diutarakan untuk menambah bukti-bukti bahwa suku Batak yang masih berkerabat dengan suku Toraja, sangat bisa jadi adalah keturunan Israel yang sudah lama terpisah dan hilang.

    Saya cukupkan saja dulu hingga disitu, karena terlalu letih untuk membeberkan semua, termasuk indikasi-indikasi lemah yang banyak jumlahnya.

    Jika data yang diatas itu saja dibawa kepada ahli statestik, yang tentu akan mempertimbangkan semua aspek-aspek lain yang terkait kedalamnya, simililaritasnya dengan tradisi bangsa Israel kuno dengan bukti autentik tertulis dalam Alkitab, informasi sejarah sekuler, tradisi Semitik yang ada hingga sekarang, serta kesamaan tradisi itu pada suku Batak setelah kurun waktu kurang lebih 3000 tahun, angka perbandingan untuk mengatakan bahwa suku Batak bukan keturunan Israel mungkin 1 : 1,000,000 bahkan bisa jadi lebih.

    Barangkali ada diantara saudara-saudara yang dapat menambahkan.

    Sekian dulu.

    W. Simanjuntak.

    SAPRAN SIGALINGGING

    Wed Aug 30, 2006

    —–Original Message—–

    sumber dari:http://groups.yahoo.com/group/gobatak/message/1395

    Kontak: julhan.hutabarat@yahoo.com

  24. Tanggapan sinaga:

    Opini:
    Aku keberatan dengan sikap kebanyakan orang batak yang tidak menghargai orang batak yg tidak bisa berbahasa batak. Seseorang terlahir dalam lingkungan berbeda-beda, yang mungkin terlahir dilingkungan dimana tidak bisa mendapatkan sumber untuk belajar berbahasa batak. Tapi darah yang mengalir dalam tubuh mereka diturunkan dari orang-orang batak terdahulu, mereka adalah batak.

    Mengenai asal muasal suku batak; tentu saja kalo kita runut terus sampe ke ribuan tahun lalu, bisa saja beberapa ribu suku ada sekarang berasal hanya dari 1 suku, karena manusia berkembang biak dan menyebar. Jadi dimana suku kita berada dalam bahasa yg sama, itulah kita, itulah suku batak, tidak usah berpolemik dari data-data dari orang-orang yang merasa data-datanya pasti benar, hanya mengakibatkan perpecahan.

    Mengenai website ini; terimakasih karena mau meluangkan waktu untuk menulis ini-itu tentang batak, mudah-mudahan sifatnya menjadi lebih umum, mempersatukan, pengabdian atas rasa kecintaan terhadap darah batak yang mengalir dalam diri kita.

  25. Tanggapan orlando tambunan:

    Di mana saya bisa membeli buku yang anda tulis itu lae ?? mauliate godang

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Pengurus BKAG [Badan Koordinsi Antar Gereja] Labuhanbatu Dilantik
Artikel selanjutnya :
   » » Menggempur Akar Kemiskinan?