Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Sabtu
29
Apr '06

Surabaya Tawarkan Swastanisasi Purabaya


Dalam diskusi soal sengketa Terminal Purabaya di Graha Pena Kamis lalu, banyak terungkap hal yang sebelumnya belum diketahui publik. Misalnya, soal rencana Sidoarjo menjadikan Bungurasih sebagai kawasan permukiman serta keinginan membangun terminal sendiri di Krian.

Pada awal diskusi, kedua masalah itu sempat menjadi bahasan tersendiri. Mendengar kabar tersebut, Surabaya juga ingin membangun sendiri terminal baru. Tapi, dari paparan para pejabat Sidoarjo, ternyata informasi yang masuk ke Surabaya tentang dua masalah tersebut tidak utuh.

Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Kabupaten (Bappekab) Sidoarjo Vino Rudy Muntiawan mengatakan, dalam RTRW (Rencana Tata Ruang dan Wilayah) Sidoarjo, kawasan Bungurasih adalah untuk jasa, perdagangan, dan permukiman yang penataannya dilaksanakan secara terpadu. “Tapi, yang terekspos selama ini hanya permukiman,” katanya.

Vino juga meluruskan kabar yang berkembang bahwa Sidoarjo ingin membangun terminal sendiri di kawasan Krian. “Rencana itu tidak ada,” jelasnya.

Hal tersebut diperkuat penjelasan Sekkab Rochani. “Tidak ada keinginan kita untuk menyingkirkan (Surabaya, Red) atau membuat terminal baru,” katanya.

Dalam diskusi tersebut, Sidoarjo nyaris full team. Selain Vino dan Rochani, tim Sidoarjo dipimpin Wabup Saiful Ilah. Bersama mereka juga ada Kadishub Fathur Rozi dan Ketua Komisi C DPRD Sidoarjo Tito Pradopo. Sedangkan dari Surabaya ada Wawali Arif Afandi, Kadishub Bambang Suprihadi, serta Kabid Sarana dan Prasarana Bappeko Togar Arifin Silaban. Hadir juga pakar transportasi ITS Hita Priya Suprayitna dan Alisjahbana (mantan pimpro pembangunan Purabaya).

Penjelasan Sidoarjo tersebut sempat mengagetkan tim Surabaya. Togar Arifin Silaban mengatakan, selama ini pihaknya selalu mendengar bahwa Sidoarjo akan menjadikan Bungurasih sebagai kawasan permukiman. “Baru hari ini kami tahu kalau kawasan Bungurasih itu untuk jasa, perdagangan, dan permukiman,” katanya.

Karena informasi yang tidak lengkap itu, kata Togar, Surabaya menyiapkan alternatif untuk membangun terminal sendiri. “Tapi, kita masih terbuka untuk berbagai kerja sama dengan Sidoarjo. Meski nanti kita bangun terminal di Pagesangan, Sidoarjo masih tetap bisa masuk,” sambungnya.

Selain kedua hal tersebut, yang juga menjadi bahasan serius adalah masalah bagi hasil pendapatan. Selama ini, dari pendapatan Purabaya, Sidoarjo mendapat bagian jauh di bawah Surabaya. Berdasar perjanjian yang dibuat pada awal pengoperasian Purabaya (1991), 10 tahun pertama, Sidoarjo mendapat 20 persen dan Surabaya 80 persen. Kemudian, 10 tahun berikutnya, Sidoarjo mendapat 30 persen dan Surabaya 70 persen (pendapatan Purabaya 2005 Rp 6,17 miliar).

Tapi, karena menganggap modal Surabaya yang ditanamkan untuk investasi Purabaya sudah balik (balik modal), Sidoarjo meminta sharing pendapatan 50 : 50. Pekembangan terbaru, pemprov ikut dilibatkan dengan pembagian pendapatan 40 : 40 : 20. Surabaya dan Sidoarjo 40 persen, sedangkan pemprov 20 persen. Masalah ini juga merupakan salah satu pemicu mengapa Surabaya ingin membangun terminal sendiri. Sebab, mereka merasa bahwa seluruh aset yang ada di Purabaya adalah milik Surabaya, sementara Sidoarjo hanya ketempatan.

Terhadap permasalahan tersebut, Wawali Arif Afandi meminta dilakukan pendekatan bisnis. “Mari kita hitung, berapa investasi Surabaya dan berapa Sidoarjo, setelah itu kita bagi pendapatannya,” ujarnya. Menurut Arif, Sidoarjo bisa ikut menanamkan investasi di Purabaya, kemudian hasilnya dibagi dua.

Arif juga mengusulkan swastanisasi pengelolaan Purabaya agar lebih profesional. “Entah itu swasta murni atau BUMD (badan usaha milik daerah, Red),” sambungnya.

Terhadap rencana pembangunan terminal baru, Arif mengatakan, Surabaya ingin menjadikan terminal sebagai intermoda. Terminal harus saling sambung dengan moda transportasi lain yang akan dikembangkan Surabaya. Misalnya, busway, komuter, maupun kereta monorel. “Surabaya sedang berupaya mengatasi masalah transportasi. Kita ingin bisa intermoda. Bisa nggak kalau lokasinya masih di Bungurasih?” ucapnya.

Apa yang disampaikan Arif langsung ditanggapi Hita Priya. Pakar transportasi ITS itu mengatakan, di mana-mana, lokasi terminal selalu bergeser dari pusat kota ke pinggiran. “Kecenderungan terminal-terminal di dunia, memang menjadi intermoda,” katanya.

Dia memandang letak Bungurasih sudah tepat untuk sebuah terminal tipe A. “Potensi untuk intermoda masih bisa karena letaknya dekat dengan stasiun Waru,” ucap Hita. “Bayangan saya, 10 tahun lagi, Bungurasih masih bisa. Sebab, mematikan terminal itu butuh biaya dan membangun baru juga butuh biaya,” sambungnya.

Hita juga setuju dengan usul Arif untuk swastanisasi pengelolaan Purbaya. “Lebih baik memang diswastakan,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu Alisjahbana menjelaskan awal dibangunnya Purabaya serta peran Sidoarjo dan Surabaya. Menurut dia, seluruh pembangunan terminal memang dibiayai Surabaya. Baik untuk pembebasan lahan maupun pembangunan. “Memang, investasi modal Sidoarjo nol,” katanya.

Saat itu, lanjutnya, Sidoarjo hanya memproses administrasi, menerbitkan IMB (izin mendirikan bangunan), dan menetapkan perda. “Total investasi hingga peresmian mencapai Rp 12,4 miliar. Tapi, setelah lima tahun beroperasi, sudah BEP (break event point/balik modal, Red).

Sumber : (hud) Jawa Pos, Surabaya


Baru ada 1 tanggapan untuk artikel “Surabaya Tawarkan Swastanisasi Purabaya”

  1. Tanggapan ABD WAHID MUSYADAD:

    Letak Terminal Bungurasih, sudah ideal dan menurut saya masih mampu operasi sampai 15 tahun ke depan, jika ada rencana pindah, maka proyeksikan untuk 15 tahun ke depan, segera cari solusi persoalan2 yang menyangkut sidoarjo & Surabaya dengan saling menguntungkan tidak hanya finansial tapi yg juga penting adalah kemaslahatan untuk masyarakat banyak, yang mendesak untuk diselesaikan adalah bagaimana Terminal Bungurasih ini supaya, Tertib, Bersih, aman dan nyaman, trima ksih

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Hasil Penelitian Pansus CPNS Humbahas Diserahkan Kepada Pimpinan DPRD
Artikel selanjutnya :
   » » KSBSI Memulai Aksi Buruh Sedunia